NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Anak Kembar
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!

...

Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.

Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 // MBKCM

​Pagi kembali menyapa, Kiana sedang sibuk mengeluarkan kardus-kardus berisi barang-barangnya untuk dimasukkan ke mobil box sebuah ekspedisi pengiriman. Saskia pun ikut membantunya.

"Sudah semuanya mbak?" Tanya sopir ekspedisi yang akan mengirimkan barang-barang Kiana ke alamat tempat tinggalnya di Bandung.

"Sudah mas. Ini ongkosnya sama alamat lengkapnya." Jawab Kiana sembari memberikan uang dan kertas berisi alamat lengkap rumahnya.

"Baik mbak, saya jamin barang akan cepat sampai tanpa kurang 1 apapun. Saya pamit mbak." Ucap sopir ekspedisi itu lagi kemudian langsung berlalu pergi menjalankan tugasnya.

Kiana kembali masuk ke gang berjalan beriringan dengan Saskia yang mulai terlihat sedih. Kiana harus segera pergi ke stasiun karena kereta yang akan membawanya ke Bandung akan tiba kurang dari 1 jam lagi.

"Aku antar ke stasiun ya Kia, jangan menolak aku sudah izin Bu Ambar untuk tukar shift siang." Ucap Saskia sembari terus menggenggam erat lengan Kiana merasa tidak mau berpisah.

"Iya, makasih ya Sas, sudah jangan sedih ah. Kita masih bisa ketemu kok."

Tiga puluh menit kemudian....

Kiana sampai di stasiun yang sudah dipadati oleh calon penumpang. Di sampingnya, Saskia terus menggenggam erat jemari Kiana, seolah enggan membiarkan sahabatnya itu melangkah pergi.

​"Kamu benar-benar harus pergi sekarang ya, Kia?" tanya Saskia dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ini adalah kesekian kalinya dia menanyakan hal yang sama sejak mereka keluar dari kosan.

​Kiana tersenyum tipis, lalu mengangguk pelan. "Iya, Sas. Keretaku sebentar lagi berangkat."

​Saskia meraba saku jaketnya, memastikan ponselnya aktif. "Pokoknya kamu harus sering-sering telepon aku ya, Kiana. Awas saja kalau sampai nomor ponselmu tidak aktif atau kamu susah dihubungi!"

​"Iya, Sas... pasti. Aku tidak akan melupakanmu," janji Kiana, mencoba menenangkan kecemasan sahabatnya.

​"Ingat ya, lokasi rumah sewaan barumu di Bandung itu kan dekat dengan rumah orang tuaku," sambung Saskia lagi, nadanya berubah penuh semangat di tengah kesedihan. "Nanti kalau aku dapat jatah cuti kerja dari butik, aku akan langsung pulang ke Bandung untuk menemui mu dan si kembar. Aku mau lihat toko bungamu nanti!"

​"Tentu saja, Sas. Pintu rumahku akan selalu terbuka lebar untukmu. Malah aku akan sangat senang kalau kamu datang," jawab Kiana tulus.

​Suara pengumuman dari pengeras suara stasiun mendadak menggema, menginstruksikan bahwa kereta api tujuan Bandung akan segera diberangkatkan dalam waktu lima menit.

​"Sini, peluk aku dulu untuk yang terakhir kali di Jakarta," bisik Saskia, tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia langsung maju dan mendekap tubuh Kiana dengan sangat erat.

​Kiana membalas pelukan itu tidak kalah erat, membiarkan kehangatan persahabatan mereka menjadi modal kekuatannya untuk melangkah ke lembaran baru. "Terima kasih untuk semuanya ya, Sas. Kamu hati-hati di Jakarta sendirian."

​"Kamu yang harusnya lebih hati-hati, Kia. Jaga kandunganmu baik-baik," sahut Saskia sembari melepaskan pelukannya dan menyeka pipinya yang basah.

​Kiana mengangguk, lalu berbalik mengangkat kopernya untuk naik ke atas gerbong kereta. Setelah menemukan kursi di dekat jendela, Kiana segera duduk. Dari balik kaca jendela kereta yang bening, dia melihat Saskia masih berdiri tegap di peron, melambaikan tangan dengan sisa-sisa air mata. Kiana membalas lambaian tangan itu dengan senyuman paling tegar yang bisa dia tunjukkan.

​Perlahan namun pasti, roda kereta mulai bergerak maju, meninggalkan peron stasiun yang semakin lama semakin menjauh hingga sosok Saskia hilang dari pandangan. Begitu kereta membelah jalur rel dan menyusuri pinggiran kota, Kiana menyandarkan kepalanya di bantalan kursi.

​Dia menunduk, lalu perlahan menurunkan kedua tangannya untuk mengusap perut bagian bawahnya. Di balik kaos longgar yang dikenakannya, jika kain itu ditekan press ke tubuhnya, maka akan terlihat dengan jelas siluet perutnya yang sudah mulai sedikit buncit karena berisi dua bayi yang sedang bertumbuh aktif.

​“Kita mulai hidup baru yang tenang di Bandung ya, sayang-sayangnya Ibu... Hanya ada kita bertiga setelah ini,” bisik Kiana dalam hati, menatap hamparan pemandangan pemukiman padat di luar jendela dengan tekad yang kokoh.

.

.

​Di sudut lain kota Jakarta, atmosfer ketegangan yang berbeda sedang terjadi di dalam ruang kerja Arya Arkatama. Pria paruh baya itu baru saja meletakkan telepon rumahnya setelah menerima informasi rahasia dari salah satu mata-matanya di kediaman utama Ardan.

​"Ada apa, Pa? Kenapa wajah Papa kelihatan tegang begitu setelah menerima telepon?" tanya Widya yang baru saja masuk membawa camilan untuk suaminya itu.

​Arya berbalik menatap istrinya dengan mata yang menyipit tajam. "Ardan... anak itu ternyata diam-diam mencurigai sesuatu. Pagi ini, dia menjadwalkan pemeriksaan ulang kesehatan menyeluruh, terutama tes kesuburan, di rumah sakit internasional pusat kota."

​Widya seketika membelalakkan matanya terkejut. "Apa?! Bagaimana bisa? Apa dia mulai sadar kalau dokumen pemeriksaannya di berbagai rumah sakit ternama itu palsu?"

​"Entahlah, tapi Bimo yang mengatur semua jadwal pemeriksaan ulangnya hari ini," Arya mendengus sinis, lalu menyambar kunci mobilnya di atas meja. "Tapi Ardan lupa, bahwa direktur utama dan kepala laboratorium di rumah sakit Cahaya Medika itu adalah rekan bisnis dekatku. Aku tidak akan membiarkan kebenaran itu terungkap sekarang."

​"Jadi Papa mau menukar hasilnya lagi seperti yang sebelum-sebelumnya?" tanya Widya memastikan, sebuah senyum kelicikan mulai terbit di bibirnya.

​"Tentu saja. Aku akan menghubungi dokter laboratorium itu sekarang sebelum Ardan tiba untuk tes. Hasilnya harus tetap sama, Ardan Arkatama harus tetap dinyatakan mandul seumur hidup!" tegas Arya sebelum melangkah tergesa-gesa keluar dari ruangan.

​Beberapa jam kemudian....

Di dalam ruang konsultasi privat rumah sakit internasional yang mewah, suasana terasa sangat dingin dan sunyi. Ardan duduk di kursi pasien dengan setelan jas formalnya yang tampak sedikit kusut, sementara Bimo berdiri setia di belakangnya. Di depan mereka, seorang dokter spesialis andrologi senior sedang menatap lembar hasil laboratorium dengan kening berkerut, bersandiwara dengan sangat rapi sesuai instruksi dan ancaman dari Arya.

​Dokter itu menghela napas panjang, meletakkan kertas hasil pemeriksaan ulang tersebut di atas meja medis, lalu menatap Ardan dengan tatapan penuh simpati palsu.

​"Bagaimana hasilnya, Dokter? Apakah ada perbedaan dengan hasil pemeriksaan saya di Singapura beberapa bulan lalu?" tanya Ardan, suaranya terdengar sangat menuntut meski ada nada kecemasan yang tersembunyi di sana.

​Dokter itu menggelengkan kepala perlahan. "Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Ardan. Tapi hasil pemeriksaan menyeluruh pagi ini tetap menunjukkan hasil yang sama persis dengan rekam medis Anda sebelumnya."

​Jantung Ardan rasanya seperti berhenti berdetak sesaat. "Apa maksud Anda? Jelaskan secara spesifik!"

​"Analisis sperma Anda menunjukkan kondisi azoospermia yang sangat absolut, Pak," ucap dokter itu berbohong dengan lancar tanpa berkedip. "Berdasarkan ilmu medis medis yang kami pelajari, tidak ada harapan bagi Anda untuk memiliki keturunan kandung. Bahkan untuk peluang satu persen pun... itu adalah hal yang mustahil terjadi sepanjang hidup Anda."

Mustahil...

​Kata-kata dokter itu menggema berulang-ulang di dalam kepala Ardan, menghantam seluruh dinding harga diri dan ego kelelakiannya hingga hancur berkeping-keping. Harapan kecil yang sempat tumbuh di hatinya semalam setelah mendengar penjelasan Bimo, kini menguap tak berbekas dalam sekejap mata.

​Ardan bangkit berdiri dari kursinya tanpa mengucapkan terima kasih, lalu melangkah keluar dari ruang dokter dengan tatapan mata yang kembali mendingin dan sedalam lautan es. Bimo yang berjalan di belakangnya hanya bisa terdiam, ikut merasa bingung dan kecewa karena hasil medis berkata demikian.

​Begitu mereka masuk ke dalam mobil mewah di area parkir, Ardan mencengkeram kemudi dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan rasa dikhianati kembali menguasai seluruh akal sehatnya. Kebenaran medis palsu itu telah berhasil membangkitkan kembali ego raksasa seorang Ardan Arkatama yang angkuh.

​"Sialan!" umpat Ardan dengan suara baritonnya yang menggelegar di dalam kabin mobil yang sunyi.

​"Pak Ardan, Anda tidak apa-apa?" tanya Bimo hati-hati dari kursi belakang.

​Ardan tertawa sinis, sebuah tawa kering yang sarat akan rasa sakit hati dan kebencian. "Tidak apa-apa? Kamu dengar sendiri kan apa kata dokter tadi, Bimo?! Satu persen pun mustahil!"

​Ardan memukul kemudi dengan keras. "Berarti tebakanku selama ini sama sekali tidak salah! Kiana... wanita itu memang benar-benar sudah tidur dengan pria lain! Dia mengandung anak dari pria entah siapa itu, dan dia pasti berniat memanfaatkan anak itu untuk menjebakku suatu hari nanti!

​Ego Ardan yang terluka parah membuatnya kembali menutup mata dari semua fakta kebaikan Kiana yang sempat dibeberkan Bimo semalam. Baginya saat ini, kertas putih hasil laboratorium itu adalah kebenaran mutlak, dan Kiana Mahira kini kembali menjadi sosok wanita pembohong yang paling dia benci di dalam hidupnya.

1
Lisa
Gmn tuh sadar atau g si Ardan klo twins benar² anaknya..
Lisa
Keras kepala banget si Ardan ini..msh blm mau mengakui klo twins adl anaknya
Lisa
👍 bagus Kiana..anggaplah si Ardan itu udh g ada..
Lisa
ya bener ceo koq g tegas sikapnya..periksa ke dokter yg lain donk..
Dewi Amalia
malass bca cerita nya msa ceo mudah di bohongi berkali-kali.. seharusnya gnti dg dokter yg lain...
jenny
menanti penyesalan Ardan 😁
Novaa: tunggu kelanjutannya ya, terimakasih sudah mampir 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!