NovelToon NovelToon
Mencintai Badai

Mencintai Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Menyandang status janda di usia muda, bukan hanya sekali, tapi tiga kali. Membuatku membangun benteng pertahanan yang angker.

Bagiku, laki-laki hanyalah makhluk lemah yang datang untuk memanfaatkan atau meninggalkanku. Keangkuhan itu menjadi perisai utamaku.

Sampai hari itu, ketika ego tinggiku berhadapan dengan mas Barraq, seorang pemuda keturunan berada yang dengan berani mengutarakan ketulusannya padaku.

Dengan lidahku yang tajam, kulontarkan kalimat-kalimat penuh racun yang meremukkan harga dirinya. Aku menghakiminya seolah dia tidak punya hak untuk mencintai wanita berpengalaman sepertiku.

Dadaku sesak oleh rasa bersalah yang teramat sangat. Di tangan pemuda yang dulu kuanggap remeh inilah, titik balik hidupku terpampang nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 24. Kebusukan orang kantor

Tatapan itu tidak ramah. Sama sekali tidak.

Sorot matanya memancarkan rasa tidak suka yang pekat. Detik berikutnya, aku menyadari polanya. Pandangannya sempat beralih ke arah Joel yang masih mencuri-curi pandang ke arahku dengan wajah gelisah, lalu kembali menatapku dengan rahang yang mengeras.

Ada kepemilikan dan ego yang terusik di antara mereka berdua. Hubungan mereka jelas bukan sekadar rekan kerja biasa.

Itu menurutku. Tapi nantinya pun, aku akan tahu sendiri tanpa menanyakannya di dalam ruang lingkup pekerjaan.

"Bu Dea," kepala barista berbisik pelan di sebelahku, menyadari arah pandanganku. "Itu Mbak Citra, Manajer Operasional senior kita. Dia... sudah pegang coffee shop ini sejak cabang pertama berdiri."

Aku mengangguk paham. Pantas saja.

Citra akhirnya melangkah mendekat. Langkah kakinya terdengar tegas di atas lantai semen ekspos kafe. Ketika jarak kami tinggal dua langkah, ia memaksakan sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata.

"Selamat datang, Bu Dea," ucap Citra. Suaranya terdengar datar, dengan penekanan yang agak sarkas pada kata 'Bu'. "Nggak menyangka pemilik perusahaan akhirnya memutuskan untuk menunjuk General Manager baru dari luar. Padahal, sistem yang saya bangun selama tiga tahun ini sudah berjalan sangat stabil."

Sindiran itu sangat transparan. Dia merasa dilangkahi. Sebagai orang lama yang sudah mengabdi sejak awal, Citra jelas merasa posisi GM ini adalah hak miliknya yang direbut oleh orang asing seperti aku. Kehadiran Joel yang tampak terpesona sekaligus ketakutan melihatku tampaknya makin menyiram bensin ke dalam api kecemburuannya.

Aku menarik napas dalam-dalam, menjaga agar bahuku tetap tegak. Menghadapi bawahan bersifat buaya seperti Joel di club malam itu mudah, tapi menghadapi rekan kerja senior yang terluka egonya akan membutuhkan strategi yang berbeda.

"Terima kasih menyambut saya, Citra," jawabku, sengaja membalasnya dengan nada yang sangat tenang dan profesional. "Saya tahu persis bagaimana besarnya kontribusi kamu di sini. Justru karena itu, saya sangat berharap kita bisa berkolaborasi untuk membawa sistem yang sudah kamu bangun ke level yang lebih besar lagi."

Citra hanya menaikkan satu alisnya, lalu melirik Joel yang kini berpura-pura memeriksa mesin espresso.

Apa yang ada di pikirannya? Ia pikir aku tertarik dengan kekasihnya itu?

"Kita lihat saja nanti, Bu Dea. Lapangan kerja di sini tidak semudah teori di atas kertas," ketus Citra. Ia memutar tubuhnya dan berjalan pergi tanpa menunggu jawabanku.

Aku menatap punggungnya yang menjauh. Hari pertama bekerja, dan aku sudah mendapatkan satu bawahan yang menyimpan rahasia memalukan, dan satu rekan senior yang siap mencari celah kesalahanku.

Perang dingin di coffee shop ini baru saja dimulai.

"Siapa nama kamu?” tanyaku pada kepala barista yang ramah padaku itu.

Aku tidak boleh gampang percaya pada orang-orang baru. Aku belum mengenal tabiat mereka.

"Tiur Amani Nasution, Bu,” jawabnya jelas, dengan senyum yang ia pertahankan.

"Oke, Tiur. Silahkan mulai bekerja.” Aku mempersilahkannya pergi.

Jarum jam di dasbor mobil sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat sedikit. Mataku mulai terasa perih dan punggungku rasanya kaku bukan main. Seharian ini, ragaku benar-benar diperas habis-habisan hanya untuk menyusuri jalanan kota, mengecek secara langsung setiap titik lokasi coffee shop yang menjadi tanggung jawabku.

Lima belas cabang. Ya, total ada lima belas cabang yang tersebar di wilayah ini. Dan sialnya, hari ini aku harus mendatangi semuanya sendirian. Tanpa teman mengobrol, tanpa asisten, hanya aku dan setir mobil yang menemaniku menembus kemacetan dan kepulan asap jalanan dari pagi sampai larut begini.

Aku menepikan mobil di pinggir jalan yang agak senggang, lalu bersandar lelah di kursi kemudi. Napasku berembus berat, mengembuni kaca jendela yang dingin karena AC. Tugas lapangan ini benar-benar menguras energi, tapi tanggung jawab pekerjaan tetaplah tanggung jawab yang harus kuselesaikan dengan sempurna.

Sambil memijat pelipis yang mulai berdenyut, aku meraih ponsel yang tergeletak di kursi penumpang. Layar pintarnya menyala, menampilkan aplikasi Google Maps yang sejak pagi tadi menjadi pemandu setiaku.

Jemariku yang mulai terasa kaku mulai mengetikkan kata kunci di kolom pencarian. Aku perlu memastikan sekali lagi, barangkali ada titik koordinat yang terlewat atau ada info cabang baru yang belum masuk ke dalam daftarku di provinsi ini.

Medan...

Aku membaca ulang tulisan di layar saat peta mulai memuat ulang wilayah ibu kota Sumatra Utara ini.

Tunggu sebentar, batinku tertahan saat melihat hasil pencarian di layar. Peta digital itu memperlihatkan hamparan luas Kota Medan dengan titik-titik merah penanda lokasi.

Aku mengernyitkan dahi, rasa kantukku mendadak menguap digantikan rasa menggelitik di kepala.

Sejak kapan Medan jadi nama provinsi?

Lalu tertawa kecil, menertawakan kebodohanku yang mulai tidak fokus karena kelelahan kronis.

Tentu saja Medan itu nama kota, ibu kota dari Provinsi Sumatera Utara. Astaga, Dea... otakku sepertinya sudah mulai korsleting karena seharian dipapar kafein dan debu jalanan.

Pantas saja dari tadi rasanya ada yang aneh saat aku memikirkan laporan harian nanti.

Aku menggeleng-gelengkan kepala, mencoba mengusir kantuk dan sisa-sisa eror di otakku.

Setelah memastikan semua data lima belas cabang tadi tersimpan dengan aman di Google Maps dan dokumen kerjaku, aku mengunci ponsel lalu melemparkannya kembali ke kursi sebelah.

Perjalanan hari ini akhirnya selesai. Sekarang, saatnya si Dea yang malang ini pulang, merebahkan diri di kasur, dan mengistirahatkan otak sebelum besok pagi harus kembali berhadapan dengan tumpukan berkas operasional lainnya.

Beberapa minggu aku sudah mendapatkan kenyamanan dalam bekerja. Sedikit banyaknya, sudah aku pahami. Aku sudah memahami struktur kerjaku dan mana dulu yang harus aku kerjakan.

Ada sesuatu yang busuk di kantor ini, aku bisa merasakannya.

Saat memeriksa ulang dokumen laporan malam itu, mataku menangkap deretan angka yang tidak sinkron. Nilai omset, pasokan biji kopi, hingga biaya logistik di beberapa cabang tampak terlalu rapi, ini terlalu sempurna untuk jadi kenyataan.

Seseorang telah memanipulasi data ini.

Masalahnya, polanya begitu rapi, membuatku belum bisa menunjuk hidung siapa pelakunya.

Apakah si Manajer Operasional senior? Atau ada orang dalam di bagian keuangan yang bermain? Aku belum tahu pasti.

"Laporannya harus masuk ke owner besok pagi, Kak Dea," bisikan Naura, adiknya mas Barraq itu terus terngiang di kepalaku.

Dengan berat hati, aku tetap menandatangani dan menyusun laporan yang aku tahu kurang benar itu. Di dunia kerja, menuduh tanpa bukti sama saja dengan bunuh diri karier. Aku butuh waktu untuk mengumpulkan bukti, dan untuk sementara waktu, aku akan berpura-pura buta sambil terus mengawasi dari balik kemudi.

Meski kepalaku dihantam stres pekerjaan dan misteri manipulasi data ini, aku menolak untuk terlihat berantakan. Bagiku, penampilan adalah benteng pertahanan terakhir. Aku tidak akan membiarkan beban kerja merenggut kendali atas diriku sendiri.

Maka, rutinitas kerasku pun dimulai. Jadwalku luar biasa gila. Bekerja dari jam enam pagi sampai jam sepuluh malam, menyisir lima belas cabang coffee shop, memantau lapangan, dan mencocokkan data. Namun, di antara kegilaan itu, aku tetap menyelipkan waktu untuk diriku sendiri.

Seminggu tiga kali, aku melangkah masuk ke dalam gym. Di saat tubuh wanita lain mungkin sudah ambruk, aku justru meluapkan seluruh kekesalan dan tekanan kerja lewat angkatan beban dan detak jantung yang berpacu di atas treadmill. Keringat yang mengucur menjadi detoks terbaik untuk otakku yang penat.

Bukan cuma kekuatan fisik, aku juga memastikan diriku tetap mempesona. Di akhir pekan atau di sela waktu senggang yang sempit, aku meluangkan waktu ke salon. Menata rambutku agar tetap jatuh dengan indah berkilau, serta merawat kuku-kuku jariku agar selalu tampak bersih dan cantik saat memegang pulpen atau mengetik di depan layar.

Dan yang paling krusial, itu kulitku. Paparan AC mobil, debu jalanan Medan, dan stres tingkat tinggi adalah musuh utama kecantikan. Aku tidak pernah absen melakukan ritual perawatan kulit untuk mempertahankan elastisitas dan warna cerahnya. Wajah lelah tidak boleh terlihat di depan rekan kerja, apalagi di depan sang pelaku manipulasi yang masih bersembunyi.

Aku lelah? Luar biasa lelah. Tapi setiap kali aku bercermin di salon setelah selesai menata diri, aku melihat sosok Dea yang tangguh, mandiri, dan tetap memegang kendali. Pekerjaanku selesai tepat waktu, tubuhku tetap bugar, dan penampilanku tetap prima.

Biarlah si tikus kantor itu merasa aman untuk sementara waktu dengan laporan palsu yang kubuat. Mereka tidak tahu saja, di balik rutinitas sempurnaku ini, aku sedang menajamkan kuku untuk mencabik kedok mereka saat waktunya tiba.

1
Batriani
tak sanggup ku berkata kata ingin mencela takut kualat pula aku ... jaga diri aja kau ya de' . dr awal udah kata urus cerai kau..... ya sudah lah ikutin aja kisah kau ama siberraq itu......
Christine
hahahaha itu jagung Afika dea....
Christine
astaga....rasanya gmna itu goyang sambil tlpn ora konsen ak mas
Miss F
urs de ceraimu
barrack jgn blg kamu badboy,,kyk mantan pcrnya adiknya canda,,ceria skalane😠😠
Miss F
jgn SMP de kamu cm dicicipi barrack tok tp g dtanggung jwbi...
Batriani
pak suami mana pak suami.... permainan apa ini, geli2 basah.....🤭
Miss F
KLO BNR garis 2 nangis loe de dipojokan🤣🤣🤣
Christine: 🤭🤭🤭🤭👍👍👍
total 3 replies
Christine
aku kok ikut menegang de
Christine
jangan.....ihhh ak mlh berdoa jgn ada yg dtng takut ihh tetiba digrebek ...
Rini qi
🫣
Fitri Ristina
suami mana suami...
Miss F
abis baca sidea koq JD cenat cenut🤣🤣🤣
Christine: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 kesetrum say
total 1 replies
Miss F
de,,kamu dminta baik2 dksh status gakk mau malah milih yg haram😞
Christine
hahahaha serang balik de dibilangin kelamaan klu nungguin dia
Miss F
yg minum mas barrack ehhh authornya yg kena pngaruh alkohol jg JD mabok🤣🤣
Miss F
tak ingat kau de pesan ayah wiya n ayah bara😞
Batriani
wah...😟. jebol pertahanan nya...
Christine
wahhh besar uhhh aku kok ikut nahan de..ya ampun de bagi2 atuh de
Christine
hahahahaha....
Christine
pasti berasa banget ya de uhhhh Lala...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!