*Sinopsis Singkat:*
Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.
Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.
Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23; Dering Telpon
Jam 1 pagi, HP Alya nyala.
Getarannya bikin Senja yang tidur di sebelahnya gerak-gerak kecil.
Alya langsung kebangun. Lihat nama di layar: _Mbak Rani_.
Dia langsung duduk, jantung deg-degan. Mbak Rani kan udah resign bulan lalu. Nggak mungkin telepon jam segini kalau nggak penting.
“Van… bangun,” Alya guncang bahu Revan pelan.
Revan merintih, setengah sadar. “Ada apa?”
“Mbak Rani telepon.”
Revan langsung duduk. Alya angkat telepon.
“Halo, Mbak? Ada apa?”
Suara Mbak Rani di seberang gemetar. “Kak Alya… maaf ganggu malam-malam. AC Kaliurang bocor parah. Airnya banjir ke dapur. Aku lewat mau ambil barang, lihat lampu masih nyala. Takut konslet.”
Alya langsung berdiri. “Sekarang Mbak di sana?”
“Iya. Aku udah matiin MCB. Tapi airnya nggak berhenti.”
Alya narik napas panjang. “Oke, Mbak pulang aja. Aku yang ke sana sekarang.”
Telepon ditutup.
Alya udah mau ganti baju.
Revan nahan tangannya. “Malam-malam gini? Kamu nggak bisa pergi sendiri.”
“Terus gimana? Kalau konslet bisa kebakaran, Van!”
“Ya gue yang pergi. Kamu jaga Senja.”
Alya diem. Dia tau Revan bener.
Tapi rasa bersalahnya gede banget. Itu kan kafe dia. Cabang dia.
“Gue ikut sampe depan gang aja,” kata Alya pelan.
Revan ngangguk. “Deal.”
---
Sepuluh menit kemudian mereka di depan gang rumah.
Hujan gerimis. Jalanan Kaliurang sepi dan gelap.
Revan pake jaket tebal, bawa senter dan toolkit kecil.
“Kalau ada apa-apa telepon gue,” kata Alya sambil peluk dia sebentar.
Revan kecup keningnya. “Aman. Gue janji pulang sebelum Senja bangun.”
Alya angguk. “Hati-hati ya.”
Motor Revan hilang di tikungan.
Alya balik ke rumah dengan dada nggak tenang.
---
Satu jam berlalu.
Nggak ada kabar.
Alya nggak bisa tidur. Dia duduk di meja 7 ruang tamu, buka file novel, tapi nggak bisa nulis satu kata pun.
Jam 2.47, HP-nya bergetar.
Foto. Dari Revan.
Isinya: foto dia duduk di lantai dapur Kaliurang, baju basah, rambut berantakan, tapi senyum lebar sambil ngacungin jempol.
Captionnya: _“Aman. AC-nya yang ngambek. Udah beres. Pulang ya.”_
Alya langsung nangis nggak jelas.
Lega, marah, kangen, semua jadi satu.
Dia balas: _“Gue jemput. Jangan pulang sendiri.”_
---
Jam 3.30, Revan sampai rumah.
Bajunya masih lembap, bau air got dikit.
Tapi dia langsung cari Alya.
Alya udah nunggu di ruang tamu, selimut di tangan.
Pas lihat Revan, dia langsung peluk erat.
Nggak peduli basah, nggak peduli bau.
“Kamu gila ya,” bisik Alya.
Revan ketawa pelan. “Gue gila karena kamu.”
Alya mukul pelan dadanya. “Kalau kenapa-kenapa gimana?”
“Nggak bakal. Gue janji pulang ke kamu.”
Mereka diem lama gitu.
Di ruang tamu yang remang, cuma ada suara napas dan hujan di luar.
Pas dilepas, Revan lihat mata Alya merah.
“Kamu nangis?”
Alya geleng. “Kedinginan.”
Revan ketawa. “Bohong.”
Dia ambil selimut, lilitin ke badan Alya.
Terus duduk di sebelahnya di lantai.
“Nilai plusnya apa?” tanya Revan tiba-tiba.
“Hah?”
“Nilai plusnya kejadian malam ini.”
Alya mikir. “Gue jadi tau kalau suami gue berani ngoprek AC jam 2 pagi.”
Revan ketawa. “Selain itu?”
“Gue jadi inget… kenapa gue milih kamu.”
Revan diem.
Alya lanjut, “Karena pas semua berantakan, kamu nggak panik. Kamu langsung jalan. Nggak banyak ngomong, tapi ada.”
Revan senyum kecil.
“Gue juga jadi inget kenapa gue nggak mau kamu kabur lagi. Karena kalau kamu nggak ada, gue nggak tau mau lapor ke siapa kalau AC bocor.”
Alya ketawa.
“Romantis banget sih.”
“Romantis darurat,” kata Revan. “Udah, mandi sana. Bau got.”
---
Jam 4 pagi, Alya baru selesai mandi.
Revan udah ketiduran di sofa, selimutnya setengah jatuh.
Alya pelan-pelan selimutin dia, terus duduk di lantai, nyender ke kaki Revan.
Dia buka laptop. Nulis:
_“Malam ini gue ngerti satu hal.
Cinta itu bukan cuma kata ‘aku sayang kamu’.
Cinta itu orang yang rela basah kuyup jam 2 pagi buat matiin AC yang bukan punya dia,
cuma karena dia tau kamu bakal nggak bisa tidur kalau nggak beres.”_
Revan gerak. Melek setengah.
“Nulis lagi?”
Alya angguk.
“Tentang kamu yang bau got.”
Revan ketawa pelan. “Nanti gue tagih royaltinya ya.”
Mereka ketawa kecil.
Senja kebangun sebentar, nangis pelan.
Alya langsung berdiri, gendong dia.
Revan ikut bangun, bantu bikinin susu.
Jam 5 pagi, mereka bertiga duduk di meja 7.
Senja minum susu, Alya minum teh hangat, Revan makan roti sisa kemarin.
Luar masih gelap.
Tapi di dalam, hangat banget.
“Kita nggak tidur ya?” kata Alya pelan.
Revan angguk. “Nggak apa. Besok libur.”
Alya senyum.
“Senja yang Tinggal… kayaknya cocok buat malam ini juga.”
Revan ngelus rambutnya.
“Tidur dikit yuk. Biar besok bisa bangun buat ngatur cabang ketiga yang suka bocor.”
Alya ketawa.
“Deal. Tapi kamu yang jagain Senja kalau dia nangis lagi.”
“Siap, Nyonya.”
---
Pagi itu mereka tidur jam 6.
Senja di tengah.
Alya dan Revan di kanan-kiri.
Nggak sempurna.
Tapi pulang.
*[Bersambung: