Satu skandal, dua musuh bebuyutan, dan 24 jam kamera yang menyala.
Sienna Rose, seorang supermodel papan atas, mendadak dihujat publik dan dituduh menjadi simpanan sugar daddy. Di waktu yang sama, Declan Bryer, aktor internasional berwajah sedingin es, tersandung skandal orientasi seksual. Demi menyelamatkan karier bernilai jutaan dolar, manajemen mereka memaksa keduanya bergabung dalam reality show pernikahan palsu, We Got Married.
Publik mengira mereka pasangan serasi yang romantis. Namun di balik layar, saat kamera mati, mereka adalah musuh bebuyutan masa kecil yang saling membenci! Sanggupkah Sienna menahan diri untuk tidak mencakar Declan di depan kamera? Dan apa yang terjadi saat masa lalu yang belum usai serta rahasia besar keluarga mereka perlahan mulai terkelupas di tengah sandiwara ini?
"Kurangin manjanya di depan kamera. Geli gue dengernya." — Declan Bryer.
"Pikir gue sudi?! Lo itu cuma kanebo kering, Declan!" — Sienna Rose.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Percikan Sisa Malam dan Janji yang Menggantung
Sisa-sisa bubuk mesiu dari kembang api kawat di tangan Sienna akhirnya padam, menyisakan sebatang besi kecil yang menghitam dan aroma hangus yang khas. Cahaya keemasan yang tadi menerangi wajah mereka kini berganti dengan pendar temaram dari lampu-lampu pijar di halaman belakang mansion WGM.
Sienna masih menatap batangan besi kosong di tangannya, bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis yang tidak bisa dia sembunyikan. "Yah... udah mati," gumamnya pelan, kedengaran agak kecewa.
"Kalau udah mati ya dibuang. Jangan dipegangin terus kayak megang emas batangan," ketus Declan. Pria itu bangkit berdiri dari posisi berlututnya, merapikan celana kainnya yang sedikit kotor terkena rumput taman, lalu merebut batangan besi itu dari tangan Sienna untuk dibuang ke tempat sampah kecil di dekat konter kru.
Sienna mendongak, matanya mengikuti pergerakan Declan. Mode cegilnya kembali terusik melihat sikap jaim cowok itu yang cepat banget berubah. "Dih, ngerusak suasana banget sih lo! Tadi aja ngomongnya manis banget, pake bilang ketulusan lah, milik gue selamanya lah. Sekarang balik lagi jadi kanebo kering!"
Declan kembali ke meja, namun dia tidak duduk. Pria itu mengulurkan tangannya ke depan wajah Sienna. "Gue ngomong gitu karena di sana ada kamera, Rose. Lo lupa kita lagi syuting?" jawab Declan datar, meski kalau Sienna jeli, ada sedikit rona merah tipis di ujung telinga pria itu yang setengah tertutup rambut.
Sienna menepis pelan tangan Declan, lalu berdiri sendiri sambil mengerucutkan bibirnya. "Oh, jadi tadi itu cuma akting? Akting kelas atas seorang Declan Bryer buat dapet rating? Oke, siap! Besok-besok gue juga bakal akting jadi istri paling bucin sedunia biar lo puas!"
Declan tidak membalas omelan itu dengan kata-kata pedas seperti biasanya. Dia justru melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga Sienna terpaksa mundur satu langkah sampai punggungnya membentur pinggiran meja kayu.
"Kalau lo mau akting jadi istri bucin, lakuin sekarang," bisik Declan rendah, sepasang mata tajamnya mengunci pandangan Sienna sepenuhnya. "Tuh, kamera utama masih rolling di sebelah kiri lo. Dan bajingan Jasper itu... masih ngelihatin lo dari seberang taman."
Sienna melirik sekilas melalui sudut matanya. Benar saja, di ujung halaman yang agak gelap, Edrick berdiri menyendiri sambil memegang gelas minumannya, menatap ke arah mereka dengan pandangan mata yang sangat dingin dan tidak bersahabat. Sementara Maura sudah pergi entah ke mana, kemungkinan besar masuk ke dalam mansion karena malu.
Sienna menelan ludah, mendadak merasa gugup ditatap seintens itu oleh Declan. "T-terus gue harus ngapain? Peluk lo gitu? Di depan kamera?"
"Gak usah," sahut Declan pendek. Tangan kanannya tiba-tiba terangkat, menyelipkan beberapa helai rambut Sienna yang berantakan ke belakang daun telinganya dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh kehati-hatian. Ibu jarinya sempat mengusap lembut pipi Sienna yang masih terasa agak hangat karena sisa flu. "Cukup diam kayak gini. Jangan biarkan dia mikir kalau lo goyah gara-gara kembang api norak miliknya tadi."
Sienna mematung. Sentuhan tangan Declan di pipinya terasa begitu nyata, hangat, dan sama sekali tidak terasa seperti sebuah akting. Jantungnya kembali berdegup kencang dengan tempo yang tidak beraturan. "Dec... lo sebenernya... benci banget ya sama Edrick?" tanya Sienna lirih, suaranya sengau dan terdengar sangat tulus tanpa ada nada bercanda.
Declan menarik tangannya kembali, memasukkannya ke dalam saku celana. Tatapan matanya beralih menatap langit malam yang kini sudah kembali gelap dan sunyi. "Gue gak benci sama dia. Gue cuma gak suka ada orang yang hobi ngerusak apa yang seharusnya jadi milik gue."
"Maksud lo... gue?" cicit Sienna, menunjuk dirinya sendiri dengan polos.
"Bukan. Maksud gue... rating acara ini," kilat Declan cepat, memalingkan wajahnya agar Sienna tidak bisa membaca ekspresinya. "Udah malam. Ayo masuk. Anginnya makin kencang, badan lo udah kayak es batu."
Sienna mendengus kesal, menyadari kalau dia baru saja dikerjai lagi oleh gengsi setinggi langit milik Declan. "Sialan lo, Declan! Gue beneran benci sama lo ya!" seru Sienna sambil berjalan menghentakkan kakinya keras-kedengaran sangat kesal saat mendahului Declan masuk ke dalam mansion.
Declan yang berjalan di belakangnya hanya bisa terkekeh pelan tanpa suara. Tatapan matanya melembut memperhatikan punggung mungil Sienna yang dibungkus jaket rajut miliknya.
Di dalam ruang tengah mansion, sutradara utama akhirnya melambaikan tangannya ke arah kru. "Oke, cut! Untuk hari ini syuting selesai! Kerja bagus semuanya! Silakan para peserta beristirahat, besok pagi jam tujuh kita mulai sesi wawancara penutup episode empat!"
Semua kru langsung bergerak membereskan peralatan, melepas kabel-kabel yang melintang di lantai, dan mematikan lampu-lampu sorot besar. Suasana mansion yang tadinya terang benderang dan penuh tekanan perlahan-lahan berubah menjadi remang-remang dan tenang.
Sienna berjalan menuju tangga untuk naik ke kamarnya di lantai dua. Namun, baru saja dia menginjak anak tangga ketiga, sebuah suara bariton yang sangat dia kenali menghentikan langkahnya.
"Sienna."
Sienna berbalik dan menemukan Edrick sudah berdiri di bawah tangga. Pria itu sudah melepas blazernya, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung asal-asalan. Wajah tampannya tidak lagi menampilkan senyum ramah buatan, melainkan tatapan penuh obsesi yang sangat pekat.
Sienna menghela napas, mencengkeram pegangan tangga dengan erat. "Mau ngapain lagi lo, Ed? Syuting udah selesai. Jangan harap gue mau dengerin omong kosong lo lagi."
Edrick melangkah maju satu anak tangga, membuat jarak di antara mereka mengikis. "Kamu beneran berubah ya, Sienna. Dulu, kamu gak pernah sekasar ini sama aku. Kamu selalu dengerin apa kata aku."
"Itu dulu! Waktu gue masih bego dan belum tahu kalau lo itu cuma cowok manipulatif yang hobi manfaatin perasaan orang!" balas Sienna tajam, matanya menatap Edrick penuh rasa muak. "Gue udah tahu semua kelakuan busuk lo di masa lalu, termasuk soal lab tata boga yang diceritain Declan tadi siang. Lo bener-bener sakit tahu gak!"
Edrick terkekeh pelan, suara tawanya terdengar sangat sinis di keheningan koridor tangga. "Declan... Declan... dan Declan. Cuma nama itu yang keluar dari mulut kamu sejak pagi tadi. Kamu beneran percaya sama dia, Sienna? Kamu lupa kalau pernikahan kalian ini cuma kontrak buat bersihin nama dia?"
Sienna terdiam sesaat, namun dia langsung menegakkan dagunya menantang. "Mau kontrak atau bukan, itu bukan urusan lo! Yang jelas, Declan jauh lebih jantan dan tulus daripada lo yang hobi main belakang!"
"Tulus?" Edrick tersenyum miring, matanya menyipit penuh spekulasi yang licik. "Kita lihat seberapa tulus dia pas kontrak kalian selesai dan gue beli seluruh saham agensi tempat dia bernaung. Aku datang ke acara ini bukan buat main-main, Sienna. Aku datang buat ambil apa yang seharusnya jadi milik aku... termasuk kamu."
"Dia gak bakal pernah bisa lo beli, Jasper."
Suara dingin dan berat itu tiba-tiba terdengar dari arah koridor gelap di dekat dapur. Declan berjalan keluar dengan langkah santai namun penuh wibawa. Pria itu menatap Edrick dengan pandangan mata yang sangat mengintimidasi, seolah-olah Edrick hanyalah seekor serangga kecil yang mengganggu jalannya.
Declan berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di antara Edrick dan Sienna, memotong jalur pandang Edrick sepenuhnya dari cewek itu. "Gue sarankan lo simpan uang haram keluarga lo itu buat bayar denda skandal pacar lo besok pagi. Karena setelah rekaman tadi siang disiarkan, nama Maura Gilbert bakal hancur, dan lo sebagai pasangannya juga bakal ikut keseret."
Edrick mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya mengeras menahan amarah yang sudah di ujung tanduk. "Lo nantangin gue, Bryer?"
"Gue gak pernah nantangin orang yang levelnya jauh di bawah gue," balas Declan ketus tanpa beban. Dia lalu berbalik, menggandeng pergelangan tangan Sienna dengan erat dan menarik cewek itu untuk naik ke lantai atas. "Ayo pulang ke kamar, Sienna. Di bawah sini terlalu banyak polusi udara."
Sienna hanya bisa pasrah ditarik oleh Declan, namun sebelum mereka benar-benar menghilang di belokan lantai dua, Sienna menyempatkan diri untuk menoleh ke bawah, melihat sosok Edrick yang berdiri kaku di bawah tangga dengan wajah penuh dendam yang membara. Badai besar jelas sedang mengintai hubungan mereka di episode selanjutnya, namun malam ini, di bawah perlindungan Declan, Sienna merasa tidak perlu takut pada apa pun lagi.