Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Percikan Baru di Tengah Badai
Andra memasukkan kartu nama tebal berujung emas milik Diana ke dalam saku jaket parasutnya yang masih lembap. Ia tidak terlalu memikirkan tawaran muluk dari wanita berkuasa di gedung SCBD tersebut, karena baginya saat ini, prioritas utamanya tetaplah menyelesaikan kewajibannya di Apex Media dan menjaga profesionalisme yang sempat koyak. Pemuda desa itu segera melangkah keluar dari lobi steril menara kaca tersebut, kembali memacu motor bebek tua milik Mas Joko menembus sisa-sisa hujan malam yang membasahi aspal Jakarta.
Pikiran Andra sepanjang jalan tetap tertuju pada satu orang: Nadia. Bayangan bos wanitanya yang menangis tersedu-sedu di atas lantai beludru, meluapkan seluruh kerapuhannya dalam pelukannya, terus membayangi benak Andra. Ada rasa iba yang mendalam, sekaligus debaran aneh yang kian hari kian sulit ia tepis. Munculnya Diana malam ini hanyalah sebuah riak kecil, sebuah penanda bahwa pesona alami dan ketulusan Andra mulai menarik perhatian para wanita sukses di kota ini, meskipun fokus batin Andra saat ini masih sepenuhnya terkunci pada sosok Nadia.
Pukul enam lewat tiga puluh menit malam, Andra tiba kembali di lantai 17 gedung Apex Media. Suasana kantor sudah sangat sepi, hanya menyisakan pendar lampu koridor dan cahaya dari dalam ruangan Nadia. Andra melangkah mendekati meja depannya dengan pakaian yang sebagian besar sudah mengering karena terpaan angin jalanan.
Saat ia sedang meletakkan helm, pintu kaca ruangan Nadia bergeser terbuka. Nadia melangkah keluar. Ia sudah merapikan kembali riasan wajahnya, namun gurat kelelahan emosional masih tampak samar di sepasang mata indahnya.
Andra, kamu sudah kembali? Bagaimana dengan dokumennya? tanya Nadia, suaranya terdengar jernih namun ada nada kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Sudah aman, Bu Nadia. Dokumen revisi sudah diterima langsung oleh tim hukum mereka pada pukul empat lewat lima puluh delapan menit. Pihak mereka menyatakan kontrak tetap berjalan sesuai kesepakatan awal, jawab Andra sambil membungkuk sopan, kembali menggunakan panggilan formal untuk menjaga jarak aman di antara mereka.
Nadia mengembuskan napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan rasa lega yang teramat sangat. Ketegangan di bahunya tampak mengendur. Ia berjalan mendekati meja Andra, menatap asisten pribadinya itu dengan pandangan yang penuh dengan rasa terima kasih, kekaguman, dan sesuatu yang jauh lebih mendalam dari sekadar hubungan kerja.
Terima kasih banyak, Andra. Kamu benar-benar menyelamatkan divisi ini, dan menyelamatkan saya hari ini, ucap Nadia pelan, matanya menatap lekat ke dalam manik mata hitam Andra yang selalu teduh.
Sama-sama, Bu. Itu sudah menjadi bagian dari tanggung jawab saya sebagai asisten Ibu, jawab Andra, berusaha tetap tenang meskipun jantungnya kembali berdegup kencang karena jarak mereka yang cukup dekat.
Nadia menyadari perubahan sikap Andra yang kembali formal, namun setelah momen pelukan emosional di lantai sore tadi, dinding pembatas di antara mereka tidak akan pernah bisa kembali sekaku dulu. Nadia melihat ke arah jaket Andra yang masih agak lembap.
Kamu basah kuyup tadi ya? Apa ada kendala di sana? tanya Nadia lagi, mencari alasan untuk memperpanjang obrolan mereka di tengah sepinya kantor.
Tidak ada kendala yang berarti, Bu. Hanya saja, tadi draf revisinya diperiksa langsung oleh Direktur Hukum mereka, seorang wanita bernama Ibu Diana, ujar Andra polos, tanpa maksud apa-apa selain melaporkan kronologi penyerahan dokumen.
Mendengar nama Diana disebut oleh Andra, gerakan tangan Nadia yang sedang merapikan tas jinjingnya mendadak terhenti. Sebagai salah satu pimpinan agensi periklanan terkemuka, Nadia tentu tahu siapa Diana. Diana adalah pengacara korporat kelas atas yang terkenal cerdas, mandiri, berkuasa, dan memiliki reputasi sebagai wanita lajang yang sangat selektif.
Nadia mendongak, menatap Andra dengan tatapan yang mendadak berubah menjadi menyelidik dan ada sedikit riak kecemburuan yang tidak disadari di sana. Ibu Diana? Dia sendiri yang turun menerima dokumennya? Apa dia mengatakan sesuatu kepadamu?
Andra agak terkejut dengan perubahan nada bicara Nadia yang mendadak berubah. Beliau hanya memeriksa kelengkapan dokumen, Bu. Dan... beliau memberikan kartu namanya kepada saya, kata Andra jujur sambil merogoh saku jaketnya dan meletakkan kartu nama mewah milik Diana di atas meja kayu. Beliau bilang, jika suatu saat saya mencari tantangan baru, saya bisa menghubungi nomor pribadinya.
Nadia memandangi kartu nama tebal berujung emas itu dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa tidak rela yang mendadak menyengat dadanya ketika mengetahui ada wanita sukses lain yang mulai menyadari daya pikat dan ketampanan murni yang dimiliki oleh asisten pribadinya ini. Nadia tahu betul betapa menawannya Andra; ketampanan maskulin pemuda desa itu yang bersih, jujur, dan penuh tanggung jawab adalah oase kelangkaan di tengah pria-pria kota yang penuh kepalsuan. Dan malam ini, fakta bahwa Diana—wanita yang terkenal dingin—secara terang-terangan memberikan nomor pribadinya kepada Andra, membuat Nadia merasa posisi kepemilikannya atas perhatian Andra mulai terancam.
Nadia mengambil kartu nama Diana dari atas meja dengan gerakan yang anggun namun tegas, lalu memasukkannya ke dalam saku blazernya sendiri.
Kartu ini biar saya yang simpan, Andra. Urusan komunikasi dengan pihak hukum kosmetik itu adalah wewenang saya sebagai Managing Director. Tugasmu adalah tetap fokus membantu administrasi di meja ini, ujar Nadia dengan nada suara yang kembali mutlak, sebuah upaya untuk menegaskan kembali dominasinya atas diri Andra.
Nggih, baik, Bu, jawab Andra patuh, tidak keberatan sama sekali jika kartu itu diambil, karena ia memang tidak berniat menghubungi Diana.
Nadia menatap Andra lama sekali, mencoba membaca apakah pemuda desa itu tertarik dengan tawaran Diana atau tidak. Namun yang ia temukan di sepasang mata hitam Andra hanyalah kepatuhan yang tulus dan keteduhan yang selalu berhasil menenangkan jiwanya yang lelah. Rasa egois sebagai seorang wanita mendadak muncul di hati Nadia; ia tidak akan membiarkan Andra pergi dari sisinya, tidak untuk suaminya yang abai, tidak juga untuk wanita sukses lain seperti Diana.
Hari ini sudah sangat malam, Andra. Pulanglah dan istirahat. Besok jam delapan pagi, saya ingin kamu sudah ada di sini lagi. Kita masih punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan... bersama, ucap Nadia dengan nada suara yang melembut di akhir kalimat, memberikan sebuah penekanan halus pada kata bersama.
Baik, Bu. Saya permisi pulang dulu. Selamat malam, Bu Nadia, Andra membungkuk sopan, lalu menyambar helm dan ransel hitamnya, melangkah pergi meninggalkan lantai 17.
Nadia memperhatikan punggung tegap Andra hingga pintu lift tertutup rapat. Di dalam kesunyian kantor malam itu, Nadia meraba kartu nama Diana di dalam sakunya, lalu beralih memandangi saputangan kain putih milik Andra yang masih tersimpan aman di dalam laci meja kerjanya. Kehadiran Diana malam ini secara tidak langsung menjadi percikan baru yang justru mempercepat laju perasaan terlarang di dalam dada Nadia. Ia menyadari bahwa ia tidak lagi sekadar mengagumi kejujuran Andra, ia mulai menginginkan pemuda desa itu sepenuhnya untuk dirinya sendiri, di tengah badai kehidupan kota yang kian hari kian mengaburkan batas moralitasnya.