Anisa adalah gadis yang gendut dan juga pendek, beda jauh dengan sang adik yang bertubuh langsing serta berkulit putih.
siapa yang tidak tertarik bila melihat Arumi, bahkan mulut para tetangga juga tak segan mencemooh Anisa yang beda jauh dengan sang adik.
Hingga suatu hari Anisa di temukan tewas tergantung di dalam kamar, membuat seluruh keluarga menjadi berduka, namun mereka menutupi kematian Anisa yang gantung diri itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Ningsih cemas
"Kulkas mu nambah sekarang, Ning." Yurnita menatap kulkas yang sedang dikunci rapat oleh Ningsih.
"Alah itu kulkas rusak karena belum pas jadi belum aku pakai lah." Ningsih menjawab sambil tersenyum.
"Baru beli atau bagaimana?" tanya Yurnita.
"Beli, tapi aku tidak tahu kalau kurang berfungsi sehingga masih aku biarkan begitu sajalah di sana.". jawab Ningsih kembali.
Ningsih menjadi berdebar kencang ketika mendadak saja sahabat dia berdiri dan mendekati freezer tersebut, jantung sudah tidak karuan namun dia tetap berusaha tenang karena freezer itu dalam keadaan terkunci sehingga Yurnita tidak mungkin bisa membuka freezer tersebut untuk melihat apa saja isi yang ada di dalam sana.
Ini adalah salah satu resiko karena dia tetap mempertahankan mayat Anisa di dalam rumah ini dan menyimpan di dalam freezer, mungkin untuk saat ini masih belum ada yang mengetahui tentang kebusukan itu, namun mau sampai kapan dia akan mempertahankannya dan menyembunyikan keberadaan mayat Anisa di dalam freezer tersebut.
Sama seperti yang dikatakan oleh Hardi bahwa mereka tidak mungkin bisa terus menyimpan mayat Anisa, mungkin memang lebih baik bila segera di kuburkan saja walau tidak memberitahu para tetangga, namun tentu saja itu adalah hal yang sulit bila menguburkan sendirian tanpa memberitahu para tetangga yang ada di sekitar rumah mereka.
Bila sampai ketahuan maka yang ada Ningsih dan yang lain akan diperiksa oleh polisi, bisa saja mereka menjadi tersangka karena telah menguburkan mayat Anisa secara mandiri dan tidak ada meminta bantuan dari para tetangga, meski saat itu Anisa meninggal karena bunuh diri akibat dia depresi setelah terus-menerus mendapat hinaan dari mulut orang lain.
Tapi karena orang tua dia yang tetap bersikeras ingin menyimpan mayat di dalam freezer dan sekarang malah Ningsih memilih pikiran untuk menguburkan secara mandiri, sudah pasti polisi akan menindak lanjut kasus tersebut bila sampai ada yang mengetahui, jadi Ningsih memang masih bingung dan mempertimbangkan langkah apa yang akan dia ambil nanti.
Ini jantung sudah tidak karuan karena takut bila nanti ternyata ada orang yang akan mengetahui bahwa Anisa ada di dalam freezer tersebut, Hardi juga masih belum dia kontrol dengan baik karena takut bila nanti mendadak malah dia mengajak orang lain untuk membawa paksa mayat Anisa.
Sekarang Ningsih baru bimbang dan tidak tahu harus bagaimana untuk mengambil langkah mayat yang anak, membiarkan dalam kulkas ini untuk selamanya juga tidak mungkin karena nanti yang ada Anisa tidak akan bisa hilang atau luruh begitu saja, bila dia terkubur dalam tanah maka bisa saja nanti Anisa akan menghilang dan tidak ada bukti lagi.
"Hais Anisa ini sudah mati tapi masih saja membuat aku susah." batin Ningsih di dalam hati.
"Andai aku tahu dia bakal membuat aku susah seperti ini maka sejak dalam kandungan sudah aku gugurkan dia." geram Ningsih.
"Apa, Ning?" Yurnita menoleh karena tadi dia mendengar secara samar.
"Enggak, kalau freezer begitu murah Karena Dia memiliki ukuran yang tidak seberapa besar." Ningsih tersenyum untuk menutupi rasa canggung itu.
"Ah mana ada Ini ukuran kecil orang sampai sebesar ini kok, bahkan manusia saja bisa masuk ke dalam freezer ini." ujar Yurnita.
"Manusia!" Ningsih kaget sekali mendengar ucapan sang sahabat.
"Lah iya karena dia begitu besar sehingga aku pasti muat kalau masuk ke dalam sini." Yurnita tertawa kecil karena dia memang hanya bergurau saja.
"Kau ini ada ada saja." Ningsih juga tertawa walau itu terlihat begitu canggung sekali.
"Kenapa kunci begini sehingga aku tidak bisa melihat bagian dalam?" Yurnita emang penasaran dan dia juga sudah biasa.
Ningsih hanya tersenyum saja karena dia tidak mungkin memberikan kunci kepada sang sahabat untuk membuka bagian dalam freezer tersebut, bila sampai terbuka maka mereka semua akan mengetahui bahwa Anisa sudah meninggal dunia dan sekarang gitu terkubur di dalam freezer ini hingga tubuh gadis itu membeku.
...****************...
"Kamu kenapa, Sayang?" Matteo menghampiri sangka istri yang sedang duduk sendirian dengan pikiran menerawang jauh.
"Ah." Vera agak kaget karena dia memang sedang termenung memikirkan Arumi.
"Tuh kan, kamu pasti banyak pikiran yang sehingga dia termenung seperti itu." Mateo memang sudah hafal dengan tabiat sang istri.
"Ini aku hanya sedang kepikiran dengan Arumi saja." Vera mengatakan apa ada nya.
"Arumi teman kamu yang dari desa sebelah itu?" tanya Matteo untuk memastikan terlebih dahulu.
Vera mengangguk karena Matteo memang tahu siapa Arumi walau tidak kenal secara dekat, setidaknya sang suami sudah mengetahui bahwa ini adalah teman dari sang istri dan mereka juga sering kumpul bersama untuk menikmati suasana. jadi ketika tadi Vera mengatakan tentang Arumi maka Matteo langsung menyadari bahwa yang sedang dibicarakan adalah gadis itu.
"Memang nya dia kenapa kok kamu seperti sedang kepikiran berat?" Mateo kepo juga dengan pikiran sang istri.
"Entah lah, untuk saat ini dia masih belum bercerita apa yang telah terjadi." Vera menggeleng pelan.
"Ya mungkin saja dia masih ragu dan takut kalau nanti kamu malah bercerita kepada orang lain, kan biasanya memang seperti itu ya." Matteo menjawab dengan suara pelan.
"Tapi dia menjadi layu dan seolah tidak ada semangat hidup seperti itu, aku yakin bila dia bercerita maka beban yang ada di dalam pikiran dia akan sedikit berkurang." Vera menghembuskan nafas panjang.
"Sudah lah, kamu tunggu saja momen yang tepat karena nanti dia pasti akan bercerita." Matteo mengusap perut sang istri yang mulai terlihat membuncit.
"Ya semoga saja nanti dia akan bercerita kalau pikiran nya sudah tenang." angguk Vera.
Matteo juga mengganggu dan dia sedikit melirik kepada sang istri karena ada sesuatu yang akan dia katakan namun masih dia urungkan begitu saja, takut nanti bila malah menyinggung perasaan Vera karena dia tahu ini adalah masalah keluarga dan lebih baik bila nanti Vera mengetahui sendiri tanpa perantara orang lain.
"Tapi aku yakin ini pasti masalah Anisa." Vera sudah memiliki pikiran tersendiri.
"Anisa itu yang gemuk dan agak angkuh kan?" Mateo bertanya untuk memastikan terlebih dahulu.
"Heh kamu tidak boleh menghina seperti itulah." Vera memarahi sang suami.
"Bukan menghina begitu, memang dia gemuk dan tambah lagi sangat angkuh sehingga kalau bertemu dengan orang selalu saja membuang muka." Mateo berkata dengan sangat geram.
Sebab Dia pernah beberapa kali bertemu dengan Anisa dan mencoba untuk beramah tamah pada gadis itu, tapi Anisa justru membuang muka sehingga Mateo malu sendiri karena dia tidak mendapat jawaban atas teguran yang sudah dia berikan itu.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komen kalian yang semua ya.
ga nyangka si pocong patah hati bs gelut jg👻
calon mantu pangeran ular itu,
ada yg datang ngk sich nolong Digo bisa mampus tu anak orang
lama nunggu ujung2 nanti ditinggal