Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.
Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resmi! Suami & Istri
Acara berlanjut ke resepsi pernikahan. Sesuai dengan kemauan Ferdian, pesta diadakan sedikit tertutup di ballroom hotel ternama di ibu kota.
Hal itu mengharuskan Amaia duduk di atas pelaminan bersama Widitama yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya. Bersalaman dengan beberapa tamu penting dan sanak family yang datang merayakan pernikahan. Amaia harus memasang senyum paling manis agar terlihat sangat bahagia di malam pernikahannya.
Padahal Amaia sangat ingin menyudahi semuanya. Ia ingin acara selesai secepat nya dan menagih janji Widitama tetang rekaman suara Sasti. Tapi mau bagaimana lagi? Ferdian—yang sudah menjadi ayah mertuanya—pasti tidak akan membiarkanmu acara selesai begitu cepat. Ia terlihat sangat sibuk menyapa para tamu. Bahkan raut wajahnya terlihat sangat bahagia, melebihi sepasang pengantin yang punya acara.
Amaia mengamati keadaan sekitar dan menghela napas. Senyumnya terlukis lagi. Lelah rasanya, tapi dia tetap harus berpura-pura menyunggingkan senyum. Karena beberapa kamera menangkap ekspresi wajahnya.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" Widitama menegurnya dengan suara pelan. "Orang-orang akan berasumsi jelek kalau kamu terlihat nggak menikmati pernikahan ini."
Amaia berdecih. "Aku memang nggak menikmatinya."
"Setidaknya wajahmu harus berkata sebaliknya. Bangun!" titah Widitama sesaat setelah ada tamu yang naik hendak memberikan ucapan selamat.
Setengah mengeluh, Amaia menuruti kemauan sang suami. Untuk ke sekian kalinya, ia harus memasang senyum lebar. Mengenakan gaun pernikahan dengan area pinggang saja sudah terasa menyesakkan, apalagi harus memasang senyum saat dirinya tak menginginkan pernikahan itu. Sementara Widitama tampak gagah dengan jas hitam dan sumringah saat tamu berdatangan.
Dulu Amaia mendambakan pernikahan bahagia bersama Rakha. Harusnya pria itu yang duduk di pelaminan bersama dirinya. Bukan Widitama. Bukan pria yang selama ini ia hargai sebagai seorang kakak. Karena Rakha adalah adik Widitama, maka Amaia menganggapnya sebagai kakak juga.
Bertahun-tahun kemudian, siapa yang menyangka Amaia dan Widitama akhirnya resmi menjadi suami dan istri. Tak ada Rakha di sampingnya. Tak ada lagi cinta dari pria itu atau memang selama ini hanya Amaia yang terlalu mencintainya?
Kamu di mana sekarang, Kak Rakha? Amaia membatin pedih saat mengamati lalu-lalang tamu, Atika, dan mertuanya yang duduk di sisi mereka.
Bukan seperti ini hidup yang aku mau, tapi kenapa kamu membuatnya seolah aku harus menjalani ini seumur hidupku?
*****
"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Amaia sesaat setelah sadar dari lamunan.
Sepanjang jalan tadi, dia hanya menyandarkan kepala pada kaca mobil sembari menatap gedung-gedung pencakar langit. Langit malam dengan sinar pucat bulan seolah menggambarkan perasaannya yang sedang tidak baik-baik saja. Namun, Amaia harus terpaksa menjalaninya. Entah kegelapan apa yang tengah menunggunya di ujung saja.
Selepas acara resepsi selesai, Widitama membawa Amaia menuju kediamannya. Amaia pun berpisah dengan sang ibu yang terlihat berkaca-kaca. Ada pesan dari Atika untuk Widitama: Jaga Amaia baik-baik, ya. Saya percaya padamu. Begitu katanya.
"Mas?" Amaia menegurnya lagi karena tak dapat jawaban. Ia melirik Edgar yang sedang menyetir. "Mas Edgar, kita mau ke mana?"
"Kamu ini berisik sekali." Bukan Edgar, tapi Widitama yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. "Bukannya saya sudah bilang? Kamu nggak punya hak untuk protes. Pernikahan ini, saya yang atur!" Suaranya meninggi.
Amaia terkesiap.
Sepasang mata tegas Widitama menatap lekat wajahnya. Seakan tatapan tajam itu mampu menembus ulu hati Amaia. Nyali Amaia seketika menciut karena aura suaminya.
"Selagi saya bicara baik-baik, jangan pernah mengulangi hal yang nggak saya suka, Amaia," katanya.
"Ini nggak adil ...." Amaia berujar lirih. Suaranya sedikit bergetar. Ia kembali menjadi Amaia yang dipenuhi ketakutan.
Padahal sebelumnya, dia berani melawan siapa pun termasuk Widitama. Namun, apda akhirnya dia tetaplah Amaia yang gampang menciut.
"Memang sejak kapan semuanya adil?" Widitama bergumam.
Amaia mendongak padanya. "Aku berhak menentukan apa yang nggak aku suka!" Susah payah Amaia memberanikan diri.
Tatapan Widitama berubah datar. Bibirnya tak segera menjawab. Itu artinya dia tak mau dibantah.
Mobil berhenti di area basement apartemen. Edgar buru-buru membukakan pintu untuk mereka. Lift di dekat area parkir membawa mereka langsung menuju private lift unit Widitama. Amaia mengekor saja meski setengah sangsi. Karena sebelumnya dia berpikir bakal dibawa le rumah lama Widitama atau kediaman utama Ferdian.
Namun, di sinilah Amaia sekarang. Lantai 40 gedung apartemen elit di bilangan ini. Widitama tak berucap, hanya sibuk melepas jas, dasi, dan jam tangan, yang melekat di tubuhnya sembari membelakangi Amaia.
Ini saatnya, pikir Amaia.
Ketika Widitama hendak masuk ke salah satu ruangan, Amaia menyingkap gaun dan berlari menghalangi langkahnya. Gerakan Amaia membuat pria bertubuh kekar itu terkejut. Widitama berhenti di ambang pintu.
"Katakan sekarang!" perintah Amaia.
"Apa lagi, Amaia? Saya lelah dan harus istirahat. Pekerjaan saya banyak dan kamu bukan satu-satunya yang harus saya urus besok atau seterusnya."
"Aku nggak minta kamu mengurusku."
Widitama menyeringai seraya memajukan tubuhnya ke arah sang istri. "Tapi tingkah lakumu perlu saya urus dan ...." Jemarinya menekan kedua pipi Amaia. Gadis itu menggeleng, tapi kekuatan Widitama tidak biasa membuatnya lepas. Widitama menarik dagu Amaia. "Bibirmu ini perlu diberikan pelajaran agar tak sembarangan berucap atau seenaknya membentak."
"Kamu boleh seenaknya. Kenapa aku tidak?"
"Karena saya yang berhak menentukan rencana kita setelah ini. Kamu hanya perlu menuruti ucapan saya."
Amaia tersenyum kecut. "Itu namanya seenaknya sendiri. Egois! Rencana ini melibatkan kita. Begitu juga pernikahan ini. Kalau semuanya hanya tergantung dari pendapat dan kemauan kamu, lebih baik jangan menikah!"
"Ah!" Widitama menyeringai. Pegangannya pada pipi Amaia sedikit mengerat. Ia menarik lagi dagu Amaia agar wajah mereka semakin dekat. Sementara Amaia menatap dengan geram. "Kamu ingin kita hidup selayaknya suami-istri? Baik, akan saya ladeni keinginanmu."
"Jangan salah paham! Lepas!" Amaia memberontak. "Aku setuju menikah karena rencana kamu dan janjimu untuk memberitahu semua yang kamu ketahui, Mas."
"Tidak sabaran sekali." Widitama terkekeh membuat Amaia ingin sekali menampar wajahnya. "Pertama-tama, bersihkan dirimu. Saya nggak suka perempuan lesu."
"Lepas!" sergah Amaia tak mengindahkan ucapan sang suami.
"Kedua, tunggu saya di ranjang kita, Mai Kecil." Widitama berbisik membuat Amaia membeliak. Dengan gerakan sedikit kasar, Widitama melepas dan mendorong pipi Amaia.
"Aku nggak pernah sepakat untuk hal seperti itu!" sergah Amaia.
Sial sekali. Amaia lupa bahwa malam ini malam pernikahan mereka. Ia tak memperhitungkan kalau Widitama juga seorang pria. Kalau suami-istri normal, mereka akan tidur bersama. Menghabiskan beberapa jam berikutnya dengan percintaan panas di atas ranjang mereka. Namun, Amaia tak sampai berpikir ke sana karena terlalu sibuk memikirkan janji Widitama.
"Memangnya saya peduli?" Widitama menyeringai.
"Kalau kamu nekat, aku akan menganggapnya sebagai pelecehan. Karena aku nggak mau melakukannya."
Gelak tawa Widitama terdengar. Sebelum membuka kenop pintu, pria 30 tahun itu kembali mendekati sang istri. Amaia mundur sedikit ketakutan. "Bicara apa kamu ini? Kamu pikir saya menyuruh kamu menunggu di ranjang untuk menidurimu? Pikiranmu liar juga."
"K-kalau bukan seperti itu terus apa?!" Suara Amaia meninggi. Sialan! Ia mendadak malu karena salah sangka.
"Pelankan suaramu saat bicara dengan saya," kata Widitama, "atau saya akan benar-benar menidurimu."
"Brengsek!"
"Kamu nggak cocok bersikap kasar. Jadilah seperti Mai Kecil yang dulu, yang penurut. Karena itu lebih cocok untukmu," pungkas Widitama. Lantas bergegas meninggalkan Amaia yang mengepalkan tangan setengah kesal.