🏆GOLD NOVEL🏆
...
"Dunia menyebutku sampah, tetapi langit mengenalku sebagai Kaisar Agung."
Ingatan pemuda itu kembali terbuka, seluruh memori kuno dan agung dari kehidupan sebelumnya mengalir kembali dan mencerahkan pikirannya. Saat itulah ia tersadar atas identitasnya dan cara kematiannya yang sebenarnya.
Dengan semua memori agungnya, pemuda itu perlahan mulai menumbuhkan kembali taringnya--menjadi jenius sekte, mencari rekan-rekannya yang mungkin masih hidup, dan membalas dendam atas kematiannya sebelumnya! Namun belakangan ini ia pun mendapati sesuatu yang mengejutkan, sesuatu yang tidak diduganya sama sekali.
"Aku adalah..."
GENRE: ACTION, KULTIVASI, REINKARNASI, BALAS DENDAM, XIANXIA, FANTASI TIMUR.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 007: Menagih Bunga!
Beberapa dupa setelah mengisi perutnya dengan semangkuk mi hangat di Kota Giok, Qin Xiang akhirnya kembali menapaki tangga batu menuju gerbang Sekte Pedang Giok. Langit mulai berubah jingga keemasan, sementara kabut tipis perlahan turun menyelimuti lereng gunung sekte. Angin sore berembus pelan, meniup ujung jubah hitamnya hingga berkibar ringan di belakang punggungnya.
Meski tubuhnya terasa sedikit lelah setelah perjalanan panjang dari Hutan Kabut Senja, Qin Xiang tidak berniat langsung kembali ke gubuk reyotnya.
Ada sesuatu yang ingin ia selesaikan terlebih dahulu.
Karena itu, langkahnya langsung berbelok menuju Aula Misi.
Suasana aula masih cukup ramai oleh murid-murid sekte luar yang keluar masuk membawa hasil buruan mereka. Beberapa orang tengah membanggakan hasil misi masing-masing, sementara yang lain sibuk memilih tugas baru di papan pengumuman.
Namun saat Qin Xiang melangkah masuk...
Beberapa tatapan mulai diam-diam tertuju padanya.
Sebagian mengenal wajahnya.
Sebagian lagi mengenal rumor tentangnya.
Murid sampah yang tiba-tiba mengalahkan Xiao Jing.
Nama itu mulai terdengar di berbagai sudut sekte akhir-akhir ini.
Di balik meja utama aula, Tetua yang sebelumnya memberikan misi Mawar Giok Darah tampak sedang membaca gulungan bambu. Namun begitu merasakan kehadiran Qin Xiang, pria tua itu perlahan mengangkat kepala.
Dan untuk sesaat...
Tatapannya sedikit berubah.
Aura anak ini berbeda lagi...
Lebih stabil.
Lebih tajam.
Bahkan langkah kakinya kini membawa tekanan samar yang sebelumnya tidak ada.
Tanpa banyak bicara, Qin Xiang berjalan mendekat lalu mengeluarkan enam tangkai Mawar Giok Darah dari tas kulitnya.
Kelopak merah darah itu segera memancarkan cahaya redup di atas meja kayu hitam.
Aroma herbal yang khas langsung menyebar ke seluruh ruangan.
Beberapa murid di sekitar sana refleks menoleh kaget.
“Mawar Giok Darah?!”
“Dan kualitasnya tinggi sekali...”
Bisikan mulai terdengar pelan.
Sementara itu, sang Tetua mengambil salah satu mawar dengan hati-hati. Jemarinya yang tua menyentuh batang transparan tanaman itu perlahan sebelum matanya sedikit membesar.
Bahkan ia sendiri tampak cukup terkejut.
Kualitas seperti ini...
Bahkan murid sekte dalam belum tentu bisa membawanya pulang dengan kondisi sesempurna ini.
“Tetua,” ujar Qin Xiang tiba-tiba dengan nada sangat serius, “Anda tidak tahu betapa sulitnya mendapatkan tanaman ini.”
Tetua itu mengangkat alisnya.
Qin Xiang langsung melanjutkan dengan wajah penuh penderitaan palsu.
“Demi mendapatkan Mawar Giok Darah ini, aku harus memanjat tebing curam selama setengah hari penuh sampai kuku-kukuku hampir copot. Belum lagi ular berbisa yang terus mengincarku dari balik batu, kelelawar haus darah yang mencoba memakan energiku, dan badai malam yang hampir membuatku jatuh ke jurang...”
Semakin lama ia bicara, semakin dramatis pula nadanya.
Beberapa murid di sekitar bahkan mulai mendengarkan dengan serius.
Sementara sang Tetua...
Hampir tertawa.
Bocah ini jelas sedang membual demi tambahan poin.
Namun entah kenapa, melihat wajah Qin Xiang yang begitu “tulus” saat berbohong membuat pria tua itu justru merasa geli.
“Hmph.” Tetua itu mendengus sambil mengelus janggutnya. “Dasar bocah licik.”
Meski begitu, sudut bibirnya tampak sedikit terangkat.
“Karena kualitas Mawar Giok Darah ini memang sangat bagus, aku akan memberimu bonus poin tambahan.”
Mata Qin Xiang langsung berbinar samar.
“Terima kasih, Tetua.”
“Berikan plat identitasmu.”
Qin Xiang segera menyerahkan plat peraknya.
Beberapa saat kemudian, plat itu kembali dikembalikan kepadanya.
“Seratus lima puluh poin,” ujar sang Tetua tenang. “Gunakan dengan baik. Dan karena kau sekarang resmi menjadi murid sekte luar, pergilah ke Paviliun Teknik atau Paviliun Harta. Jangan biarkan poin itu membusuk sia-sia.”
Qin Xiang mengangguk singkat. “Enn.”
Namun sebelum ia benar-benar pergi, sang Tetua kembali memandang punggungnya diam-diam.
Tatapannya perlahan menyipit, seolah ada sesuatu yang berkelabat dalam benak tuanya.
Dalam hitungan minggu...
Anak ini berubah terlalu cepat.
Dan perubahan seperti itu biasanya hanya muncul pada dua jenis manusia.
Monster.
Atau naga.
“Sepertinya...” gumam sang Tetua lirih, “seekor naga kecil mulai bangkit di Sekte Pedang Giok.”
...
Setelah keluar dari Aula Misi, Qin Xiang sempat berhenti sejenak di depan papan pengumuman.
Matanya memindai beberapa misi baru dengan cepat.
Perburuan monster.
Pengawalanpedagang.
Pengumpulan herbal.
Namun tak satu pun benar-benar menarik minatnya.
Saat ini, ia memiliki tujuan lain: Paviliun Harta.
Ia tidak membutuhkan Paviliun Teknik.
Teknik kultivasi?
Teknik pedang?
Mantra?
Dalam kepalanya tersimpan ribuan teknik surgawi yang bahkan mampu membuat para Kaisar di alam atas saling membunuh demi memperebutkannya.
Yang ia butuhkan sekarang hanyalah sebuah senjata.
Sebuah pedang yang cukup layak untuk menyalurkan kekuatannya demi mengurangi kelemahannya.
...
Tak lama kemudian, Qin Xiang akhirnya tiba di Paviliun Harta.
Bangunan besar itu berdiri megah di pusat sekte dengan tiga lantai menjulang tinggi. Murid sekte luar maupun dalam terlihat berlalu-lalang di sana, membuat suasana terasa sangat hidup.
Dentang logam.
Gesekan pedang.
Suara tawar-menawar poin sekte.
Semua bercampur menjadi satu.
Begitu masuk ke lantai pertama, Qin Xiang mulai berjalan perlahan di antara rak-rak senjata.
Pedang.
Tombak.
Kapak.
Belati.
Berbagai jenis senjata tersusun rapi di bawah cahaya lampu kristal.
Namun semakin lama ia melihat...
Semakin dalam kerutan di dahinya.
“Rapuh.”
“Tidak seimbang.”
“Qi-nya bocor.”
“Pedang macam ini bahkan tidak pantas jadi pengaduk tungku pil...”
Ia menghela napas panjang.
Sebagai mantan Kaisar Agung, standar miliknya memang terlalu tinggi.
Namun yang paling menyakitkan bukan itu.
Melainkan harga.
Beberapa pedang yang lumayan layak ternyata dibanderol seribu hingga seribu lima ratus poin sekte.
Qin Xiang tiba-tiba merasa dirinya sangat miskin. Ratusan tahun hidup di puncak dunia membuatnya hampir lupa bagaimana rasanya tidak punya uang. Sosoknya yang agung bahkan sekarang harus memikirkan poin sekte belaka demi membeli pedang kelas menengah.
Namun tepat saat suasana hatinya mulai memburuk, tatapannya tiba-tiba berhenti di sudut paviliun.
Lalu...
Senyum tipis perlahan muncul di wajahnya.
Di sana, di sudut paviliun. Tiga sosok saat ini berdiri membeku seperti patung kayu begitu merasakan tatapan 'iblis' dari Qin Xiang.
Mereka adalah Xiao Jing, dan dua anteknya.
Wajah ketiganya langsung pucat pasi begitu mata mereka bertemu dengan Qin Xiang.
Rasanya seperti melihat iblis berjalan masuk ke rumah mereka sendiri.
“Qi-Qin Xiang...” suara Xiao Jing langsung gemetar.
Kedua pengikutnya bahkan refleks mundur setengah langkah.
Trauma mereka ternyata masih sangat segar.
Qin Xiang berjalan mendekat perlahan sambil menyimpan kedua tangan di belakang punggung.
Setiap langkahnya terasa begitu santai.
Namun justru itu yang membuat Xiao Jing semakin tertekan.
“Xiao Jing,” ujar Qin Xiang tenang. “Bukankah beberapa hari lalu di Kota Giok kau berkata bahwa seorang pria sejati harus bertarung secara adil di arena sekte?”
Senyumnya perlahan melebar. “Kalau begitu... bagaimana kalau kita menyelesaikannya sekarang?”
Mendengar itu, wajah Xiao Jing merasa ingin menangis tetapi air matanya tidak ingin keluar.
“A-Arena apa?! Aku tidak pernah bilang begitu!” sangkalnya buruk.
“Oh?” Qin Xiang memiringkan kepala sedikit. “Kau lupa?”
Ia melangkah semakin dekat, sampai akhirnya wajah mereka hanya terpisah beberapa jengkal saja.
Senyum Qin Xiang yang tampak tenang, justru terlihat seperti senyuman penghuni neraka di mata pengecut Xiao Jing,
“Qi-Qin Xiang...” suara Xiao Jing mulai bergetar hebat. “Ki-kita sesama murid sekte, tidak perlu pakai kekerasan begini, kan...?”
“Benar juga.”
Qin Xiang mengangguk pelan, membuat Xiao Jing hampir menangis lega. Akan tetapi kalimat berikutnya langsung menghancurkan harapannya.
“Kalau begitu, serahkan seluruh poin kalian.”
Hening.
“...Hah?”
“Anggap saja pembayaran hutang lama," ucap Qin Xiang santai, seolah hanya meminta sekeping koin perak.
“Kau merampok kami?!” Xiao Jing membelalak.
"Merampok?" Qin Xiang tersenyum lebih ramah. “Aku lebih suka menyebutnya... kompensasi emosional.”
“...”
Pada akhirnya, di bawah tekanan aura Qin Xiang yang mendominasi, ketiganya hanya bisa menangis dalam hati sambil mentransfer seluruh poin sekte mereka.
Beberapa murid di sekitar bahkan pura-pura tidak melihat.
Karena ekspresi trio pengacau saat itu terlalu menyedihkan.
Tak lama kemudian, Qin Xiang akhirnya berhasil membeli sebuah pedang kelas menengah dengan kualitas baja yang cukup baik.
Tangannya menggenggam gagang pedang itu perlahan.
Meski masih jauh dari kata sempurna...
Setidaknya senjata ini cukup untuk sementara.
Sementara itu di belakangnya—Xiao Jing, Gu Weian, dan Weian Gu duduk bersimpuh di lantai dengan wajah putus asa.
Tatapan mereka kosong. Seolah kekasih mereka baru saja dibawa kabur oleh tetangga tidak tahu malu.
“Poin tabunganku selama enam bulan...” gumam salah satu dari mereka dengan mata berkaca-kaca.
“Itu bahkan uang makanku...” yang lain ikut merintih.
Xiao Jing sendiri hanya duduk memeluk lutut sambil menatap kehampaan.
Matanya tampak sedikit basah, seolah air mata akan menetes segera jika tidak ada siapa-siapa di sana.
...
Bersambung!
Jangan lupa like, komen, dan beri dukungan lainnya agar author lebih semangat, makasih :)