Gavin tidak menyangka istri yang dulu berbuat licik demi menikah dengannya, Tiba-tiba setuju bercerai.
Dua tahun menikah dengan rasa dendam, Gavin tidak pernah benar-benar mengenal sosok Azalia, ah, lebih tepatnya tidak peduli.
Perceraian yang dinanti itu akhirnya akan segera terwujud. Gavin sudah tidak sabar menunggu kedatangan kekasihnya yang dulu pergi karena dirinya terpaksa menikah.
Lantas apakah perceraian yang dinanti Gavin akan benar-benar terwujud?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat istriku setuju bercerai
Aku tidak menyangka, istri yang ku nikahi 2 tahun lalu setuju bercerai begitu saja. Tanpa kata, tanpa syarat. Dia yang dulu begitu licik mengikatku dalam pernikahan, kini berdiri dengan berkas perceraian tanpa penyesalan sedikitpun.
Trik apa yang sedang dia lakukan, mencoba menarik ulur perasaanku?
_______Gavin___________
Aku duduk di hadapan Mama dengan tangan mengepal di atas pangkuanku. Udara di ruangan ini terasa begitu dingin, seperti hatiku yang sepertinya sudah kian membeku.
Aku hanya bisa menelan ludah, jantungku berdegup kencang, karena setiap kali ini terulang, jawaban itu masih tetap sama.
"Ini tidak benar kan? Kamu sudah menikah selama dua tahun dengan Gavin dan masih belum hamil juga?"
Suara Mama meninggi ketika test kehamilan itu lagi-lagi menunjukkan satu garis. Matanya melotot, memandangku penuh kekecewaan.
"Kamu benar-benar tidak berguna!"
Lagi, dia membentakku tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Aku hanya menunduk, telingaku sudah terbiasa di maki dan di caci seperti hari ini.
"Maaf," Aku berucap lirih.
"Maaf!? Maaf terus yang keluar dari mulutmu! Sebenarnya apa yang salah dengan tubuhmu sampai-sampai kau tak kunjung hamil?"
Aku hanya bisa mengigit bibir, andai saja Mama tahu apa yang kualami.
Bahkan mungkin sampai aku tua, jika Gavin tidak pernah menyentuhku, bagaimana aku bisa hamil?
Masih jelas di ingatanku saat dua tahun lalu Gavin meluahkan kekecewaannya.
"Berani sekali keluarga Sanjaya menjebakku! Meskipun aku setuju menikahimu, aku bersumpah seumur hidupmu kau akan mati dalam kesepian!"
Aku menarik napas dalam-dalam. Setelah berlalu dua tahun sejak Gavin mengatakan itu di malam pernikahan, rasa sakitnya masih sama.
"Pergilah kedokter tanyakan kondisimu, jika memang kau mandul, kau bisa carikan suamimu wanita yang bisa mengandung anak untukmu. Setidaknya itu bisa membuat Gavin simpati padamu."
Suara Mama rendah, tapi terasa tajam sampai menusuk telinga. Jantungku serasa di tusuk ratusan jarum. Sakit.
Aaahhh....
Aku mendesis pelan, mengigit bibir bawahku lebih kuat.
Rasa sakit dari ucapan Mama belum hilang, ketika rasa sakit yang sama yang selalu menyerangku kembali datang. Kepalaku seperti di tusuk-tusuk paku.
Aku sadar ada yang salah dengan tubuhku, tapi semakin kesini, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Rasanya aku sungguh tak kuat...
"Azalea, kau dengar, tidak?" Marta Mamaku kembali berteriak.
"Aku... Aku akan memikirkannya nanti."
Untunglah mobil jemputan Mama sudah datang. Aku segera masuk kedalam kamarku. Ah, mungkin lebih tepatnya kamar Gavin yang dipinjamkan padaku.
Langkahku mulai goyah. Dunia seperti berputar dalam pandanganku.
Tempat tidur sudah terlihat. Sedikit lagi.
Kuseret kaki ini sekuat tenaga. Jari-jariku berusaha mengapai dinding untuk berpegangan. Ada obat yang sudah diresepkan Dokter Wahyu di laci. Sebisa mungkin aku harus segera menelan obat itu sebelum kesadaranku terenggut.
Sungguh ini sakit sekali....
Tolong....
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Getar ponsel membangunkanku. Mataku mengerjap pelan. Masih ada rasa berat di kepalaku saat aku mencoba bangun.
Apa ini?
Kenapa...kenapa ada darah saat aku mengusap hidungku?
Ini.... Ini begitu banyak! Hampir menodai setengah bantal yang aku tiduri. Ada apa dengan tubuhku.
Di balik jendela sudah gelap. Seberapa lama aku pingsan?
Aku kembali ingat ucapan Dokter Wahyu waktu itu.
"Azalea, jika kau mulai mimisan, segera datang padaku, ya?"
Aku masih mengingatnya, dan hari ini ku alami, apakah penyakitku ini semakin parah?
Kuraih ponsel yang tadi bergetar, sebuah pesan dari Gavin.
[Aku tidak pulang malam ini]
Pesan itu dikirim Gavin barusan. Aku hanya membacanya, lalu kuletakkan lagi ponselku.
Memang apa yang kuharapkan? Gavin hampir tak pernah pulang setelah kami menikah. Rumah ini, selain aku, tidak ada siapa pun di sini.
Gavin benar-benar mewujudkan sumpahnya padaku. Semua kulakukan sendiri.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Aku benar-benar datang ke rumah sakit menemui Dokter Wahyu.
Duduk di atas kursi pemeriksaan. Aku berusaha mengatur napas, kepalaku masih terasa berat sejak tadi pagi. Mungkin aku harus terbiasa, karena aku tahu ini tidak akan benar-benar membaik.
Sejak aku datang. Dokter Wahyu menatapku berbeda, pria berusia akhir empat puluh tahun itu biasanya selalu tenang dan ceria, tapi kali ini ada sorot khawatir di matanya.
Dua jam sudah pemeriksaan ini kulalui. Hingga akhirnya pintu terbuka. Dokter Wahyu melangkah masuk, membawa map coklat ditangannya. Dia menutup pintu, kemudian berbalik menatapku sebelum akhirnya duduk di kursinya.
"Azalea," Panggilnya pelan. Aku bisa merasakan sesuatu yang tidak beres hanya dengan cara dia mengucapkan namaku.
Ku paksakan bibir untuk tersenyum, seolah itu bisa membuat suasana lebih ringan. Kepalaku mengangguk pelan, sebelum akhirnya ku beranikan diri untuk menanyakan kondisiku. "Bagaimana hasilnya, Dok?"
Dokter Wahyu menghela napas panjang, membuka map, dan memperlihatkan hasil tes labku. Aku seolah merasakan waktu yang berjalan lebih lambat.
"Kondisimu tidak bisa menunggu lebih lama, Azalia," katanya. "Tekanan hematoma di otakmu meningkat lebih cepat dari dugaanku. Jika ini terus dibiarkan, resikonya semakin besar."
Aku sudah menduga ini, tapi tetap saja mendengar kepastian itu langsung dari mulut Dokter Wahyu terasa seperti pukulan yang menghantam dadaku.
"Sampai kapan aku bisa bertahan, Dok?" Aku berusaha menerima, mau bagaimana lagi.
Dokter Wahyu menutup map-nya perlahan, lalu menatapku lekat-lekat. "Azalia kondisimu tidak bisa diabaikan." Suaranya lebih serius kali ini. "Jika kamu terus menunda operasi, resikonya akan semakin besar. Kondisimu ini bisa berubah seiring waktu, bisa lebih buruk dari yang kamu bayangkan, dari yang awalnya mimisan, menjadi koma dalam hitungan hari. Bahkan jam."
Hatiku pilu. Aku mengalihkan pandangan, menatap lantai. Aku tahu ini serius. Tapi aku tak tahu harus bagaimana?
Operasi itu....bukan sesuatu yang bisa kulakukan begitu saja.
Aku menggigit bibir. "Biaya operasi itu tidak sedikit, Dok." Suaraku seperti menghilang. "Dan aku...,"
Dokter Wahyu terdiam sejenak, lalu bersandar di kursinya. "Azalea, aku tahu kamu punya banyak hal yang kamu pikirkan. Tapi nyawamu yang jadi taruhannya di sini. Aku sudah berupaya menunda ini selama mungkin, tapi sekarang aku tidak bisa lagi membiarkanmu terus begini."
Hatiku terasa dingin, kata-kata Dokter Wahyu memukul kesadaran, nyawaku jadi taruhannya. Seakan aku tidak sadar akan hal itu. Seolah-olah aku mempermainkan hidupku sendiri. Hanya aku yang tahu dan terus bertanya-tanya berapa lama lagi aku bisa bertahan sebelum akhirnya tubuhku menyerah.
Aku menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahu. "Aku akan mencari cara," kataku. "Aku akan mencari uangnya, Dok."
"Azalea....,"
"Aku akan baik-baik saja," potongku, kembali memaksakan senyum. " Aku pasti bisa bertahan."
Dokter Wahyu mengusap wajahnya, tampak frustasi. "Azalea ini bukan masalah kamu bisa bertahan. Ini soal fakta medis. Aku tidak ingin suatu hari nanti aku menerima kabar bahwa kamu ditemukan pingsan di jalan atau lebih buruknya...,"
Aku lekas berdiri, tidak mau mendengar ucapan Dokter Wahyu lebih banyak, menolak membiarkan tubuhku terlihat lemah. "Aku mengerti, Dok. Tapi aku tidak punya pilihan lain."
Dokter Wahyu terdiam lama sebelum akhirnya mengangguk. "Aku akan memberikan resep obat sementara untuk mengurangi tekanan di kepalamu. Tapi ini tidak akan menyembuhkan, hanya mengulur waktu. Aku ingin kamu berjanji padaku Azalia jangan menunda ini terlalu lama."
Aku menggigit bibir, lalu mengangguk pelan.
Dokter Wahyu menghela napas, kemudian menulis sesuatu di resepnya. "Aku menunggu kabar baik itu secepatnya."
Aku tidak menjawab. Karena aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa datang dengan kabar baik itu, apa justru kabar duka yang menyatakan bahwa aku sudah meninggalkan dunia yang selama ini ku pijak.
######
Hai... aku kembali membuat cerita pov ini...
Setelah sebelumnya 'Akulah sang pelakor' yang lumayan mendapatkan banyak pembaca, kini, aku hadir lagi membawakan kisah Azalia yang tak kalah menyedihkan dibanding sosok Lily di peran utama novel sebelumnya..
Teman-teman jangan lupa dukungan untukku ya, like, komen dan vote, eh jangan lupa bintang ⭐⭐⭐⭐⭐
Happy Reading....
Jadi Gedeg sama dua laki laki kakak beradik ini.
seabaiknya km kmbalikn ginjal azalea dech....
mulut laki" sampah kau alvin🙄🙄
punya org tua nyatanya hidupmu layaknya yatim piatu....
punya suami... tpi km seolah janda... bhkn km harus merasakn kbencian dri suami & keluarga besarnya...
smoga kelak ada keajaiban untukmu hidup bahagia azalea...