Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.
Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.
Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.
Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: POSESIF TINGKAT DEWA
Raungan mesin motor gede Arden perlahan menghilang di balik gerbang utama Bimantara Tower, menyisakan kepulan asap tipis dan segerombolan karyawan wanita yang masih asyik bergosip di lobi. Namun, di lantai lima, atmosfer di dalam ruangan CEO justru mendadak berubah mencekam, layaknya sebuah ruangan interogasi yang siap mengeksekusi penjahat kelas kakap.
Bima masih berdiri kaku di tepi dinding kaca. Sepasang matanya yang setajam elang melotot sempurna menyaksikan pemandangan yang menimbulkan desir panas dalam hatinya di bawah sana. Dari ketinggian ini, dia melihat dengan sangat jelas bagaimana motor besar itu menyentak maju, membuat tubuh Anaya terdorong ke depan dan secara refleks menyurukkan wajahnya ke punggung si pengendara jaket kulit. Tak hanya itu, kedua tangan Anaya yang tadi hanya hinggap di bahu, kini sudah melingkar sempurna, memeluk erat pinggang berotot pria tak dikenal tersebut.
BRAKK!
Satu tendangan tanpa ampun mendarat telak di tempat sampah stainless steel estetis yang berada di sudut ruangan. Benda malang itu langsung penyok dan terguling mengenaskan di atas lantai marmer, memuntahkan beberapa gumpalan kertas draf yang sudah diremas.
"Berani-beraninya kamu meluk cowok lain di wilayah kekuasaan saya, Anaya Sandriana!" geram Bima dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah yang siap meledak.
Napas Bima memburu kasar. Dadanya naik turun dengan ritme yang tidak beraturan. Sisi posesifnya yang biasanya masih bisa disembunyikan di balik topeng profesionalitas, sore ini mendadak lepas kendali, bertingkah liar layaknya dewa yang sedang mabuk kekuasaan. Pikirannya yang sejak pagi sudah terkontaminasi visualisasi seksi tentang Anaya, kini makin diperparah dengan asumsi sepihak bahwa sekretarisnya itu sedang memamerkan pacar berondong baru tepat di bawah hidungnya.
Bima berjalan cepat menuju meja kerjanya dengan langkah lebar yang menghentak keras. Dia menyambar gagang telepon kabel di mejanya, lalu menekan tombol ekstensi menuju divisi paling sakral di perusahaan.
Tut... Tut...
"Selamat sore, divisi HRD dengan Lisa di sini—"
"Lisa, potong gaji Anaya bulan ini sebanyak dua puluh persen!" potong Bima tanpa basa-basi, suaranya menggelegar dingin hingga membuat staf HRD di seberang telepon langsung gemetaran.
Di ujung telepon, Lisa mendadak keringat dingin. Dia buru-buru membetulkan posisi duduknya. "Eh? Maaf, Pak Bima... potong gaji atas nama Mbak Anaya sekretaris Bapak? Kalau boleh tahu, pelanggaran kode etik apa ya yang sudah dilakukan oleh Mbak Anaya?"
Bima melonggarkan ikatan dasinya dengan satu tangan secara kasar, merasa dadanya semakin sesak. "Dia melakukan tindakan tidak senonoh dan tidak menjaga kehormatan citra perusahaan di area publik Bimantara Tower!"
Lisa mengerutkan dahi, langsung membuka sistem data pelanggaran karyawan sambil memegang pulpen dengan tangan gemetar. "Tindakan tidak senonoh? Maksud Bapak... Mbak Anaya melakukan pungutan liar atau merusak fasilitas kantor, Pak?"
"Bukan!" bentak Bima ketus, wajah ketampanannya kini sudah memerah padam karena menahan cemburu buta yang enggan dia akui. "Dia sengaja tebar pesona, melakukan kontak fisik yang kelewat batas, pelukan di atas kendaraan roda dua, dan bermesraan dengan sengaja di area parkiran depan lobi! Semua karyawan wanita sampai membuat kegaduhan karena melihat aksi tidak tahu tempat itu!"
Lisa terdiam seribu bahasa di seberang sana. Pikirannya langsung mencoba mencerna ucapan sang CEO. Kebetulan, Lisa tadi juga sempat melihat dari jendela HRD lantai tiga kalau Anaya dijemput oleh seorang cowok super tampan berkulit eksotis yang mengendarai motor gede. Dan setahu Lisa, cowok itu hanya memakaikan helm merah muda ke kepala Anaya sebelum mereka pergi dengan sopan.
"Maaf sekali, Pak Bima..." Lisa memberanikan diri berbicara dengan nada super hati-hati, takut salah kata lalu malah gajinya sendiri yang ikut dipotong. "Tapi berdasarkan aturan tertulis di draf komite disiplin perusahaan, memakai helm cadangan dan berboncengan motor di luar jam kantor itu... tidak termasuk dalam kategori tindakan kriminal atau pelanggaran asusila, Pak."
"Saya tidak peduli aturan tertulis!" sahut Bima angkuh, ego narsisnya mendadak naik ke level maksimal. "Saya yang membuat aturan di gedung ini, Lisa. Kalau saya bilang itu tindakan tidak senonoh, artinya itu melanggar hukum kenyamanan mata saya! Pokoknya potong gajinya!"
"Tapi, Pak Bima, draf pemotongan gaji secara sepihak tanpa surat peringatan pertama itu bisa dituntut ke dinas tenaga kerja—"
"Ya sudah, kalau begitu masukan drafnya sebagai denda pelanggaran fasilitas!" sela Bima lagi, makin tidak masuk akal.
"Fasilitas apa yang dirusak oleh Mbak Anaya, Pak?" tanya Lisa pasrah.
"Dia sudah merusak ketenangan pikiran CEO Bimantara Group! Dan itu adalah kerugian paling besar untuk stabilitas saham perusahaan minggu ini!" Setelah mengucapkan kalimat yang kelewat ajaib itu, Bima langsung membanting gagang telepon kembali ke tempatnya dengan keras.
Klik.
Bima mengempaskan tubuhnya ke atas kursi kerja kulitnya. Dia memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut-denyut kencang. Tangannya meraih gelas berisi sisa es batu cair dari drama stroberi tadi siang, lalu meneguk air dingin itu dalam sekali tegak. Sumpah demi apa pun, seumur hidupnya, Bima tidak pernah merasa sefrustrasi ini hanya karena melihat seorang wanita berboncengan motor dengan pria lain.
"Kamu bener-bener luar biasa ya, Anaya," gumam Bima pada ruangan yang sepi, matanya menatap tajam ke arah kursi kosong di kubikel luar melalui celah pintu. "Bisa-bisanya kamu pelukan sama berondong itu, sementara sama saya yang punya segalanya... kamu malah pasang tampang kayak mau ngajak tawuran."
Sementara itu, di atas motor gede yang sedang melaju membelah kemacetan jalanan Sudirman, Anaya mendadak bersin berkali-kali di dalam helmnya.
Hatchii! Hatchii!
"Mbak Nay? Kamu masuk angin ya? Makanya, kalau kerja jangan lembur mulu, kantong mata kamu udah kayak kantong kresek tahu!" teriak Arden dari balik helmnya, suaranya sedikit teredam deru angin jalanan.
Anaya mengusap hidungnya yang terasa gatal menggunakan punggung tangannya. "Bukan masuk angin, Den! Ini pasti ada orang ngomongin mbak. Feeling mbak mendadak gak enak banget nih."
Arden terkekeh geli, membuat bahunya yang lebar bergerak-gerak. "Halah, palingan bos narsis kamu itu yang lagi kangen karena gak ada yang bisa dia omelin malam minggu begini."
"Ih, amit-amit jabang bayi! Jangan sampai ya!" sahut Anaya sambil mengetuk-ngetuk helm merah mudanya ke punggung Arden sebagai ritual pengusir sial.
Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, Anaya tidak bisa membohongi rasa waswasnya. Kilasan tatapan mata Bima yang super dingin dari lantai lima tadi terus berputar di kepalanya. Anaya tahu betul, hari Senin besok tidak akan berjalan dengan mudah. Dia harus menyiapkan mental baja, karena sang bos posesif tingkat dewa dipastikan sudah menyiapkan jebakan batman baru untuk membalas dendam atas drama pelukan di atas motor gede sore ini.
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...