NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XVI

  Akhirnya mereka mengakhiri pembicaraan itu, lalu masing-masing kembali beristirahat. Anran pun menggendong Lulu yang masih ketakutan, membawa anak kecil itu ke dalam kamarnya agar bisa tidur dengan tenang.

Keesokan paginya, rasa penasaran Mu Chen tak bisa ia tahan lagi. Ia bergegas pergi menuju lokasi yang diceritakan Anran kemarin. Namun saat sampai di sana, tempat itu sudah tampak bersih dan kosong, seolah-olah tak pernah terjadi pertarungan atau peristiwa apa pun di tempat itu. Tak ada setetes darah pun, tak ada bekas perkelahian, semuanya sudah hilang tanpa jejak.

Saat hendak berbalik badan untuk pergi, pandangannya menangkap sesosok tubuh yang terbaring di balik tembok tak jauh dari situ. Ia melangkah mendekat, dan betapa terkejutnya ia saat menyadari bahwa orang itu adalah Luna. Ternyata semalam, luka tusukan di perutnya kembali robek dan mengeluarkan darah begitu banyak, hingga kini ia terbaring lemah, wajahnya pucat, napasnya tersengal-sengal, dan tampak sudah sangat sekarat, seolah ia akan mati saat itu juga.

Mu Chen menatapnya dingin, niat pertamanya hanyalah meninggalkan wanita itu begitu saja dan pergi. Namun tepat saat ia hendak melangkah, tangan Luna yang gemetar dan dingin tiba-tiba menjulur lemah, menggenggam ujung pakaian Mu Chen dengan sisa tenaga yang masih ada.

Mu Chen terpaksa berbalik menatapnya. Kali ini, tak ada lagi raut wajah dingin, tajam, atau penuh rasa kesal yang biasa ia lihat. Wajah Luna kini tampak begitu lemah, penuh kepedihan, dan menatapnya dengan pandangan memelas yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Tolong aku… kali ini saja…” suaranya keluar lirih, hampir tak terdengar, dan tepat setelah kalimat itu terucap, matanya hampir terpejam dan tubuhnya terkulai lemas, ia pun jatuh pingsan di depan kaki Mu Chen.

Akhirnya, tak ada pilihan lain bagi Mu Chen selain mengangkat tubuh Luna dan membawanya pulang. Sepanjang perjalanan, keadaan Luna masih setengah sadar, matanya terbuka dan tertutup tak tentu arah. Namun sesekali ia melirik wajah Mu Chen yang tampan dan tegas, berahang kuat, bermata tajam namun memikat, berkulit cerah, dan memiliki bentuk bibir yang manis. Tanpa disadarinya, senyum lembut dan manis terukir di bibirnya, senyum yang belum pernah dilihat Mu Chen sebelumnya. Sementara itu, Mu Chen terus melangkah sembari sesekali menatap wanita dalam gendongannya dengan perasaan heran, tak mengerti mengapa ia rela bersusah payah membawa pulang sosok yang dulu pernah dianggapnya iblis itu.

Sesampainya di depan rumah, Anran yang sedang duduk bersama Lulu seketika bangkit berdiri dengan mata terbelalak kaget. Wajahnya berubah pucat saat melihat sosok yang dibawa kakaknya.

“Kak?! Kenapa… kenapa Kakak membawa wanita ini kembali ke sini?!” seru Anran tak percaya, rasa takut dan bingung bercampur jadi satu.

Namun Mu Chen sama sekali tak memberi kesempatan untuk bertanya lebih jauh. Ia langsung berbicara dengan nada tegas namun cepat.

“Jangan banyak bertanya dulu! Cepat panggil tabib ke sini, lukanya parah dan ia kehilangan banyak darah! cepatlah!”

Melihat ketegasan kakaknya, Anran pun tak berani menolak. Dengan hati yang masih penuh rasa takut dan ragu, ia segera berlari keluar untuk menjemput tabib.

Mu Chen lalu membaringkan tubuh Luna di atas kasur di dalam kamar. Saat ia hendak berbalik badan dan melangkah keluar, tiba-tiba tangan Luna yang panas dan gemetar menjulur, lalu menggenggam erat lengan Mu Chen. Mata wanita itu masih terpejam rapat, namun mulutnya bergerak-gerak, mengigau dengan suara lirih yang menyayat hati.

“Ayah… Ibu…Jangan pergi..?”

Mendengar kata-kata itu, hati Mu Chen seketika bergetar. Ia tertegun sejenak, lalu berusaha melepaskan genggaman tangan Luna secara perlahan. Namun genggaman itu justru makin erat, seolah wanita itu sedang berpegang teguh pada satu-satunya harapan yang tersisa baginya. Akhirnya Mu Chen memilih diam di tempat, tak beranjak pergi sedikit pun, dan menatap wajah Luna yang tampak begitu rapuh, penuh penderitaan, dan jauh dari sosok mengerikan yang selama ini ia kenal.

Beberapa saat kemudian, Anran kembali datang bersama tabib. Saat keduanya melangkah masuk ke dalam kamar, pemandangan yang terlihat membuat mereka langsung terhenti. Di sana, Mu Chen berdiri mematung di tepi tempat tidur, tubuhnya sedikit membungkuk, menatap wajah Luna yang sedang tidur, sementara tangan wanita itu masih menggenggam erat tangan kakaknya.

Anran dan tabib saling pandang satu sama lain, mata mereka sama-sama melebar penuh arti dan kesalahpahaman. Di mata mereka berdua, pemandangan itu tampak begitu akrab, intim, dan penuh perhatian.

Baru saat itulah Mu Chen tersadar, ia buru-buru menarik tangannya paksa hingga terlepas dari genggaman Luna, wajahnya seketika memerah karena canggung dan kaget.

“Ini… ini sama sekali tidak seperti yang kalian pikirkan! Jangan salah paham!” bantahnya dengan nada cepat dan agak tinggi. Tanpa mau berlama-lama lagi, ia langsung berbalik badan dan melangkah keluar ruangan dengan langkah terburu-buru, meninggalkan Anran dan tabib yang masih saling pandang dengan tatapan penuh tanya dan rasa heran.

Tabib segera memeriksa keadaan Luna dan mendapati luka di perutnya sudah makin parah, jahitan lamanya robek habis dan lukanya semakin melebar.

“Menjahitnya kembali akan terasa luar biasa menyakitkan, seolah dibunuh hidup-hidup, tapi ini hanya satu-satunya cara menyelamatkan nyawanya,” ucap tabib.

Ia lalu menyuruh Mu Chen dan Anran memegangi tubuh Luna, karena wanita itu pasti akan meronta-ronta menahan sakit. Awalnya Mu Chen menolak, namun tabib bersikeras: jika gadis ini tidak ditahan, proses ini bisa gagal dan gadis ini mungkin akan mati disini. Ucap tegas tabib kepada kakak-adik itu.

Akhirnya mereka pun setuju. Namun sebelum mulai, tabib berkata dengan nada dingin, “Kalau kalian tak sungguh berniat menolongnya, lebih baik biarkan saja dia mati atau langsung buang dia keluar.” Ucapan itu seketika membuat Mu Chen dan Anran terdiam.

Mereka pun mulai menahan tubuh Luna. Sebenarnya, seharusnya Anran yang memegangi kedua tangan Luna, namun ia terlalu takut melihat proses penjahitan luka di perut yang mengerikan itu, jadi ia memilih memegangi bagian kaki saja. Mau tak mau, Mu Chen pun terpaksa menggantikan posisinya, memegang kedua tangan Luna dengan kuat, seolah-olah takut gadis itu akan bangkit menghajarnya.

Saat tabib mulai menusukkan jarum dan benang ke daging yang terbuka itu, Luna seketika menggeliat hebat dan memberontak kesakitan. Meski sudah diberi obat penenang, rasa sakit yang luar biasa itu tetap terasa menyiksa, membuatnya terus meronta sekuat tenaga sambil mengerang pelan.

“Tahan dia! Jangan sampai bergerak!” seru tabib sambil terus bekerja.

Mu Chen menekan tangan Luna makin kuat, namun di satu gerakan rontakan Luna yang keras, tubuhnya yang condong ke depan seketika kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh tepat ke arah wajah Luna, dan bibirnya tak sengaja mendarat lembut di salah satu pipi wanita itu.

Anran dan tabib yang melihat itu seketika terdiam, lalu dengan serentak mereka memalingkan wajah dan berpura-pura sangat fokus, seolah tak melihat apa-apa.

Wajah Mu Chen seketika memerah sampai ke telinga, campuran antara kaget, malu, dan canggung yang luar biasa. Ia buru-buru bangkit kembali dan kembali memegang tangan Luna, seolah tak terjadi apa-apa, namun napasnya jadi tak beraturan.

“Kau… diamlah! Jangan banyak bergerak!” bentak Mu Chen dengan suara agak tinggi dan bergetar, meski ia sadar Luna sama sekali tak mendengarnya karena dalam keadaan tak sadarkan diri.

“Kak, pegang yang kuat… jangan sampai terlepas lagi,” ucap Anran pelan, matanya tetap menatap lantai menahan senyum.

“Aku tahu! Tidak usah kau katakan!” sahut Mu Chen ketus, wajahnya masih terasa panas membara.

“Sabar, sebentar lagi selesai,” ujar tabib dengan nada santai, seolah sengaja menyindir, membuat Mu Chen semakin tak betah berada di sana.

Akhirnya proses penjahitan itu pun selesai. Tabib mengeluarkan beberapa bungkus obat yang harus diminum secara teratur serta salep untuk dioleskan pada lukanya, lalu menyerahkannya kepada Mu Chen.

Sebelum melangkah keluar dari kamar, tabib menoleh dan berkata dengan nada datar serta dingin kepada Mu Chen dan Anran.

“Sudah selesai, kalian tak perlu khawatir.” Ia menghela napas panjang, lalu melanjutkan, “Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya, tapi ingat baik-baik kata-kata ku ini: jika gadis ini terluka lagi atau lukanya robek kembali, tidak perlu repot-repot memanggilku. Saat itu tiba, lebih baik kalian langsung siapkan saja peti matinya.”

Setelah melontarkan ucapan pedas itu, tabib langsung berbalik badan dan pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban atau pamit sedikit pun. Mu Chen dan Anran hanya menatap tabib itu dengan wajah penuh keheranan.

Setelah itu, Anran kembali bertanya kepada Mu Chen, ingin tahu alasan di balik keputusan kakaknya membawa gadis ini pulang, serta bingung harus berbuat apa selanjutnya. Mu Chen pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi serta alasan yang membuatnya akhirnya membawa Luna ke sini. Ia pun menjawab dengan tenang, sebaiknya kita tunggu dulu sampai gadis ini sadar, baru kemudian membicarakan dan menentukan apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Akhirnya, mereka berdua sepakat untuk menunggu dan membiarkan Luna beristirahat hingga ia siuman kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!