Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Mahasiswa
Matahari pagi bersinar cerah, menembus sela-sela jendela kayu rumah kolonial Belanda yang kini tidak lagi terasa dingin dan mencekam. Suasana mistis yang sempat menggelayuti tempat itu seolah menguap bersama kabut Jarian yang telah takluk. Di halaman depan, sebuah mobil minibus sewaan sudah terparkir, siap membawa Adrian, Dinda, dan Bagas kembali ke Jakarta.
Hari itu adalah hari terakhir masa KKN mereka. Tugas pengabdian telah usai, dan yang lebih penting, ikatan persahabatan mereka keluar sebagai pemenang dari ujian yang hampir merenggut nyawa.
Para warga desa, dipimpin oleh Pak RT dan Kang Kosim, berkumpul di halaman untuk melepas kepergian ketiga mahasiswa tersebut. Di antara kerumunan itu, berdiri Aki Sukra yang menatap mereka dengan senyum teduh, memegang tongkat kayunya.
"Aki terima kasih banyak. Kalau bukan karena bantuan, doa, dan keris pusaka dari Aki, kami bertiga mungkin tidak akan pernah berdiri di sini hari ini." Adrian melangkah mendekati sang tetua desa, lalu membungkuk hormat.
"Bukan Aki yang menyelamatkan kalian, Nak Adrian. Tapi ketulusan hatimu dan keberanianmu yang melawan maut demi sahabat. Pusaka hanyalah perantara, tapi jiwa yang bersih adalah senjatanya. Bawalah pengalaman ini sebagai pelajaran hidup yang berharga." Aki Sukra menepuk bahu Adrian dengan lembut.
Dinda dan Bagas ikut maju, menyalami Aki Sukra dan Pak RT dengan mata yang berkaca-kaca. Rasa bersalah yang sempat menghantui Dinda kini telah bertransformasi menjadi rasa syukur yang mendalam. Dia tahu, dia diberi kesempatan kedua untuk hidup dan memperbaiki segalanya.
"Pak RT, Kang Kosim, kami pamit. Maaf kalau selama di sini kami merepotkan dan membawa kegaduhan," ujar Bagas yang kini kondisinya sudah jauh lebih bugar, meski wajahnya masih sedikit pucat.
"Sama-sama, Nak. Kami yang berterima kasih. Berkat kalian dan Aki Sukra, desa ini akhirnya terbebas dari kutukan masa lalu yang menghantui Jarian. Hati-hati di jalan, jangan lupakan desa kami," balas Pak RT dengan tulus, sementara beberapa ibu-ibu desa memberikan bungkusan berisi oleh-oleh makanan khas daerah.
Setelah berpamitan dan memasukkan barang-barang terakhir ke dalam bagasi, ketiganya masuk ke dalam mobil. Adrian duduk di depan di samping sopir, sementara Dinda dan Bagas duduk di bangku tengah.
Saat mobil perlahan bergerak meninggalkan pelataran rumah kolonial, Adrian membuka kaca jendela dan melambaikan tangan kepada warga yang melepas mereka hingga ke batas jalan desa. Ketika mobil melewati area yang sejajar dengan jalur menuju hutan larangan Jarian, Adrian melirik ke arah luar. Pohon beringin tua itu masih berdiri kokoh, namun suasananya kini terasa seperti pohon tua biasa tanpa aura pekat yang menekan dada.
Adrian meraba pinggangnya secara refleks. Keris tua milik Aki Sukra sudah dikembalikan semalam setelah ritual pembersihan, namun keberanian yang dipantulkannya akan tetap tertanam di dalam dirinya.
Di kursi belakang, Dinda perlahan meraih tangan Bagas dan menggenggamnya erat, lalu tangan satunya lagi menjangkau pundak Adrian dari belakang. Adrian menoleh ke belakang, menatap kedua sahabatnya itu dengan senyuman hangat.
"Kita pulang," bisik Dinda, air mata bahagianya menetes perlahan.
"Ya, kita pulang ke Jakarta. Kita tinggalkan kegelapan di belakang, dan mulai lembaran baru," jawab Adrian mantap.
Mobil terus melaju, membelah jalanan berliku meninggalkan desa yang penuh cerita mistis tersebut. Di bawah langit siang yang benderang, ketiga sahabat itu bergerak menjauh, membawa pulang tidak hanya raga yang selamat, tetapi juga jiwa yang jauh lebih bijaksana dan ikatan persahabatan yang kini takkan mungkin bisa dipisahkan oleh apa pun bahkan oleh kekuatan ghaib sekalipun.
Sebelum mobil meninggalkan batas Desa. Adrian meminta sopir untuk membelokkan kendaraan menuju area pemakaman warga yang terletak di perbatasan desa. Ada satu hal yang mengganjal di hati mereka bertiga sebelum melangkah pergi.
Maman. korban dari petaka Jarian yang membuka mata mereka semua tentang arti kelalaian dan ketulusan.
Langkah kaki Adrian, Dinda, dan Bagas terasa berat saat memasuki area pekuburan yang dinaungi pohon-pohon kamboja tua. Suasana pagi itu begitu hening, hanya terdengar gesekan daun kering yang tertiup angin sepoi-sepoi. Di sudut pemakaman, sebuah gundukan tanah dengan dua patok kayu sederhana sebagai nisan menjadi tujuan mereka.
Ketiganya langsung bersimpuh di samping makam Maman. Adrian meletakkan sekeranjang bunga tabur yang sempat mereka beli dari pasar desa tadi subuh.
"Man terimakasih ya. Maaf karena kita lambat sadar. Tapi hari ini, kita mau kasih tahu kamu kalau semuanya sudah selesai. Perjanjian ghaib itu sudah putus. Kamu bisa istirahat dengan tenang sekarang, Man." Adrian menjadi yang pertama menyentuh nisan kayu tersebut. Air matanya yang sejak tadi ditahan kini luruh.
Dinda menggenggam jemari Bagas, bahunya bergetar hebat menahan tangis sesenggukan. Dia menaburkan bunga mawar dan melati di atas gundukan tanah itu dengan tangan yang gemetar. "Maman terima kasih sudah menjadi pengingat kita, dan semoga Allah menempatkan mu disinya yang paling mulia”
Adrian memejamkan mata, memimpin doa ketulusan untuk ketenangan jiwa Maman di alam sana. Dalam hati, Adrian berjanji akan menjaga Dinda dan Bagas dengan seluruh jiwanya, meneruskan hidup.
Setelah doa selesai dipanjatkan, Adrian mengusap air matanya lalu berdiri, membantu Dinda dan Bagas untuk bangkit. Mereka bertiga berdiri bersisian, memberikan penghormatan terakhir kepada tempat peristirahatan. Rasa sesak itu masih ada, namun kini telah digantikan oleh rasa ikhlas yang melapangkan dada.
"Ayo, Maman sudah tenang. Sekarang giliran kita untuk pulang dan menepati janji hidup kita." bisik Adrian pelan sambil merangkul pundak kedua sahabatnya
Dengan satu tolahan terakhir ke arah makam, mereka berbalik dan melangkah mantap menuju mobil yang menunggu. Kali ini, kepergian mereka dari desa benar-benar utuh membawa kenangan tentang Jarian yang akan selalu hidup di dalam ingatan mereka, menuju Jakarta.