NovelToon NovelToon
Toko Roti Cinta Sepoi-sepoi

Toko Roti Cinta Sepoi-sepoi

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:567
Nilai: 5
Nama Author: kawaichanopi

📖 Judul: Toko Roti Cinta Sepoi-sepoi

Deskripsi Cerita:

Di sudut jalan tua yang masih menyimpan jejak sejarah, berdiri kokoh sebuah bangunan kayu bergaya klasik Tiongkok. Di sanalah letak Toko Roti Lian Hua, tempat di mana udara selalu beraroma hangat manis—campuran gula, tepung, dan aroma kayu manis yang khas.

Di balik meja kayu yang sudah usang namun bersih, bekerja seorang gadis bernama Mei Lin. Di usianya yang ke-20, ia sudah menjadi pemilik tunggal toko ini, satu-satunya warisan berharga peninggalan orang tuanya yang telah tiada dalam sebuah kecelakaan misterius. Mei Lin gadis yang ceria, berhati lembut, sangat menyayangi anak kecil dan kucing liar. Namun, takdir memberinya satu ujian berat: ia terlahir bisu. Ia tak bisa bersuara, tak bisa berteriak, dan tak bisa membela diri dengan kata-kata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyawa Di Ujung Tanduk

Suara teriakan marah dan dentuman keras dari luar pintu makin mengguncang seluruh ruangan. Debu-debu dari langit-langit jatuh berhamburan, seolah ikut merasakan amarah kerumunan orang yang dikompori oleh musuh-musuh mereka. Di ambang pintu yang sudah jebol itu, Jun Jie berdiri tegak bak satu-satunya benteng kokoh yang memisahkan kebaikan dari kejahatan. Tubuhnya tidak bergerak sedikit pun, matanya tajam menatap ratusan wajah yang penuh kebencian di hadapannya, namun tidak ada rasa takut sedikit pun terpancar dari sana.

"DENGARKAN AKU!" suara Jun Jie menggelegar, keras, berwibawa, dan menusuk ke telinga setiap orang yang ada di sana. Suara itu begitu kuat hingga seketika membuat keributan mereda perlahan. "Kalian semua ini warga yang baik, orang-orang yang bekerja keras dan jujur. Tapi kenapa kalian begitu mudah dibutakan oleh kebohongan dan fitnah kotor? Kenapa kalian rela dijadikan alat oleh orang-orang yang sebenarnya tidak lain hanyalah penjahat serakah?"

Di belakang kerumunan, Paman Chen Hao dan Bibi Mei Feng saling pandang kaget dan panik. Mereka tidak menyangka Jun Jie berani bicara setegas itu, apalagi di tengah situasi yang sepenuhnya menguntungkan mereka. Paman Chen Hao segera memberi kode pada orang-orang bayarannya untuk kembali mengompori suasana.

"JANGAN DENGARKAN DIA! DIA PENIPU BESAR SAMA SEPERTI WANITA CACAT DI DALAM SANA!" teriak Paman Chen Hao dari balik bahu orang banyak, suaranya dibuat-buat penuh kemarahan. "DIA PAKAI KEKAYAAN DAN KEKUASAANNYA UNTUK MENUTUPI DOSA KEKASIHNYA! ROTI ITU BERACUN! DIA MAU MEMBUNUH KITA SEMUA SUPAYA BISA MENGUASAI KOTA INI!"

Keributan kembali meledak. Batu-batu dan tanah kembali melayang ke arah Jun Jie. Beberapa orang mulai maju mendekat, wajah mereka merah padam karena emosi yang sudah dikendalikan sepenuhnya oleh kebencian buta.

Jun Jie tidak mundur selangkah pun. Ia menangkis sebutir batu besar yang hampir mengenai kepalanya dengan lengannya, hingga kulitnya tergores dan darah segar mulai menetes. Rasa sakit itu tidak ia hiraukan. Baginya, rasa sakit fisik ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit hati Mei Lin yang selama ini menanggung semua fitnah sendirian.

"Kalian bilang rotinya beracun? Kalian bilang dia jahat?" Jun Jie berteriak balik, matanya menyala berapi-api. "Kalau dia jahat, kenapa dia selalu membagikan roti gratis pada anak-anak miskin? Kalau dia jahat, kenapa dia selalu merawat orang sakit dan tua di sekitar sini? Kalau dia jahat... kenapa dia tidak pernah membalas kejahatan kalian sedikit pun, meski kalian sudah melemparinya dengan kata-kata dan batu?!"

Suara Jun Jie bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang meluap dan rasa haru yang mendalam.

"Dia hanya gadis sederhana! Dia hanya ingin hidup damai, meneruskan usaha orang tuanya, dan mencari nafkah dengan keringatnya sendiri! Tapi kalian? Kalian dihasut oleh orang-orang serakah yang menginginkan tanah ini! Dulu mereka membunuh orang tuanya, sekarang mereka mau menghancurkan dia! Dan kalian... kalian semua rela menjadi alat pembunuhan mereka!"

Kalimat terakhir itu menghantam hati banyak orang yang ada di sana. Beberapa warga yang hatinya masih bersih mulai ragu. Bisik-bisik tanda tanya mulai terdengar. "Membunuh orang tuanya? Apa maksudnya?" "Jadi selama ini kita salah paham?"

Melihat keragu-raguan mulai menyebar, Paman Jun Wei yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang akhirnya maju ke depan. Ia tahu, kalau dibiarkan terus, Jun Jie akan membalikkan keadaan sepenuhnya dengan kata-katanya.

Paman Jun Wei melangkah angkuh, diikuti oleh Lin Na yang berdiri di sampingnya dengan wajah penuh kemenangan. Ia tersenyum sinis menatap keponakannya sendiri yang kini berdiri sendirian dan berdarah di ambang pintu toko tua itu.

"Cukup, Jun Jie!" suara Paman Jun Wei dingin dan tajam. "Kau sudah terlalu jauh. Kau mempermalukan nama baik keluarga kita. Kau membela penjahat dan pembawa sial ini. Kau pikir omong kosongmu itu bisa memutarbalikkan fakta? Semua orang tahu gadis bisu itu pembawa masalah. Dan malam ini, kami datang demi keamanan warga, demi keamanan kota ini, untuk menutup tempat terkutuk ini selamanya!"

Paman Jun Wei mengangkat tangan tinggi-tinggi, berteriak lantang pada kerumunan.

"BAKAR SAJA TOKO INI! HANCURKAN SEGALA SESUATU DI DALAMNYA! HANYA DENGAN BEGINILAH KITA SELAMAT DARI KUTUKAN DAN RACUN MEREKA!"

Perintah itu menjadi pemicu terakhir. Emosi massa kembali meledak tak terkendali. Beberapa orang membawa obor menyala, mulai melemparkannya ke arah atap dan jendela toko. Api kecil mulai menjalar, asap hitam mengepul tebal ke udara malam. Suara deru api dan teriakan makin ricuh.

Jun Jie panik. Ia menoleh ke belakang sekejap, melihat asap mulai masuk ke ruang belakang tempat Mei Lin dan Kakek Lim bersembunyi bersama kotak bukti berharga itu. Ia tidak bisa membiarkan mereka terbakar. Ia tidak bisa membiarkan bukti itu hangus. Dan ia tidak bisa membiarkan Mei Lin terluka sedikit pun.

Dengan sisa tenaganya, Jun Jie menarik sebatang kayu besar yang tergeletak di samping pintu, lalu berteriak sekuat tenaga, matanya merah menyala seperti singa yang terdesak:

"SIAPA SAJA YANG BERANI MELANGKAH SATU LANGKAH LAGI MELEBIHI GARIS INI... AKAN KUHANCURKAN! AKU JUN JIE BERSUMPAH, HANYA DI ATAS JENAZAHKU KALIAN BISA MENYENTUH SEHELAI RAMBUT PUN DARI MEI LIN!"

Ancaman itu begitu nyata, begitu dalam, dan begitu mengerikan hingga membuat sebagian orang mundur tergesa-gesa. Namun, Paman Jun Wei hanya tertawa dingin. Ia memberi isyarat pada beberapa orang kekar yang disewanya khusus malam ini. Tiga orang berbadan besar, bersenjata kayu besi, maju menyerbu Jun Jie bersamaan.

Pertarungan tak seimbang pun terjadi. Jun Jie berjuang mati-matian. Ia menangkis, menghindar, dan membalas sekuat tenaga demi melindungi pintu itu. Namun, jumlah lawan terlalu banyak. Satu pukulan keras mendarat di bahu kanannya, membuatnya meringis kesakitan. Tendangan lain mengenai kakinya hingga ia terhuyung jatuh berlutut, namun ia segera bangkit kembali, darah sudah membasahi wajah dan bajunya.

Di dalam ruang belakang, Mei Lin melihat semua itu lewat celah dinding. Hatinya hancur berkeping-keping melihat pria yang dicintainya dipukuli, dikepung, dan terluka hanya demi dirinya. Tangisnya pecah, rasa takut kehilangan begitu hebat menyiksa batinnya. Ia tidak bisa diam saja. Ia tidak bisa terus bersembunyi di belakang punggung Jun Jie sementara pria itu mempertaruhkan nyawanya demi kebenaran dan demi dirinya.

Kakek Lim yang memegang erat kotak kayu itu mencoba menahannya, tapi Mei Lin sudah bertekad bulat. Dengan mata yang berapi-api namun penuh air mata, ia menggeleng kuat pada Kakek Lim, lalu menulis cepat di buku catatannya dengan tangan gemetar hebat: "CUKUP! AKU TIDAK MAU DIA MATI DEMIKU! JIKA HARUS MATI, KITA MATI BERSAMA! BUKA KOTAK ITU, KAKEK! SEKARANG!"

Di luar sana, Jun Jie sudah terdesak sampai ke titik terakhir. Ia tersungkur ke tanah, dipukuli beramai-ramai. Di depannya, Paman Chen Hao tersenyum puas sambil mengangkat sebatang kayu tajam, bersiap menghantam kepala Jun Jie untuk mengakhiri semuanya.

"Selamat tinggal, anak muda yang bodoh..." gumam Paman Chen Hao kejam. "Besok pagi, kalian berdua akan jadi abu, dan tanah ini milik kami selamanya."

Namun, tepat saat kayu itu hendak jatuh... tiba-tiba pintu ruang belakang terbuka lebar dengan keras!

Mei Lin berlari keluar, menerobos asap dan api, berlari sekencang-kencangnya, dan dengan berani ia melemparkan dirinya menimpa tubuh Jun Jie, melindungi tubuh pria itu dengan seluruh tubuh kecilnya sendiri. Ia memeluk Jun Jie erat-erat, menempatkan dirinya sebagai tameng di antara Jun Jie dan kayu tajam yang hendak menghantam.

"JANGAN! JANGAN SAKITI DIA!" jerit hati Mei Lin, meski tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, namun teriakan itu terdengar lebih keras daripada apa pun lewat sorot matanya yang basah dan berani.

Paman Chen Hao tertegun kaget, kayu di tangannya terhenti di udara. Semua orang diam serentak melihat pemandangan itu. Gadis bisu yang selama ini dianggap lemah, tak berdaya, dan penakut... kini berdiri di sana, gemetar ketakutan, tapi tetap mematung kokoh demi melindungi orang yang dicintainya.

Mei Lin menatap Paman Chen Hao, menatap Bibi Mei Feng, menatap Paman Jun Wei dan Lin Na satu per satu dengan tatapan yang penuh kepedihan namun juga penuh keberanian. Matanya seolah berbicara pada mereka semua: "Cukup. Kalau kalian mau bunuh, bunuhlah aku saja. Tapi berhenti menyakiti orang baik ini."

Jun Jie yang terkapar berdarah di bawah tubuh Mei Lin, menatap wajah gadis itu dengan pandangan tak percaya dan rasa haru yang meluap-luap. Rasa sakit di seluruh tubuhnya seketika hilang. Ia merasakan kehangatan tubuh Mei Lin yang bergetar di atasnya, merasakan betapa besar cinta gadis ini padanya. Ia merasa malu, merasa gagal karena tidak bisa melindunginya, tapi di saat yang sama ia merasa menjadi pria paling beruntung di dunia karena dicintai sedemikian rupa.

"Lin... kenapa... kenapa kau keluar? Pergilah... lari..." bisik Jun Jie parau, darah menetes dari sudut bibirnya.

Mei Lin menggeleng kuat-kuat, lalu menundukkan wajahnya, menempelkan keningnya ke kening Jun Jie sejenak, lalu perlahan bangkit berdiri tegak di hadapan kerumunan orang. Ia tidak lagi menunduk. Ia tidak lagi bersembunyi.

Di belakangnya, Kakek Lim muncul dengan napas terengah-engah, memegang kotak kayu itu tinggi-tinggi di atas kepalanya, diikuti suara rekaman suara yang bergema keras dari pengeras suara sederhana yang sempat disiapkan Jun Jie sebelumnya.

Suara lantang, jelas, dan mengerikan terdengar memenuhi udara malam itu. Suara yang merekam percakapan dua tahun lalu... suara Paman Chen Hao dan Paman Jun Wei sendiri!

"Kalau mereka tetap keras kepala dan tidak mau jual tanah ini... buat saja 'kecelakaan'. Biar mereka mati, anak mereka kecil dan bisu pasti takkan berdaya. Tanah ini otomatis jadi milik kita berdua."

Suara itu... suara asli mereka berdua!

Suasana seketika hening total. Membeku. Sunyi senyap seakan waktu berhenti berputar.

Wajah Paman Chen Hao dan Paman Jun Wei seketika pucat pasi seperti mayat hidup. Mulut mereka terbuka, tak mampu berkata apa-apa lagi. Bibi Mei Feng dan Lin Na mundur terhuyung ketakutan. Semua warga yang ada di sana, yang tadi siap membakar dan membunuh, kini menatap mereka berdua dengan tatapan ngeri, benci, dan kaget luar biasa.

Kebenaran akhirnya terungkap. Di tengah api, asap, dan darah... kejahatan mereka terbongkar habis-habisan.

Mei Lin menatap mereka dengan mata berkaca-kaca, lalu perlahan ia mengangkat tangannya, membentuk gerakan bahasa isyarat yang jelas dan tajam, seolah menghantam hati mereka:

"KAU BUNUH ORANG TUAKU. KAU FITNAH AKU. KAU MAU HANCURKAN KAMI. TAPI... KEBENARAN TETAP MENANG. CINTA KAMI LEBIH KUAT DARI SEGALA KEBURUKANMU."

Jun Jie mengerahkan sisa tenaganya untuk bangkit berdiri, lalu berdiri tegak di samping Mei Lin, memegang erat tangan gadis itu. Meski penuh luka dan darah, senyum kemenangan terukir di bibirnya.

"Permainan kalian sudah selesai," ucap Jun Jie pelan namun tegas. "Malam ini, di depan seluruh warga... kalian adalah penjahat yang sesungguhnya."

Api yang tadinya hendak membakar kebenaran, kini justru menyinari wajah-wajah penjahat yang ketakutan dan hancur lebur. Dan di tengah semua kekacauan itu, Toko Roti Lian Hua masih berdiri, meski rusak, meski berdarah... namun tetap kokoh, menyimpan kisah cinta yang tak tergoyahkan dan kebenaran yang abadi.

 

1
listia_putu
❤️
Kawaichan Opi: ,terima kasih
total 1 replies
HiaTus
💪 sukses karyanya kak
Kawaichan Opi: terima kasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!