NovelToon NovelToon
DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:883
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Di dunia di mana batas tertinggi manusia hanyalah Saint Rank, Sander Duster—putra ketiga keluarga militer terkuat di Elegrand Kingdom—dianggap gagal karena tidak memiliki bakat Life Energy seperti para ksatria lain. Namun takdirnya berubah saat ia menyelamatkan seekor kucing hitam misterius di tengah badai salju.

Kucing itu ternyata adalah Behemoth, salah satu Legendary Beast pemegang Hukum Devouring yang hampir memusnahkan dunia di masa lalu.

Melalui ikatan Soul Resonance yang tak disengaja, Sander perlahan memperoleh kekuatan fisik abnormal yang melampaui logika manusia biasa. Di balik kehidupan akademi, intrik politik bangsawan, ancaman perang antar kerajaan, dan kebangkitan monster legendaris mulai mengguncang dunia.

Saat semua orang memperebutkan kekuasaan, Sander justru berjalan menuju sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun dalam sejarah—

God Rank, ranah sang Dewa Perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Uji Tanding dan Pelepasan Sander

Pagi hari terakhir sebelum keberangkatan yang dijadwalkan telah tiba. Matahari musim dingin baru saja terbit di ufuk timur, memancarkan pendaran cahaya keemasan yang memantul indah di atas hamparan salju bersih Kastil Aethelgard. Kereta kuda mewah yang akan membawa Sander Duster beserta rombongannya menuju Ibukota Aurelia sudah terparkir di halaman depan, dengan beberapa pelayan yang mulai menata barang-barang bawaan ke dalam bagasi belakang.

Di saat halaman depan kastil mulai dipenuhi kesibukan, Sander memilih untuk berjalan menuju lapangan latihan belakang yang sepi dan jarang dilewati orang. Udara pagi itu terasa sangat menusuk, namun pemuda berusia empat belas tahun itu hanya mengenakan pakaian latihan kain biasa tanpa lapisan bulu tebal. Di bahunya, Behemoth duduk dengan tenang, sepasang mata emasnya mengamati pergerakan Sander dengan sisa rasa kantuk.

Sander berjalan mendekati rak senjata kayu di tepi lapangan, lalu mengambil sebuah pedang besi tumpul berukuran besar yang biasa digunakan untuk latihan beban ksatria dewasa. Namun, tepat ketika jemari tangannya menggenggam gagang pedang dan mengangkatnya dari rak, Sander mendadak menghentikan gerakannya dengan raut wajah yang dipenuhi rasa terkejut yang luar biasa.

Sander menatap pedang besi besar di tangannya dengan pandangan tidak percaya. Dia mencoba mengayunkan pedang tersebut beberapa kali ke udara kosong. Rasa heran seketika membubung di dalam benaknya. Tubuhnya terasa sangat ringan, seolah-olah semua beban gravitasi yang biasa menekan pundaknya telah menguap habis. Pedang besi besar yang biasanya membutuhkan tenaga dua tangan untuk diangkat dengan stabil, kini terasa sangat ringan di dalam genggamannya, tidak berbeda seperti memegang sebatang ranting kayu kecil yang rapuh.

Sander tidak mengetahui bahwa sepanjang malam tadi, melalui Resonansi Jiwa, Behemoth telah menyaring dan mengalirkan energi murni dari Monster Core tingkat Elite langsung ke dalam struktur tulang dan jaringan ototnya. Tanpa adanya Life Energy elemental yang memancar keluar, tubuh fisik Sander secara rahasia telah berevolusi dan memadat hingga mencapai tingkat kerapatan yang berada di luar batas kewajaran manusia biasa.

"Apa yang terjadi dengan tubuhku?" bisik Sander pada dirinya sendiri, mencoba mengepalkan tangan kirinya dan merasakan aliran tenaga murni yang bergejolak sangat padat di bawah permukaan kulitnya. Behemoth yang berada di bahunya hanya mendengkur pelan, menyembunyikan senyuman puas di dalam batinnya atas hasil kerja kerasnya semalaman.

"Kau sedang melamun di hari keberangkatanmu, Sander?" Sebuah suara berat, dalam, dan penuh wibawa mendadak menggelegar dari arah pintu masuk lapangan latihan, memecah keheningan pagi.

Sander menoleh dan mendapati ayahnya, Grand Duke Gabriel Duster, sedang berjalan melangkah mendekat. Gabriel mengenakan jubah kebesaran hitam tanpa zirah perangnya, namun langkah kakinya yang tegap tetap memancarkan tekanan intimidasi khas seorang petarung ranah Saint Rank. Gabriel baru saja menyelesaikan inspeksi terakhirnya dan kebetulan lewat di dekat lapangan belakang ketika melihat anak ketiganya sedang memegang pedang latihan besar.

Gabriel menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan Sander, menatap pedang tumpul di tangan anaknya, lalu sebuah senyuman tipis muncul di wajah tegasnya yang dipenuhi bekas luka perang. "Kereta kudamu akan berangkat dalam satu jam lagi. Bagaimana jika kita memanfaatkan waktu yang singkat ini untuk bertukar satu tebasan santai? Anggap saja ini sebagai hadiah pelepasan dari ayahmu sebelum kau menghadapi dunia luar di Ibukota nanti."

Mendengar tantangan dari ayahnya, Sander tertegun sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya dengan tegas. "Baik, Ayah. Mohon bimbingannya." Sander mengambil posisi kuda-kuda dasar, menurunkan pusat gravitasinya, dan menggenggam gagang pedang besar tersebut dengan kedua tangannya yang kini terasa sangat kokoh.

Gabriel tertawa kecil, lalu berjalan mendekati rak senjata untuk mengambil sebilah pedang kayu latihan yang biasa. Di mata seorang ksatria legendaris seperti Gabriel, menggunakan pedang besi tumpul melawan anaknya yang tidak memiliki Life Energy adalah hal yang berlebihan. Gabriel mengambil posisi berdiri yang sangat santai, memegang pedang kayu tersebut hanya dengan tangan kanannya tanpa memasang kuda-kuda bertarung yang serius. Dia berniat untuk menerima tebasan anaknya dengan lembut, sekadar untuk menguji sejauh mana tekad mental Sander setelah upacara kemarin.

"Maju dan tebaslah aku dengan seluruh kekuatan yang kau miliki saat ini, Sander. Jangan ragu," kata Gabriel dengan nada suara yang penuh dorongan semangat seorang ayah.

Sander menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin utara mengunci fokus batinnya. Dia mengabaikan status ayahnya sebagai salah satu puncak kekuatan benua, dan memilih untuk berkonsentrasi penuh pada tenaga murni yang kini bergejolak di dalam setiap serat otot tubuhnya. Sander menghentakkan kaki kanannya ke atas permukaan tanah yang dilapisi salju tipis.

Dentuman keras mendadak terdengar saat kaki Sander menghentak tanah. Tubuh Sander melesat maju dengan kecepatan fisik murni yang sangat ekstrem, menciptakan dorongan angin yang menyapu bersih lapisan salju di sepanjang jalur lintasannya. Dalam sekejap mata, Sander sudah berada di depan wajah Gabriel, mengangkat pedang besi besarnya tinggi-tinggi di atas kepala, lalu mengayunkannya ke bawah dalam sebuah tebasan vertikal lurus yang luar biasa kuat dan cepat.

Gabriel yang semula berniat menerima tebasan tersebut dengan santai, mendadak merasakan insting bertarung Saint Rank miliknya berteriak waspada secara otomatis. Sepasang mata jernih Gabriel terbelalak syok ketika melihat densitas udara di sekitar mata pedang Sander tampak terdistorsi akibat tekanan fisik yang terlalu padat, menghasilkan gelombang kejut angin yang murni tanpa ada setetes pun Life Energy elemental di dalamnya.

Menyadari bahwa pedang kayu di tangannya akan hancur berkeping-keping dan dia bisa terluka jika tidak serius, Gabriel secara refleks memperkuat cengkeraman tangannya dan mengalirkan setitik aura putih keperakan miliknya untuk melapisi pedang latihannya di detik-detik terakhir sebelum benturan terjadi.

Kedua pedang tumpul itu berbenturan keras di tengah udara kosong lapangan belakang.

Suara dentuman logam dan kayu yang sangat pekat dan memekakkan telinga bergema dahsyat ke seluruh penjuru benteng belakang kastil, menciptakan gelombang tekanan angin yang sangat masif hingga menepis dan mengusir seluruh tumpukan salju di sekitar kaki mereka dalam radius lima meter, memperlihatkan permukaan batu hitam lapangan yang bersih.

Gabriel tertegun diam dengan mata yang melebar penuh keterkejutan. Meskipun dia berhasil menahan tebasan anaknya tanpa terluka, dia bisa merasakan getaran tenaga fisik yang sangat luar biasa ekstrem merambat dari mata pedang Sander melewati lengannya. Yang lebih membuat sang Grand Duke syok adalah kenyataan bahwa kerapatan otot dan kekuatan fisik murni dari anak berusia empat belas tahun di hadapannya ini begitu besar, hingga sanggup membuat pijakan kaki seorang ksatria Saint Rank seperti dirinya bergeser mundur sejauh satu senti di atas permukaan batu hitam.

Sander menarik kembali pedangnya, napasnya sedikit memburu namun matanya memancarkan kepuasan yang luar biasa. Dia sendiri tidak menyangka bahwa dia mampu menggeser posisi ayahnya walau hanya satu senti.

Keheningan sempat menyelimuti lapangan latihan tersebut selama beberapa saat sebelum akhirnya Gabriel menurunkan pedang latihannya. Wajah tegas sang jenderal besar utara itu mendadak mencair, digantikan oleh sebuah tawa menggelegar yang sangat keras hingga air matanya hampir keluar. Gabriel melempar pedang kayunya ke samping, lalu berjalan mendekat dan merangkul pundak Sander dengan cengkeraman yang sangat bangga.

"Hahaha! Luar biasa! Benar-benar luar biasa, Sander!" teriak Gabriel dengan nada suara yang dipenuhi oleh kebanggaan yang tak terbendung. "Kau tidak membutuhkan Life Energy elemental atau manipulasi sihir tradisional yang diajarkan para tetua bodoh itu! Tubuhmu sendiri... tubuh fisik murnimu telah berevolusi menjadi zirah dan pedang hidup yang paling kokoh! Majulah dengan jalanmu sendiri, anakku. Kau adalah seorang Duster sejati yang akan membuat dunia luar gemetar!"

Sander tersenyum sangat lebar mendengarkan pengakuan tulus dari ayahnya. Rasa ragu yang sempat tersisa di dalam hatinya kini telah musnah sepenuhnya. Dia tahu jalan apa yang harus dia tempuh di masa depan.

Satu jam kemudian, momen pelepasan yang emosional akhirnya berlangsung di gerbang utama Kastil Aethelgard. Kereta kuda sudah siap berangkat. Seluruh anggota keluarga besar Duster berkumpul di depan tangga gerbang es untuk mengantarkan kepergian anak ketiga mereka.

Grand Duchess Lyora Duster melangkah maju, memberikan pelukan hangat yang sangat erat kepada Sander, menyandarkan kepala anaknya di dadanya sembari membisikkan kata-kata penuh kasih sayang seorang ibu rumah tangga. "Jaga dirimu baik-baik di Ibukota, Sander. Jangan lupa untuk selalu makan dengan teratur dan kirimkan surat untuk Ibu setiap minggu," kata Lyora dengan senyuman lembutnya yang biasa, sementara Behemoth yang berada di bahu Sander buru-buru menundukkan kepala, tetap merasa merinding berada di dekat wanita pemilik Gravitasi Mutlak ini.

Gabriel maju berikutnya, memberikan tepukan bangga yang cukup keras di pundak tegap Sander. "Tunjukkan pada orang-orang di Ibukota itu bagaimana kekuatan sejati anak utara, Sander!" ucap Gabriel tegas.

Aron dan Brian juga berdiri di samping mereka, memberikan lambaian tangan perpisahan dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa percaya dan dukungan penuh bagi adik bungsu mereka. Mereka tahu bahwa Sander tidak lagi membutuhkan perlindungan mereka sebagai anak kecil yang lemah.

Sander membungkuk hormat untuk terakhir kalinya kepada orang tua dan kakak-kakaknya, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam kompartemen kereta kuda mewah bersama dengan Ren Cross yang membawa barang-barang mereka. Behemoth mengambil posisi duduk yang nyaman di dekat jendela kereta, menatap keluar dengan pandangan penuh arti.

Pintu kereta ditutup rapat, dan kusir mulai memecah tali kekang kuda. Kereta kuda klan Duster itu pun mulai bergerak perlahan, roda-rodanya berputar membelah jalanan salju, membawa Sander Duster, Ren Cross, dan Behemoth keluar dari wilayah perbatasan utara menuju ke arah Ibukota Aurelia, siap menghadapi takdir baru dan badai konspirasi dunia yang telah menanti kedatangan mereka di masa depan.

1
Manusia Ikan 🫪
bagus bagus, aku kasih nawar untuk kamu/Chuckle//Rose/

folback aku yah ehehe
Argo Sujendro: termakasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!