Su Wanqing selalu hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri. Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur sore itu, ia dikejutkan oleh satu kenyataan pahit—tanpa sepengetahuannya, keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang paling ditakuti di seluruh negeri, Jenderal Lu Jingyuan.
Dikenal sebagai pahlawan revolusi sekaligus monster di medan perang, Lu Jingyuan adalah sosok dingin yang namanya mampu membuat musuh gemetar. Di balik reputasinya yang kejam, tersembunyi luka masa lalu dan trauma perang yang mengubahnya menjadi pria yang sulit didekati dan tak pernah mengenal kebahagiaan.
Terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, Su Wanqing hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya. Namun, ketika dua jiwa yang sama-sama terluka dipersatukan oleh keadaan, akankah mereka saling menyembuhkan... atau justru semakin menghancurkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syfaanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Kepingan Puzzle
Jingyuan menggendong Wanqing turun menuju ruang makan. Ajudan Han terbatuk-batuk dan menyemburkan sedikit sup yang sedang ia tenggak tadi. Ajudan Xien memberikan kain lapnya dan menepuk-nepuk santai punggung Ajudan Han.
"Kenapa kalian tiba-tiba mesra begitu?" Tanyanya setelah selesai dengan drama batuk dan terkejutnya. Wanqing yang baru saja dibantu duduk oleh Jingyuan dan Ibu Yunting yang menarikkan kursinya tersipu malu tanpa mau menatap Ajudan Han.
Jingyuan menatap tajam Ajudan Han. "Lanjutkan saja makanmu." Titahnya sembari mulai menyendokkan nasi dan beberapa lauk serta sup untuk istrinya, lalu untuk dirinya.
Jingyuan baru saja ingin menyantap makanannya ketika tiba-tiba semua kenangan yang mengerikan dulu terulang di depan matanya, seolah semuanya berbeda dan ia tidak berada di samping Wanqing atau di villa itu lagi.
Wanqing yang menyadari Jingyuan mulai bertingkah aneh, keringat di pelipisnya deras dan tangannya gemetar hebat serta pandangannya polos ke depan pun mulai menenangkan suaminya dengan mengelus punggungnya terus menerus, namun nampaknya hal itu tidak memberikan hasil apa-apa.
Wanqing segera meminta Ibu Yunting dan Ajudan Han membantu dirinya menuntun Jingyuan menuju sofa di ruang tamu. "Tolong bawakan makanannya." Ujar Wanqing, dirinya juga turut mengikuti Jingyuan dengan berjalan tertatih-tatih karena masih merasakan sakit.
Wanqing dan Jingyuan duduk bersampingan di sofa itu. Perlahan, ekspresi Jingyuan dan tubuhnya mulai bergerak normal lagi, namun dia masih terdiam. "Ayo makan pelan-pelan." Ujar Wanqing sambil perlahan menyuapi satu sendok nasi dengan daging.
Jingyuan yang nampaknya masih belum sepenuhnya stabil tetap berusaha mengunyah makanan itu sembari mencoba menghentikan gemetar di tubuhnya.
Ibu Yunting yang melihat kondisi Jingyuan langsung berbisik, "Trauma ya?" Tanyanya di atas meja makan pada kedua ajudan Jenderal.
Ajudan Han yang mengangguk. "Jenderal sudah tidak pernah sanggup makan bersama lagi semenjak trauma masa lalunya di camp private militernya saat usia belasan tahun."
Ibu Yunting mengangguk, dirinya yang telah lama mengatasi trauma dan luka-luka perang karena berperan sebagai dokter militer sudah paham dengan kondisi itu, hanya saja dia tidak menyadari seseorang bisa mendapati trauma yang begitu dalam di usia yang sangat muda, terutama trauma pasca perang atau pembantaian.
Ibu Yunting bergegas membuatkan racikan teh penenang yang biasanya ia buatkan untuk para prajurit yang mengalami gangguan kecemasan atau trauma berat. Menyerahkannya pada Wanqing, Ibu Yunting menjelaskan pelan-pelan resepnya dan bagaimana menyeduh serta menyajikannya.
Wanqing yang masih perlahan-lahan menyuapi suaminya makanan itu terus mendengarkan dengan fokus. Beberapa menit kemudian, Jingyuan sudah kembali normal lagi dan memutuskan untuk makan sendiri di halaman belakang villa.
Ibu Yunting yang semula ingin menemani ditahan oleh Wanqing. "Biarkan dia Ibu, dia butuh ketenangan dan tidak bisa makan sambil duduk, apalagi harus duduk berhadapan di meja makan, sepertinya traumanya berkaitan dengan waktu makan tentara."
Ibu Yunting menatap punggung Jenderal Lu Jingyuan yang menjauh dengan semangkuk piring di tangannya. "Kau bisa mengatasi kondisinya sejauh ini, pasti berat ya?"
Wanqing menggeleng kecil, "Dia hanya pernah mengamuk sekali, itu pun dia tidak melukai siapapun selain dirinya, sisanya hanya mengigau saat tidur dan demam, lalu makan."
Ibu Yunting mengangguk, "Sangat berat pasti harus menjalani pelatihan militer yang sangat keji di usia yang sangat belia itu."
Ibu Yunting memberikan satu cangkir teh jahe dan kunyit untuk Wanqing. "Minumlah, bisa membantu tubuh lebih segar, dan badan yang sakit serta luka di bagian kewanitaan cepat sembuh."
Wanqing menerimanya malu-malu. "Terima kasih."
Setelah selesai membantu ibunya mencuci piring dan merapihkan meja makan, Wanqing mulai bertanya hal yang mengganggunya selama ini. "Kenapa Ibu ada di sini? Kenapa seolah-olah Ibu bersembunyi di sini agar aman?"
Wanqing yang sudah mengetahui keberadaannya sekarang di Villa tengah hutan dan di atas bukit bagian Barat Kota Fuzhou dari suaminya pagi tadi mulai penasaran dengan segala alasan yang masih belum bisa ia terka, sebuah puzzle yang perlahan ia coba selesaikan.
Ibu Yunting menghela napas perlahan. "Ada banyak hal yang membuat Ibu merasa sangat aman dan sejauh ini memang aman berada di sini."
Ibu Yunting pergi mengambil sesuatu dari dalam gudang yang terletak tak jauh dari dapur. Wanqing yang masih merasakan ngilu memilih untuk duduk di atas sofa sembari menunggu kedatangan Ibu Yunting.
Jingyuan dan dua ajudannya sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu yang sangat serius di halaman belakang villa, mereka terlihat sangat teliti menilai secarik kertas yang mereka keluarkan beberapa waktu lalu setelah makan.
Ibu Yunting datang membawa satu kotak kayu yang ukurannya sangat ia kenali. "Kotak ini? Mirip sekali dengan kotak kayu berisi benang jahitan Ibu." Ujar Wanqing.
Ibu Yunting tersenyum, "Lihatlah isinya." Ujarnya seraya menyerahkan satu kotak kayu itu.
Perlahan Wanqing meraba sedikit kotak kayu itu, merasakan rasa hangat dan nyaman yang selalu ia rasakan ketika menggenggam kotak kayu peninggalan Ibunya dulu di kediamannya. Sekarang, ia secara langsung memegang kotak itu di hadapan ibunya.
Wanqing membukanya, secarik kertas dan satu buah foto hitam putih terlihat. Di sana berdiri Wanqing kecil, dengan pria yang ia yakin adalah Jingyuan saat kecil yang memiliki luka di dekat urat nadi tangannya, dan empat pasang orang dewasa yang tersenyum ke arah kamera.
Wanqing bisa melihat Si Tua Lu, Ibu Mei, Ibunya, dan sang Ayah. "Ini foto kapan Bu?" Wanqing berusaha mengingat foto itu, ingatannya seolah blur dan tidak dapat mengetahui kapan foto itu diambil.
"Usiamu sekarang 24 tahun kan? Sementara Jenderal pasti sekitar 30 tahun?" Ibu Yunting menatap Wanqing dengan seksama.
"Iya Bu."
Ibu Yunting berusaha mengingat sesuatu, "Sepertinya kalian memang sangat sering ketemu dan bermain bersama, lebih tepatnya saat usiamu menginjak 6-8 tahun."
Wanqing yang tengah menyesap teh tadi tanpa sengaja menjatuhkan cangkirnya.
*PRANG*
Mendengar itu, Jenderal Lu dan dua ajudannya datang berlari menghampiri Wanqing. Jingyuan langsung sibuk memperhatikan tangan dan kaki Wanqing, ia mencari tahu bagaimana kondisi istrinya yang terlihat shock dan kebingungan itu.
"Ada apa ini?" Tanya Jingyuan menatap tajam ibu mertuanya tanpa rasa takut.
"Wanqing sepertinya shock karena melihat itu." Ibu Yunting menunjuk kotak kayu itu, Jingyuan segera mengambil foto di dalam kotak itu dan memandangi Wanqing serta Ibu Yunting bergantian.
"Apa yang membuatmu shock? Ini foto kita bermain setiap hari libur dulu." Ujar Jingyuan sembari mencoba menenangkan Wanqing dan duduk di sampingnya.
Ajudan Han dan Xien dengan sigap merapihkan cangkir yang berserakan dan mengelap teh yang tumpah itu. Ibu Yunting pergi mengambil air putih dan memberikannya pada Wanqing.
Wanqing menenggak air itu sambil memandangi Ibunya penuh kebingungan. "Ibu.. Tapi, bukannya Ibu pergi semenjak usiaku 6 tahun? Bagaimana mungkin...?"
Wanqing masih terlihat kebingungan dan shock dengan rincian umur tepat foto itu dan waktu bermainnya dibandingkan. Jingyuan yang mengerti situasinya mencoba menenangkan istrinya.
"Ibu sepertinya keliru, karena Aku pergi militer di usia 10 tahun, jadi kemungkinan umurmu di 5-6 tahun." Ujarnya pelan-pelan.
Ibu Yunting menggeleng, "Tidak, kalian memang bertemu di usia yang pas, Wanqing usia 6/7 tahun, Kau Jingyuan di usia 12/13 tahun, Kau tidak hidup di kamp militer setiap saat kan? Kalian bertemu ketika Kau liburan musim panas dan dingin."
Mendengar itu, Jingyuan dan Wanqing akhirnya bertatapan bingung. "Aku tidak ingat itu, Aku ingatnya memang usiaku saat itu masih sangat muda, tapi tidak sadar kalau di usia 12/13 tahun itu." Ujar Jingyuan. Wanqing mengangguk, "Aku juga tidak ingat itu, yang Aku ingat hanya kepergian Ibu di usiaku 6 tahun dan Aku beberapa kali bermimpi bermain dengan Jingyuan, Aku fikir itu hanya mimpi, ternyata memang kenyataan."
Ibu Yunting tersenyum miring,
*BERSAMBUNG*
Fyuh, rumit amat ya, baru juga seneng seneng ini pasutri, btw jangan lupa like, komen, dan vote ya love!