"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Siasat sang Profesor
BAB 14: Siasat sang Profesor
Suasana sore di apartemen mewah itu masih terasa mencekam sejak kepulangan mereka dari kampus. Kiara benar-benar membuktikan ucapannya. Ia memperlakukan Adrian layaknya hantu tak kasat mata. Tidak ada sapaan, tidak ada tatapan mata, bahkan saat berpapasan di koridor apartemen, Kiara sengaja mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Profesor Adrian Alkatiri, pria yang biasa dipuja, ditakuti, dan dipatuhi oleh ratusan mahasiswa di kampus, kini harus menerima kenyataan bahwa ia sepenuhnya diabaikan di rumahnya sendiri oleh seorang gadis berumur dua puluh satu tahun. Dan sialnya, hal itu membuat fokus kerja Adrian berantakan setengah mati.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu depan apartemen memecah keheningan. Kiara yang sedang berada di ruang tengah segera berjalan menuju pintu. Begitu dibuka, seorang kurir berseragam rapi berdiri dengan membawa lima buah kotak besar berwarna hitam elegan dengan pita satin keemasan, lengkap dengan logo salah satu department store barang mewah paling eksklusif di Jakarta Pusat.
"Selamat sore, dengan Ibu Kiara? Ini ada kiriman paket dari Tuan Adrian," ucap kurir itu dengan sangat sopan.
Kiara mengernyitkan dahinya. "Dari... Adrian? Maaf, tapi sepertinya salah alamat—"
"Tidak salah, Ibu. Nama dan nomor teleponnya sudah sesuai. Silakan tanda tangan di sini," potong kurir itu ramah.
Dengan perasaan campur aduk, Kiara akhirnya menerima kotak-kotak besar yang terasa cukup berat itu dan meletakkannya di atas meja kopi ruang tengah. Tepat saat itu, langkah kaki tegap terdengar mendekat. Adrian keluar dari ruang kerjanya, berdiri bersandar di pilar pembatas dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Seringai tengil yang biasa ia tunjukkan kembali terukir tipis di wajah tampannya.
"Buka saja. Itu semua untukmu, Mahasiswaku," ujar Adrian dengan nada suara baritonnya yang santai, seolah tidak pernah terjadi perang dingin di antara mereka.
Kiara menatap kotak-kotak itu datar, lalu beralih menatap Adrian dengan pandangan sedingin es. Ia membuka salah satu kotak terbesar. Di dalamnya, terbaring sebuah gaun malam sutra berwarna hitam pekat yang sangat mewah, beberapa set perhiasan minimalis tapi harganya pasti selangit, dan tumpukan produk skincare serta kosmetik merek ternama dari Paris.
Bukannya senang seperti wanita pada umumnya, dada Kiara justru bergemuruh oleh rasa sesak yang teramat sangat. Hatinya kembali berdenyut perih oleh rasa terhina.
"Apa ini, Pak Adrian?" tanya Kiara, suaranya terdengar bergetar menahan emosi batin yang meluap. "Setelah menginjak-injak harga diriku kemarin, sekarang kamu mencoba menyogokku dengan barang-barang mewah ini? Kamu pikir... aku bisa dibeli dengan semua ini? Kamu pikir uang tiga ratus lima puluh juta kemarin belum cukup untuk membuatku menderita, sampai kamu harus memamerkan kekayaanmu lagi?!"
Adrian menghentikan seringainya. Senyuman tengilnya memudar digantikan oleh ekspresi wajah yang mengeras. Ia tidak suka niat terselubungnya—yang sebenarnya adalah bentuk "minta maaf" karena gengsinya terlalu tinggi—disalahartikan secara kasar oleh Kiara.
Tanpa membalas ucapan Kiara, Adrian melangkah lebar menghampiri gadis itu. Namun, Kiara yang terlanjur emosi langsung berbalik badan, berjalan cepat menuju dapur untuk menghindari konfrontasi dan mulai menyibukkan diri mencuci piring di wastafel dengan gerakan yang menghentak.
Sret.
Hanya dalam hitungan detik, tubuh tegap Adrian sudah berada di belakangnya. Tanpa memberikan aba-aba, kedua lengan kekar Adrian melingkar sempurna di pinggang ramping Kiara, menarik punggung gadis itu hingga menempel lekat pada dada bidangnya yang keras dan hangat.
"Adrian! Lepas! Tanganku basah!" pekik Kiara, mencoba memberontak dengan menyikut dada Adrian, namun cengkeraman pria itu justru semakin mengerat, mengunci tubuh mungil Kiara dalam dekapan posesif yang mutlak.
Adrian menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher jenjang Kiara yang wangi. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Kiara yang selalu berhasil menenangkan saraf-sarafnya yang tegang setelah seharian penuh tekanan kerja.
"Aku tidak sedang membelimu, Kiara. Jangan bicara seolah-olah aku ini monster yang kejam," bisik Adrian tepat di telinga Kiara, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah, seksi, dan sarat akan perasaan bersalah yang tersamarkan oleh egonya.
Napas hangat Adrian berembus di kulit leher Kiara, seketika mengirimkan gelombang sengatan listrik yang meruntuhkan pertahanan dingin gadis itu. Tubuh Kiara mendadak kaku, dan pemberontakannya perlahan melemah.
"Lalu apa maksud dari semua barang mewah ini?" lirih Kiara dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menahan rasa sesak di dadanya.
Adrian terkekeh sangat tipis, sebuah kekehan sensual yang membuat dada Kiara berdesir hebat. Jemari panjang Adrian merayap naik, mengusap lembut rahang tegas Kiara, memaksa gadis itu untuk sedikit memiringkan wajahnya ke arahnya.
"Aku hanya ingin melihat istri kontrakku memakai barang terbaik, Sayang. Tidak ada maksud lain," bisik Adrian nakal, bibir seksinya memberikan satu kecupan basah yang lembut dan lama di balik telinga Kiara, membuat gadis itu mendesah pelan tanpa sadar.
"Pakai gaun hitam itu besok malam, Kiara. Kita ada janji makan malam penting berdua di luar. Dan kupastikan... tidak akan ada pria BEM atau siapa pun yang boleh menatapmu besok malam, karena mataku adalah pemilik mutlak atas keindahanmu," lanjut Adrian dengan nada posesif gila yang begitu pekat, menutup perdebatan sore itu dengan klaim sepihak yang membuat jantung Kiara kembali berdetum tak karuan.