NovelToon NovelToon
Titik Tertinggi Mencintai

Titik Tertinggi Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepingan yang Kembali

Langkah pertama untuk memenangkan sebuah peperangan adalah dengan membuat musuh merasa bahwa mereka telah menang. Prinsip itulah yang kini dipegang teguh oleh Neya. Sejak siang melelahkan di ruang kerja Aris dan malam pertama yang penuh kepura-puraan di ranjang pengantin mereka, Neya telah sepenuhnya berubah. Ia bukan lagi wanita linglung yang bisa disetir dengan mudah. Di balik tatapan matanya yang tampak polos dan patuh, tersimpan struktur rencana yang sangat dingin.

Hal pertama yang Neya lakukan adalah memutus rantai racun di tubuhnya. Setiap pagi dan malam, ketika Ibu Imelda atau Aris memberikan kapsul obat penenang saraf itu, Neya selalu menerimanya dengan senyuman manis. Ia meminumnya di hadapan mereka, namun dengan trik lidah yang sudah ia latih, kapsul itu selalu berakhir disembunyikan di bawah lidah atau di selipan pipi dalam, untuk kemudian ia muntahkan kembali di wastafel kamar mandi ketika mereka berbalik pergi.

Efek dari berhentinya konsumsi obat itu sangat luar biasa. Kabut tebal yang selama ini mengunci otaknya perlahan sirna. Ingatan jangka pendeknya menjadi sangat tajam, dan kepalanya tidak lagi terasa berat. Namun, di depan Aris dan ibunya, Neya tetap berakting seolah-olah ia masih menderita amnesia total dan sangat bergantung pada mereka.

Sandiwara Neya berjalan dengan sangat sempurna karena ia tahu persis kelemahan Aris. Neya adalah wanita yang dianugerahi paras yang cantik dan bentuk tubuh yang elok. Ia mulai memanfaatkan kelebihan fisiknya itu sebagai senjata manipulasi yang mematikan. Di rumah, Neya sengaja mengenakan pakaian-pakaian rumah yang sedikit longgar, menunjukkan leher jenjang dan kulit putihnya yang halus di hadapan Aris. Ia mulai berani bermanja-manja, memberikan kecupan-kecupan kecil di pipi Aris saat suaminya baru pulang kantor, dan memperlakukan pria itu layaknya seorang raja di atas ranjang mereka.

Aris, yang dasarnya memang sudah sangat terobsesi pada Neya, benar-benar terbuai. Keelokan tubuh dan kepatuhan manis Neya setiap malam membuat kewaspadaan pria itu runtuh total. Aris menjadi sangat percaya bahwa Neya telah sepenuhnya menerima pernikahan ini dan melupakan masa lalunya. Dampaknya, Aris menjadi sangat penurut. Apa pun yang Neya inginkan, Aris akan selalu mengabulkannya tanpa rasa curiga sedikit pun.

Begitu pula dengan Ibu Imelda. Melihat putrinya yang kini tampak hidup bahagia, melayani Aris dengan baik, dan tidak pernah lagi mempertanyakan soal masa lalu, membuat sang ibu melonggarkan pengawasannya. Penjagaan ketat di rumah abu-abu itu perlahan-lahan mengendur, memberikan celah besar yang sudah lama dinantikan oleh Neya.

Siang itu, memanfaatkan momen saat Aris sedang rapat penting di kantor dan ibunya pergi ke acara kunjungan panti, Neya melancarkan aksi nekatnya. Ia meminta izin pada sopir rumah untuk pergi ke pusat perbelanjaan, namun di tengah jalan, Neya meminta turun dengan alasan ingin mengunjungi toko buku sendirian dan menyuruh sopir menunggunya di kafe seberang jalan.

Begitu terbebas dari pengawasan, Neya segera menaiki taksi online menuju Rumah Sakit Medika Utama—rumah sakit tempat pertama kali ia terbangun dari koma setelah kecelakaan yang diklaim oleh ibunya.

Dengan langkah tergesa namun tetap berusaha tenang, Neya melangkah menuju bagian administrasi dan rekam medis. Memanfaatkan nama besar Aris yang merupakan donatur di rumah sakit tersebut, Neya berhasil mendapatkan akses untuk menemui Dokter spesialis saraf yang selama ini menangani resep obatnya.

Di dalam ruang konsultasi yang sunyi, Neya menatap dokter paruh baya di hadapannya dengan pandangan mengintimidasi. Ia sengaja mengeluarkan lembar resep bertinta merah yang sempat ia potret dari laci kerja Aris beberapa hari lalu.

"Jelaskan pada saya, Dok. Kenapa Anda meresepkan obat psikotropika golongan keras ini pada saya, padahal hasil pemindaian otak saya pasca-koma sama sekali tidak menunjukkan adanya trauma fisik yang permanen?" tanya Neya, suaranya terdengar dingin dan tajam

Dokter itu sempat terkejut dan gugup, mencoba menghindar dengan istilah-istilah medis yang rumit. Namun, Neya yang cerdik langsung menekan, "Suara saya direkam, Dok. Dan jika saya membawa resep ini ke jalur hukum karena indikasi malpraktik pemberian obat penekan memori secara sengaja, reputasi Anda dan rumah sakit ini akan hancur dalam semalam."

Ancaman itu berhasil. Wajah sang dokter pucat pasi. Dengan suara berbisik ketakutan, dokter itu akhirnya mengaku. "Maafkan saya, nona Neya... Saya terpaksa. Ibu Imelda dan Tuan Aris yang membayar sangat mahal untuk menyuntikkan zat itu ke dalam cairan infus Anda selama koma, dan melanjutkannya dengan resep obat tebusan tersebut. Mereka... mereka menegaskan bahwa Anda tidak boleh mengingat apa pun sebelum kecelakaan itu terjadi demi kebaikan Anda sendiri."

Hantaman kenyataan itu membuat dada Neya terasa sesak, namun ia menahan diri untuk tidak menangis. Puzzle pertamanya telah terkumpul. Ibunya sendiri dan Aris telah berkomplot untuk menghapus identitasnya. Namun, pertanyaan terbesarnya masih menggantung pekat di kepala: Kenapa? Kenapa bundanya tega melakukan kekejaman ini? Dan siapakah Aris sebenarnya hingga bundanya rela menjual putrinya sendiri pada pria itu? Neya tahu dia tidak boleh gegabah. Dia harus pulang sebelum ada yang menyadari kepergiannya.

Sesampainya di rumah, takdir tampaknya sedang bermain-main dengan emosi Neya. Ketika ia melangkah masuk melalui pintu depan, seorang petugas ekspedisi baru saja meletakkan sebuah surat di atas meja lobi. Karena pelayan sedang berada di dapur, Neya yang langsung menerima dan menandatangani resi surat tersebut.

Itu adalah sebuah undangan pernikahan fisik yang dibalut kain beludru mewah berwarna hitam dengan ukiran benang emas yang sangat berkelas di permukaannya. Undangan yang memancarkan aura kekayaan yang luar biasa gila.

Neya membuka simpul pita emasnya dengan rasa penasaran. Namun, begitu matanya membaca deretan huruf timbul yang tertera di lembar dalam undangan tersebut, seluruh tubuh Neya mendadak kaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama beberapa detik.

Pernikahan: Kinan wardhana kusuma & Sherly jelita Mahendra.

Nama itu... nama yang tertulis dengan tinta emas itu seketika memicu sebuah ledakan hebat di dalam kepala Neya. Nama itu seolah menjadi kunci utama yang mendobrak pintu gerbang ingatannya yang selama ini terkunci rapat. Rasa sakit yang teramat sangat mendadak menyerang ubun-ubunnya, membuat Neya harus bertumpu pada dinding agar

tidak ambruk ke lantai.

"Kinan..." ucap Neya lirih, bibirnya bergetar hebat saat melafalkan nama itu. Bersamaan dengan itu, bayangan pemantik api silver berinisial "K" yang ia sembunyikan di kamarnya langsung berputar di benaknya.

Neya bergegas berlari masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu, lalu meraih sebuah buku catatan kecil tersembunyi dari balik cermin riasnya. Dengan tangan yang gemetar karena luapan emosi, ia langsung menuliskan daftar (list) hal-hal yang perlu ia cari tahu tentang pria bernama Kinan ini.

Ajaibnya, karena nama Kinan kusuma adalah nama dari putra mahkota salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini yang baru saja menggelar pernikahan termegah , informasi tentang dirinya sangat mudah bertebaran di internet. Hanya dengan beberapa kali klik di ponselnya, layar digital itu langsung menampilkan sosok pria tampan bertubuh tegap dengan sorot mata yang tajam namun menyimpan luka—pria yang sama persis dengan kilasan memori yang selama ini menghantuinya.

Begitu Neya menatap foto Kinan di layar, kabut amnesia di otaknya pecah sepenuhnya. Flashback masa lalu menghantam kesadarannya tanpa ampun bagai air bah.

Flashback Memorinya Bersama Kinan)

Neya teringat sekarang. Mereka telah menjalin hubungan cinta yang sangat indah sejak masa SMP. Hubungan yang murni, penuh tawa, dan janji suci yang mereka rajut di bawah rintik hujan. Mereka bahkan sudah merencanakan pernikahan impian mereka dengan matang setelah bertahun-tahun bersama. Kinan adalah dunianya, dan ia adalah dunia Kinan.

Namun, memori itu mendadak berubah menjadi gelap dan mengerikan saat wajah Mama Kinan dan kakak perempuan Kinan muncul di dalam ingatannya.

Neya mengingat dengan sangat jelas hari di mana ia diseret ke sebuah ruangan privat oleh kedua wanita berdarah dingin itu. Mama Kinan yang berpenampilan anggun namun memiliki tatapan sekejam iblis, melemparkan sekeranjang uang dan dokumen ke depan wajah Neya.

"Kamu hanya wanita kelas bawah, Neya. Kamu tidak punya hak untuk bersanding dengan putraku dan merusak silsilah bisnis keluarga kami. Sadarlah diri," kalimat makian yang diucapkan dengan nada lembut namun menusuk dari Mama Kinan kembali menggema di telinga Neya.

Neya menolak mundur karena kekuatannya ada pada cinta tulus Kinan. Dan ingatan terakhir yang membuat Neya berteriak tanpa suara di dalam kamarnya saat ini adalah malam berdarah itu—malam di mana ia dan Kinan sedang bertemu, lalu tiba-tiba sebuah peluru melesat menembus dadanya dari jarak jauh. Suara letusan senjata api, jeritan histeris Kinan yang memeluk tubuh bersimpah darahnya, sebelum akhirnya pandangan Neya gelap gulita dan ia terbangun di rumah sakit dengan kondisi amnesia.

(Masa Kini)

Neya terduduk di lantai kamarnya dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya. Tubuhnya bergetar hebat karena amarah yang mendidih di dalam nadinya. Kepingan puzzle itu kini telah menyatu dengan sempurna, membentuk sebuah gambaran

Namun, sedetik kemudian Neya menggelengkan kepalanya dengan kuat. Rasa sakit di hatinya bergolak bersama logika yang mencoba tetap jernih. Tidak, Bunda tidak mungkin sejahat itu, batin Neya menepis prasangka buruknya sendiri.

Mengingat bagaimana cara ibunya merawatnya selama ini, Neya mulai menyadari sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Itu semua pasti murni perkiraan ibunya yang menganggap bahwa melupakan Kinan dan masa lalu berdarah mereka adalah satu-satunya jalan demi kebaikan dan keselamatan nyawa Neya. Sang bunda pasti berpikir, dengan membuat Neya memulai hidup baru bersama Aris—pria dari keluarga konglomerat lain yang mampu melindunginya—Neya akan aman dari jangkauan tangan dingin keluarga Kinan yang bisa kapan saja kembali untuk menghabisinya. Ibunya memilih meracuni ingatannya daripada harus kehilangan putrinya untuk kedua kali.

Ta,api siapa Haris ? tanya neya dalam hati ,aku akan segera cari tau

Neya menarik napas dalam-dalam, menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Sorot matanya yang semula sayu kini benar-benar telah berubah menjadi sepasang mata elang yang dipenuhi dengan ketegasan yang membara.

Apapun alasan bundanya, dan bagaimanapun Aris memanfaatkannya, kenyataan bahwa hidupnya telah dimanipulasi tetap tidak bisa diterima. Terlebih lagi, keluarga kusuma mengira mereka telah berhasil memenangkan permainan ini setelah hampir melenyapkan nyawanya di masa lalu.

Neya bangkit berdiri, berjalan mendekati jendela kamar sembari memandangi undangan mewah yang tergeletak di ranjang. Sebuah seringai dingin dan misterius perlahan terkembang di bibir cantiknya. Ia tahu, di jam-jam seperti ini, pesta pernikahan megah itu pasti sudah usai dan Kinan telah kembali ke kediamannya bersama wanita lain.

Neya meraih ponselnya, lalu membuka sebuah aplikasi perpesanan terenkripsi rahasia yang tidak bisa dilacak oleh sistem rumah Aris. Jemarinya yang lentik dengan cepat mengetikkan beberapa baris kalimat yang sudah ia rancang di dalam kepalanya, lalu melampirkan sebuah foto teras rumah abu-abu yang ia ambil —foto yang sengaja memperlihatkan siluet dirinya

Dengan satu ketukan tegas, Neya mengirimkan pesan itu ke nomor pribadi Kinan yang masih ia ingat luar kepala di luar kendali memorinya yang sempat hilang.

Pesan anonim itulah yang pada detik yang sama masuk dan berdering di ponsel Kinan, menginterupsi malam pertamanya yang dingin bersama Sherly.

1
Unicha
apa sebenarnya yang sedang direncanakan Neya?
Unicha
apa yang akan dilakukan sherly setelah membaca pesan itu ?
Unicha
madu ? apakah haris sudah menikah sebelumnya? atau siapa wanita yang mengaku menjadi madu Neya itu ?
Unicha
apakah perlahan Kinan akan mencintai Sherly dan melupakan neya ?
sakura
...
Unicha
Kenapa Imelda menangis ,apa yang Imelda sembunyikan?
Unicha
Siapakah laki laki yang menjadi suami neya itu ? ,apakah neya benar sudah menikah ?
lalu Kinan ?
Unicha
Apakah Kinan dan neya benar benar akan berakhir?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!