NovelToon NovelToon
System Toko Sepuluh Ribu Alam

System Toko Sepuluh Ribu Alam

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Ruang Ajaib / Tamat
Popularitas:428.8k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Hao Qi hanyalah seorang mahasiswa yatim piatu miskin yang tercekik hutang rentenir dan selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya.

Namun, nasibnya berubah drastis ketika ia tanpa sengaja mengaktifkan Sistem Toko Sepuluh Ribu Alam di ponsel bututnya. Melalui sistem rahasia ini, Hao Qi bisa menjual barang-barang murah sehari-hari seperti mi instan dan korek api gas ke berbagai dimensi lain dengan bayaran selangit berupa koin sistem, emas batangan, pil penempa tubuh, hingga teknik bela diri kuno.

Sambil menyembunyikan identitas dan kekuatan barunya, Hao Qi mulai melunasi hutangnya, menyadari keberadaan energi Qi di dunia modern, dan melangkah naik untuk menghancurkan para orang sombong yang dulu meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

"Kring..."

Bel tanda berakhirnya kelas sore berbunyi nyaring di seluruh penjuru kampus Universitas Jiangjing. Hao Qi merapikan buku catatannya dengan santai dan memasukkannya ke dalam tas selempang. Sepanjang hari ini, ia berhasil menghindari tatapan mata elang dari para penyelidik Ibukota yang masih berkeliaran di area kampus.

Giok Penenang Hati yang tersembunyi di balik kemejanya benar-benar bekerja tanpa cela.

"Hao Qi, kau mau langsung pulang atau mampir ke kafe depan? Kudengar ada menu baru," ajak Zhou Ming sambil menyandang tas ranselnya.

"Maaf, Zhou Ming. Hari ini aku harus pindahan rumah. Ada kerabat jauh yang meminjamkan tempat tinggalnya padaku," tolak Hao Qi dengan senyum ramahnya yang khas.

"Wah, beruntung sekali! Kalau kau butuh bantuan angkat-angkat barang, telepon saja aku!"

"Hahaha! Tentu, terima kasih tawarannya! Sampai jumpa besok!"

Hao Qi melambaikan tangan dan berjalan keluar dari gerbang kampus. Ia mengarahkan langkahnya menuju lahan parkir kosong di pinggiran kota, tempat ia memarkirkan truk boks sewaannya semalam.

Di dalam truk, Hao Qi duduk di balik kemudi. Otaknya yang kini bekerja secepat superkomputer memetakan rute tercepat menuju Bukit Naga dengan memperhitungkan kemacetan jam pulang kerja.

"Brumm!"

Truk boks putih itu melaju membelah jalanan kota Jiangjing. Pemandangan gedung-gedung pencakar langit perlahan berganti menjadi jalanan menanjak yang dikelilingi pepohonan rindang dan udara segar. Kawasan Bukit Naga adalah area perumahan elit. Semakin tinggi jalannya, jarak antar rumah semakin jauh dan halamannya semakin luas.

Hao Qi memberhentikan truknya di depan sebuah gerbang besi hitam yang menjulang tinggi namun terlihat sedikit berkarat. Di balik gerbang itu, terdapat sebuah vila bergaya Eropa klasik yang tampak kusam karena tidak terawat. Rumput liar tumbuh subur di halaman depannya yang luas.

"Vila nomor 44. Angka sial bagi orang biasa, tapi sangat menguntungkan untuk menyembunyikan rahasia."

Hao Qi bergumam pelan. Ia turun dari truk dan berjalan menuju kotak pos bata di samping gerbang. Ia membuka penutupnya dan menemukan sebuah amplop cokelat tebal.

"Sret."

Di dalamnya terdapat sebuah kunci besi besar dan dokumen sertifikat kepemilikan atas nama perusahaan cangkang yang ia buat tadi pagi. Bos Zhao benar-benar bekerja dengan cepat di bawah ancaman nyawa.

"Klik... Kriet..."

Hao Qi memutar kunci dan mendorong gerbang besi yang berat itu hingga terbuka lebar. Ia kembali ke truk dan mengemudikannya masuk, memarkirkannya tepat di depan pintu utama vila yang terbuat dari kayu jati solid.

Saat Hao Qi turun dari truk, telinganya yang sangat sensitif menangkap suara pecahan kaca dan tawa kasar dari arah halaman belakang vila.

"Prang!"

"Hahaha! Tuangkan lagi birnya! Bos Zhao sudah tamat, vila kosong ini sekarang jadi markas Geng Ular Berbisa kita!"

Hao Qi memiringkan kepalanya sedikit. Senyuman langsung mengembang di wajahnya.

"Ternyata Bos Zhao terlalu takut padaku sampai lupa membersihkan hama di tempat ini. Tidak apa-apa, biar aku yang menyapu rumah baruku ini sendiri."

Hao Qi berjalan santai menyusuri jalan setapak di samping vila menuju halaman belakang. Di sana, di tepi sebuah kolam renang yang airnya sudah mengering dan berlumut, lima orang pria bertato sedang duduk melingkar di atas kursi santai yang kotor. Kotak-kotak bir berserakan di sekitar mereka.

Pria yang memiliki tato ular kobra di lehernya menoleh saat mendengar langkah kaki Hao Qi. Matanya menyipit marah.

"Hei! Siapa kau?! Berani-beraninya masuk ke wilayah Geng Ular Berbisa!" bentak pria bertato ular itu sambil berdiri, memecahkan botol bir kosong ke tepi kolam renang untuk dijadikan senjata.

"Trang!"

Keempat temannya ikut berdiri, mencabut pisau lipat dan pipa besi dari balik jaket mereka. Mereka menatap Hao Qi dengan pandangan mengancam.

Hao Qi menghentikan langkahnya sekitar lima meter dari mereka. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kargo. Wajahnya memancarkan senyum yang sangat tulus dan ramah.

"Selamat sore, Paman-paman! Maaf mengganggu acara minum kalian. Tapi sepertinya ada sedikit kesalahpahaman. Tempat ini baru saja kubeli siang tadi. Jadi, bisakah kalian memungut sampah-sampah botol itu dan berjalan keluar dari gerbang depan dengan tenang?"

"Hahaha!"

"Kau membeli tempat ini?! Mahasiswa gembel sepertimu?!"

Pria bertato ular itu tertawa terbahak-bahak, diikuti oleh anak buahnya.

"Dengar, Bocah. Tempat ini sudah diklaim oleh Bos kami. Kalau kau tidak mau berakhir di dasar kolam kering ini dengan perut robek, tinggalkan trukmu, serahkan dompetmu, dan merangkaklah keluar dari sini!"

Hao Qi menghela napas pendek. Otaknya yang diperkuat Pil Pencerahan Akal Budi secara otomatis memindai kelima orang itu dalam hitungan milidetik.

'Detak jantung mereka berantakan karena alkohol. Postur kuda-kuda mereka terbuka lebar. Berat badan mereka bertumpu pada tumit, membuat waktu reaksi mereka terlambat 0,8 detik. Sangat lambat. Sangat lemah.'

"Aku sangat menghargai kebersihan, Paman. Kalian memecahkan botol kaca di rumah baruku. Itu membuatku sedikit sedih," ucap Hao Qi dengan nada lembut yang dipaksakan.

"Banyak bacot! Habisi dia!"

Pria bertato ular itu memberi perintah. Dua preman berbadan gempal langsung menerjang maju ke arah Hao Qi, mengayunkan pipa besi ke arah kepalanya.

"Wush!"

Angin berdesir akibat ayunan pipa besi itu. Namun bagi Hao Qi, gerakan mereka terlihat seperti siput yang sedang merayap. Ia tidak menggunakan Langkah Angin. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kiri, membiarkan pipa besi itu melewati telinganya hanya dengan jarak beberapa milimeter.

"Hah?!" Preman itu terbelalak kaget.

"Bugh!"

Hao Qi mengangkat kaki kanannya dan melepaskan tendangan lurus yang sangat santai tepat ke ulu hati preman tersebut. Ia menahan 90% tenaganya agar tidak membunuh orang itu.

"Ughk!"

Mata preman gempal itu hampir melompat keluar. Ia memuntahkan cairan dari mulutnya dan langsung terpelanting ke belakang sejauh tiga meter, jatuh pingsan di dalam kolam renang yang kering.

"Brak!"

Satu preman lagi yang memegang pisau lipat mencoba menusuk perut Hao Qi dari samping.

Hao Qi hanya tersenyum. Ia tidak menarik tangannya dari dalam saku. Ia hanya menggeser tubuhnya ke samping, lalu menyandung kaki preman itu dengan ujung sepatunya.

"Gedebuk!"

Preman itu jatuh tersungkur dengan keras hingga wajahnya mencium lantai beton, membuat hidungnya patah dan darah segar mengucur deras.

"Argh! Hidungku!" jeritnya kesakitan.

Hanya dalam waktu tiga detik, dua dari mereka telah tumbang secara memalukan.

Tiga preman yang tersisa, termasuk pria bertato ular, langsung membeku. Tawa mereka menguap tanpa sisa. Keringat dingin mulai membasahi pelipis mereka. Mereka bukan praktisi Qi, tapi mereka punya insting jalanan yang tahu kapan mereka berhadapan dengan monster.

"K-kau... kau ini siapa sebenarnya?!" Pria bertato ular itu melangkah mundur dengan gemetar.

Hao Qi perlahan mengeluarkan tangannya dari dalam saku. Ia meretakkan buku-buku jarinya.

"Krek... Krek..."

"Aku? Aku hanyalah pemilik rumah yang sedang membersihkan halamannya dari para serangga."

Hao Qi melangkah maju satu langkah.

1
Reyzz
lah bukannya udah dipake bayar hutang ya? kan 20ribu dipake bayar hutang, otomatis tinggal 6ribu
REY ASMODEUS
hancur sudah dunia kultivasi lintas dunia dan dimensi 🤣🤣🤣🤣
Dita Permana
aneh si haoqi punya duit nya 5jt Yuan terus di pake beli vila 3 juta belum di pake beli barang dagangannya harusnya sisanya kurang dari 2jta lah ini masih sisa 4jta , cara berhitung lu ini gimana Thor?
Dita Permana
ko jadi 20rb Yuan , bukannya tadi ke menejer toko mas minta uang chase nya 10rb ya 🤔
Dita Permana
harusnya dialog system nya dikasih tanda kurung thor🙏
Helen Nirawan
dah byk duit , beli rmh keq
Achmad Sofian
Mengerikan 🤣🤣🤣🤣
Achmad Sofian
Dmulai
Achmad Sofian
Kerenlah👍👍👍👍
Latief Marssy
wow..😄 dari pecundang langsung jadi pemimpin mafia...💪
Latief Marssy
Harusnya dibasmi orang-orang spt ini biar tidak berdampak kepada orang susah yg lain...
Ahmad Supri Aji
nah begini harusnya. ada pelanggan kaya. masa iya pelanggannya mau miskin semua. wkwkwkwk
Ahmad Supri Aji
nah. masa iya masih miskin aja pembelinya.
Ahmad Supri Aji
apalah. masa iya setiap pembeliny miskin semua. hadeh
Mrytl22
pov hao qi : dia sendiri yang ngomong, bukan gue🤣
Kevandra
Hi
Hary
PERKOSA LALU BUNUH...!!!
Hary
PANTAS LAH, BIASA TINGGAL DITEMPAT KUMUH, TINGGAL DI VILLA JOROK YA G MASALAH, NAIK KELAS
Mrytl22
ratusan ribu kali thor🤭
Mrytl22
secara nggak langsung dia bilang muka dia sendiri juga serem😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!