NovelToon NovelToon
Wanita Pilihan Sang Ceo

Wanita Pilihan Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noire 23

Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden penthouse, dan mendarat tepat di atas ranjang king size yang berantakan.

Nial perlahan membuka matanya. Rasa pening yang hebat langsung menghantam kepalanya sebagai konsekuensi dari alkohol yang ia tenggak habis - habisan semalam.

Namun, rasa sakit di kepalanya tak sebanding dengan getaran yang ia rasakan di dadanya saat menyadari sebuah kehangatan yang melekat di tubuhnya.

Di sana, di dalam dekapannya, Queen tertidur dengan sangat pulas. Napasnya teratur dan tenang, wajahnya tampak begitu polos tanpa beban di balik helai rambut yang sedikit berantakan.

Tubuh mereka bersentuhan tanpa penghalang sehelai benang pun di balik selimut sutra yang menutupi separuh raga mereka.

Nial memejamkan mata rapat - rapat, merutuki dirinya sendiri. Sebuah makian tertahan di kerongkongannya.

[Bodoh,] batinnya.

Karena alkohol sialan itu, ia kehilangan kendali. Ia kembali menyentuh wanita yang seharusnya ia jauhi.

Ia kembali memberikan kehangatan pada seseorang yang—menurut logikanya saat ini hanyalah sebuah bidak catur yang dikirim untuk menjebaknya.

Nial mencoba menggerakkan lengannya perlahan, Ialu berusaha mengangkat lengan Queen yang melingkar di pinggangnya dengan sangat hati - hati.

Namun, gerakan itu justru membuat Queen terusik. Kelopak mata Queen bergetar sebelum perlahan terbuka.

"Selamat pagi." Alih - alih melepaskan Nial, Queen justru semakin merapatkan tubuhnya. Ia menarik kembali lengan Nial dan memeluk pria itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Nial.

"Jangan pergi dulu ... ini masih terlalu pagi," bisik Queen dengan suara serak khas bangun tidur.

Nial membeku. Seharusnya, ini adalah saat yang tepat untuk mendorongnya. Seharusnya ia memaki wanita ini, mengonfrontasinya tentang nama Arresta, dan mengusirnya karena telah bermain - main dengan perasaannya.

Kata - kata tajam sudah tersusun rapi di ujung lidahnya, siap untuk menghancurkan harga diri Queen. Namun, saat ia merasakan detak jantung Queen yang berdegup kencang di dadanya dan jemari kecil wanita itu yang meremas lengannya dengan posesif, lidah Nial mendadak kelu.

Ia hanya diam. Tubuhnya menolak untuk bergerak, sementara hatinya berperang hebat antara logika yang menuntut dendam dan naluri yang ingin terus mendekap.

"Kau hangat sekali." gumam Queen, lagi.

Nial mengepalkan tangannya di balik selimut. Ia membiarkan Queen memeluknya, membiarkan wanita itu merasa aman dalam sebuah kebohongan, sementara di dalam kepalanya, Nial sedang menyusun rencana untuk memastikan bahwa setelah fajar ini berlalu, dialah yang akan memegang kendali atas permainan sandiwara ini.

"Tidurlah lagi," Suara Nial datar, tanpa emosi, namun ia tetap tidak melepaskan pelukan Queen. Ia memilih untuk tetap menjadi "Nial yang tidak tahu apa-apa" sedikit lebih lama lagi, sebelum badai yang sesungguhnya pecah.

"Kau tidak tahu betapa aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu, Nial," ucap Queen dengan suara yang hampir hilang, pecah oleh isak tangis yang tertahan. "Meskipun aku tahu, setelah ini mungkin kau akan sangat membenciku."

Nial terdiam, pandangannya terpaku pada langit - langit kamar. Entah mengapa, ucapan Queen barusan meninggalkan rasa asing yang mengusik hatinya.

Flashback – Pukul 02.00 Dini Hari

Jam digital di atas nakas menunjukkan angka 02.00. Kamar itu sunyi, hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur yang menerangi separuh ruangan.

Di sisi lain ranjang, Nial terlelap dengan napas berat yang teratur, aroma alkohol masih samar tercium dari tubuhnya.

Queen duduk di tepi ranjang, mencengkeram selimut dengan jemari yang gemetar. Kata-kata Nial beberapa waktu lalu terus terngiang di kepalanya.

Aktris. Penipu.

Ia menoleh, menatap wajah Nial yang tampak tenang dalam tidurnya. Tidak ada sisa kemarahan di sana, sangat kontras dengan badai yang sedang berkecamuk di dalam dada Queen. Ia butuh jawaban.

Dengan gerakan pelan agar tidak menimbulkan suara, Queen turun dari ranjang. Ia menyampirkan selimut ke tubuhnya dan melangkah menuju meja telepon di sudut ruangan.

Setelah ragu sejenak, ia mengangkat gagang telepon dan menekan nomor pribadi Rayden.

"Rayden," ucap Queen saat sambungan terhubung.

"Nona Queen?" sahut Rayden di seberang sana, suaranya terdengar terjaga. "Apakah terjadi sesuatu?"

Queen menarik napas dalam, mencoba menstabilkan suaranya. "Katakan padaku yang sejujurnya, Rayden. Nial ... apakah dia tahu sesuatu tentangku?"

Hening sejenak di seberang telepon. Rayden tidak langsung menjawab, dan keheningan itu sudah cukup bagi Queen untuk memahami segalanya.

"Tuan Nial menerima laporan lengkap tentang Anda pagi ini, Nona," jawab Rayden akhirnya dengan nada berat.

Queen memejamkan mata. "Jadi itu alasannya dia menghindariku seharian ini?"

"Bukan hanya itu," lanjut Rayden. "Tadi siang, Tuan Nial juga bertemu dengan ayah Anda, untuk makan siang. Saya rasa pembicaraan mereka di sana yang benar-benar memicu kemarahannya."

Queen tertegun. "Dia bertemu Ayahku?"

"Benar. Dan Tuan Louis memberi kesan seolah keberadaan Anda di sisi Tuan Nial adalah bagian dari rencana bisnis mereka. Tuan Nial merasa Anda sengaja dikirim sebagai umpan untuk mengamankan kontrak kemarin."

Queen lemas, ia menyandarkan tubuhnya ke meja. Semuanya menjadi jelas sekarang. Bukan hanya identitasnya yang terbongkar, tapi Nial juga mengira bahwa ia hanyalah alat pemancing yang dikirim oleh keluarganya sendiri.

Flashback end.

"Nial," panggil Queen lirih.

Pria itu tidak berhenti. Ia terus berjalan menuju walk-in closet, tangannya mulai memilah kemeja kerja dengan gerakan mekanis yang kaku.

"Nial, tolong ... aku ingin menjelaskan sesuatu," suara Queen kini sedikit lebih keras, meski bergetar. "Ada hal-hal yang belum jelas, hal-hal yang membuatmu salah paham tentang keberadaanku di sini."

Gerakan tangan Nial terhenti seketika. Ia berbalik perlahan. Aura di ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat menyesakkan.

Nial menatap Queen dengan mata yang menyipit tajam, sorot matanya berkilat antara rasa jijik dan amarah yang meledak-ledak di balik ketenangannya.

"Salah paham?" Nial mengulang kata itu dengan tawa hambar yang terdengar mengerikan. "Bagian mana yang salah paham, Queen? Bagian saat kau masuk ke mobilku dengan akting ketakutan yang sempurna? Atau bagian saat ayahmu menyebutmu sebagai 'aset' penjamin kontrak di depanku?"

Nial melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Queen terdesak ke dinding. Pria itu menumpukan kedua tangannya di sisi kepala Queen, mengurung wanita itu dalam intimidasi yang nyata.

"Kau ingin menjelaskan apa lagi?" desis Nial tepat di depan wajah Queen. Napasnya terasa panas dan memburu. "Kau ingin menyusun skenario baru untuk menipuku lagi?"

"Bukan begitu, Nial! Aku tidak tahu soal kontrak itu, aku—"

"Cukup!" bentak Nial, suaranya menggelegar di dalam kamar yang sunyi itu. "Berhenti bersikap seolah kau adalah korban. Kau adalah seorang Arresta. Darah penipu mengalir di tubuhmu. Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, bukan? Kontrak itu sudah kutanda tangani. Jadi, berhenti berakting tulus di depanku karena itu membuatku muak."

Nial kembali melangkah dan hampir mencapai pintu, tangannya sudah menyentuh gagang logam, siap untuk meninggalkan ruangan itu. Namun—

"AKU HANYA INGIN MELARIKAN DIRI, NIAL!"

Teriakan Queen yang melengking pecah, menggema di setiap sudut kamar yang luas itu.

Nial terdiam seketika. Bahunya menegang, namun ia tetap membelakangi wanita itu.

"Aku tidak tahu soal kontrak itu! Aku tidak peduli dengan urusan bisnis ayahku!" Queen melanjutkan dengan suara yang mulai serak, napasnya memburu di antara isak tangis yang tak lagi bisa ia bendung. "Aku ada di sini karena aku melarikan diri dari perjodohan dengan Armand Chaleb! Aku tidak ingin menikah, Nial ... apalagi dengan pria seperti dia."

Nial perlahan membalikkan tubuhnya. Wajahnya masih keras, namun ada kerutan tipis di dahinya saat ia menatap Queen yang kini tampak sangat rapuh, berdiri dengan bahu yang bergetar hebat.

"Lalu kenapa aku?" tanya Nial.

"Karena aku takut! Dan karena kau adalah Nial Percy," jawab Queen jujur, matanya yang basah menatap langsung ke manik mata Nial. "Aku minta maaf ... aku minta maaf karena telah memanfaatkanmu untuk itu. Aku egois. Aku pikir satu-satunya tempat di dunia ini yang cukup kuat untuk melindungiku dari otoritas keluargaku dan Armand adalah dengan tinggal di sisimu."

Queen menyeka air matanya dengan kasar, namun tetesan baru segera jatuh kembali. "Aku pikir berada di dekatmu adalah satu-satunya cara agar aku bisa aman. Aku tidak pernah bermaksud menjadikan diriku sebagai umpan untuk kontrak itu. Aku hanya ingin bernapas tanpa rasa takut, sungguh hanya itu."

"Jadi ... kau menjadikanku benteng?" suara Nial terdengar sangat rendah. "Kau memilihku bukan karena hal lainnya, tapi karena kau tahu tidak ada seorang pun di kota ini yang cukup gila untuk berurusan dengan Nial Percy demi merebutmu?"

Nial tertawa kecil—sebuah tawa hambar yang tidak menyentuh matanya. Ia melangkah maju perlahan, membuat Queen secara naluriah mundur hingga terpojok di antara lemari besar dan dinding.

"Sangat cerdas, Nona Arresta. Sangat cerdas," desis Nial saat ia sudah berada tepat di depan wajahnya. "Kau memanfaatkan namaku untuk melarikan diri dari satu pria, sementara kau membiarkan ayahmu menggunakan tubuhmu untuk memeras hartaku. Kau benar-benar putri Louis Arresta yang paling berbakat."

"Aku sudah bilang ... aku tidak tahu soal kerjasama itu, Nial! Aku bersumpah—"

"Sumpahmu tidak bernilai apa - apa bagiku sekarang!" potong Nial dengan nada yang tiba-tiba meninggi, membuat Queen tersentak.

Nial mencengkeram sisi dinding di belakang kepala Queen, mengurung wanita itu dalam jarak yang sangat intim sekaligus mengancam. Amarah di matanya kini bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih gelap.

"Kau ingin aku melindungimu dari Armand Chaleb? Baiklah. Akan kulakukan. Tapi—"

"T—tapi apa?" Potong Queen.

Nial menyeringai. "Jadilah milikku sepenuhnya. Biarkan aku yang mengatur hidupmu, dan sebagai gantinya..." Nial mendekatkan bibirnya ke telinga Queen, membisikkan kalimat yang membuat bulu kuduk wanita itu berdiri sekaligus membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. "...aku akan memastikan tidak ada satu orang pun di dunia ini—termasuk keluargamu atau Armand—yang berani menyentuh bahkan seujung rambutmu tanpa izinku."

Nial menarik wajahnya kembali, menatap Queen dengan seringai tipis yang mematikan. "Bagaimana? Kau setuju dengan kesepakatan ini?"

Queen tertegun, napasnya tertahan di kerongkongan. Ucapan Nial baru saja membangunkan sebuah realita yang pahit.

Sebagai wanita yang rela mempertaruhkan segalanya demi melarikan diri dari sangkar emas keluarganya, kata "mengatur hidupmu" dari mulut Nial terdengar seperti jeruji baru—kali ini jauh lebih mewah, namun tetaplah sebuah penjara.

Ia menatap manik mata Nial yang gelap, mencari sedikit saja celah kelembutan di sana. Jauh di lubuk hatinya, ia sempat berharap Nial akan mengucapkan sesuatu yang lebih manusiawi.

Ia berharap Nial akan memintanya dengan hormat untuk menjadi kekasihnya, atau setidaknya seorang pendamping yang setara. Namun, kenyataan segera menghantamnya dengan telak.

Nial Percy bukan pria yang akan berlutut demi sebuah komitmen. Pria ini adalah penguasa, bukan pemuja. Baginya, hubungan adalah soal kontrol dan kepemilikan, bukan janji-janji romantis yang manis.

"Mengatur hidupku?" ulang Queen dengan suara yang sedikit bergetar. "Aku baru saja melarikan diri dari satu pria yang ingin mengendalikan masa depanku, Nial. Dan sekarang kau meminta hal yang sama?"

"Aku tidak meminta, Queen. Aku menawarkan kesepakatan," koreksi Nial dengan nada datar yang dingin. Jemarinya masih betah bermain di bawah dagu Queen.

Queen memejamkan mata sejenak, membiarkan satu tetes air mata terakhir jatuh melewati ibu jari Nial yang masih menekan dagunya.

"Baik," bisik Queen, suaranya terdengar pasrah namun tegas. Ia membuka mata, menatap Nial dengan keberanian yang tersisa. "Aku terima."

1
Mia Camelia
semoga dady nya queen kasih restu ke quen and niel🥰
Mia Camelia
yaah ketauan deh😂😂😂
Mia Camelia
nial mode cemburu tuh ada rexi🤔🤣
Mia Camelia
hahaha niel bisa aja mencari kesempatan dalam kegelapan kolong meja🤣🤣🤣
Mia Camelia
ya ampun ternyata sempat hadir nial junior yah🤔🤔🤔
Mia Camelia
hahaha rayden berani bongkaran aib nial kalo ada britania,🤣🤣🤣
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰
Mia Camelia
nial gercep banget sih, queen jadi takut itu🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut lagi thor🥰
Mia Camelia
lari queen🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
Mia Camelia: semangat ya thor😄😄
semoga lolos kontrak, aku doaiin biar lancar, biar bisa lanjut lagi cerita nya👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!