NovelToon NovelToon
PENYIHIR TANPA SIHIR

PENYIHIR TANPA SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Penawaran di Jalur Dagang dan Taruhan Nyawa

Kabut pagi yang tebal berangsur-angsur menipis seiring dengan munculnya berkas cahaya matahari yang menembus celah-celah kanopi pohon. Askara membuka matanya, merasakan staminanya telah pulih seutuhnya. Setelah memadamkan sisa-sisa bara api unggun semalam dengan timbunan tanah, ia membetulkan letak jubah hitam misteriusnya, menarik tudungnya ke depan, dan kembali mengayunkan langkah kaki menerobos keheningan hutan menuju arah utara.

Setelah beberapa jam berjalan menembus belantara yang kian terbuka, Askara akhirnya kembali menemukan jalur darat yang lebih lebar—sebuah jalan berbatu yang biasa dilintasi oleh kereta dagang. Namun, keheningan jalan itu mendadak pecah oleh suara adu mulut yang sangat nyaring dari arah depan.

Askara memperlambat langkahnya, berjalan mendekat tanpa menimbulkan suara untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Di tepi jalan, sebuah kereta kuda besar yang sarat akan muatan barang dagangan tampak berhenti. Seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan pakaian sutra mewah—yang jelas merupakan seorang pedagang kaya—sedang mondar-mandir dengan wajah merah padam. Ia berteriak frustrasi ke arah lima orang pria berzirah lengkap yang memegang senjata di hadapannya. Pria-pria itu adalah para pengawal bayaran yang disewanya.

"Apa-apaan kalian ini?! Aku sudah membayar setengah dari harga kontrak di awal, dan sekarang kalian menolak untuk mengawal keretaku sampai ke kota perbatasan?!" amuk si pedagang dengan suara melengking, sembari mengacungkan jarinya yang penuh cincin permata ke arah pemimpin pengawal.

"Di mana tanggung jawab profesional kalian sebagai tentara bayaran, hah?!"

Pemimpin pengawal, seorang pria bermata satu dengan kapak besar di punggungnya, mendengus kasar. Ia meludah ke tanah, sama sekali tidak gentar dengan kemarahan si pedagang.

"Dengar ya, Tuan Pedagang yang Terhormat," balas si pemimpin pengawal dengan nada sinis. "Saat kita menandatangani kontrak di Kota Gada, situasinya tidak seburuk ini. Kabar terbaru dari para pengembara yang melintas menyebutkan bahwa jalur menuju kota perbatasan saat ini sudah dikuasai oleh kelompok perampok Gagak Merah.

Mereka bukan bandit biasa yang menggunakan kapak karatan! Mereka adalah buronan kerajaan yang memiliki kemampuan sihir dan teknik bertarung setara dengan kesatria resmi!"

Pria di sampingnya ikut menimpali dengan wajah cemas, "Benar, Tuan! Kami berlima memang petarung yang handal, tapi menghadapi sekelompok perampok berkemampuan setara kesatria adalah bunuh diri. Nyawa kami jauh lebih berharga daripada koin perak milikmu itu! Ambil saja sisa uangmu, kami kembali ke kota asal!"

Tanpa memperdulikan lagi makian si pedagang, kelima pengawal itu berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan lokasi, membiarkan sang pedagang berdiri mematung di samping kereta kudanya yang besar dengan napas memburu akibat amarah dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.

Jika ia melanjutkan perjalanan sendiri, ia akan menjadi umpan empuk bagi para perampok. Namun jika ia berbalik, seluruh modal bisnisnya untuk barang dagangan musim ini akan hancur berantakan.

Melihat kesempatan tersebut, Askara melangkah keluar dari balik bayang-bayang pepohonan. Jubah hitam misteriusnya berkibar pelan ditiup angin pagi saat ia mendekati kereta kuda.

"Tuan," panggil Askara dengan suara rendah yang langsung memutus kepanikan si pedagang. "Aku mendengar masalahmu. Jika kau membutuhkan pengawal untuk mengantarmu dengan selamat sampai ke kota perbatasan, aku bisa melakukannya untukmu."

Pedagang paruh baya itu menoleh dengan cepat, menatap Askara dari ujung kepala hingga ujung kaki. Begitu melihat bahwa yang menawarkan diri hanyalah seorang pemuda pengembara seorang diri yang wajahnya bahkan tersembunyi di balik tudung hitam lambat laun kerutan di dahinya semakin dalam, berganti menjadi ekspresi meremehkan.

"Kau? Mengawal keretaku seorang diri?" pedagang itu tertawa renyah, seolah baru saja mendengar lelucon terbaik di pagi hari. "Hei, Pengelana Muda! Apakah kau tidak mendengar apa yang dikatakan oleh para pengawal profesional tadi? Jalur di depan dipenuhi perampok berkemampuan sihir setara kesatria! Lima orang prajurit berpengalaman dengan zirah lengkap saja lari ketakutan, dan kau yang hanya bermodalkan selembar jubah hitam tipis ini berani menawarkan diri? Jangan mencari mati hanya karena menginginkan koin emas!"

Askara tidak sedikit pun tersinggung oleh ucapan sarkas si pedagang. Di bawah tudung hitamnya, seulas senyuman tenang terukir. Ia maju satu langkah, menatap lurus ke arah mata si pedagang dengan pandangan yang penuh keyakinan.

"Aku tidak meminta koin emasmu sekarang, Tuan," ucap Askara dengan nada suara yang teramat santai namun sarat akan penekanan. "Mari kita buat sebuah kesepakatan dagang yang adil. Aku akan mengawal kereta dan barang daganganmu ini sepanjang jalur perbatasan. Jika aku berhasil mengantarmu sampai ke kota tujuan dengan selamat tanpa ada satu pun barangmu yang hilang, kau baru membayarku sesuai harga kontrak lima pengawal tadi. Namun, jika aku gagal, atau jika kita terpaksa mundur karena aku tidak bisa mengatasi para perampok itu... kau tidak perlu membayarku sepeser pun.

Kau sama sekali tidak akan merugi."

Mendengar tawaran yang keluar dari mulut Askara, jiwa bisnis di dalam dada si pedagang tambun itu mendadak meronta-ronta dengan hebat. Sebagai seorang pengusaha yang selalu menghitung untung dan rugi, proposal dari pemuda misterius ini terdengar sangat menggiurkan dan tidak memiliki risiko finansial sama sekali bagi dirinya. Jika pemuda ini mati atau gagal di tengah jalan, ia tidak kehilangan uang sepeser pun. Namun jika pemuda ini ternyata memiliki kekuatan tersembunyi dan berhasil, maka barang dagangannya yang berharga ratusan koin emas akan tiba di pasar perbatasan dengan aman.

Si pedagang mengelus dagunya yang berlipat, matanya menyipit menimbang-nimbang situasi. "Sebuah taruhan yang sangat berani... Baiklah! Aku menerima tawaranmu,

Pengelana Misterius! Namaku Harun. Jika kau benar-benar bisa membuktikan ucapan besarmu itu, aku tidak akan pelit untuk membayar jasamu dengan tumpukan koin emas!"

"Kesepakatan tercapai, Tuan Harun," jawab Askara pendek sembari menganggukkan kepalanya.

Tanpa membuang waktu lagi, Harun segera naik ke kursi kemudi kereta kuda dan menarik tali kekang, sementara Askara berjalan kaki dengan tenang di samping roda kereta, menjaga pandangannya tetap tajam ke arah depan. Mereka berdua akhirnya memulai perjalanan bersama membelah jalur sunyi yang perlahan menanjak menuju kota perbatasan, tempat bahaya dari kelompok perampok berkemampuan setara kesatria sudah menanti di balik tikungan jalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!