Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Tidak ada teknik khusus, tidak ada cinta dalam masakannya malam ini, hanya keputusasaan yang mendalam.
Setelah beberapa menit, seporsi nasi goreng pucat dengan tampilan seadanya tersaji di atas piring plastik yang retak.
Arka duduk di atas sebuah kotak minuman ringan yang kosong karena semua kursi sudah hancur tak bersisa.
Ia menyendok nasi goreng itu dan memasukkannya ke dalam mulut dengan tatapan yang masih kosong.
"Rasanya seperti sampah." Arka bergumam sambil mengunyah nasi yang terasa sangat hambar dan berminyak itu.
Namun ia tidak peduli dan terus menyuapkan nasi itu ke dalam mulutnya sambil membiarkan air matanya jatuh membasahi piring.
Setiap suapan terasa seperti menelan duri yang menyayat tenggorokannya mengingat semua kejadian tragis malam ini.
Hutang yang menumpuk, pacar yang berkhianat, dan musuh yang berkuasa membuat Arka merasa dunia ini sangat tidak adil.
"Tuhan, kalau memang jalanku harus berakhir di sini, tolong berikan aku sedikit saja keajaiban." Arka memejamkan matanya dan berdoa dengan sisa-sisa harapannya yang hampir padam.
Tiba-tiba, suara mekanis yang aneh terdengar menggema dengan jelas di dalam kepalanya.
[Ding!]
Arka membuka matanya dengan terkejut dan melihat sekelilingnya yang sepi, tidak ada siapa-siapa di sana selain dirinya.
[Memindai host...]
[Host memenuhi syarat keputusasaan dan tekad tingkat tinggi.]
"Suara apa itu, apa aku sudah mulai gila karena terlalu banyak tekanan?" Arka memukul-mukul kepalanya sendiri dengan panik.
[Mengikat Sistem Kuliner Sakti pada jiwa host... 10%... 50%... 100%...]
[Pengikatan berhasil!]
Tiba-tiba sebuah layar transparan berwarna biru muda yang bercahaya muncul mengambang tepat di depan wajah Arka.
Arka melompat mundur hingga terjatuh dari kotak minumannya karena terkejut melihat layar yang melayang itu.
"Apa-apaan benda ini, teknologi dari masa depan?" Arka mengusap matanya berkali-kali memastikan dia tidak sedang berhalusinasi.
Ia mencoba menyentuh layar biru itu tetapi tangannya menembus begitu saja seolah layar itu hanya sebuah proyeksi cahaya.
[Selamat malam, Host Arka. Saya adalah Sistem Kuliner Sakti yang akan membantu Anda menjadi Dewa Kuliner di dunia ini.]
Teks berwarna putih muncul di layar biru itu bersamaan dengan suara mekanis di kepala Arka.
"Sistem? Maksudmu seperti yang ada di dalam novel dan komik fantasi itu?" Arka bertanya dengan suara ragu.
[Tepat sekali. Sistem ini dirancang untuk mengubah pecundang menjadi penguasa melalui jalur kuliner.]
"Hei, jangan sembarangan memanggilku pecundang, aku ini cuma sedang kurang beruntung saja." Arka membalas dengan sedikit kesal meski masih merasa takjub.
[Fakta menunjukkan bahwa Anda baru saja diputuskan pacar, dianiaya preman, dan memiliki hutang lima puluh juta yang jatuh tempo besok.]
Arka terdiam dan menundukkan kepalanya dalam-dalam menyadari bahwa perkataan sistem itu seratus persen benar.
"Lalu, apa yang bisa kau lakukan untuk membantuku membayar hutang lima puluh juta dalam waktu satu hari?" Arka menatap layar biru itu dengan secercah harapan.
[Sistem ini sangat sederhana. Setiap kali Host memasak hidangan yang memuaskan pelanggan, Host akan mendapatkan poin kepuasan dan hadiah uang tunai secara langsung.]
"Uang tunai secara langsung? Berapa banyak?" Mata Arka mulai berbinar mendengar kata uang.
[Jumlah uang tergantung pada tingkat kepuasan pelanggan dan tingkat keahlian Host. Selain itu, poin kepuasan bisa ditukar dengan resep dewa dan keterampilan memasak tingkat tinggi.]
"Ini luar biasa, kalau ini bukan mimpi, aku bisa membalikkan keadaan dan membalas dendam pada Kevin." Arka mengepalkan tangannya dengan semangat baru yang berkobar.
[Karena ini adalah pengikatan pertama, Sistem memberikan Paket Pemula untuk Host.]
[Apakah Host ingin membuka Paket Pemula sekarang?]
"Tentu saja buka sekarang, aku sangat butuh bantuan!" Arka berseru dengan lantang tanpa ragu sedikit pun.
Layar biru itu memancarkan cahaya yang lebih terang sebelum menampilkan animasi sebuah kotak kado yang terbuka dengan meriah.
[Selamat! Host mendapatkan: Resep Nasi Goreng Tingkat Dewa (Tahap 1).]
[Selamat! Host mendapatkan: Keterampilan Pisau Dasar Tingkat Menengah.]
[Selamat! Host mendapatkan: Uang Modal Awal Rp. 5.000.000,-]
Begitu teks itu muncul, ponsel di saku celana Arka bergetar pelan.
Arka buru-buru mengambil ponselnya dan membuka pesan masuk dari banknya.
"Saldo bertambah lima juta rupiah, ini benar-benar nyata!" Arka berteriak kegirangan hingga suaranya bergema di jalanan yang sepi.
Uang lima juta memang belum cukup untuk membayar hutangnya yang lima puluh juta, tetapi ini adalah awal yang sangat bagus.
[Resep Nasi Goreng Tingkat Dewa sedang ditransfer ke dalam ingatan Host.]
Tiba-tiba kepala Arka terasa sedikit pening dan aliran informasi yang sangat banyak masuk ke dalam otaknya.
Ia tiba-tiba memahami takaran suhu api yang sempurna, cara mengayunkan wajan yang benar, hingga kombinasi bumbu rahasia yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.
"Pengetahuan ini luar biasa, aku merasa bisa membuat nasi goreng paling enak di dunia hanya dengan bahan seadanya." Arka menatap kedua tangannya dengan perasaan tidak percaya.
[Misi Utama Pertama Diberikan!]
[Misi: Dapatkan 50 pelanggan pertama yang memberikan penilaian 'Sangat Puas' dalam waktu 24 jam.]
[Hadiah Misi: Rp. 50.000.000,- dan Resep Rahasia Bumbu Serbaguna.]
[Hukuman Jika Gagal: Sistem akan mencabut semua kemampuan dan Host dibiarkan mati ditangan lintah darat.]
Membaca hukuman itu, bulu kuduk Arka langsung berdiri seketika.
"Sistem, kamu ini mau membantuku atau mau membunuhku perlahan-lahan?" Arka protes dengan wajah kesal.
[Sistem tidak membutuhkan Host yang lemah dan malas. Waktu Anda dimulai dari sekarang.]
Layar biru itu berkedip sesaat sebelum sebuah penghitung waktu mundur muncul di sudut kanan atas pandangan Arka.
Angka 23:59:59 terlihat jelas berdetak mengurangi waktu hidupnya.
"Sial, aku harus cepat merapikan kekacauan ini dan membeli bahan-bahan segar di pasar subuh." Arka langsung berdiri dan mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Ia mengambil sapu dan mulai membersihkan pecahan piring serta merapikan meja-meja yang masih bisa dipakai.
"Kevin, Siska, Bos Boni, tunggu saja pembalasanku." Arka bergumam sambil tersenyum penuh arti di bawah cahaya remang-remang lampu jalanan.
"Mulai besok, warung kaki lima ini akan membuat restoran bintang lima milikmu terlihat seperti tempat pembuangan sampah."
Arka menatap tajam ke arah bangunan restoran mewah milik keluarga Kevin di seberang jalan sana.
Angin malam kembali berhembus kencang seolah menyambut lahirnya sang raja dapur yang baru di kota ini.