Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kitab Maha Tahu
Setelah ia kembali dan sampai di gubuk nya Chen er memasuki kamarnya dari jendela kamarnya yang masih terbuka
Malam itu Chen er sama sekali tidak menyadari bahwa ia telah masuk ke tahap awal perjalanan menuju dunia kultivasi.
Tanpa basa basi ia segera membaringkan badannya itu ke tempat tidurnya hingga akhirnya tertidur lelap.
Di dalam lautan kesadaran yang sangat luas dan sunyi, kepulan cahaya keemasan
tampak melayang berputar-putar layaknya kabut tebal tanpa suara sedikit pun.
"Benda apa ini? Apakah aku sedang bermimpi?" tanya Luo Chen memandang
sekeliling area asing yang dipenuhi pendaran cahaya hangat, menatap sebuah kitab
emas berukuran raksasa yang melayang diam tepat di hadapannya. Ada Sebuah jejeran tulisan besar ditengah-tengah kitab tersebut
'Kitab Maha Tahu'
Satu per satu aksara emas kuno perlahan muncul di atas lembaran pertama kitab
tersebut yang terbuka dengan sendirinya, menyimpan seluruh informasi seputar
dunia kultivasi. Tanpa ada suara yang terdengar, ia membaca barisan tulisan yang
menjelaskan bahwa benda tersebut adalah "Kitab Maha Tahu" kelas Surgawi yang
menyimpan seluruh metode kultivasi kuno, seni alkimia tingkat tinggi, formasi
segel spiritual, hingga rahasia terdalam dunia praktisi.
"Serigala Taring Angin, binatang spiritual tingkat satu berelemen angin," bisik
Luo Chen membaca barisan teks yang memaparkan informasi tentang
binatang-binatang spiritual beserta kelemahan mereka pada lembaran berikutnya.
"Kelemahannya berada di bagian lambung bawah yang lunak jika dihantam kekuatan
fisik murni, serta titik meridian di leher belakang yang rapuh terhadap serangan
tajam."
Lembaran kedua terbuka lebih lebar dengan sendirinya, memaparkan barisan aksara
baru yang menjelaskan secara rinci tentang sebelas tingkatan ranah kultivasi.
"Tingkatan ranah kultivasi terdiri dari Ranah Pemurnian Tubuh sepuluh tahap,
Ranah Kondensasi Qi sepuluh tahap, Ranah Manifestasi Qi sepuluh tahap, Ranah
Fondasi Spiritual sepuluh tahap, Ranah Inti Emas sepuluh tahap, Ranah Jiwa Baru
sepuluh tahap, Ranah Penyatuan Roh sepuluh tahap, Ranah Penguasaan Ruang tahap
awal hingga akhir, Ranah Integrasi Semesta, Ranah Transendensi, dan satu ranah
misteri yang tidak tercatat asalnya," gumam Luo Chen membaca barisan tulisan itu
dengan dahi berkerut.
Dengan sentakan keras yang membuat seluruh otot tubuhnya menegang, ia mendadak
terbangun dari tidurnya, mendapati dirinya telah berdiri di tengah-tengah
kamarnya yang berantakan parah dengan kursi kayu yang terbalik, kertas-kertas
berserakan, dan selimut yang berada di atas lantai tanah.
"Apakah aku mengalami mimpi jalan semalam? Kenapa kamarku bisa hancur berantakan
seperti ini?" tanya Luo Chen pada dirinya sendiri menatap sekeliling
ruangan kecilnya dengan heran, merasa bahwa fisiknya secara tidak sadar telah
mempraktekkan beberapa gerakan aneh dari kitab emas tersebut saat ia tidur.
"Chen'er, apa yang terjadi di dalam? Suara apa itu?" tanya Mu Xue
mengetuk pintu kamar kayu dari arah luar dengan nada suara yang cemas.
"Tidak apa-apa, Ibu. Aku... kurasa aku tidak sengaja menendang meja saat tidur,"
jawab Luo Chen memegangi kepalanya yang sedikit pusing, mencoba
menyembunyikan kebingungannya dari sang ibu.
"Rapikan lah kembali kamarmu setelah ini, Chen'er. Suara bisingnya sampai
terdengar ke halaman depan," sahut Mu Xue dari balik pintu sebelum langkahnya kembali menjauh menuju ke arah luar gubuk.
"Baik ibu.." jawab Chen'er singkat
Sambil merapikan kembali kursi kayu yang terbalik, Luo Chen mengepalkan tangan
kanannya perlahan, merasakan adanya aliran energi hangat yang sangat asing mulai bereaksi dan
mengalir aktif di sepanjang jalur meridian lengannya yang semula tidak ada energi qi sama sekali.
Satu jam kemudian, ia melangkah masuk ke dalam hutan bambu di kaki Gunung Tiga
Jari untuk memulai latihan fisiknya seperti biasa. Namun, begitu ia mengambil
posisi kuda-kuda rendah di bawah pohon bambu rindang, suara langkah kaki yang
tergesa-gesa kembali terdengar mendekat dari arah belakang.
"Akhirnya kau keluar juga, anak buangan," ujar Hu San melangkah keluar
dari balik rimbunnya pohon bambu bersama dengan empat orang pemuda desa bertubuh
besar yang memegang kayu pemukul di tangan mereka. "Kemarin teman jenakamu itu
menyelamatkanmu, tetapi hari ini tidak ada Ye Feng di sini untuk membantumu
mencuci wajahmu di atas tanah."
"Aku sedang berlatih," sahut Luo Chen berbalik arah untuk menatap wajah
Hu San dengan pandangan mata yang tenang dan dingin. "Pergilah jika kalian tidak
ingin terluka."
"Jangan banyak bicara!" teriak salah satu teman Hu San melangkah maju dan
mengayunkan kayu pemukulnya ke arah bahu kanan Luo Chen dengan kasar. "Mari kita
lihat apakah mulutmu akan tetap sombong setelah kami mematahkan kedua kakimu!"
"Pukul dia sampai dia memohon ampun!" seru Hu San sembari ikut menerjang maju,
melayangkan pukulan tinju kanannya yang keras tepat ke arah pelipis kiri Luo
Chen.
Sambil menarik napas dalam-dalam, Luo Chen tidak menghindar, melainkan mengambil
posisi bertahan dengan menyilangkan kedua lengannya di depan dada secara refleks
sesuai dengan instruksi bela diri yang tiba-tiba muncul di dalam kepalanya.
Dua orang pemuda desa itu melayangkan serangan mereka secara bersamaan,
mengincar rusuk dan bahu pemuda di hadapan mereka.
"Rasakan ini!" teriak Hu San mengerahkan seluruh kekuatan otot lengannya
untuk menghantam wajah lawannya.
Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, lengan kiri Luo Chen bergerak menepis
pukulan tinju kanan Hu San. Begitu kedua kulit mereka saling bersentuhan,
sebaris pola energi Qi berwarna emas terang yang sangat rumit mendadak memancar
aktif di sepanjang jalur meridian lengannya, memperkuat seluruh kepadatan otot
tubuhnya hingga berkali-kali lapat dalam sekejap.
Suara hantaman keras yang terdengar layaknya benturan dua lempengan besi tebal
bergema di dalam hutan bambu yang sunyi.
"Aaaaakh! Tanganku! Tanganku patah!" jerit Hu San seketika melompat
mundur dengan wajah yang memucat padam, memegangi pergelangan tangan kanannya
yang kini tampak membengkok aneh akibat cedera fisik yang luar biasa parah
setelah membentur lengan Luo Chen.
Melihat pemimpin mereka menjerit kesakitan hanya dengan satu tepisan pertahanan
ringan, tiga pemuda desa lainnya menghentikan ayunan kayu pemukul mereka di
udara dengan tubuh yang mendadak gemetar ketakutan.
"Lari! Dia monster! Kulitnya sekeras besi!" teriak salah satu teman Hu San
melemparkan kayu pemukulnya ke atas tanah berlumpur dan berlari menjauh
dengan panik, diikuti oleh rekan-rekannya yang membopong tubuh Hu San yang terus
mengerang kesakitan.
Sambil menurunkan kembali kedua lengannya, Luo Chen menatap telapak tangannya
sendiri dengan pandangan heran, menyaksikan pendaran pola energi emas tipis yang
perlahan meredup dan kembali masuk menyatu ke dalam pembuluh darahnya. "Aku...Aku berhasil menerobos ke Ranah Pemurnian Tubuh tahap kedua?" bisiknya dengan suara
yang bergetar halus sambil mengepalkan kembali tangannya.
"Kitab Maha Tahu! Dan semua informasi yang ada dipikiranku semalam, Ternyata semalam itu bukan mimpi!