***
Bagi Raka, Naya adalah candunya ...
Berbeda dengan Naya yang menganggap Raka sebagai masa lalu yang menyakitkan..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Selesai memarkirkan mobilnya didepan, segera Naya memasuki panti yang sudah ada anak anak didalam.
"Bunda kok udah pulang?" tanya Rio heran karena biasanya Naya pulang pukul 6 sore.
"Iya, Bunda udah nggak ada kerjaan soalnya." balas Naya "Anak anak udah pada mandi kan?" tanya Naya.
"Udah dong Bund, udah ngaji juga tadi." balas Raffa.
"Duh pinter semua nih anak anak bunda, ya udah bunda mau mandi dulu ya."
"Iya Bunda."
Naya hendak memasuki kamarnya namun Ia mencium aroma masakan, Naya mengurungkan niatnya dan berbalik kearah dapur.
"Masak apa An? baunya enak banget?" tanya Naya membuat Anna terkejut.
"Lho, tumben udah pulang mbak?" tanya Anna.
"Iya nih, capek jadi pulang lebih awal." jelas Naya berbohong.
"Kan aku udah bilang mbak, nggak usah ke resto dulu, biar ditangani sama Tika lagi." jelas Anna.
"Udah kamu tenang aja, baunya enak banget An, jadi nggak sabar mau makan." kata Naya melihat Anna membuat opor ayam.
"Enakan juga masakan mbak Naya."
"Ck, sukanya gitu, ya udah mbak mandi dulu." kata Naya.
Naya sudah memasuki kamar, melihat ranjangnya Ia jadi teringat Raka. sudah hampir seminggu sejak kejadian dirumah sakit Raka sama sekali tak menemuinya padahal sebelum itu setiap malam Raka pasti datang untuk menemaninya tidur.
Rindu? apakah Naya rindu pada Raka? jawabanya tentu saja tidak, Naya sedikit lega karena Raka menepati janjinya untuk tidak menganggunya lagi, ya Naya cukup lega itu saja.
Tak ingin meratapi terlalu lama, Naya meletakan tasnya lalu berjalan menuju kamar mandi.
Naya sudah selesai membersihkan tubuhnya, kini waktunya Ia keluar dan berkumpul bersama anak anaknya sekaligus makan malam bersama karena hari ini Naya belum makan sama sekali karena terlalu sibuk bekerja.
"Makan dulu aja gimana An?" tanya Naya melihat Anna sudah menyiapkan makan malam dimeja makan.
"Yakin mbak? baru jam 6 loh ini." balas Anna merasa heran karena biasanya mereka makan malam pukul 7.
"Hmm, udah laper banget An, gara gara sehari-" Naya tak melanjutkan ucapannya.
"Seharian kenapa mbak?" tanya Anna penasaran karena Naya tak melanjutkan ucapannya.
"Seharian ngurusin ini itu sampai lupa nggak makan." balas Naya sedikit gugup.
"Ya ampun mbak, jangan di biasain kayak gitu! mbak Naya habis sakit juga masa makan sampai lupa." protes Anna..
"Biasa An, kalau udah sama kerjaan suka lupa makan." jelas Naya membuat Anna hanya geleng geleng kepala.
"Anak anak ayo kita makan." teriak Naya.
"Lho kok tumben bund, masih jam segini udah makan malam?" tanya Rio yang menghampiri meja makan diikuti oleh adik adiknya.
"Biar kalian bisa belajar lebih awal trus bisa istirahat lebih awal juga." jelas Naya mulai mengisi piring anak anak dengan nasi lengkap dengan sayur opornya.
"Iya deh bund, tapi pr kita banyak banget." keluh Tama.
"Iya nanti bunda bantuin deh, kalian habisin makan nya dulu." kata Naya.
"Yes, nanti aku duluan ya bund." timpal Faisal.
"Nggak bisa dong, aku dulu lah." Protes Nina.
"Udah, udah sekarang makan malam dulu nggak usah pada berantem." kata Naya.
"Coba aja ada Om Raka pasti kita nggak bakal rebutan bunda deh." celetuk Tama membuat Naya menghentikan aktifitas makannya.
"Eh ngapain sih malah pada ngomongin Om Raka! mulai sekarang kalian nggak boleh ngomongin om Raka, paham!" ketus Anna yang melihat perubahan raut wajah Naya.
"Kenapa memangnya mbak? om Raka sama Bunda udah putus ya?" tanya Ani polos.
"Astaga, kalian masih kecil jadi jangan bahas masalah dewasa kayak gini!" kesal Anna lagi, tak menyangka Anak anak yang masih sd sudah mengerti hal hal seperti ini.
"Kita kan cuma Nanya mbak." sangkal Rama.
"Mbak Anna bener, kalian masih kecil jadi jangan bahas masalah orang dewasa kayak gini ya." kata Naya lembut.
"Iya Bunda."
"Udah sekarang habisin makanannya, yang habis pertama kali berarti nanti bunda yang bakal bantuin ngerjain pr yang pertama, begitu selanjutnya." jelas Naya.
"Siap Bunda." Anak anak pun mulai menghabiskan makanan mereka tanpa protes lagi.
Sementara Naya yang tadinya sangat lapar kini mendadak nafsu makannya hilang karena mendengar nama Raka.
Inilah yang Naya takutkan jika Raka mendekati anak anak, mereka akan terbiasa dengan Raka dan menanyakan seperti yang baru saja mereka lakukan.
Naya mendesah pelan lalu memaksakan untuk menghabiskan makanannya karena Ia tak ingin anak anaknya mengikuti Naya jika tidak menghabiskan makanan.
Setelah selesai makan malam dan menemani anak anak belajar, kini Anak anak sudah terlelap diranjang mereka masing masing.
Naya memandangi wajah polos anak anak angkatnya itu, hanya karena mereka Ia harus kembali semangat dan tak boleh terpuruk lagi. apalagi jika mengingat Raka yang masih saja membuat Naya sedih.
Puas memandangi wajah Anak anaknya, Naya keluar dan menutup pintu kamar pelan pelan agar Anak anaknya tak terganggu.
"Mbak Naya.." Anna yang berada didepan pintu sedikit mengejutkan Naya.
"Lho, kamu belum tidur An?" tanya Naya.
"Belum mbak, biasanya tidurnya juga tengah malem mbak." jelas Anna.
"Jangan dibiasain An, nggak baik buat kesehatan." jelas Naya berjalan menuju depan panti diikuti oleh Anna.
"Ya mau gimana lagi mbak, udah kebiasaan susah dirubah."
Kini Anna dan Naya duduk diteras depan rumah.
"Mbak masih sedih ya kalau keinget nama Mas Raka?" tanya Anna.
"Hmm, aku juga nggak tau An, rasanya sesak aja inget apa yang terjadi kemarin." jelas Naya.
"Apa mbak nggak ada niatan buat ngasih kesempatan lagi?"
"Masa iya sih An, ngasih kesempatan sama suami orang." jelas Naya sambil terkekeh geli.
"Mbak, setau aku ya mas Raka itu udah cerai lama bahkan sebelum Ia kembali lagi kesini kemarin." jelas Anna.
"Raka juga bilang gitu, tapi nyatanya Istrinya bilangnya beda." kata Naya mendesah pelan.
"Siapa tau istrinya cuma bohong mbak karena nggak terima diceraikan sama mas Raka."
"Bohong atau enggak, bukan itu yang bikin aku mundur An." kata Naya.
"Trus apa mbak?"
"Aku cuma nggak mau anak Raka kehilangan sosok Ayah karena aku," jelas Naya tersenyum miris "Karena aku juga ngerasain gimana rasanya nggak punya orang tua dan aku nggak mau putri mereka mengalami apa yang aku rasakan selama ini An."
"Jadi itu alesan mbak Naya udah nggak mau mau sama mas Raka?" tanya Anna.
"Ya, lagipula aku udah kehilangan Anak kami, lagipula aku kemarin mau dideketin karena udah terlanjur hamil An." jelas Naya lagi.
"Tapi gimana kalau ternyata putrinya mas Raka itu bukan putri kandungnya? apa mbak masih menolak buat ngasih kesempatan mas Raka padahal mbak Naya tau gimana cintanya mas Raka sama mbak Naya?" tanya Anna membuat Naya termenung.