Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.
Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.
Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.
Mampukah mantan ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Pengusiran
Pagi hari di Desa Sukamaju tidak lagi terasa hangat bagi Bumi. Ruang tahanan kecil di belakang balai desa yang dingin dan lembap menjadi saksi bisu bagaimana pemuda itu melewatkan malam dengan tubuh penuh memar. Ketika pintu sel besi diketuk dengan kasar, Bumi membuka matanya yang bengkak. Di depan sel, sudah berdiri Kepala Desa bersama Doni, Pak Haji Somad, dan beberapa perangkat desa lainnya.
"Buka pintunya, Jon. Suruh si maling ini keluar," perintah Kepala Desa dengan nada suara yang berat dan penuh tekanan.
Joni dengan sigap memutar kunci dan membuka pintu sel. "Ayo keluar lu, Bum! Gak usah manja, buruan berdiri!"
Bumi berusaha bangkit, meskipun setiap sendi di tubuhnya terasa seperti remuk akibat pukulan warga semalam. Ia berjalan tertatih keluar dari sel, melangkah menuju ruang utama balai desa tempat sebuah keputusan besar sudah menantinya.
"Duduk kamu, Bumi," kata Kepala Desa ketus sambil menunjuk sebuah kursi kayu di tengah ruangan.
Bumi duduk perlahan, menahan ringisan ketakutan. "Selamat pagi, Pak Kades, Pak Haji. Ada apa ya, Pak?"
"Kamu masih tanya ada apa?" Doni menyahut dari samping ayahnya dengan senyum sinis yang menghiasai wajahnya. "Bapak gua mau mutusin hukuman buat lu!"
Kepala Desa berdeham, memperbaiki posisi duduknya yang angkuh. "Begini, Bumi. Kejadian semalam sudah membuat gempar seluruh warga Desa Sukamaju. Keberadaan barang bukti di gubukmu yang terbakar itu sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. Kamu telah mencuri uang kas desa dan perhiasan keluarga saya."
"Pak Kades, demi Allah, saya ulangi lagi kalau saya tidak pernah melakukan itu. Saya difitnah, Pak," potong Bumi, suaranya parau namun matanya tetap menatap lurus penuh kejujuran.
"Halah, potong aja terus lidah lu! Maling mana ada yang mau ngaku, Bum!" bentak Joni yang berdiri di dekat pintu.
Kepala Desa mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Joni diam. Ia kemudian menatap Bumi dengan pandangan dingin.
"Saya tidak mau tahu kamu mengaku atau tidak, Bumi. Tapi sebagai Kepala Desa, saya punya tanggung jawab besar untuk menjaga ketenteraman dan nama baik Desa Sukamaju. Saya tidak mau desa kita ini tercemar karena punya warga seorang pencuri. Oleh karena itu, keputusan saya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat."
Bumi menahan napas sejenak. "Keputusan apa, Pak?"
"Kamu harus angkat kaki dari Desa Sukamaju hari ini juga. Kamu saya usir secara resmi dari desa ini!" tegas Kepala Desa, suaranya menggema di dalam ruangan balai desa.
Mendengar keputusan sepihak itu, Pak Haji Somad yang sejak tadi diam langsung berdiri dari kursinya. Wajah orang tua itu tampak tidak setuju.
"Tunggu dulu, Pak Kades. Bukankah ini terlalu terburu-buru dan sepihak? Kita belum menyerahkan masalah ini ke pihak kepolisian untuk diselidiki secara benar. Kenapa langsung main usir begini? Kasihan Bumi, dia sebatang kara dan gubuknya juga sudah dibakar semalam," protes Pak Haji Somad, mencoba membela dengan sisa pengaruhnya.
"Betul, Pak Kades. Tolong dipikirkan lagi. Bumi ini anak baik, kita semua tahu bagaimana ketekunannya selama ini," timpal Pak Jaya yang ternyata ikut mengintip dari balik pintu ruangan bersama Kang Maman.
Doni langsung memotong dengan nada tinggi. "Pak Haji, Pak Jaya, jangan ikut campur deh! Ini keputusan bokap gua selaku Kepala Desa demi kebaikan bersama! Kalau dia tetap di sini, warga yang emosi bisa-bisa ngebunuh dia suatu hari nanti. Apa Pak Haji mau tanggung jawab?"
"Tapi hukum harus tetap ditegakkan secara adil, Doni! Bukan dengan cara mengusir orang tanpa penyelidikan resmi!" sahut Pak Haji Somad, suaranya bergetar menahan amarah.
Kepala Desa memukul meja dengan keras. Brak!
"Cukup! Pak Haji, saya menghormati Anda sebagai tokoh agama di desa ini, tapi dalam hal pemerintahan desa, kata-kata saya adalah mutlak! Pengaruh saya di sini kuat, dan sebagian besar warga menuntut agar Bumi dikeluarkan dari desa ini agar nama desa kita tidak rusak. Keputusan tidak bisa diganggu gugat lagi. Bumi harus pergi hari ini!" putus Kepala Desa dengan sombong.
Pak Haji Somad terduduk kembali dengan helaan napas berat. Beliau menatap Bumi dengan pandangan penuh rasa bersalah dan iba. Pengaruh politik Kepala Desa di Sukamaju memang terlalu kuat, mengakar di antara warga yang pro-pemerintah desa, membuat kebenaran seperti tertutup rapat.
Bumi memejamkan matanya sejenak. Air matanya menetes, namun ia segera menyekanya dengan kaosnya yang compang-camping. Ia tahu, melawan pun tidak akan ada gunanya. Rumahnya sudah hangus, pekerjaannya sudah tidak ada, dan fitnah ini terlalu besar untuk ia bersihkan sendirian di desa ini.
"Baik, Pak Kades... kalau memang itu keputusan Bapak, saya akan pergi," ucap Bumi lirih namun terdengar tegar.
"Bagus! Sadar diri juga akhirnya lu!" cibir Doni sambil bersedekap dada.
"Tapi... sebelum saya pergi meninggalkan desa ini untuk selamanya, saya punya satu permintaan terakhir, Pak Kades. Tolong izinkan saya," kata Bumi dengan nada memohon yang amat sangat.
"Permintaan apa lagi? Jangan macem-macem lu ya!" bentak Joni curiga.
"Saya cuma minta izin... buat menengok makam kedua orang tua saya di pemakaman desa. Saya mau pamit sama mereka. Setelah itu, saya berjanji akan langsung pergi dari Desa Sukamaju tanpa membawa apa-apa," tutur Bumi dengan suara yang bergetar.
Kepala Desa diam sejenak, lalu mengangguk ketus. "Ya sudah, saya izinkan. Tapi ingat, Joni dan anak-anak muda desa akan mengawasimu dari jauh. Jangan coba-coba kabur atau mampir ke tempat lain. Jam dua siang nanti, kamu harus sudah berada di luar batas gerbang Desa Sukamaju."
"Terima kasih, Pak Kades," jawab Bumi. Ia kemudian berdiri dengan susah payah, membungkuk memberi hormat kepada Pak Haji Somad yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Pak Haji, Pak Jaya, Kang Maman... terima kasih atas kebaikan kalian selama ini kepada saya. Maaf kalau saya belum bisa membalasnya."
"Bumi... hati-hati di jalan, Le. Gusti Allah mboten sare, kebenaran pasti akan terungkap suatu hari nanti," bisik Pak Haji Somad dengan suara parau.
Dengan langkah kaki yang terseok-seok menahan rasa sakit yang luar biasa di paha dan punggungnya, Bumi berjalan menuju pemakaman umum Desa Sukamaju yang terletak di bawah rindangnya pohon-pohon kamboja tua. Di belakangnya, dalam jarak sekitar sepuluh meter, Joni dan dua temannya terus berjalan mengawasi seolah-olah Bumi adalah buronan kakap yang hendak melarikan diri.
Sesampainya di kompleks pemakaman, Bumi berjalan lurus ke arah pojok belakang, tempat dua gundukan tanah yang sudah mulai ditumbuhi rumput liar berada. Itu adalah makam bapak dan ibunya yang meninggal beberapa tahun lalu karena sakit.
Bumi langsung terduduk lemas di antara kedua makam tersebut. Ia mengusap batu nisan kayu bapaknya yang sudah mulai lapuk dimakan usia, lalu beralih mengusap batu nisan ibunya. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini tumpah tak terbendung lagi. Isak tangisnya terdengar begitu memilukan di tengah keheningan area pemakaman.
"Bapak... Ibu... Bumi datang," bisik Bumi dengan suara tercekat, air matanya membasahi tanah kuburan yang kering.
Bumi menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasakan sakit fisik yang menjalar di sekujur tubuhnya, berpadu dengan rasa perih yang teramat sangat di dalam hatinya.
"Kenapa dunia ini sangat tidak adil sama Bumi, Pak? Bu?" ratap Bumi dalam hati, merenungi nasib malangnya. "Bumi selalu ingat pesan Bapak sama Ibu untuk selalu sabar, tekun, dan jujur dalam hidup. Bumi gak pernah malas kerja, Bumi gak pernah ambil yang bukan hak Bumi, tapi kenapa orang-orang tega memfitnah Bumi sampai kayak gini?"
Ia menatap tubuhnya sendiri yang penuh dengan luka memar kebiruan dan pakaian yang kotor penuh noda darah kering. Gubuk peninggalan orang tuanya yang menjadi satu-satunya tempat berlindung kini tinggal abu, dan sekarang ia terusir dari tanah kelahirannya sendiri tanpa tahu harus melangkah ke mana.
"Rumah kita sudah dibakar orang, Pak. Bumi sekarang diusir dari desa kita sendiri. Bumi dicap sebagai maling oleh warga, padahal Bumi beneran gak melakukan itu," keluh Bumi, menumpahkan segala kesedihan dan rasa frustrasinya di depan makam orang tuanya. "Bumi merasa sendirian sekarang. Dunia ini kejam banget sama orang miskin kayak Bumi..."
Dari kejauhan, dekat pohon kamboja besar, Joni berteriak dengan nada tidak sabar sambil melihat jam tangan murahnya. "Woi, Bumi! Jangan lama-lama lu! Udah mau jam dua siang nih! Cepetan pamitnya, jangan pake acara drama nangis-nangis segala!"
Bumi mengabaikan teriakan Joni. Ia mengambil napas dalam-dalam, mengusap air matanya dengan kasar, berusaha mengumpulkan sisa-sisa keteguhan hati yang mulai rapuh. Ia mengusap kedua nisan itu untuk terakhir kalinya.
"Bapak, Ibu, Bumi pamit ya. Bumi harus pergi jauh dari Desa Sukamaju. Doakan Bumi dari sana agar Bumi tetap kuat, tetap sabar, dan tetap menjadi anak yang jujur seperti yang selalu Bapak dan Ibu ajarkan. Bumi janji akan bertahan hidup di mana pun Bumi berada nanti," ucap Bumi dengan nada suara yang perlahan-lahan kembali mantap.
Bumi berdiri tegak dengan sisa-sisa tenaganya, meskipun kakinya gemetar menahan perih. Ia membalikkan badannya, melangkah meninggalkan kompleks pemakaman tanpa menoleh ke belakang lagi.
Di bawah pengawasan ketat Joni dan teman-temannya, Bumi terus berjalan menyusuri jalanan utama desa menuju gerbang batas luar Desa Sukamaju. Beberapa warga yang melihatnya dari teras rumah hanya bisa menatap dengan pandangan iba tanpa berani berbuat apa-apa, sementara yang lain menatapnya dengan sisa-sisa rasa benci. Dengan langkah yang berat namun pasti, Bumi terus melangkah, meninggalkan masa lalunya di Desa Sukamaju demi menghadapi masa depan yang sama sekali belum ia ketahui di luar sana.