NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18: Hadiah Mobil Bekas dan Penolakan Viona

Keberhasilan langkah pertama Yoyo keluar rumah di Taman Distrik Utara membawa getaran kebahagiaan yang membekas lama di dalam mansion.

Seminggu setelah piknik itu, suasana rumah benar-benar berubah.

Yoyo tidak lagi takut mendekati jendela besar, bahkan sudah mulai terbiasa menemani Viona menyiram tanaman di halaman depan setiap sore.

Oliver pun tampak jauh lebih sering menghabiskan waktu di ruang keluarga lantai satu, membiarkan wibawa tirani bisnisnya meleleh setiap kali melihat tawa putri kecilnya.

Namun, ketenangan itu terusik oleh sebuah kedatangan tak terduga pada suatu Rabu sore.

Pukul empat sore, suara klakson mobil yang asing terdengar dari arah luar gerbang utama.

Penjaga gerbang depan berkoordinasi dengan Pak Pelayan melalui interkom, sebelum akhirnya mengizinkan sebuah kendaraan masuk ke halaman luas mansion.

Viona yang sedang menemani Yoyo menyusun lego di ruang tengah langsung menoleh saat mendengar suara deru mesin yang agak kasar—sangat kontras dengan deru halus Rolls-Royce atau SUV mewah milik Oliver.

Dari balik kaca jendela besar, ia melihat sebuah mobil sedan perak keluaran lima tahun lalu terparkir di halaman.

Catnya masih bersih karena tampaknya baru saja dipoles, tetapi modelnya jelas merupakan mobil bekas kelas menengah yang biasa melintasi jalanan kota.

Pintu kemudi terbuka, dan seorang pria paruh baya dengan seragam montir rapi turun, disusul oleh seorang staf administrasi dari salah satu dealer mobil bekas terbesar di kota.

Di belakang mereka, sebuah mobil sedan hitam mewah milik Oliver Group juga ikut terparkir.

Dari dalam sedan hitam itu, turunlah sekretaris pribadi Oliver yang membawa sebuah map kulit.

Pak Pelayan bergegas keluar menyambut mereka, dan tak lama kemudian, ia melangkah masuk kembali ke ruang tengah menemui Viona.

"Nyonya Viona," panggil Pak Pelayan dengan nada penuh hormat.

"Sekretaris Tuan Besar baru saja tiba di luar. Beliau membawa sebuah kiriman khusus dari Tuan Besar yang ditujukan langsung untuk Anda."

Viona mengerutkan keningnya, bangkit berdiri dari karpet bulu tempatnya bermain dengan Yoyo.

"Kiriman khusus untukku? Apa itu, Pak Pelayan?"

"Sebaiknya Anda melihatnya sendiri ke halaman depan, Nyonya," jawab Pak Pelayan sambil tersenyum misterius.

Viona melangkah keluar menuju teras depan mansion, diikuti oleh Yoyo yang memegang ujung blus katun merah mudanya dan Goldie yang berjalan siaga di samping mereka.

Begitu Viona berdiri di teras, sekretaris Oliver langsung membungkuk hormat dan melangkah maju, menyerahkan sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam beserta map kulit yang dibawanya.

"Selamat sore, Nyonya Oliver," sapa sang sekretaris dengan sopan.

"Tuan Besar menginstruksikan saya untuk mengantarkan ini secara langsung kepada Anda. Ini adalah kunci dan seluruh dokumen kepemilikan atas kendaraan sedan perak di depan Anda. Semua dokumen, mulai dari balik nama hingga asuransi all-risk, sudah dialihkan sepenuhnya atas nama Nyonya Viona pribadi."

Viona terpaku di tempatnya berdiri.

Matanya beralih dari kotak beludru di tangannya menuju mobil sedan perak bekas yang terparkir di halaman.

Jantungnya berdegup kencang, bukan karena rasa senang menerima hadiah, melainkan karena sebuah kesalahpahaman yang mendadak menusuk harga dirinya.

"Mobil... mobil bekas?" bisik Viona, suaranya terdengar agak bergetar.

"Benar, Nyonya," jelas sekretaris itu dengan senyum ramah, mencoba menjelaskan latar belakang instruksi bosnya.

"Tuan Besar sendiri yang memilih dan memeriksa riwayat kendaraan ini.

Beliau tahu dari dr. Januar bahwa Anda sedang menjalani terapi kemandirian dan membutuhkan kendaraan untuk mobilitas pribadi Anda.

Tuan Besar sengaja memilih mobil bekas kelas menengah yang kondisinya sangat prima dan mesinnya aman, karena beliau berpikir jika membelikan Anda supercar baru, Anda pasti akan menolaknya karena merasa terlalu mencolok.

Beliau juga berpikir mobil ini memiliki sistem keamanan standar yang familiar untuk Anda setir sendiri."

Mendengar penjelasan tersebut, niat baik Oliver yang sangat detail sebenarnya terlihat jelas.

Pria itu tahu Viona tidak suka kemewahan yang berlebihan, jadi ia memilihkan mobil bekas yang fungsional dan aman untuk membantu terapi mandirinya.

Namun, bagi Viona yang memiliki trauma mendalam atas masa lalunya, hadiah "mobil bekas" ini memicu interpretasi yang sama sekali berbeda di dalam kepalanya.

Selama tiga tahun pernikahannya yang hancur dengan Lin, Viona selalu diberikan barang-barang bekas atau sisa oleh keluarga Lin.

Mereka menganggap Viona tidak pantas menerima barang baru yang mewah, selalu menilainya sebagai beban yang hanya layak mendapatkan barang-barang kelas dua.

Hadiah mobil bekas dari Oliver—meskipun niat pria itu murni untuk kenyamanan dan keamanannya—seketika mengaktifkan rasa tidak aman (insecurity) terbesar di dalam jiwa Viona. Ia merasa status kontraknya di rumah ini kembali ditegaskan sebagai seseorang yang berada di kasta bawah, yang hanya pantas diberikan barang bekas.

Rasa tersinggung dan luka batin yang mendalam membuat wajah Viona mengeras. Ia melangkah maju, meletakkan kembali kotak beludru hitam dan map kulit itu ke atas nampan yang dibawa oleh sekretaris Oliver.

"Bawa mobil ini kembali, dan serahkan dokumen ini kembali kepada Oliver,"

ucap Viona, suaranya terdengar sangat dingin, tegas, dan bergetar karena emosi yang ia tahan sekuat tenaga.

Sekretaris Oliver terkejut, matanya melebar. "Maaf, Nyonya? Tapi ini adalah instruksi langsung dari Tuan Besar—"

"Katakan pada Tuan Besar Anda,"

potong Viona, menatap lurus ke dalam mata sang sekretaris dengan pandangan jernih yang kini berkilat oleh harga diri yang terluka.

"Saya berada di rumah ini di bawah kertas kontrak untuk merawat Yoyo.

Saya menerima addendum kenaikan gaji kemarin karena itu dinilai berdasarkan kinerja.

Tetapi saya tidak akan menerima belas kasihan berupa barang bekas yang sengaja dibeli untuk menegaskan posisi saya di sini.

Saya bisa pergi ke rumah sakit menggunakan taksi, dan saya tidak membutuhkan mobil ini. Tolong bawa pergi sekarang juga."

Yoyo yang merasakan perubahan atmosfer mendadak yang menegangkan langsung memeluk kaki Viona erat-erat.

Goldie mengeluarkan geraman rendah ke arah mobil perak itu, seolah ikut merasakan penolakan dari sang ratu mansion.

Melihat keteguhan yang mutlak di wajah Viona, sekretaris Oliver tidak berani membantah lebih jauh.

Dengan wajah pucat karena takut menghadapi kemarahan bosnya nanti, ia membungkuk hormat, memberi isyarat kepada montir dan staf dealer untuk membawa mobil sedan perak itu keluar dari halaman mansion.

Beberapa menit kemudian, halaman depan kembali sunyi, meninggalkan Viona yang berdiri tegak dengan napas yang memburu dan tangan yang mengepal erat di sisi tubuhnya.

Pukul setengah tujuh malam, suara deru Rolls-Royce milik Oliver terdengar memasuki halaman.

Pria itu melangkah masuk ke dalam lobi utama dengan kemeja hitam kerjanya yang masih rapi.

Namun, suasana di dalam rumah terasa sangat tegang.

Sekretaris pribadinya sudah melaporkan penolakan mutlak dari Viona sore tadi melalui telepon, dan hal itu sukses membuat sang CEO muda pulang dengan rahang yang mengeras sempurna.

Oliver tidak langsung menuju lantai tiga. Langkah kakinya yang berat dan penuh wibawa membawanya langsung menuju ruang makan utama.

Di sana, Viona sedang menata piring makanan untuk Yoyo.

Suasana di antara mereka berdua seketika menjadi dingin, menyerupai es yang dulu pernah menyelimuti rumah ini.

"Pak Pelayan, bawa Yoyo makan di ruang tengah malam ini," perintah Oliver datar begitu ia melangkah masuk ke ruang makan.

"Baik, Tuan Besar,"

Pak Pelayan segera menuntun Yoyo yang sempat menatap cemas ke arah kedua orang dewasa itu sebelum keluar dari ruangan bersama Goldie.

Pintu ruang makan ditutup rapat, menyisakan Oliver dan Viona yang kini berdiri berhadapan di kedua ujung meja makan panjang.

"Apa artinya penolakan sore tadi, Viona?"

tanya Oliver, suaranya rendah, berat, dan membawa getaran kemarahan yang tertahan.

Pria yang terbiasa perintahnya dipatuhi oleh ribuan karyawan ini merasa niat baik dan perhatian detailnya telah diinjak-injak.

"Aku menghabiskan waktu di tengah rapat untuk memeriksa riwayat mobil itu secara pribadi.

Aku memilih mobil bekas karena aku tahu kau tidak akan nyaman menyetir mobil sport baru yang mencolok di jalanan.

Aku memikirkan keamanan dan kenyamanan terapimu, dan kau membuangnya kembali ke hadapan sekretarisku?"

Viona menatap Oliver dengan berani, meskipun jantungnya berdegup kencang.

Air mata kemarahan dan luka batin yang sejak sore ia tahan akhirnya mulai menggenang di sudut matanya yang jernih.

"Kau memikirkan keamananku, Oliver? Atau kau hanya sedang menegaskan kembali posisi kontrakku di rumah ini?!"

sahut Viona, suaranya meninggi karena luapan emosi yang pecah.

"Selama tiga tahun di keluarga Lin, aku selalu diberikan barang bekas! Baju bekas, kamar sisa, makanan sisa, karena bagi mereka aku adalah wanita kasta bawah yang tidak pantas mendapatkan barang baru! Dan hari ini, kau—pria yang ku kira berbeda, pria yang ku kira memahami lukaku—justru mengirimkan sebuah mobil bekas ke halaman rumahmu sendiri untukku!"

Viona melangkah beberapa langkah mendekati Oliver, air matanya luruh membasahi pipinya yang pucat.

"Apakah karena ini pernikahan kontrak, maka aku hanya layak mendapatkan barang bekas dari seorang Oliver? Jika kau ingin membelikan kendaraan untuk mobilitas terapiku sebagai bentuk fasilitas kerja, belikan aku mobil baru yang standar! Jangan belikan aku mobil bekas yang membuatku merasa kembali menjadi sampah yang sedang diberi belas kasihan oleh tuannya!"

Mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulut Viona, kemarahan di wajah Oliver runtuh seketika, digantikan oleh rasa tertegun yang mendalam.

Rahangnya yang semula mengeras perlahan mengendur.

Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah air mata Viona yang mengalir deras, dan untuk pertama kalinya, Oliver menyadari betapa fatalnya kesalahan interpretasi yang telah ia lakukan.

Niatnya yang murni untuk memberikan mobil yang tidak mencolok demi kenyamanan psikologis Viona, justru tanpa sengaja telah menyentuh dan mengoyak kembali luka trauma terdalam wanita itu tentang barang bekas dari masa lalu keluarganya dengan Lin.

Pria tirani yang cerdas dalam bisnis ini tersadar bahwa dalam urusan hati seorang wanita yang terluka, logika praktisnya bisa menjadi senjata yang sangat menyakitkan.

Kebekuan di antara mereka mencair sepenuhnya, berganti dengan rasa bersalah yang teramat besar di lubuk hati Oliver.

Tanpa memedulikan jarak atau harga dirinya yang tinggi, Oliver melangkah lebar memutari meja makan.

Sebelum Viona sempat mundur atau menyeka air matanya, Oliver sudah menjangkau tubuh rapuh wanita itu.

Dengan satu gerakan yang sangat lembut namun penuh kekuatan yang protektif, ia menarik Viona ke dalam pelukan eratnya.

"Deg."

Viona tersentak, tangannya sempat mendorong dada bidang Oliver untuk memberontak, namun kekuatan pria itu terlalu mutlak.

Oliver mendekapnya erat-erat, membenamkan wajah Viona di ceruk lehernya yang hangat, menyelimuti indra penciuman wanita itu dengan aroma maskulin kayu cendana yang menenangkan.

"Lepaskan aku, Oliver... lepaskan—" bisik Viona di sela-isakannya.

"Maafkan aku, Viona,"

bisik Oliver tepat di pucuk kepala wanita itu, suaranya rendah, berat, dan dipenuhi oleh ketulusan yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun sebelumnya.

"Demi Tuhan, maafkan aku. Aku bersumpah tidak pernah sekalipun menganggapmu sebagai kasta bawah atau berniat memberikan belas kasihan yang menghinamu."

Tangan besar Oliver bergerak naik turun di punggung Viona, memberikan usapan-usapan lambat yang menenangkan getaran di tubuh wanita itu.

"Aku memilih mobil itu murni karena aku bodoh dalam memahami trauma wanitaku. Aku hanya berpikir tentang kepraktisan; aku takut jika kubelikan mobil mewah yang baru, kau akan merasa terbebani untuk memakainya di jalanan. Aku tidak pernah tahu bahwa kata 'bekas' memiliki memori yang begitu menyakitkan untukmu dari masa lalu bajingan itu."

Mendengar bisikan Oliver yang penuh dengan penyesalan mendalam dan sebutan "wanitaku" yang kembali diucapkan dengan begitu protektif, benteng kemarahan di hati Viona runtuh sepenuhnya.

Isakannya perlahan mereda, dan tangannya yang semula mendorong dada Oliver kini perlahan beralih meremas ujung kemeja hitam pria itu, mencari pegangan di tengah badai emosinya.

Oliver melonggarkan pelukannya sedikit setelah merasakan Viona mulai tenang.

Ia memegang kedua bahu Viona, menundukkan kepalanya hingga sepasang mata elangnya mengunci manik mata jernih Viona yang masih basah oleh sisa air mata.

Ibu jari Oliver bergerak lembut, menghapus jejak air mata di pipi Viona dengan kelembutan yang luar biasa.

"Dengarkan aku, Nyonya Oliver,"

ucap Oliver dengan nada rendah yang mutlak dan penuh penekanan.

"Di rumah ini, di hidupku, dan di hidup Yoyo... kau adalah sosok yang paling berharga. Kau tidak akan pernah, dan tidak boleh pernah, menerima barang sisa atau belas kasihan dari siapa pun lagi.

Besok pagi, aku sendiri yang akan membawamu ke dealer mobil terbesar di pusat kota.

Kau akan memilih mobil baru apa pun yang kau inginkan—yang paling standar atau yang paling mewah sekalipun—langsung dari pabriknya atas namamu sendiri."

Viona menatap Oliver dengan tatapan yang sarat akan rasa haru.

Rasa tidak aman yang sempat membakar jiwanya sore tadi kini telah padam sepenuhnya oleh siraman ketulusan dan pelukan hangat sang tirani dingin.

Sebuah senyuman manis dan tipis akhirnya kembali terukir di bibirnya yang pucat.

"Aku tidak butuh mobil mewah, Oliver..."

bisik Viona pelan, wajahnya merona hangat karena posisi mereka yang masih begitu intim.

"Aku hanya butuh... kepastian bahwa aku dihargai di sini bukan karena selembar kertas kontrak."

Oliver tersenyum tipis—sebuah senyuman menawan yang memancarkan rasa kepemilikan yang mutlak.

Ia menunduk sedikit, berbisik tepat di dekat telinga Viona sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dengan perlahan.

"Kau sudah melampaui kertas kontrak itu sejak lama, Viona. Sekarang, mari kita panggil Yoyo kembali dan menyelesaikan makan malam kita.

Dan bersiaplah besok subuh, karena ksatria pelindungmu ini tidak akan menerima penolakan lagi untuk hadiah mobil barumu."

Di bawah kehangatan ruang makan yang kembali dipenuhi oleh tawa kecil Yoyo yang masuk bersama Goldie beberapa saat kemudian, konflik tentang mobil bekas sore itu tidak berakhir sebagai keretakan, melainkan sebagai jembatan emosional baru yang membongkar trauma masa lalu Viona dan menggantinya dengan pondasi rasa aman yang semakin kokoh di dalam dekapan perlindungan sang tirani dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!