"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Dara menghembuskan napas berat, dia sudah memaksa suaminya itu untuk tidur di kamarnya sendiri, tapi Rafa tetap tidak bergerak sedikit pun dari ranjang yang dipasang sprei gambar panda itu. Di sana juga ada boneka panda berukuran agak besar.
"Sudah, mau kamu usaha kayak apapun juga aku gak bakal pergi," ucap Rafa cuek.
"Ayo tidur." Entah sudah ke berapa kalinya Rafa mengajak istrinya itu untuk tidur tapi Dara tetap berdiri di tempatnya.
Rafa mengambil boneka panda milik Dara dan melihatnya dengan seksama. Dara tidur dengan boneka bermata hitam itu, apa tidak takut melihatnya saat lampu utama dimatikan? Pikirnya
"Kirain kamu suka sama segala sesuatu yang berbau piggy seperti permen kapas waktu itu," ucap Rafa.
"Enggak. Aku cuman suka permen kapas bentuk itu kalau pas lagi sedih sama kesel aja," sahut Dara.
Rafa mengangguk. Dia melempar boneka panda itu ke arah sofa kecil tidak jauh dari ranjang. Dara melotot, boneka kesayangannya dilempar begitu
saja.
"Ihh, kok dilempar?" Dara berlari ke arah boneka kesayangannya dan memeluknya.
"Sempit kalau ada itu. Kamu mau sampai kapan berdiri kayak gitu? Udah makin malem, harus tidur. Besok sekolah."
"Mas Rafa beneran mau tidur di sini?" tanya Dara.
Rafa mengangguk. "Iya. Makanya cepet sini. Waktu itu juga kamu tidur di kamarku."
"Y-ya ... tapi kan, waktu itu ada hal mendesak."
"Ya sama. Sekarang juga ada hal mendesak."
"Apaan?" tanya Dara.
"Pengin tidur bareng kamu," jawab Rafa yang langsung membuat Dara tersipu.
"Ayo. Dosa lho nolak ajakan suami."
"Tapi Mas Rafa gak bakal macem-macem, 'kan?" tanya Dara.
Rafa tertawa pelan. "Mau aku macem-macem pun udah halal lho."
Dara cemberut dan itu membuat Rafa tambah gemas saja. Dia bangun dan menarik tangan Dara dan tidak lupa menyimpan kembali boneka panda itu ke sofa.
Dara menurut, meski jujur saja dia merasa was-was sampai akhirnya dia naik dan rebahan di
ranjangnya.
Dara memasang guling sebagai pembatas dan Rafa langsung melemparnya begitu saja hingga guling itu terlihat mengenaskan di atas lantai.
"Gak usah meluk guling. Ada aku, anggap aja aku guling idup," ucap Rafa.
"Ya ampun, Mas Rafa ini kenapa? Kok jadi aneh begini." Dara membatin cemas. Menurutnya, Rafa jadi aneh dan menakutkan.
"Hanya peluk seperti malam itu." Rafa seakan sudah melupakan harga dirinya. Sejak tadi dia seperti memohon hanya untuk bisa tidur dengan istrinya saja.
Tapi melihat Dara yang seperti itu, setidaknya dia lega dan yakin, kalau Dara belum pernah tersentuh oleh pria lain. Dia akan jadi yang pertama dan hanya butuh bersabar saja.
Rafa menelisik wajah Dara yang nampak grogi dan kelihatan sekali kalau istrinya itu sedang takut. Padahal, malam itu bahkan Dara yang mulai memeluknya.
"Apa kamu takut?" tanya Rafa, dia berbaring menyamping melihat ke arah Dara yang terlentang menatap langit-langit kamar.
"Enggak. Takut apa?" kilah Dara.
"Apa kamu takut aku akan
meminta hak ku sebagai seorang suami?" tanya Rafa lagi.
Dara meneguk ludahnya susah payah. Dia kembali menjawab kalau dia tidak takut sama sekali. Rafa pun mengingatkannya pada malam itu yang Dara memeluknya lebih dulu.
Dara jadi tersipu, malam itu kan dia memeluk Rafa karena melihat suaminya seperti gelisah dan dia takut kalau trauma Rafa datang lagi.
Rafa tersenyum miring, dia menggeser tubuhnya jadi lebih dekat dan Dara pun ikut menggeser tubuhnya agar agak jauh dari sang suami.
Rafa mendekat, Dara menjauh. Terus saja seperti itu sampai akhirnya Rafa menahan punggung Dara karena istrinya itu hampir jatuh dari ranjang.
Jantung keduanya berpacu dengan cepat karena kini posisi mereka menjadi sangat dekat.
Tatapan mereka saling beradu dan mereka masih terdiam selama beberapa detik. Rafa menatap wajah cantik Dara, begitu juga dengan Dara yang seakan sedang terpukau oleh ketampanan suaminya itu.
Tiba-tiba, Rafa mendekatkan wajahnya. Kedua mata Dara yang awalnya melotot itu malah terpejam dan Rafa merasa kalau
Dara memberinya izin.
Hembusan napas Rafa terasa hangat menerpa wajahnya. Dan itu membuat denyut jantung Dara semakin tidak terkendali saja.
Cup!
Bibir Rafa mendarat sekejap di atas bibir Dara. Pria tampan itu langsung menarik tubuh Dara agar lebih ke tengah.
Dara terkesiap dan spontan menutup wajahnya dengan kedua tangan, malu-malu. Rafa tersenyum kecil melihat reaksi istrinya.
Rafa memeluk Dara dan menghembuskan napas pelan. "Tidurlah," ucapnya. Dia harus bisa
menahan diri, meskipun dia memiliki hak untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar kecupan seperti barusan.
Selang beberapa menit, Rafa yang selama beberapa tahun ini harus mengkonsumsi obat tidur supaya bisa terlelap pun tau-tau sudah nyenyak saja. Sepertinya mulai sekarang memang hanya Dara yang bisa menjadi obatnya.
Dara sendiri masih melek, dia diam mendengarkan detak jantung suaminya yang mulai terdengar teratur. Dara diam-diam tersenyum. Masih belum menyangka di usianya yang masih 17 tahun, dia sudah menikah dan sekarang tidur sambil dipeluk oleh suaminya itu.
Paginya, Rafa bangun lebih dulu dan tersenyum saat melihat Dara yang masih nyenyak di pelukannya. Sejak kejadian lima tahun lalu, untuk kedua kalinya dia merasa bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak.
Dengan gerakan pelan, Rafa merebahkan kepala Dara di bantal. Dia mengibaskan tangan kanannya yang lumayan terasa kebas dan pegal.
Cup!
Rafa mengecup kening Dara lalu turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar itu menuju kamarnya sendiri.
Klek!
Tepat saat pintu kamar tertutup, Dara yang sebenarnya sudah bangun saat Rafa memindahkan kepalanya ke bantal pun sontak memegang dadanya yang kembali berdebar kencang.
Dara menyembunyikan wajahnya di bantal yang semalam Rafa gunakan. Wangi, dan dia sangat menyukai wangi itu.
Dara menjerit tertahan. Sepertinya dia sudah benar-benar jatuh ke dalam pesona suaminya sendiri.
Sudah rapi, sudah siap untuk pergi. Saat mengambil tas kerjanya, Rafa teringat pada ponselnya yang sejak semalam belum dia sentuh.
Dicari di atas meja, dalam laci, di bawah bantal pun tidak ada. Rafa menghembuskan napas berat, semalam dia membawa ponsel itu ke kamar Dara dan menyimpannya di atas meja samping ranjang.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Rafa langsung saja membuka pintu kamar Dara dan kedua matanya melotot saat melihat Dara yang sedang memakai tangtop.
"Aaaaa!" jerit Dara karena kaget.
Rafa langsung menutup kembali pintunya, dan termenung. "M-maaf. Gak sengaja!" serunya.
Di kamarnya, Dara memeluk tubuhnya sendiri. Dia akan memakai tangtop lalu seragam putihnya.
Selama ini dia tidak pernah berganti pakaian di kamar mandi karena menurutnya tidak nyaman juga tidak leluasa, dan kedatangan Rafa yang tiba-tiba seperti barusan tentu membuatnya kaget campur malu.
"Iihhh. Kenapa juga dia gak ketuk pintunya dulu sih?" ucapnya malu.
Setelah beberapa saat, Dara akhirnya berhasil menenangkan dirinya. Dia mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengusir rasa malu yang masih menyelimuti dirinya.
"Gak apa-apa," gumamnya pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Dia cepat-cepat menyelesaikan ganti pakaian dan merapikan rambutnya sebelum keluar dari kamar.
"Mas Rafa cari apa?" tanya Dara saat melihat suaminya masih berdiri di depan pintu.
"Emm... ponselku ketinggalan di meja samping ranjang," jawab Rafa.
Dara mengangguk dan masuk lagi untuk mengambil ponsel yang dimaksud oleh Rafa dan memberikannya.
"Terima kasih dan... maaf. Tadi bener-bener gak sengaja," ucap Rafa.
Dara tersenyum kikuk dan mengangguk. Ya mau bagaimana lagi? Kan udah kejadian juga.
Di rumahnya, Bebi yang sedang memasukkan buku pelajaran ke dalam tas pun buru-buru membuka aplikasi perekam yang kemarin diunduh oleh Dara saat mendengar suara Renita dan ibunya. Dia yakin kalau mereka akan masuk ke kamarnya.
Benar saja, tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, dua manusia tidak tahu malu itu main nyelonong masuk ke kamarnya.
"Ada apa?" tanya Bebi.
Renita menengadahkan tangan kanannya. "Siniin duit jajan lo!" ucapnya.
Kening Bebi mengkerut, dia membetulkan posisi kacamata yang dipakainya. "Buat apa?"
"Gak usah banyak tanya deh! Siniin cepet!" bentak Renita.
"Gak mau! Ini uang jajan aku!" tolak Bebi dengan berani.
Renita melipat kedua tangan di dada. "Oooh. Mulai berani lo ya sama gue? Hah?!"
"Cepeť kasihin uangnya. Kalau kamu nolak, siap-siap aja saya bakal bikin papa kamu menderita!" Rere, ibu kandung Renita mengeluarkan botol kaca kecil berisi kapsul yang Bebi pun tidak tahu itu untuk apa.
"Kamu tau ini apa? Ini adalah obat yang bisa bikin papa kamu tiba-tiba gak bisa gerak, bibirnya menyon dan berakhir gak bisa ngapa-ngapain." Rere tertawa jahat setelahnya.
Bebi menggelengkan kepalanya cepat. Air mata pun sudah mengalir di kedua pipinya.
"Jangan! Jangan lakuin itu!" serunya. Dia mengambil uang jajan yang ada di saku seragamnya lalu memberikannya pada Renita.
"Gitu dong, nurut! Dasar cupu!" Renita tersenyum senang saat sudah mendapatkan uang jajan milik Bebi.
"Yuk, Ma. Kita sarapan," ajak Renita setelahnya.
"Oh, iya. Awas aja kalo lo berani ngadu sama Papa!" ancam Renita.
"Sudahlah, Sayang. Dia mau ngadu juga percuma. Papa nya yang bo-doh dan gendut itu udah cinta mati sama Mama. Gak bakal percaya dia sama putrinya sendiri," sahut Rere penuh percaya diri.
"Lagian... sebentar lagi kita bakal leluasa kok di rumah ini," sambungnya.
Keduanya kemudian pergi meninggalkan Bebi yang diam-diam mengepalkan tangannya. Sudah selalu menghina dirinya, mereka juga menghina papa nya. "Awas aja kalian!"
Bebi menekan tombol stop pada aplikasi perekam tersebut dan mendengar hasilnya. Bebi menghembuskan napas lega. Dia sudah punya satu bukti untuk dia berikan kepada papa nya.
"Mudah-mudahan Papa percaya," gumamnya penuh harap.
Di meja makan, Rizal, papa nya Bebi mengatakan kalau dia akan ada perjalanan bisnis ke luar kota selama beberapa hari. Rizal menitipkan Bebi kepada Rere dan Renita.
"Kamu tenang saja, Mas. Bebi pasti akan aku jaga dan rawat dengan baik. Bebi kan udah aku anggap sebagai anakku sendiri," ucap Rere tersenyum dan mengusap lengan Rizal.
"Papa harus pergi?" tanya Bebi sedih.
Rere dan Renita memutar bola matanya malas. Bebi seakan cari perhatian agar papa nya tidak pergi.
"Maaf ya, Sayang. Papa ada proyek besar di luar kota dan ini sangat penting karena nilainya gak main-main. Gak lama kok, nanti Papa belikan oleh-oleh buat kamu. Untuk sementara, kamu pulang pergi ke sekolah dianter sama Mama kamu ini ya," balas Rizal kemudian mengeluarkan sebuah kunci dari saku jasnya dan memberikannya kepada Rere.
"Apa ini, Mas?" tanya Rere.
"Kunci mobil buat kamu. Gunakan untuk nanti mengantar jemput Renita sama Bebi ke sekolah," jawab Rizal.
Kedua mata Rere berbinar. Dia bangun dan memeluk suaminya itu. "Makasih banyak, Mas. Aku seneng banget. Kamu tenang aja, Bebi pokoknya aman sama aku."
Rizal mengangguk sambil tersenyum. "Aku percaya sama kamu," ucapnya.
Bebi menunduk dengan perasaan sedih. Dia yakin kalau hidupnya selama beberapa hari ini akan seperti di neraka kalau papa nya tidak ada di rumah.
Ingin memberikan bukti sekarang pun dia takut itu akan mengganggu pekerjaan sang papa.
"Papa berangkat dulu ya, jadwal penerbangannya sebentar lagi, takut telat," ucap Rizal. Dia mengecup puncak kepala Bebi dengan penuh sayang dan hanya mengusap kepala Renita kemudian pergi disusul oleh Rere.
"Biar aku yang bawa tasnya sampai depan, Mas."
Rafa dan Dara sudah ada di dalam mobil. Hening, tidak ada yang mulai bicara karena keduanya sedang larut dalam rasa canggung masing-masing gara-gara kejadian tadi pagi.
Rafa menggelengkan kepalanya pelan saat bayangan Dara yang tadi hanya menggunakan kacamata rambo karena hendak memakai tangtop tiba-tiba melintas di ingatannya.
"Fokus, Rafa. Fokus!" ucapnya pada diri sendiri. Ucapan yang hanya keluar di dalam hati.
"Emm ... nanti aku mau ke rumah sakit lagi. Gak apa-apa, 'kan?" tanya Dara memecah keheningan.
Rafa langsung mengangguk. "Ya gak apa-apa, nanti kita ke sana bareng."
"Tapi sampai sore gak apa-apa? Ibu katanya mau pulang dulu ke rumah nanti," ucap Dara.
Rafa kembali mengangguk. "Hm. Gak apa-apa."
Mata Dara menyipit kala dari kejauhan dia melihat seseorang yang sepertinya dia kenal dikeluarkan paksa dari dalam mobil. "I-itu...."
"Kenapa?" tanya Rafa.
"Itu kayaknya Bebi!" seru Dara.
"Turun kamu! Saya gak sudi mobil baru saya dipake buat nganter kamu!" sentak Rere menarik paksa Bebi keluar dari dalam mobil.
"Tante kok gitu? Ini mobil juga pemberian dari papa aku!"
"Papa kamu itu suami saya sekarang. Ini juga mobil saya. Terserah saya mau ngapain juga!"
"Ma, udah cepetan! Tinggalin aja dia! Aku bisa telat ini!" Dari dalam mobil, Renita memanggil mama nya.
"Tante! Renita! Tunggu!" Bebi mengetuk kaca jendela mobil, berharap ibu tirinya itu membiarkan dirinya masuk tapi sia-sia. Mobil hitam itu langsung pergi meninggalkannya.
"Gimana ini? Aku gak ada ongkos juga kalau harus order ojol," gumam Bebi sedih.
"Bebi!"
Bebi menoleh dan menghembuskan napas lega saat melihat Dara turun dari mobil dan menghampirinya.
"Dara...." Bebi merengek menangis di pelukan sahabatnya.
"Masuk aja dulu yuk. Nanti ceritanya di mobil aja," ucap Dara.
Bebi mengangguk dan masuk lebih dulu ke dalam mobil lalu disusul oleh Dara yang ikut duduk di jok belakang.
"Mas, aku duduk di sini gak apa-apa ya?" tanya Dara.
Rafa mengangguk. "Gak apa-apa," jawabnya kemudian mulai melajukan mobilnya kembali.
"Pak Rafa maaf ya," ucap Bebi jadi tidak enak hati.
"Hm." Rafa menjawab dengan gumaman. Bebi jadi merasa kalau gurunya itu tidak senang dia ikut ke mobilnya.
"Lo kenapa bisa diturunin di tengah jalan kayak tadi? Gak dianterin sama bokap lo?" tanya Dara.
Bebi menggeleng lalu mengusap air matanya. "Papa pergi ke luar kota tadi pagi. Papa gak bakal pulang beberapa hari."
Dara membawa Bebi ke pelukannya. Tanpa Bebi bercerita lengkap pun dia paham akan seperti apa kehidupan sahabatnya itu beberapa hari ke depan.
"Lo udah pake aplikasi yang kemarin?" tanya Dara.
Bebi mengangguk dan menjauhkan diri dari pelukan Dara. "Udah. Gue udah punya satu bukti. Tapi, pas mau ngasih tau Papa, gue takut itu bakal bikin Papa keganggu ditengah kesibukannya kayak sekarang. Gue harus gimana? Gue gak mau Renita sama ibunya terus nipu Papa sama sikap palsu mereka. Ibunya Renita malah udah rencanain sesuatu yang jahat buat papa."
Dara menatap Bebi dengan penuh empati, mencoba mencari solusi terbaik untuk masalah yang dihadapi sahabatnya. Dia tahu Bebi tidak ingin membuat ayahnya khawatir, namun situasi ini juga tidak bisa dibiarkan begitu saja.
"Kita harus ngasih tau Papa lo, Bi," ucap Dara tegas. "Seperti apa yang lo bilang tadi, mereka gak bisa terus-terusan dibiarin. Mumpung belum terlalu lama."
Bebi menghela napas berat, matanya kembali berkaca-kaca.
"Tapi gue gak mau jadi beban buat Papa. Dia udah sibuk banget dengan pekerjaannya."
"Bi, bokap lo pasti bakal lebih mentingin lo anak kandungnya dibanding pekerjaannya. Sepenting apapun itu," ucap Dara.
Rafa yang sejak tadi diam mendengarkan pun akhirnya bersuara. Dia langsung paham dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Dara dan Bebi.
"Mungkin ada cara lain untuk ngasih tau Papa kamu tanpa bikin dia kepikiran banget. Kita bisa kirim bukti yang kamu punya lewat email atau pesan teks, biar Papa kamu bisa lihat saat dia punya waktu luang," ucap Rafa.
Dara mengangguk setuju. "Iya, bener kata Mas Rafa. Kita bisa buat pesan yang jelas tapi singkat, terus kasih semua bukti yang lo punya. Jadi Papa lo bisa paham situasinya tanpa perlu mikir lama-lama."
Bebi terlihat ragu, namun akhirnya dia mengangguk pelan. "Oke, kita coba cara itu. Tapi gue beneran takut, Dara. Gimana kalo mereka tahu gue ngelaporin ke Papa?"
Dara memegang tangan Bebi erat-erat. "Lo gak sendirian, Bi. Gue bakal selalu ada buat lo. Kita hadapin ini bareng-bareng."
Sampai di sekolah, Bebi dan Dara keluar dari pintu berbeda. Dara kemudian membuka pintu depan untuk mengambil tas miliknya yang tadi disimpan di sana.
Saat Dara hendak mengambil tasnya, tangannya ditarik oleh Rafa. Dara mengerutkan keningnya, menatap Rafa dengan wajah bingung.
Rafa menunjuk pipi sebelah kirinya. "Gak mau kiss dulu?"
Kedua mata Dara melotot seketika. Dia menunjukkan kepalan tangannya kepada Rafa. "Nih, cium!" ucapnya.
Rafa tertawa pelan dan membiarkan istri kecilnya itu pergi lebih dulu.
"Aku benar-benar sudah gila," gumamnya.