Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Darah di Atas Mawar dan Suara dari Masa Lalu
Bilah parang itu berkilat memantulkan cahaya bulan purnama, membelah udara malam dengan suara desingan yang mengerikan.
Waktu seakan melambat menjadi serpihan bingkai-bingkai foto. Aku melihat pria bertubuh raksasa dengan tato melingkar di lehernya itu mengayunkan parangnya lurus ke arah kepalaku.
Namun, sebelum otakku sempat memerintahkan kakiku untuk menghindar, sebuah dorongan keras menghantam pinggangku. Bumi melemparkan tubuhku ke samping hingga aku terjerembap di atas rumput taman yang basah.
TRANG!
Bilah baja itu menghantam bingkai kayu pintu vila tempatku berdiri sedetik yang lalu, mengirimkan serpihan kayu tajam berhamburan ke udara.
Pria bertato itu menggeram marah. Ia menarik parangnya yang menancap di kayu, lalu memutar tubuhnya, bersiap menebas Bumi yang kini berdiri tanpa senjata pertahanan panjang.
Jantungku berhenti berdetak. "Bumi, awas!" jeritku histeris.
Namun suamiku tidak mundur. Di saat pria normal akan lari ketakutan, insting bertahan hidup Bumi yang ditempa kerasnya jalanan mengambil alih. Begitu parang itu terayun untuk kedua kalinya, Bumi menunduk dengan kecepatan kilat, membiarkan mata pisau itu lewat hanya beberapa sentimeter di atas kepalanya.
Dalam sepersekian detik saat dada si pembunuh terbuka tanpa pertahanan, Bumi menerjang maju. Ia menabrakkan seluruh berat badannya ke tubuh raksasa itu. Tangan kanannya yang memegang alat kejut listrik ( stun gun ) menghantam lurus ke arah rusuk si pembunuh.
Bumi menekan tombol pelatuknya.
BZZZT!
Suara letupan listrik tegangan tinggi memecah kesunyian malam, diiringi kilatan cahaya biru terang yang menyilaukan.
Pria raksasa itu meraung kesakitan. Tubuhnya mengejang hebat layaknya ikan yang dilempar ke daratan. Namun, ukuran tubuhnya yang masif membuat aliran listrik itu tidak langsung melumpuhkannya. Dalam kondisi kejang, tangan besarnya secara refleks mengayun liar, dan gagang parang yang keras itu menghantam pelipis Bumi dengan telak.
Bumi terhuyung ke belakang, darah segar seketika mengucur dari sudut pelipis kanannya.
"BUMI!" jeritku lagi, memaksakan diri bangkit dari atas rumput.
Melihat darah suaminya tumpah, pria itu bersiap mengayunkan parangnya untuk serangan penghabisan. Tapi Bumi tidak memberinya kesempatan. Sambil menahan rasa pusing akibat hantaman di kepalanya, Bumi kembali menerjang dengan sisa tenaganya, kali ini mengarahkan stun gun itu tepat ke urat nadi di pangkal leher si pembunuh.
BZZZT!
Kejutan kedua di titik saraf vital itu akhirnya menuntaskan perlawanan. Mata si pembunuh terbelalak putih, lalu tubuh raksasanya ambruk menghantam lantai teras vila dengan bunyi gedebuk yang menggetarkan tanah. Ia pingsan seketika.
Hening.
Hanya terdengar suara napas Bumi yang memburu kasar, berpadu dengan debur ombak di kejauhan.
Bumi berdiri terengah-engah, dadanya naik-turun dengan brutal. Darah dari pelipisnya menetes membasahi kerah kemeja linen putihnya. Ia menatap tubuh tak sadarkan diri di bawah kakinya sejenak, sebelum langsung menoleh dengan panik ke arahku.
"Aruna..." Bumi melempar stun gun itu ke lantai, berlari menghampiriku dan langsung berlutut di depanku. Tangan besarnya yang gemetar merengkuh wajahku, menyapu setiap inci tubuhku dengan pandangan penuh teror. "Kamu terluka? Dia menyentuhmu? Pisau itu mengenaimu?!"
Aku menggeleng kuat-kuat. Air mata kelegaan tumpah membasahi tangannya. "Tidak... aku tidak apa-apa. Tapi kepalamu, Bumi! Kepalamu berdarah!"
"Ini hanya luka gores," potongnya cepat, mengabaikan darah yang mengalir di wajahnya sendiri. Ia menarik pinggangku, mengangkat tubuhku hingga berdiri. "Kita harus masuk ke dalam sekarang. Masih ada kemungkinan dia tidak datang sendirian."
Dengan cekatan, Bumi berjalan kembali ke arah si pembunuh. Ia merogoh tas ranselnya yang tadi ia letakkan di teras, mengeluarkan beberapa utas kabel ties (pengikat plastik) kelas industri. Ia mengikat tangan dan kaki pria raksasa itu dengan sangat kuat, lalu menarik kerahnya dan menyeret tubuh seberat lebih dari seratus kilogram itu masuk ke dalam vila, menguncinya di dalam toilet tamu dekat pintu masuk.
Aku segera membantu Bumi menggeser sofa jati yang sangat berat di ruang tamu untuk memblokir pintu utama yang engselnya sudah rusak.
Setelah memastikan semua jendela terkunci rapat dan tirai tebal diturunkan, Bumi akhirnya merosot duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke dinding di sebelah sofa.
Adrenalin yang memompa darah kami perlahan surut, digantikan oleh rasa sakit dan kelelahan yang meremukkan tulang.
Aku berjalan mendekatinya dengan langkah gontai, lalu berlutut di sisinya. Tanganku terulur, menyentuh luka di pelipis kanannya dengan ujung jariku yang bergetar. Kulitnya robek sekitar tiga sentimeter, darahnya sudah mulai mengering namun masih menyisakan jejak merah yang kontras dengan kulitnya.
"Kau berdarah karenaku lagi," bisikku parau. Terdengar isakan kecil dari tenggorokanku.
Bumi menahan tanganku yang berada di wajahnya. Ia memejamkan mata, menghela napas panjang, lalu menyandarkan pipinya ke telapak tanganku. "Dan aku akan melakukannya seribu kali lagi jika itu berarti kau tetap bernapas, Aruna."
Pria ini... kata-katanya selalu berhasil meruntuhkan setiap lapis pertahananku. Di saat aku merasa menjadi beban pembawa sial, ia justru meyakinkanku bahwa aku adalah sesuatu yang layak dipertahankan dengan nyawa.
"Kita tidak bisa memanggil keamanan resor," gumamku, mencoba mengalihkan rasa sesak di dadaku dengan berpikir rasional. "Rendra pasti sudah menyuap mereka. Jika kita memanggil sekuriti, mereka hanya akan membuang orang ini dan memutarbalikkan fakta."
Bumi membuka matanya, menatapku setuju. "Kita terkunci di sangkar emas ini sampai lusa. Rendra ingin kita ketakutan setengah mati, membuat kesalahan, atau mati terbunuh agar dia bisa mengambil alih perusahaan dengan statusmu sebagai janda yang malang."
Bumi memaksakan diri untuk berdiri, meringis pelan saat bahunya bergerak. "Ayo masuk ke kamar utama. Pintunya terbuat dari kayu solid, kita akan lebih aman di sana. Aku harus segera mengolah data dari ponsel Rendra."
Kami berjalan gontai memasuki Honeymoon Suite. Kamar yang tadinya kusebut sebagai mimpi buruk karena ranjang bertabur mawar dan kaca transparan itu, kini terasa seperti satu-satunya tempat berlindung di dunia ini.
Kelelahan ekstrem akhirnya menghantam fisikku. Kakiku kehilangan daya topang. Aku nyaris terjatuh jika Bumi tidak dengan sigap merangkul pinggangku.
"Berbaringlah," titah Bumi lembut. Ia membimbingku menuju ranjang Super King Size tersebut.
Bumi menyingkirkan sebagian besar kelopak mawar merah yang memenuhi kasur dengan tangannya agar aku bisa berbaring. Namun, begitu punggungku menyentuh kasur, aku menahan ujung kemejanya.
"Bumi, darahmu..."
"Aku akan membersihkannya di wastafel. Sebentar saja," bujuknya.
Aku melepaskan kemejanya dengan berat hati. Mataku tak lepas mengawasinya saat ia berjalan ke kamar mandi, membersihkan lukanya dengan air dingin dan membalutnya dengan plester dari kotak P3K hotel. Setelah selesai, Bumi tidak langsung tidur. Ia mengambil laptopnya, menarik sebuah kursi kecil, dan duduk di samping ranjangku.
Layar laptop memancarkan pendaran biru yang menerangi wajahnya yang lelah. Jari-jarinya mulai menari di atas keyboard.
"Tidurlah, Aruna. Aku akan berjaga malam ini," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari barisan kode di layar.
Aku menggeleng pelan. "Aku tidak akan bisa tidur jika kau duduk di sana."
Bumi menghentikan ketikannya. Ia menoleh menatapku. Rambut panjangku tergerai berantakan di atas bantal putih, gaun sifonku kusut masai, dan mataku pasti terlihat merah karena menangis.
"Rendra sudah menugaskan pembunuh untuk menghabisiku," bisikku, suaraku bergetar oleh ketakutan yang tak lagi bisa kusembunyikan. "Jika aku menutup mata, aku takut saat aku bangun... kau tidak ada di sana. Atau kau tergeletak bersimbah darah di lantai. Aku takut, Bumi."
Kalimat itu meluncur begitu saja. Pengakuan paling jujur dan paling rapuh dari seorang Aruna Wiratmadja.
Bumi menelan ludah dengan susah payah. Mata cokelatnya memancarkan sorot kelembutan yang membuat hatiku seakan diremas. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia meletakkan laptopnya di atas nakas, melepaskan sepatu pantofelnya, dan naik ke atas ranjang.
Kali ini, tidak ada negosiasi tentang batas bantal guling. Tidak ada ketakutan akan kamera pengawas—yang memang sudah dimatikan Bumi.
Bumi berbaring di sebelahku. Ia membuka lengan kanannya. Sebuah undangan diam yang tak perlu diucapkan dengan kata-kata.
Tanpa ragu sedetik pun, aku beringsut mendekat dan membenamkan wajahku ke dada bidangnya. Lengan kokohnya langsung melingkar di punggungku, merengkuhku dengan sangat erat. Kaki kami saling bertaut di bawah selimut. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang ritmis di telingaku, aroma kasturi dan antiseptik menguar dari kulitnya.
Di atas sisa-sisa kelopak mawar merah yang hancur, di tengah pulau yang dikepung musuh, aku menemukan duniaku yang paling aman.
"Aku di sini," bisik Bumi, mengecup puncak kepalaku dalam-dalam. "Tidurlah. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu selama aku masih bernapas."
Kalimat itu menjadi sihir penenang terbaik. Rasa aman yang menjalar dari pelukannya perlahan-lahan memadamkan alarm kepanikan di kepalaku. Kelopak mataku memberat, hingga akhirnya aku benar-benar jatuh ke dalam lelap.
Entah berapa lama aku tertidur.
Aku terbangun bukan karena mimpi buruk, melainkan karena pergerakan pelan di sisiku. Hawa hangat yang sedari tadi mendekapku perlahan menghilang.
Aku membuka mata dengan malas. Kamar masih gelap gulita, hanya diterangi cahaya remang dari lampu meja dan pendaran layar laptop.
Bumi tidak lagi berbaring di sebelahku. Ia sedang duduk di tepi ranjang, membelakangiku, menatap layar laptopnya dengan postur tubuh yang luar biasa kaku. Otot-otot punggungnya menegang keras, seolah ia baru saja disambar petir.
"Bumi?" panggilku dengan suara parau khas bangun tidur. Aku mengubah posisiku menjadi setengah duduk. Jam digital di nakas menunjukkan pukul 03.15 pagi.
Bumi tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepalanya, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ada getaran hebat di bahunya.
"Bumi, ada apa?" Kepanikanku kembali tersulut. Aku merangkak mendekatinya, menyentuh bahunya. Kulitnya terasa dingin seperti es.
Bumi menoleh ke arahku secara perlahan. Wajahnya pias. Matanya merah, bukan karena kantuk, melainkan karena amarah dan kengerian yang tak sanggup ia utarakan.
"Aku... aku berhasil mendekripsi data ponsel Rendra, menembus lapisan perlindungannya, dan masuk ke server utama London miliknya," bisik Bumi, suaranya terdengar kosong dan bergetar.
"Lalu? Kau menemukan aliran dananya? Bukti bahwa dia membayar pembunuh Adrian?" tanyaku cepat, napasku mulai memburu. Jika kita mendapatkannya, Rendra tamat.
Bumi mengangguk kaku. "Ya. Aku menemukan rekaman suaranya yang memerintahkan penyabotasean rem mobil suamimu. Dan daftar mutasi rekeningnya yang mentransfer miliaran rupiah kepada kepala montir di bengkel langganan Adrian tiga tahun lalu."
Air mataku menetes seketika. Rasanya seperti ada batu besar yang diangkat dari dadaku, namun sekaligus menghantam kepalaku. Firasatku selama tiga tahun ini benar. Kecelakaan itu adalah pembunuhan terencana. Dan kini, kami akhirnya memegang pisau untuk memenggal kepala Rendra secara hukum.
"Kita berhasil..." isakku pelan, menutup wajahku dengan kedua tangan. "Akhirnya, Bumi... kita bisa memenjarakannya."
"Aruna..." suara Bumi memotong isakanku. Nadanya terdengar sangat putus asa. "Bukan hanya itu yang kutemukan."
Aku menurunkan tanganku, menatapnya dengan kening berkerut. "Maksudmu?"
Bumi perlahan memutar layar laptopnya agar menghadap ke arahku. "Aku menyadap aplikasi perpesanan rahasia Rendra. Tiga menit yang lalu, sebuah pesan masuk dari Jakarta. Pesan dari Sarah."
Darah di sekujur tubuhku seakan berhenti mengalir saat aku membaca teks yang terpampang di layar laptop itu.
[Dari: Sarah]
"Pak Rendra, saya sudah berada di dalam penthouse lama Ibu Aruna di Jakarta. Tim Bapak sudah berhasil mengebor brankas utamanya. Dokumen asli 'Kontrak Nikah Dua Miliar' itu sudah ada di tangan saya. Sesuai rencana, file PDF-nya akan saya sebarkan secara anonim ke seluruh email dewan direksi dan media pers nasional tepat pukul 06.00 pagi ini."
Udara di sekitarku lenyap. Ruangan mewah ini mendadak terasa berputar.
"Jam enam pagi..." bisikku ngeri, mataku melirik jam digital di nakas. Pukul 03.20. "Itu kurang dari tiga jam lagi."
Jika kontrak itu disebarkan, status pernikahanku dengan Bumi akan hancur lebur di mata hukum perusahaan dan publik sebelum bukti pembunuhan Adrian ini bisa diproses oleh kepolisian. Rendra tahu dia mungkin akan hancur, tapi dia memastikan aku akan hancur lebih dulu. Begitu aku dipecat secara tidak hormat karena skandal moral, Rendra bisa membuang sahamku, melarikan diri ke luar negeri dengan kekayaannya, dan menutupi semua jejaknya.
"Kita harus menghubungi Garda! Suruh dia mencegat Sarah di apartemen!" seruku panik, meraih ponselku di atas nakas.
Bumi menahan tanganku dengan lembut namun kuat. Ia menggeleng pelan, matanya menyiratkan kepedihan yang menyayat hati.
"Sarah menggunakan jammer sinyal di sekitar apartemenmu, Aruna. Tidak ada komunikasi yang bisa masuk ke sana," jelas Bumi. "Dan Garda ada di rumah Kemang, menjaga Ibu dan Sifa. Perjalanan dari Kemang ke penthouse lamamu memakan waktu satu jam. Sekalipun Garda berangkat sekarang, dia akan kalah jumlah dengan tim bayaran Rendra yang menemani Sarah."
Ponselku terlepas dari genggamanku, jatuh ke atas kasur.
Aku kalah. Di saat kemenangan sudah di depan mata, Rendra membalikkan papan catur dan membakar kerajaanku.
Sisa waktu dua setengah jam. Tidak ada yang bisa kami lakukan dari jarak sejauh ini. Begitu matahari terbit, rahasia paling memalukan dalam hidupku akan menjadi konsumsi jutaan orang. Aku akan kehilangan perusahaanku, nama baikku, dan yang paling menyakitkan... aku akan kehilangan status suciku sebagai istri dari pria yang duduk di hadapanku ini.
Aku menatap mata Bumi. Pria ini telah mengorbankan darah, harga diri, dan nyawanya untuk melindungiku. Dan sebagai balasannya, aku hanya memberinya skandal yang akan menghancurkan nama baik ibunya yang taat beragama.
"Maafkan aku..." isakku, memeluk lututku sendiri, tubuhku bergetar hebat. "Aku gagal melindungimu, Bumi. Kontrak sialan itu akan menghancurkan kita."
Bumi tidak menjawab. Ia menatap layar laptopnya dalam diam. Keheningan yang panjang dan mencekam menyelimuti kamar itu, hanya diselingi oleh isak tangisku yang tertahan.
Lalu, sebuah suara ketukan keyboard terdengar. Satu ketukan yang sangat keras, memecah kesunyian.
Aku mendongak.
Bumi telah kembali memutar laptopnya. Sorot matanya yang tadi dipenuhi keputusasaan, kini telah berubah. Tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada lagi kepanikan. Yang ada hanyalah ketenangan mutlak dari seorang eksekutor berdarah dingin yang baru saja menemukan jalan keluarnya.
Pria itu melepaskan dua kancing teratas kemejanya dengan satu tangan, menarik napas panjang, lalu mulai mengetik dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Barisan kode hijau mengalir deras di layar hitamnya seperti hujan badai.
"Bumi? Apa yang kau lakukan?" tanyaku bingung.
Bumi tidak menoleh. Matanya terpaku pada layar, jari-jarinya menari dengan brutal di atas keyboard.
"Sarah berniat menyebarkan file itu melalui server relay email perusahaan," ucap Bumi, suaranya sangat tenang, berbanding terbalik dengan kecepatan tangannya. "Dia pikir, dengan meretas akses master milik Haris, dia menguasai database seluruh media dan direksi."
Bumi menekan tombol Enter, lalu menoleh padaku. Sebuah senyum miring, senyum arogan yang sangat langka dan luar biasa tampan, terbentuk di sudut bibirnya.
"Dia lupa, Aruna. Sarah hanyalah seorang sekretaris yang bermain di taman bermain buatanku." Bumi kembali mengetik. "Aku adalah orang yang membangun infrastruktur Back-end Wiratmadja Tech. Aku tahu setiap lubang cacing, setiap celah, dan setiap arteri dalam sistem itu."
Aku menahan napas. "Apa... apa yang akan kau lakukan?"
"Sesuatu yang akan membuatku di- blacklist dari seluruh pekerjaan IT di dunia ini jika ketahuan," kekehnya pelan, sebuah tawa gelap yang membuat bulu kudukku meremang.
Bumi menatap lurus ke dalam mataku. "Sarah ingin menyebarkan dokumen itu jam enam pagi? Silakan. Tapi dokumen yang akan diterima oleh ribuan orang besok pagi bukanlah kontrak pernikahan kita."
____________________________________________
Layar laptop Bumi tiba-tiba berubah warna menjadi merah darah. Di tengah layar itu, muncul sebuah kotak unggahan (upload box) yang bertuliskan: [OVERRIDE PROTOCOL: INITIATED]. Bumi telah membajak server penyebaran email milik Sarah dari jarak ribuan kilometer. "Jika mereka menginginkan sebuah skandal untuk dibaca besok pagi," bisik Bumi dengan kilat mata yang mematikan, jemarinya melayang di atas tombol Enter untuk langkah terakhir, "maka kita akan memberikan mereka skandal terbesar dalam sejarah negara ini. Bersiaplah, Aruna. Besok pagi, Rendra Daniswara tidak hanya akan kehilangan perusahaannya, ia akan kehilangan seluruh hidupnya."
kenapa nama aruna binti baskara wiradmaja.itu menunjukkan itu warisan bapaknya.bukan peninggalan suaminya .pdahal awal bab bilangya aruna mertahankan perusahaan peninggalan suaminya.
ᴀʀᴜɴᴀ ɢᴋ ʙᴇʟᴀᴊᴀʀ ᴅʀ ᴋᴇsʟsʜᴀɴ sʙʟᴍ ɴʏᴀ 😭😭
viral di tipi tipi kemarin🤔
btw keinget jaman masih suka jemput anak pulang sekolah.. kalo keburu kelasnya pulang cukup daster dipakein jaket sama kerudung 😄