Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
***
Pagi itu, Desa Sukamaju diselimuti kabut tipis yang menyelinap di antara pepohonan kelapa. Suara ayam hutan bersahutan, menciptakan harmoni pedesaan yang seharusnya menenangkan. Laras, yang kondisi tubuhnya mulai sedikit membaik meski napasnya masih sering tersengal karena perutnya yang sudah memasuki bulan kedelapan, memutuskan untuk keluar rumah sebentar.
Dengan langkah perlahan dan tangan kiri menyangga pinggang belakang, Laras berjalan menuju persimpangan jalan tempat biasanya tukang sayur keliling berhenti. Ia mengenakan daster batik motif bunga biru yang sudah mulai terasa sempit di bagian perut, dilapisi kardigan rajut tipis untuk menghalau sisa dingin semalam.
Sesampainya di sana, gerobak motor Kang Asep sudah dikerumuni ibu-ibu. Aroma sawi segar, cabai, dan tempe mentah memenuhi udara.
"Eh, Bu Kades! Sudah sehat, Bu?" sapa Bu RT yang sedang memilah tomat.
Laras tersenyum ramah, senyum yang selalu membuat warga luluh. "Sudah agak mendingan, Bu RT. Sayurnya masih lengkap, Kang?"
"Masih, Bu Kades! Khusus buat Bu Kades, ini ada ayam potong yang paling segar," sahut Kang Asep semangat.
Laras mulai memilah sayuran, namun telinganya tak sengaja menangkap bisik-bisik dari dua ibu di ujung gerobak. Mereka tidak menyadari kehadiran Laras karena terhalang punggung Kang Asep.
"Eh, kamu tahu nggak? Kemarin aku lihat Pak kades makan siang di Rumah Makan Padang pinggir jalan raya itu," bisik Bu Darmi.
"Sama siapa? Bukannya Bu Kades lagi sakit di rumah?" timpal Bu Neneng penasaran.
"Sama orang dinas kabupaten. Perempuan, Neng! Duh, cantiknya bukan main. Rambutnya disanggul rapi, bajunya ketat, pakai rok pendek pula. Kayaknya orang penting. Tapi ya itu, cara bicaranya manja sekali sama Pak kades. Tangan Pak Kades sampai disentuh-sentuh pas lagi ketawa," tambah Bu Darmi dengan nada kompor.
"Wah, hati-hati lho. Pak Kades kita kan gagah, ganteng pula. Laki-laki kalau dikasih yang bening-bening begitu ya mana tahan. Apalagi Bu Kades lagi hamil besar begini, pasti nggak bisa 'melayani' maksimal, kan?"
Deg.
Jantung Laras terasa seperti berhenti berdetak sesaat. Tangannya yang sedang memegang ikat bayam mendadak gemetar. Ia melirik ke bawah, ke arah tubuhnya sendiri. Daster batik yang lusuh, sandal jepit yang menampung punggung kakinya yang bengkak karena edema, dan wajah yang pucat tanpa riasan. Ia merasa sangat kontras dengan gambaran wanita dinas yang diceritakan tadi.
"Ini ayamnya, Bu Kades? Bu? Bu Kades?" panggil Kang Asep.
Laras tersentak. "Eh, iya Kang. Jadi. Berapa semuanya?"
Laras membayar dengan terburu-buru. Ia tidak menyapa ibu-ibu itu lagi. Pikirannya penuh dengan bayangan Bagas yang sedang tertawa bersama wanita cantik dari kabupaten. Logikanya berkata itu mungkin urusan dinas, tapi hormon kehamilan dan rasa lelah yang bertumpuk membuat hatinya lebih cepat terbakar api cemburu.
**
Sepanjang jalan pulang, kram di perut bawahnya kembali terasa, seolah janin di dalamnya juga ikut tegang. Laras sampai di rumah dan langsung menuju dapur. Ia mencoba memasak, namun setiap kali ia memotong bawang, bayangan "sentuhan tangan" yang diceritakan Bu Darmi terus menari-nari di kepalanya.
Sore harinya, Bagas pulang lebih lambat dari biasanya. Ia masuk ke rumah dengan wajah segar, bersiul kecil seolah-olah harinya sangat menyenangkan.
"Ras! Mas pulang!" panggil Bagas. Ia menghampiri Laras di dapur dan mencoba memeluknya dari belakang. "Mas lapar sekali, tadi rapat di kabupaten lama banget, nggak sempat makan yang bener."
Laras melepaskan diri dari dekapan Bagas dengan gerakan kaku. "Bukannya tadi sudah makan enak di luar, Mas?"
Bagas mengernyitkan dahi. "Makan enak apa? Tadi cuma makan gorengan pas rapat. Kenapa wajahmu ditekuk begitu?"
Laras tidak menjawab. Ia hanya menyajikan piring berisi nasi dan lauk dengan gerakan yang agak kasar. "Makanlah, mumpung masih hangat."
"Kamu kenapa sih, Ras? Ada masalah sama warga?" tanya Bagas sambil menyuap nasi.
"Nggak ada. Laras cuma capek," jawab Laras singkat, lalu berlalu masuk ke kamar.
Malam kian larut. Gilang dan Arka sudah terlelap di kamar mereka. Bagas masuk ke kamar utama setelah menyelesaikan beberapa berkas. Ia melihat Laras sudah berbaring membelakanginya, menyangga perutnya dengan guling.
Bagas merasa ada yang tidak beres, namun hasratnya sebagai pria dewasa yang seharian bekerja keras membuatnya ingin mencari kenyamanan pada istrinya. Ia naik ke ranjang, mendekati Laras, dan mulai memijat pundak Laras yang tegang.
"Ras... Mas tahu kamu capek. Tapi Mas kangen. Seharian ini Mas kepikiran kamu terus di kantor," bisik Bagas serak di telinga Laras. Tangannya mulai menyusup ke pinggang Laras, mencoba mencari celah untuk memulai kemesraan seperti malam-malam sebelumnya.
Laras menepis tangan Bagas dengan kasar. Ia berbalik dan menatap Bagas dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh kemarahan.
"Mas kangen Laras? Atau kangen sama tamu cantik dari dinas kabupaten itu?" ketus Laras.
Bagas tertegun, tangannya menggantung di udara. "Maksudmu apa, Ras? Tamu dinas yang mana?"
"Nggak usah pura-pura, Mas! Semua orang di tukang sayur sudah tahu. Pak Kades makan siang mesra sama perempuan kota. Katanya cantik, wangi, bajunya bagus. Nggak kayak aku, kan? Yang cuma dasteran, baunya minyak urut, dan badannya bengkak semua!" suara Laras meninggi, meski serak karena sisa flu.
"Laras! Dengar dulu! Itu Bu Siska, kepala bagian keuangan! Kami bicara soal dana bantuan jembatan. Masa Mas makan di pinggir jalan sama orang kabupaten dibilang mesra?" Bagas mencoba membela diri, suaranya mulai ikut meninggi karena merasa dituduh tanpa bukti.
"Oh, jadi namanya Bu Siska? Sampai hafal namanya ya, Mas? Apa dia juga hafal gimana rasanya tangan Mas?" air mata Laras luruh.
Rasa sakit di hatinya jauh lebih hebat daripada kram perutnya.
"Astaga, Laras! Kamu jangan kekanak-kanakan! Mas kerja buat kalian, buat anak-anak! Kenapa jadi bahas gosip murahan tukang sayur?"
"Kalau Mas memang merasa saya kekanak-kanakan, kenapa nggak minta hak Mas sama tamu cantik itu saja? Dia pasti jauh lebih pinter melayani daripada istri yang hamil tua dan penyakitan ini!"
Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Laras.
Bagas terpaku. Ia tidak menyangka istri yang selama ini penurut dan pendiam bisa meledak sehebat itu. Kebingungan dan kemarahan bercampur di wajah Bagas.
"Laras, jangan keterlaluan..."
Laras tidak memedulikan ucapan Bagas. Ia bangkit dari tempat tidur dengan susah payah, memegangi perutnya yang kembali mengeras karena stres.
"Laras tidur sama anak-anak malam ini. Laras nggak mau sekamar sama laki-laki yang sudah disentuh-sentuh perempuan lain!"
Laras berjalan keluar kamar, menyeret kakinya yang berat, meninggalkan Bagas sendirian di kamar utama yang mendadak terasa sangat dingin dan hampa.
Laras masuk ke kamar Gilang dan Arka. Ia merebahkan dirinya di antara dua putranya yang bernapas teratur. Ia memeluk Arka dengan erat, menyembunyikan isak tangisnya di punggung mungil anaknya. Di dalam rahimnya, sang bayi memberikan tendangan kecil, seolah ikut merasakan kesedihan ibunya.
Di sisi lain, Bagas masih terduduk di pinggir ranjang kayu jati mereka. Ia menatap dinding kosong dengan rasa sesal dan bingung yang mendalam. Keharmonisan yang selama ini ia banggakan hancur hanya dalam satu malam karena kabar burung. Ia ingin mengejar Laras, namun egonya sebagai kepala desa dan kepala keluarga membuatnya tertahan di tempat.
Malam itu, untuk pertama kalinya, rumah Kepala Desa Sukamaju diselimuti kesunyian yang mencekam, menyimpan luka yang belum tahu kapan akan sembuh.
****
Bersambung....