Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
***
Malam telah larut menyelimuti kawasan Menteng, namun ketegangan di dalam Master Suite kediaman Darma justru baru saja dimulai. Udara di dalam kamar itu terasa lebih tipis, bukan karena pendingin ruangan yang mati, melainkan karena perang dingin yang sedang dikobarkan oleh sang nyonya rumah.
Darma melangkah masuk dengan sisa-sisa kelelahan dari kantor. Seperti biasa, wajahnya adalah topeng porselen yang tak terbaca datar, tajam, dan angkuh. Ia mengernyitkan dahi saat mendapati kamar dalam keadaan gelap gulita. Hanya ada satu sumber cahaya pendar biru dari layar ponsel di sudut sofa velvet.
Klik.
Darma menekan saklar lampu. Cahaya hangat dari lampu kristal Schonbek seketika membanjiri ruangan, menampakkan Karina yang sedang duduk bersila di atas sofa dengan raut wajah yang lebih dingin dari es di kutub utara.
"Kenapa lampunya tidak dinyalakan?" tanya Darma datar, sambil mulai melepaskan jam tangannya dengan gerakan maskulin yang efisien.
"Biar hemat," sahut Karina singkat. Matanya sama sekali tidak beralih dari layar ponsel. "Tagihan listrik Menteng mahal, kan? Saya harus mulai belajar jadi istri yang tahu diri soal anggaran."
Darma mendengus pelan, hampir menyerupai kekehan sinis. Ia melonggarkan dasi sutranya, melemparkannya ke atas kursi kayu jati. "Sejak kapan Nyonya Darma Hutomo peduli soal efisiensi biaya? Bukankah pagi tadi kamu masih sibuk menghamburkan tepung mahal di dapur?"
"Sejak ada ancaman sinergi dari luar," ucap Karina dengan nada sarkasme yang kental. "Saya pikir, kalau investasi utama Mas mulai goyah karena gangguan pihak ketiga, saya harus mulai menabung untuk masa depan saya sendiri."
Darma menghentikan gerakannya sejenak. Ia tahu persis apa yang dimaksud Karina. Gosip tentang dirinya dan Angel pasti sudah sampai ke telinga istrinya. Namun, alih-alih menjelaskan, Darma justru memilih untuk bersikap seolah itu bukan hal penting.
"Bicara yang masuk akal, Karina. Saya mau mandi," ucap Darma dingin, lalu melangkah menuju kamar mandi utama tanpa sepatah kata pun penjelasan.
Karina menggertakkan giginya. "Benar-benar beruang es! Tidak ada penjelasan? Tidak ada permintaan maaf? Dia pikir aku ini apa? Patung pajangan di lobi kantornya?"
Amarah Karina sudah di puncak kepala. Selama satu jam Darma di kamar mandi, Karina menyusun strategi. Ia teringat pesan masuk dari Ji-hun, sahabat karibnya sesama mantan trainee yang kini sedang berada di Jakarta untuk promosi debut solonya. Ji-hun adalah pria yang baik, bersahaja, dan sangat tampan tipe pria yang selalu membuat fans berteriak histeris.
Karina mengambil foto yang mereka ambil saat makan siang tadi foto di mana Ji-hun tersenyum manis ke arah kamera sementara Karina bersandar santai di bahunya.
Tap.
Karina mengunggah foto itu ke Instagram dengan caption yang sangat provokatif:
"Reuni singkat dengan orang yang selalu ada saat dunia terasa berat. Terima kasih sudah datang ke Jakarta, Ji-hun. Beberapa kenangan lama memang tidak pernah pudar. ❤️ #HealingTime #OldFriend"
Baru lima menit, notifikasi Karina meledak. Netizen yang tadinya sibuk menghujat Darma dan Angel, kini berbalik arah menyoroti "perselingkuhan" terang-terangan sang nyonya besar.
Pintu kamar mandi terbuka. Uap hangat menguar bersama sosok Darma yang keluar hanya dengan handuk putih melilit pinggangnya. Rambutnya yang basah berantakan, meneteskan air ke dada bidangnya yang berotot. Ia tampak sangat atletis dan mengintimidasi, namun matanya langsung tertuju pada Karina yang kini justru tersenyum-senyum sendiri menatap ponselnya.
Darma merasa ada yang tidak beres. Perubahan mood Karina yang tadi marah menjadi ceria adalah sebuah alarm bahaya.
Ia meraih ponselnya sendiri di nakas. Satu notifikasi dari Aldi masuk: "Pak, cek postingan terbaru Ibu. Saham sentimen kita mulai bergejolak."
Mata Darma menyipit tajam saat melihat foto Karina dengan pria asing bernama Ji-hun itu. Rahangnya mengeras. Ada rasa panas yang menjalar di dadanya rasa yang jauh lebih membakar daripada amarah bisnis. Itu adalah cemburu, murni dan tak terkendali.
"Hapus foto itu sekarang," suara Darma merendah, sangat dingin dan penuh ancaman otoriter.
Karina mendongak, menatap Darma dengan wajah polos yang dibuat-buat. "Loh, kenapa? Mas bukannya bilang tadi di kantor kalau gosip itu sampah? Jadi kalau saya punya sampah juga, Mas jangan marah dong. Kita kan cuma investasi, Mas. Lagipula, Ji-hun ini lebih nyata dukungannya daripada janji manis di Paris."
"Karina, jangan memancing kesabaran saya," Darma melangkah mendekat, auranya begitu menekan hingga Karina refleks mundur ke sandaran sofa. "Kamu merusak citra keluarga Hutomo dan meremehkan martabat saya sebagai suamimu."
"Martabat? Mas bicara soal martabat setelah foto mesra dengan Angel itu viral?" Karina bangkit, berdiri menantang Darma meski ia harus mendongak jauh. "Kenapa Mas marah? Atau... jangan-jangan Mas cemburu?"
Ketegangan di kamar utama kediaman mereka di Menteng malam itu terasa jauh lebih pekat daripada kabut di pegunungan Swiss. Aroma kayu manis yang biasanya menenangkan kini telah menguap, digantikan oleh hawa panas dari amarah dan kecemburuan yang meledak-ledak.
Darma terdiam sejenak setelah melihat foto di layar ponsel Karina sebuah foto dari masa lalu Karina saat masih di Korea, di mana seorang aktor tampan tampak merangkul bahunya dengan akrab. Harga diri Darma yang setinggi langit menolak untuk mengakui bahwa ulu hatinya terasa seperti diremas. Namun, melihat tangan pria lain menyentuh apa yang kini menjadi hak miliknya, akal sehat pria klan Hutomo itu benar-benar hilang.
"Jangan buat saya memaksamu lagi, Karina Dyah Pramesti," desis Darma. Suaranya rendah, bergetar dengan ancaman yang nyata. "Hapus foto itu sekarang, atau saya sendiri yang akan memastikan pria itu tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di Indonesia bahkan untuk sekadar transit lagi selamanya."
"Diktator! Mas pikir Mas siapa?!" Karina berteriak, wajahnya memerah padam. "Ini hanya foto kenangan, Mas! Kenapa Mas jadi kekanak-kanakan begini sementara Mas sendiri berfoto dengan Angel di lapangan golf? Mas tidak punya hak untuk mengatur memori saya!"
"Saya punya setiap hak atas dirimu!" potong Darma dengan suara yang menggelegar di kamar luas itu.
"Mas...."
Kalimat Karina terputus. Darma tidak lagi menggunakan kata-kata untuk berdebat. Dengan satu gerakan cepat yang sangat dominan, ia menarik pergelangan tangan Karina. Tenaga Darma yang dilatih secara militer dan disiplin tinggi terlalu kuat untuk dilawan.
"Mas! Lepas! Mas menyakiti saya! Mas mau apa?!" seru Karina panik, meskipun di dalam lubang hatinya, jantungnya mulai berpacu tidak keruan karena aura predator Darma yang keluar sepenuhnya.
"Saya akan menunjukkan padamu, siapa pemilik sah dari 'nvestasi berharga ini," ucap Darma parau. Ia tidak membawa Karina ke meja kerja untuk bicara bisnis, melainkan menyentakkan tubuh istrinya ke arah ranjang king-size berbahan sutra mereka.
Darma menjatuhkan Karina ke atas ranjang, lalu dengan cepat mengunci pergerakan istrinya dengan tubuhnya yang berat, hangat, dan kokoh. Emosi Darma yang biasanya terkubur di bawah lapisan es kini meledak menjadi gairah yang sangat posesif. Ia ingin menghapus setiap jejak pria lain dari pikiran Karina.
"Mas... Mas cemburu kan? Akui saja!" bisik Karina di sela napasnya yang memburu, mencoba mencari celah di balik wajah kaku suaminya.
Darma berhenti sejenak, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Karina. Matanya yang tajam berkilat gelap. "Ya, saya cemburu. Sangat cemburu hingga rasanya saya ingin menghancurkan apa pun yang pernah menyentuhmu sebelum saya. Puas?
Dan sebagai hukumannya, jangan harap kamu bisa menyentuh ponselmu atau keluar dari kamar ini sampai besok pagi."
Tanpa menunggu jawaban, Darma menyerang bibir Karina dengan ciuman yang ganas. Tidak ada lagi keraguan seperti di Paris. Ini adalah klaim mutlak. Karina kewalahan ia mencoba mendorong dada bidang Darma, namun kekuatannya tidak sebanding. Ciuman itu membungkam protesnya, mengubah amarah menjadi sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh.
Di bawah pendar lampu kristal yang temaram, terjadilah penyatuan mereka untuk kedua kalinya. Meskipun ini bukan lagi pengalaman pertama bagi Karina, namun intensitas yang diberikan Darma malam ini jauh lebih menuntut.
"Nnhh... Mas... pelan..." lenguh Karina, suaranya pecah saat Darma kembali masuk ke dalam dirinya. Meskipun tubuhnya sudah mulai mengenal suaminya, rasa perih dan sedikit sakit di area intinya masih terasa, membuatnya sedikit meringis. "Mas... hiks... masih sakit..."
Darma yang biasanya disiplin kini kehilangan kendali. Suara rintihan Karina justru terdengar seperti melodi yang memabukkan baginya. "Tahan sebentar, sayang... hanya saya yang boleh membuatmu merintih seperti ini," bisik Darma dengan suara serak yang penuh gairah.
Desahan dan erangan Karina memenuhi kamar megah itu. Darma seolah menemukan candu sekaligus obat bagi jiwanya yang dingin pada diri istrinya. Setiap sentuhan, setiap gesekan, membuat Darma semakin kehilangan akal sehatnya sebagai pebisnis ulung. Ia bukan lagi CEO dingin di Menara Hutomo; ia adalah pria yang sedang mabuk akan istrinya sendiri.
"Ahhh! Mas Darma... cukup... saya... saya sudah tidak kuat..." rintih Karina, tubuhnya melengkung, keringat membasahi dahi dan rambutnya yang tergerai di atas bantal.
Darma tidak berhenti. Setiap kali Karina mencoba menghirup oksigen di sela-sela cumbuan mereka, Darma kembali menariknya ke dalam pusaran intensitas yang lebih dalam. Seolah-olah setiap rintihan Karina adalah bahan bakar yang disiramkan ke dalam api yang sedang melahap kewarasan Sang Pewaris Cendana itu.
"Mas... sudah... saya mohon..." suara Karina nyaris hilang, hanya berupa bisikan parau yang bergetar. Keringat membanjiri pelipisnya, membuat rambut hitamnya menempel di bantal sutra. "Tubuh saya... rasanya mau pecah..."
Darma tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengeram rendah, sebuah suara maskulin yang keluar dari kerongkongannya saat ia merasakan penyatuan yang begitu pas, begitu sempurna, hingga ia sendiri kehilangan kendali atas otot-ototnya.
"Kamu tidak tahu... apa yang kamu lakukan pada saya, Karina," desis Darma dengan suara yang pecah oleh gairah. "Foto pria itu... senyummu di kamera itu... semuanya harus terhapus oleh apa yang saya berikan malam ini."
Darma semakin menggila. Ia memacu ritme dengan kekuatan yang seolah tidak memiliki batas bawah maupun atas. Jika biasanya ia adalah pria yang penuh perhitungan dan efisiensi, malam ini ia adalah badai yang menghancurkan segala logika bisnisnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Darma Mangkuluhur menyerah pada insting hewani yang selama ini ia kunci rapat di balik setelan jas mahalnya.
"Nnhhh... Mas Darma... ahh!" Karina memekik kecil, kepalanya mendongak ke belakang saat gelombang kenikmatan yang bercampur dengan sisa-sisa rasa perih menghantam kesadarannya. "Sakit... tapi... Mas..."
"Sebut nama saya, Karina! Katakan siapa pemilikmu!" tuntut Darma sambil memperdalam setiap gerakannya.
"Hah... hah... Mas Darma... hanya Mas..." rintih Karina, jemarinya mencengkeram sprei hingga jemarinya memutih, mencoba mencari pegangan di tengah guncangan yang tak henti-henti.
Darma ikut terengah-engah. Matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan api yang membara. Ia sendiri terkejut dengan bagaimana tubuh istrinya bisa menjadi candu yang begitu hebat. Ia mendesah berat, sebuah suara yang jarang terdengar, menandakan bahwa ia pun berada di ambang batas ketahanannya sendiri. Kenikmatan yang ia rasakan malam ini berbeda ini bukan sekadar pelampasan, ini adalah penaklukan jiwa.
"Ahh... Karina... kamu... milik saya..." gumam Darma, suaranya terdengar sangat posesif dan serak.
Desahan dan erangan Karina yang memenuhi kamar megah itu seolah menjadi simfoni yang memacu adrenalin Darma untuk terus menuntut lebih. Ia seolah ingin memastikan bahwa mulai detik ini, memori otot Karina hanya akan mengenali sentuhannya, dan telinga Karina hanya akan merespons suaranya.
Waktu seolah tidak berarti bagi mereka. Jarum jam terus berputar melewati tengah malam, merangkak menuju angka dua pagi. Namun, stamina Darma yang luar biasa hasil dari latihan fisik yang disiplin membuatnya tetap dominan meski Karina sudah hampir kehilangan kesadaran.
"Mas... saya sudah... tidak bisa..." bisik Karina untuk terakhir kalinya. Matanya mulai sayu, pandangannya mengabur saat puncak demi puncak gairah dipaksakan masuk ke dalam indranya.
Hingga akhirnya, saat fajar masih jauh di ufuk timur, seluruh energi Karina benar-benar terkuras habis. Tubuhnya yang mungil dan lelah itu akhirnya menyerah total. Di tengah proses penyatuan yang masih berlangsung dengan intensitas tinggi, kesadaran Karina perlahan menghilang. Ia jatuh pingsan, tak sadarkan diri dalam dekapan suaminya akibat kelelahan fisik dan guncangan emosi yang terlalu hebat.
Darma tersentak saat merasakan tubuh Karina tiba-tiba terkulai lemas tanpa perlawanan lagi. Ia segera menghentikan gerakannya, napasnya menderu seperti baru saja berlari maraton. Ia menatap wajah Karina yang terlelap karena pingsan di dadanya; wajah yang tampak begitu polos namun sarat akan jejak mereka malam ini.
Ia menyadari bahwa ia telah bertindak terlalu jauh, namun egonya merasa puas. Sang predator telah mengklaim wilayahnya sepenuhnya.
Darma perlahan-lahan mengatur napasnya, menyeka keringat di dahi Karina dengan jemarinya yang kini kembali tenang. Ia menarik selimut bulu angsa tebal untuk menutupi tubuh polos mereka berdua, memeluk istrinya yang tak sadar itu dengan protektif.
"Mulai sekarang, tidak ada lagi ruang untuk orang lain di kepalamu, Karina," bisik Darma ke telinga istrinya yang tidak merespons. "Tidak ada aktor, tidak ada foto lama, bahkan tidak ada masa lalu. Hanya saya. Hanya Darma Mangkuluhur yang boleh ada di nadimu."
Darma mengecup dahi Karina dengan penuh kepemilikan sebelum akhirnya ikut terlelap di tengah kesunyian malam Menteng, merasa menang atas investasi paling berharga yang pernah ia miliki.
*****
Bersambung.....
Kasian kasian kasian.... Ayunnnkuhhh...