Arumi tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir sebagai "jaminan" utang. Dipaksa menikah dengan seorang rentenir tua yang kejam demi melunasi hutang keluarganya, Arumi nekat melakukan aksi gila .
Dalam keputusasaan di tengah taman kota matanya tertuju pada sosok pria tampan yang sedang sibuk mengipasi tusukan bakso. Tanpa pikir panjang, Arumi menarik tangan Elang, sang penjual bakso bakar, dan mengakuinya sebagai calon suami di hadapan Ayahnya
Siapa sangka, Elang yang terlihat sederhana dengan apron hitamnya itu menyanggupi tantangan Arumi. Namun, di balik aroma asap arang dan bumbu kacang, ada rahasia besar yang disimpan Elang. Apakah pernikahan Dadakan ini akan membawa kebahagian ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar dan kejutan untuk Arumi
Perjalanan menuju pasar pagi itu menjadi pengalaman yang unik bagi Arumi. Ternyata, letak pasar dari kontrakan Elang tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit berkendara dengan motor matic milik Elang mereka sudah sampai di area parkir yang mulai dipadati pengunjung.
“Kamu turun di sini dulu, ya. Aku mau cari tempat parkir yang agak lowong,” ujar Elang begitu mereka sampai di depan gerbang pasar.
“Iya, Mas,” jawab Arumi singkat. Ia segera turun dari motor dan merapikan pakaiannya, kemudian menunggu di dekat tiang listrik besar sambil memperhatikan hiruk-pikuk aktivitas pasar yang khas. Aroma rempah-rempah, ikan segar, dan suara tawar-menawar memenuhi udara pagi yang masih sejuk.
Tak lama kemudian, Elang berjalan mendekati Arumi setelah memarkirkan motor. “Sudah, Mas?” tanya Arumi.
“Sudah. Ayo, nanti aku bantu bawa belanjaannya,” ucap Elang menawarkan diri.
Arumi sempat ragu. Seumur hidupnya, ia belum pernah berbelanja di pasar tradisional didampingi oleh seorang pria. “Mas Elang tidak malu ikut masuk ke dalam pasar? Biasanya kan isinya ibu-ibu semua.”
Elang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tampak sedikit canggung. “Sebenarnya … aku belum pernah masuk ke dalam pasar tradisional seperti ini, Arumi. Jadi, aku belum tahu suasana di dalam seperti apa.”
Kening Arumi berkerut heran. “Mas Elang belum pernah ke pasar? Beneran?” tanyanya memastikan. Ia merasa aneh, mengingat profesinya sebagai penjual bakso bakar. Logikanya, seorang pedagang makanan pasti akrab dengan urusan pasar. “Lalu, selama ini untuk dagangan bakso bakar, Mas beli bahannya di mana?”
“Begini, Arumi,” Elang mencoba memberi penjelasan sembari berjalan perlahan di samping Arumi. “Setiap hari aku mau dagang, semuanya sudah ada yang menyiapkan. Bahan bakso, bumbu, sampai tusuknya sudah tersedia. Aku tinggal mengambil gerobak, membakarnya, dan berkeliling atau mangkal di taman.”
“Hah? Jadi ada orang lain yang menyiapkan semuanya?”
Elang mengangguk. “Iya, ada temanku. Dia yang mengurus bagian produksi dan bahan baku. Aku tinggal menjualkan saja.”
“Terus pembagian hasilnya bagaimana, Mas?” tanya Arumi penasaran.
“Emm … ya, dia mendapatkan sepertiga dari keuntungan bersih,” jawab Elang sedikit ragu-ragu. Arumi menangkap ada sesuatu yang ia sembunyikan dari sorot matanya, tapi ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh. Mereka masih terlalu asing untuk saling membongkar rahasia pribadi sedalam itu.
“Ya sudah kalau begitu, Mas Elang tunggu di sini saja. Biar aku yang masuk ke dalam,” ujar Arumi.
“Tapi, apa kamu tidak kesulitan membawa barang-barang sendirian? Sebaiknya aku ikut membantu,” tawar Elang lagi, tampak sangat protektif.
“Tidak usah, Mas. Mas tunggu di area parkiran saja atau di depan toko sembako itu. Di dalam sangat becek dan penuh sesak, Mas pasti tidak nyaman. Aku hanya beli sayuran dan lauk pauk sedikit. Untuk beras dan kebutuhan pokok lainnya, nanti kita beli di toko sembako besar di depan sana saja agar tidak perlu masuk ke gang sempit pasar,” jelas Arumi panjang lebar.
Elang akhirnya setuju. “Ya sudah, aku tunggu di sini. Kalau butuh bantuan atau ada apa-apa, panggil aku saja, ya.”
Arumi masuk ke dalam pasar dengan gesit. Dengan uang satu juta di tangan, ia harus sangat bijak mengatur belanjaannya. Ia membeli sayur-mayur segar seperti kangkung, bayam, terong, dan wortel. Kemudian ia memilih ikan kembung dan ikan nila yang masih berkilau, serta daging ayam kampung untuk stok satu minggu ke depan. Ia juga tak lupa membelikan titipan Mbak Susi sesuai pesanannya: seikat daun bawang, cabe rawit, dan beberapa butir telur. Arumi bersyukur melihat di kontrakan Elang ada kulkas dua pintu yang cukup besar, sehingga ia bisa menyimpan semua bahan makanan agar tetap segar.
Sekitar empat puluh lima menit berlalu, Arumi keluar dari pasar dengan dua kantong plastik besar di tangan kanan dan kiri. Beban itu cukup berat, tapi hatinya ringan karena berhasil berbelanja dengan harga yang cukup terjangkau. Namun, begitu sampai di tempat mereka berjanji bertemu, Mas Elang tidak ada di sana.
“Lho, Mas Elang mana?” Arumi celingak-celinguk mencari sosok tinggi berambut gondrong itu. Motor matic miliknya pun tidak terlihat di tempat parkir semula.
Jantung Arumi mulai berdegup kencang. “Apa dia meninggalkanku? Apa aku terlalu lama di dalam sehingga dia bosan dan pergi membawa motor aku?” pikirnya kalut. Rasa takut dibuang untuk kedua kalinya dalam dua hari mulai menghantui benaknya.
“Masa Mas Elang tega meninggalkanku sendiri di pasar? Bagaimana aku pulang?” gumam Arumi nyaris menangis. Ia mendekati tukang parkir yang sedang bertugas. “Mas, maaf, melihat orang yang tadi bersamaku tidak? Yang tinggi, rambutnya agak panjang, pakai motor Beat hitam.”
“Oh, Mas yang tadi?” sahut tukang parkir itu ramah. “Tadi dia pamit sebentar, Mbak. Katanya ada urusan mendesak yang harus dibeli. Dia pesan, kalau Mbaknya sudah keluar, disuruh tunggu sebentar. Katanya tidak akan lama.”
Arumi menghela napas lega. “Oh, begitu. Terima kasih, Mas.”
Ia duduk di bangku kayu dekat pos parkir sambil sesekali meluruskan punggung yang pegal karena membawa kantong belanjaan. Tak lama kemudian, Mas Elang datang dengan motor Beat milik Arumi. Ia tampak sedikit terengah-engah, rambut gondrongnya agak acak-acakan oleh angin.
“Maaf, Arumi. Kamu sudah lama menunggu? Tadi ada sesuatu yang harus segera kubeli,” kata Elang sambil mematikan mesin motor.
“Tidak terlalu lama, Mas. Mas dari mana?” tanya Arumi sambil berdiri.
“Hanya keluar sebentar cari keperluan. Ayo, kita ke toko sembako dulu sebelum pulang,” jawab Elang singkat.
Mereka segera berbelanja di toko sembako besar di depan pasar: beras lima kilo, minyak goreng dua liter, gula, garam, kecap, dan beberapa bumbu dapur lainnya. Setelah semua barang dimasukkan ke dalam dua kantong besar, Elang membantu Arumi membawa sebagian besar belanjaan. Mereka meluncur kembali ke kontrakan dengan motor yang kini agak lebih berat.
Begitu sampai di depan kontrakan, Arumi dikejutkan oleh sebuah mobil pick-up yang terparkir tepat di depan pintu rumah mereka. Di atas bak mobil itu, tampak barang-barang baru yang masih terbungkus plastik: sebuah mesin cuci, televisi berukuran 32 inci, kipas angin standing, dan sebuah kasur busa tebal yang tampak sangat empuk dan nyaman.
“Lho, itu mobil siapa, Mas? Kenapa berhenti di depan rumah kita? Memangnya siapa yang beli barang sebanyak itu?” tanya Arumi heran saat turun dari motor.
Elang hanya tersenyum tipis tanpa menjawab langsung. Ia justru membantu menurunkan kantong belanjaan Arumi dan membawanya masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian, Mbak Sari keluar dari rumahnya dengan wajah heboh seperti biasa.
“Wah, Mas Elang! Borong besar-besaran ya?” seru Mbak Susi sambil melongo melihat barang-barang di bak pick-up.
Elang tertawa kecil. “Ah, tidak juga, Mbak Sari. Ini hanya untuk melengkapi kebutuhan Arumi. Mbak tahu sendiri, selama ini saya tinggal sendiri dan rumah ini kosong melompong tidak ada furniturnya.”
Mbak Sari menoleh pada Arumi dengan mata berbinar-binar. “Wah, Arumi! Beruntung sekali kamu punya kakak seperti Elang. Sayang sekali dia sama adiknya sampai dibelikan mesin cuci dan TV baru. Pasti habis banyak uang ini!”
Arumi terpaku di tempat. Jadi, saat dia menghilang di pasar tadi, Elang pergi untuk membeli semua ini? Uang dari mana? Bukankah tadi di dompetnya hanya ada beberapa juta rupiah? Barang-barang ini harganya pasti jauh di atas itu.
“Beneran, Mas? Ini semua Mas yang beli?” tanya Arumi saat Mbak Susi sedang sibuk memeriksa merek mesin cuci tersebut.
“Iya, Arumi. Ini semua untuk mengisi rumah kita,” jawab Elang pelan. “Dan kasur itu … itu untuk kamar pribadimu yang akan kita bereskan nanti,” bisiknya di dekat telinga Arumi.
Mata Arumi seketika berkaca-kaca. Perlakuan Elang berbanding terbalik dengan ayah kandungnya yang justru merampas apa yang ia miliki. Elang, yang baru mengenalnya, justru berusaha memberikan kenyamanan maksimal untuknya. Hatinya hangat, tapi sekaligus bingung. Dari mana pria ini mendapatkan uang sebanyak itu hanya untuk membelikan barang-barang mewah bagi seorang “istri pura-pura”?
“Terima kasih, Mas … Mas terlalu baik padaku,” ucap Arumi dengan suara bergetar.
Mbak Sari yang melihat mereka berdiri berdekatan kembali berkomentar, “Duh, kenapa kalian kaku sekali? Biasanya kalau kakak adik diberi hadiah sebanyak ini pasti pelukan. Elang ini perhatian sekali, lho!”