Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Wajah di Atas Satu Panggung
📖 BAB 22: Dua Wajah di Atas Satu Panggung
Ruangan itu seolah berhenti bernapas.
Ratusan tamu undangan, investor, wartawan, dan keluarga elit yang terbiasa melihat skandal mahal kini berdiri mematung menatap panggung.
Di sisi kiri, Lin Qingyan dengan gaun merah gelap, wajah dingin dan mata menyala.
Di sisi kanan, Xue dengan gaun putih elegan, wajah yang nyaris sama namun senyum berbahaya.
Dua wanita.
Satu wajah.
Dua badai.
Kilatan kamera meledak tanpa henti.
“Ya Tuhan…”
“Mereka kembar?”
“Siapa yang asli?”
“Ini lebih gila dari drama prime time.”
Han, yang berdiri dekat pintu bersama tim keamanan Gu Group, menghela napas panjang.
“Saya tahu harus ambil cuti.”
---
Qin Taishan berdiri dengan tongkat hitamnya, rahang menegang.
Untuk pertama kali malam itu, pria tua itu kehilangan kendali panggung.
Madam Qin maju satu langkah.
“Matikan siaran langsung sekarang.”
Seorang staf panik menekan earpiece.
Namun terlambat.
Salah satu wartawan berteriak,
“Kami sudah live di semua platform!”
Ruangan makin ricuh.
Armand menyesap sampanye sambil tersenyum tipis.
“Indah sekali.”
Serin berdiri di dekat pilar, tangan bersedekap.
“Aku menunda tidur demi ini. Jangan mengecewakan.”
---
Qingyan menatap Xue.
“Apa permainanmu?”
Xue memiringkan kepala.
“Permainan? Aku hanya menyukai panggung.”
“Kau dipaksa datang.”
“Benar.”
“Lalu kenapa tersenyum?”
“Karena aku juga suka balas dendam.”
Beichen berdiri di samping Qingyan, tatapannya tak lepas dari Xue.
“Pilih kata berikutnya dengan hati-hati.”
Xue tertawa kecil.
“Aku tidak sedang bicara denganmu.”
“Sayang sekali. Semua ancaman terbaik datang dariku.”
Han berbisik ke staf sebelahnya.
“Mereka benar-benar pasangan.”
---
Qin Taishan menghantam lantai dengan tongkat.
“CUKUP!”
Suara itu menggema di aula.
Semua mata beralih padanya.
Ia melangkah ke depan panggung seperti raja tua yang menolak turun takhta.
“Keluarga Qin meminta maaf atas gangguan malam ini.”
Ia menunjuk Qingyan.
“Wanita itu mengalami ketidakstabilan emosional dan—”
“Bohong.”
Suara Qingyan memotong tajam.
Tak keras.
Namun mematikan.
Ia berjalan satu langkah ke depan, menatap langsung kamera.
“Dua puluh lima tahun lalu, saya dibawa keluar dari fasilitas milik keluarga Qin.”
Ruangan meledak dengan bisik-bisik.
Madam Qin memucat.
Taishan menatap tajam.
“Kau tak tahu apa yang kau katakan.”
Qingyan mengangkat dagu.
“Kalau begitu bantah di bawah sumpah.”
---
Wartawan mulai berteriak dari bawah panggung.
“Fasilitas apa?”
“Apakah ada eksperimen ilegal?”
“Apakah ini terkait kebakaran lama?”
“Apakah wanita di kanan juga korban?”
Xue mengangkat mikrofon santai.
“Ya, aku juga ingin tahu jawabannya.”
Qingyan meliriknya.
“Kau bantu aku?”
“Jangan sentimental.”
Xue menyilangkan kaki sambil berdiri miring.
“Aku hanya benci dipakai orang tua busuk.”
Serin bertepuk tangan pelan dari sudut ruangan.
“Dia favorit baruku.”
---
Madam Qin mengambil mikrofon cadangan.
“Media harap tenang. Dua wanita ini sedang dimanfaatkan pihak tertentu untuk menyerang keluarga kami.”
Beichen langsung maju.
“Pihak tertentu itu saya.”
Semua kepala menoleh.
Ia berdiri tegak, tenang, tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Saya Gu Beichen. Dan saya punya cukup uang untuk menyerang siapa pun secara legal.”
Beberapa wartawan hampir tertawa.
Investor mulai panik.
Ponsel-ponsel berbunyi serempak.
Han melihat layar tabletnya.
“Tuan.”
“Apa.”
“Saham Qin turun tujuh persen dalam tiga menit.”
“Kurang.”
“Siap.”
---
Taishan menunjuk Beichen dengan tongkat.
“Kau pikir bisa menghancurkan kami dengan media?”
Beichen menatapnya datar.
“Saya pikir bisa menghancurkan Anda dengan bukti.”
Lalu ia menoleh pada layar LED raksasa di belakang panggung.
“Han.”
“Sudah siap.”
Layar besar berkedip.
Logo acara hilang.
Digantikan rekaman hitam-putih dari lorong laboratorium lama.
Tanggal dua puluh lima tahun lalu muncul di sudut.
Ruangan langsung sunyi.
Qingyan menahan napas.
Itu rekaman kaset.
---
Terlihat alarm merah.
Bayi-bayi dalam kapsul.
Orang berlari.
Elena Qin memegang seorang bayi.
Dan di balkon atas—
Qin Taishan muda berdiri menonton.
Tanpa menolong.
Tanpa bergerak.
Hanya menonton.
Jeritan memenuhi aula.
“Itu dia!”
“Ya Tuhan!”
“Dia membiarkan itu terjadi?”
Madam Qin berteriak pada teknisi.
“MATIKAN!”
Han mengangkat tangan dari belakang.
“Server-nya milik kami sekarang.”
Armand tertawa terbahak.
“Aku sungguh menikmati ini.”
---
Taishan tak lagi terlihat seperti raja.
Untuk pertama kali, ia tampak tua.
Namun hanya sesaat.
Tatapannya berubah dingin.
“Keamanan.”
Belasan pria berbaju hitam masuk dari pintu samping.
Bukan keamanan hotel.
Bukan polisi.
Mereka bergerak terlalu rapi.
Terlalu militer.
Han langsung siaga.
“Semua tim Gu, formasi!”
Beichen menarik Qingyan ke belakang sedikit.
“Aku benci saat benar,” gumamnya.
“Ini bukan waktu sombong!”
“Selalu ada waktu.”
---
Pria-pria bersenjata itu menyebar ke aula.
Wartawan menjerit panik.
Tamu-tamu kaya berebut keluar.
Lampu utama padam.
Aula gelap gulita.
Hanya cahaya darurat merah menyala.
Seseorang menembak ke langit-langit.
Kaca pecah.
Qingyan meraih tangan Beichen tanpa sadar.
“Aku di sini,” katanya rendah.
Entah kenapa, dua kata itu menenangkan.
Xue muncul di sisi lain panggung seperti bayangan.
Ia melempar satu pistol kecil ke Qingyan.
“Tangkap.”
Qingyan menangkap refleks.
“Aku tak bisa menembak.”
“Belajar cepat.”
---
Serin melompat ke atas panggung sambil membawa tongkat besi entah dari mana.
“Akhirnya pesta.”
Armand membuka jasnya, mengeluarkan senjata tipis dari punggung.
Madam Qin menatap anak-anaknya dengan ngeri.
“Kalian gila?”
Serin tersenyum.
“Kami dibesarkan olehmu.”
Di bawah, pria bersenjata mulai maju ke arah panggung.
Beichen menembak lampu sisi kanan.
Gelap total di sektor itu.
Han dan timnya bergerak cepat.
Teriakan. Dentuman. Langkah kaki.
Qingyan jantungnya hampir pecah.
Namun kali ini ia tidak lari.
---
Seorang pria bertopeng naik ke panggung dan menyerbu ke arahnya.
Tanpa pikir panjang Qingyan mengayunkan mikrofon logam ke wajahnya.
Pria itu roboh sambil mengumpat.
Xue bersiul.
“Lumayan.”
“Diam dan bantu!”
“Sudah.”
Xue menendang penyerang kedua turun dari panggung.
Beichen melirik sekilas.
“Aku mulai mengerti kenapa kalian cocok.”
“Kami tidak cocok!” kata keduanya bersamaan.
Han berteriak dari bawah.
“Sangat cocok!”
---
Di tengah kekacauan, Qin Taishan mundur menuju pintu belakang bersama dua pengawal.
Qingyan melihatnya.
Ia melihat pria itu hendak kabur.
Semua kemarahan dua puluh lima tahun terasa menyala sekaligus.
“Dia lari!”
Ia berlari turun panggung.
“Qingyan!” teriak Beichen.
Namun ia tak berhenti.
Ia menerobos kursi jatuh, melewati tamu yang bersembunyi, mengejar pria tua itu ke koridor belakang.
Pintu darurat terbuka.
Angin malam masuk.
Taishan menoleh sekali.
Mata mereka bertemu.
Ia tersenyum tipis.
“Mirip ibumu.”
Lalu menekan tombol di dinding.
Ledakan mengguncang lantai bawah.
Koridor berguncang hebat.
Qingyan terjatuh.
Lampu padam total.
Dan saat debu memenuhi udara—
Qin Taishan menghilang.
Dari kejauhan, suara Beichen memanggil namanya.
Namun yang lebih membuat darah Qingyan membeku adalah suara lain dari kegelapan:
“Jangan bergerak... kalau kau masih ingin tahu siapa ayah kandungmu.”
BERSAMBUNG