Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.
Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.
Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesiapan di Balik Kemalasan
...Chapter 16...
Huan Zheng tidak menjawab dengan sombong atau rendah hati.
Ia hanya menggaruk perutnya yang tidak gatal, lalu berkata dengan nada yang terdengar seperti sedang mengeluh tentang harga tahu di pasar.
"Masih lama, Nona Racun. Tiga Puluh Dua ke Tiga Puluh Tiga butuh waktu. Dan dari Tiga Puluh Tiga ke Langit Terang... ah, itu cerita yang berbeda."
Namun di matanya yang malas itu, Ling Xu melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Bukan ambisi, karena Huan Zheng terlalu malas untuk ambisi, melainkan kesiapan—kesiapan seorang pria yang tahu bahwa sebentar lagi ia harus melepas topengnya, dan dunia tidak akan pernah sama setelah itu.
Undangan dari kota laut terbesar—Kota Naga Mutiara, satu-satunya metropolis di dasar samudra yang masih dihuni oleh keturunan dewa-dewa laut kuno—datang bukan dalam bentuk surat atau lencana, melainkan dalam bentuk air mata yang membeku menjadi mutiara, diutus langsung oleh pengawal Ratu Samudra yang namanya hanya dibisikkan oleh ombak dan tidak pernah ditulis dalam kitab mana pun.
"Ratu Samudra ingin bertemu dengan kalian berdua," ucap utusan yang tubuhnya setengah manusia setengah ubur-ubur, dengan suara yang terdengar seperti gelembung yang pecah di permukaan air, "karena hanya sedikit makhluk di dunia ini yang berhasil mencapai Supranatural Lintang Tingkat Ketiga Puluh Dua tanpa menarik perhatian para Dewa Pengawas—dan karena Nona Ling Xu, dengan Lintang Esa Tingkat Kedelapan Belasnya, telah menyembuhkan lebih dari dua puluh ribu pasien di kota-kota darat, sebuah rekor yang bahkan tabib manusia sekalipun tidak bisa melampaui."
Perjalanan menuju Kota Naga Mutiara seharusnya hanya memakan waktu tiga hari melewati jalur darat sebelum menyelam ke dasar samudra, namun setiap kali Ling Xu dan Huan Zheng berhenti di pos peristirahatan atau warung pinggir jalan, udara di sekitar mereka terasa berbeda—lebih berat, lebih tegang, seperti sebelum badai yang tidak kunjung datang.
Di sebuah kedai teh di persimpangan jalan antara kota Tianque dan pelabuhan timur, Ling Xu mendengar bisikan-bisikan dari meja sebelah.
Dua pedagang kain dengan wajah pucat sedang berbisik tentang "tiga roda yang mulai menunjukkan taringnya", tentang "sesuatu yang bergerak di balik tirai setelah sekian lama terlelap", dan ketika salah satu dari mereka menyebut nama "Roda nomor satu", pedagang lainnya langsung menutup mulut temannya dengan tangan yang gemetar, seperti menutup mulut orang yang hendak meludahi kuburan.
"Maaf, Tuan-tuan," Ling Xu menyelak dengan senyum ramah yang ia pelajari selama bertahun-tahun menjadi tabib—senyum yang membuat orang merasa aman meskipun sebenarnya ia sedang menggali informasi, "siapa itu tiga Roda Kultivasi yang kalian bicarakan?"
Namun begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya, suasana berubah.
Kedua pedagang itu membeku, wajah mereka berubah dari pucat menjadi abu-abu seperti mayat, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mereka berdiri, melemparkan beberapa koin ke meja dengan gerakan yang terlalu cepat, lalu berjalan—hampir berlari—meninggalkan kedai teh dengan sandal yang terlepas di kaki kiri salah satu dari mereka.
"Tunggu—"
Ling Xu hendak bangkit, tapi Huan Zheng yang duduk di seberangnya dengan semangkuk teh yang sudah dingin sejak satu jam lalu hanya mengangkat tangannya malas, memberi isyarat untuk tidak usah dikejar.
"Percuma, Nona Racun," ucapnya, suaranya terdengar seperti orang yang sedang menjelaskan mengapa tidak perlu mengejar kupu-kupu yang sudah terbang jauh.
“Mereka tidak akan menjawab. Dan jika kau paksa, mereka akan lebih takut pada bayang-bayang nama itu daripada pada belati di leher mereka."
Sepanjang perjalanan menuju pelabuhan, Ling Xu mencoba tiga kali lagi—kepada seorang pejabat pengawas jalan yang sedang memeriksa surat izin, kepada seorang nelayan tua yang sedang memperbaiki jaring di tepi sungai, dan kepada seorang pendeta kecil yang sedang membakar dupa di altar pinggir jalan.
Hasilnya sama.
Semua orang ketakutan, semua orang menjauh, semua orang memintanya untuk tidak melanjutkan pertanyaan, seolah-olah nama "tiga Roda Kultivasi" adalah mantra yang bisa memanggil kematian dari tempat persembunyiannya.
"Ini seperti hantu yang tidak boleh disebut namanya," gumam Ling Xu pada malam hari, saat mereka berkemah di tepi tebing yang menghadap ke laut, dengan api unggun yang berkedip-kedip melawan angin malam yang dingin, "tapi justru itu yang membuatku semakin penasaran. Huan Zheng—"
Ia menoleh ke arah pria yang sudah terbaring di atas tikar bambu dengan tangan dijadikan bantal, matanya setengah terpejam seperti kucing yang hampir tertidur.
"Kau tahu, kan? Siapa mereka? Tiga Roda Kultivasi itu?"
Huan Zheng tidak menjawab segera.
Untuk beberapa saat, hanya terdengar suara ranting yang terbakar dan ombak yang menghantam tebing di bawah mereka, seperti dua suara yang saling bergantian menjadi latar bagi keheningan yang terasa terlalu lama.
Kemudian, Huan Zheng menghela napas.
Bukan napas lelah biasa, melainkan napas seorang pria yang sedang membuka peti tua yang sudah berdebu, berisi sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
"Tiga Roda Kultivasi," ucapnya akhirnya, suaranya masih malas tapi anehnya berat, seperti batu yang dijatuhkan ke dalam sumur yang sangat dalam, "adalah monster, Ling Xu. Bukan kiasan. Bukan julukan. Mereka benar-benar monster. Puncak kekuatan di semesta ini, bahkan pantas dianggap sebagai Tuhan kedua setelah para Dewa yang kalah dalam Pertentangan Harmoni."
Ia berguling sedikit, menatap api unggun dengan mata yang menerima pantulan cahaya jingga, dan untuk sesaat, wajahnya yang biasanya malas dan acuh tak acuh itu terlihat tua—tua dengan cara yang aneh, seperti patung batu yang sudah berdiri selama ribuan tahun dan menyaksikan terlalu banyak kerajaan runtuh di depan matanya.
"Pamor mereka baru muncul setelah Pertentangan Harmoni berakhir," lanjutnya, "sebelum itu, mereka hanyalah pejuang garis terdepan dalam barisan umat manusia. Bukan jenderal, bukan panglima, bukan pemimpin—hanya pejuang. Tapi setelah perang usai, setelah para Dewa dikalahkan dan dunia dibagi ulang, sesuatu terjadi pada mereka bertiga. Mereka berubah. Atau mungkin... mereka menemukan sesuatu yang selama ini tersembunyi di dalam diri mereka sendiri."
Ling Xu yang duduk bersila di seberang api unggun, dengan mata yang tidak berkedip, merasakan dadanya berdebar lebih cepat.
Bukan karena takut, karena ia sudah terlalu sering menghadapi kematian untuk takut pada cerita, melainkan karena ia merasakan sesuatu yang aneh di ujung lidahnya, seperti ketika ia hendak mengingat nama seseorang yang sudah lama tidak ia jumpai, tapi ingatan itu terus melesat sebelum sempat tertangkap.
"Ada dua pria dan satu wanita," Huan Zheng melanjutkan, suaranya semakin pelan, semakin dalam, seperti orang yang sedang membacakan mantra dalam bahasa yang tidak ia mengerti tapi tetap ia hafal sejak kecil, "masing-masing memiliki julukan yang membuat seluruh semesta gemetar. Julukan-julukan itu bukan diberikan oleh orang lain—mereka mengambilnya sendiri, setelah perang usai, setelah mereka sadar bahwa tidak ada lagi yang bisa menghentikan mereka."
Api unggun di tepi tebing itu kini hanya tinggal bara yang berkedip pelan, seperti mata yang sedang berusaha keras untuk tidak terpejam, dan di antara kegelapan yang mulai merayap dari laut, Huan Zheng melanjutkan ceritanya dengan suara yang terdengar seperti angin yang berbisik di sela-sela batu karang.
"Yang ketiga," ucapnya, matanya yang malas tiba-tiba berubah—menjadi lebih jernih, lebih dalam, seperti air danau yang tiba-tiba menunjukkan dasarnya setelah bertahun-tahun tertutup kabut, "adalah seorang wanita. Rambutnya merah seperti bara yang menolak padam, dan ia dijuluki Si Penyanyi. Bukan karena suaranya merdu—meskipun sebenarnya merdu juga—tapi karena setiap nada dari seruling hijau di bibirnya bisa meretakkan langit, membelah lautan, atau membuat seribu kultivator berlutut tanpa bisa mengangkat pedang mereka."
Bersambung…