NovelToon NovelToon
Amore, Indigo, & Vendetta

Amore, Indigo, & Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Mata Batin
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
​Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terjebak di Ruang Bawah Tanah Berhantu

Mansion Vittorio menyimpan ribuan rahasia, namun tidak ada yang lebih gelap daripada area "Level -3"—sebuah labirin ruang bawah tanah yang dibangun pada abad ke-16, jauh sebelum fondasi beton modern diletakkan. Area ini biasanya terkunci rapat, namun sebuah kegagalan sistem pada pintu hidrolik saat pemeriksaan keamanan rutin membuat Kaivan dan Gendis terperangkap di dalamnya.

​Suara dentuman pintu baja yang tertutup otomatis menggema di lorong sempit itu, diikuti oleh keheningan yang memekakkan telinga. Lampu darurat berwarna merah menyala redup, memberikan kesan menyeramkan pada dinding batu yang lembap.

​"Marco! Kau dengar aku? Buka pintunya!" Kaivan mencoba berbicara melalui radio panggilnya, namun hanya suara statis yang terdengar. "Sial. Sinyalnya terputus. Dinding di sini mengandung timbal yang sangat tebal."

​Gendis, yang berdiri di belakang Kaivan, tidak peduli dengan sinyal radio. Ia sibuk menatap kegelapan di ujung lorong yang tidak terjangkau oleh lampu darurat. Bulu kuduknya berdiri tegak, dan napasnya mulai terlihat seperti uap di udara yang mendadak menjadi sangat dingin.

​"Kak... jangan teriak-teriak," bisik Gendis, suaranya bergetar. "Kakak malah bikin 'mereka' bangun. Tempat ini bukan cuma gudang tua. Ini adalah bekas ruang penyiksaan masa inkuisisi yang dikubur hidup-hidup."

Kaivan menyalakan senter taktis dari senjatanya. Cahaya putih yang tajam membelah kegelapan, menampakkan deretan sel-sel besi yang sudah berkarat dan rantai-rantai yang masih menggantung di langit-langit.

​"Ini adalah bagian dari sejarah hitam Sisilia, Gendis. Aku bahkan tidak tahu area ini masih bisa diakses," ucap Kaivan, ia mencoba tetap tenang demi Gendis, meskipun insting mafianya mengatakan ada sesuatu yang salah.

​Mereka mulai berjalan menyusuri lorong, mencari jalan keluar alternatif. Setiap langkah mereka menimbulkan gema yang aneh, seolah-olah ada langkah kaki lain yang mengikuti dari belakang namun berhenti setiap kali mereka berhenti.

​"Kak, liat itu," Gendis menunjuk ke arah dinding.

​Di sana, terlihat guratan-guratan tangan yang sudah menghitam. Bukan tulisan, melainkan coretan putus asa dari orang-orang yang pernah dikurung di sana berabad-abad lalu. Gendis bisa merasakan sisa-sisa energi kesakitan yang begitu pekat hingga kepalanya terasa berdenyut.

​Tiba-tiba, suara tangisan lirih seorang wanita terdengar dari salah satu sel. Suaranya sayup-sayup, namun menusuk hingga ke tulang.

​"Aiutatemi... aiutatemi..." (Tolong aku... tolong aku...)

​"Siapa di sana?!" Kaivan langsung mengarahkan senternya ke dalam sel, namun sel itu kosong. Hanya ada tumpukan jerami busuk dan sebuah tengkorak yang sudah hancur.

​"Dia nggak butuh bantuan fisik, Kak. Dia minta dilepaskan dari ingatan tempat ini," bisik Gendis. Ia mengambil tasbih kayu di tangannya, mencoba memutar energinya untuk menciptakan perisai cahaya.

Semakin dalam mereka masuk ke dalam labirin, suasana semakin mencekam. Kabut tipis mulai muncul di permukaan lantai, merayap naik hingga ke lutut mereka. Kabut itu bukan uap air, melainkan manifestasi dari energi negatif yang terkumpul selama ratusan tahun.

​Tiba-tiba, senter Kaivan mulai berkedip-kedip.

​"Sial, baterainya penuh, kenapa bisa mati?" Kaivan mengguncang senternya.

​JEP!

​Lampu darurat merah mati total. Mereka berada dalam kegelapan yang absolut.

​Dalam kegelapan itu, Gendis melihat ribuan mata merah mulai terbuka di sepanjang dinding lorong. Itu adalah arwah para narapidana dan korban perang yang jiwanya sudah terdistorsi menjadi monster haus darah karena terlalu lama terjebak di kegelapan.

​"Kak! Pegang tangan saya! Jangan dilepas!" teriak Gendis.

​Kaivan merasakan tangan Gendis yang kecil namun bertenaga mencengkeram lengannya. Di saat yang sama, ia merasakan hembusan napas dingin di tengkuknya, diikuti oleh suara tawa yang melengking.

​"Darah Vittorio... akhirnya kau datang ke tempat pembantaian nenek moyangmu..." sebuah suara berat menggema, membuat lantai batu yang mereka pijak bergetar.

​Sesosok makhluk raksasa dengan tubuh yang terbentuk dari tumpukan bayangan hitam muncul di depan mereka. Ia mengenakan baju zirah kuno yang sudah hancur, dan di tangannya ia memegang sebuah kapak besar yang mengeluarkan aura kematian.

Kaivan tidak bisa melihat makhluk itu, tapi ia bisa merasakan ancaman kematian yang nyata. Ia menembakkan senjatanya ke arah depan, namun peluru-peluru itu hanya menembus bayangan tanpa memberikan efek apa pun.

​"Peluru nggak guna, Kak! Dia adalah L'Ombra del Boia—Bayangan sang Algojo!" Gendis segera melepaskan gelang tridatunya dan melemparkannya ke udara.

​Gelang itu bersinar dengan cahaya keemasan yang terang, memberikan pencahayaan darurat. Gendis mulai merapalkan mantra perlindungan tingkat tinggi, suaranya yang merdu kini terdengar seperti guntur yang memecah kesunyian bawah tanah.

​"Kak Kaivan! Ingat janji kita! Darah kita sudah menyatu! Gunakan keinginan Kakak untuk melindungi saya sebagai senjata! Bayangkan cahaya di tangan Kakak!" perintah Gendis.

​Kaivan memejamkan mata. Ia memfokuskan seluruh cintanya dan amarahnya untuk melindungi Gendis. Ia membayangkan sebuah pedang cahaya yang terbuat dari kehendak murninya. Secara ajaib, keris pusaka yang terselip di pinggangnya mulai mengeluarkan cahaya perak yang menyilaukan.

​Kaivan menerjang maju. Meskipun ia tidak bisa melihat makhluk itu secara utuh, insting bertarungnya yang sudah terasah selama bertahun-tahun membimbing gerakannya. Ia mengayunkan keris pusaka itu, membelah kabut hitam dan mengenai baju zirah sang Algojo.

​SRAAAK!

​Makhluk itu meraung kesakitan saat logam suci itu membakar esensinya.

Namun, sang Algojo tidak menyerah begitu saja. Ia menghantamkan kapaknya ke lantai, menciptakan gelombang kejut yang membuat Gendis terlempar ke dinding sel.

​"Gendis!" teriak Kaivan.

​Saat Kaivan hendak berlari menolong Gendis, pemandangan di sekitarnya berubah. Ia tidak lagi berada di ruang bawah tanah, melainkan berada di tengah medan perang yang penuh mayat. Di depannya berdiri sosok ayahnya, Don Lorenzo, dengan luka tusukan di punggung.

​"Ini salahmu, Kaivan... kau membiarkan Gendis mati seperti kau membiarkanku mati..." suara ayahnya terdengar penuh tuduhan.

​Kaivan terpaku. Rasa bersalah yang selama ini ia pendam muncul kembali ke permukaan, melemahkan pertahanan mentalnya. Cahaya pada kerisnya mulai meredup.

​Di sisi lain, Gendis melihat Kaivan berdiri diam seperti patung, sementara bayangan hitam sang Algojo sudah siap mengayunkan kapaknya ke leher Kaivan.

​"KAK KAIVAN! ITU CUMA ILUSI! JANGAN PERCAYA!" teriak Gendis. Ia mencoba bangkit, namun kakinya terasa seperti dirantai oleh tangan-tangan gaib dari bawah tanah.

Melihat Kaivan dalam bahaya maut, Gendis tidak lagi menahan kekuatannya. Ia membiarkan identitas Gendis Ratu Segoro Sari mengambil alih sepenuhnya. Rambutnya terurai panjang, dan matanya bersinar dengan cahaya biru laut yang sangat kuat.

​"Berani-beraninya kau menyentuh apa yang sudah menjadi milikku!" suara Gendis berubah menjadi sangat berat dan berwibawa, seperti suara penguasa laut.

​Gendis menghentakkan tangannya ke lantai, dan seketika air mulai merembes dari dinding-dinding batu, membentuk pusaran air gaib yang menyapu kabut hitam dan menghancurkan ilusi yang menjerat Kaivan.

​Cahaya biru dari Gendis bertabrakan dengan cahaya perak dari keris Kaivan, menciptakan sebuah gelombang energi yang sangat dahsyat. Sang Algojo dan ribuan mata merah di dinding itu lenyap seketika, terbakar oleh kemurnian energi mereka yang telah menyatu.

​BOOOM!

​Dinding di ujung lorong runtuh akibat ledakan energi tersebut, menampakkan sebuah celah yang menuju ke sistem pembuangan air modern mansion.

Kaivan tersadar dari ilusinya, napasnya tersengal-sengal. Ia melihat Gendis yang sudah kembali ke wujud aslinya, tampak sangat lemas dan hampir pingsan di atas lantai yang basah.

​"Gendis!" Kaivan segera berlari dan menangkap tubuh Gendis sebelum ia menyentuh air.

​"Kak... pintunya... sudah terbuka..." bisik Gendis sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

​Kaivan menggendong Gendis melalui celah dinding yang runtuh. Ia berjalan menyusuri gorong-gorong selama hampir tiga puluh menit sampai akhirnya ia menemukan sebuah tangga yang menuju ke halaman belakang mansion.

​Saat ia berhasil keluar, ia langsung disambut oleh Marco dan puluhan pengawal yang sedang panik mencari mereka.

​"Tuan! Anda di mana saja? Kami mencoba mendobrak pintu Level -3 tapi seolah ada kekuatan yang menahannya!" teriak Marco sambil berlari membawa selimut.

​Kaivan tidak menjawab. Wajahnya sangat gelap. "Panggil tim medis. Sekarang! Dan segel Level -3 selamanya. Cor dengan semen jika perlu. Jangan pernah biarkan siapa pun masuk ke sana lagi!"

Malam itu, Kaivan tidak beranjak dari sisi tempat tidur Gendis. Ia terus menggenggam tangan gadis itu, merasa bersalah karena telah membiarkannya masuk ke tempat berbahaya itu. Luka goresan di tangan Kaivan akibat pertarungan tadi sudah dibalut, tapi luka di hatinya jauh lebih dalam.

​"Ternyata... aku yang lebih lemah di antara kita berdua, Gendis," gumam Kaivan sambil menatap wajah tenang Gendis yang sedang tidur. "Ilusi itu hampir menghancurkanku. Tapi kau... kau tetap berdiri untukku."

​Gendis perlahan membuka matanya. Ia melihat wajah Kaivan yang penuh kecemasan. "Kak... jangan ngomong gitu. Kakak yang sudah kasih saya kekuatan buat jadi 'Ratu' tadi. Kalau bukan karena keris Kakak yang bersinar, saya nggak bakal punya energi buat panggil air."

​Gendis tersenyum lemah, menarik tangan Kaivan ke pipinya. "Dan satu lagi, Kak. Hantu om-om Algojo tadi titip pesan. Katanya, gaya bertarung Kakak payah banget, terlalu banyak pakai emosi."

​Kaivan tertawa kecil, meskipun matanya berkaca-kaca. "Bahkan setelah hampir mati terjebak di bawah tanah, kau masih sempat-sempatnya menghinaku lewat pesan hantu?"

​"Ya itu namanya masukan konstruktif, Kak," balas Gendis dengan nada "semprul"-nya yang mulai kembali.

Meskipun mereka sudah selamat, Kaivan menyadari satu hal yang mengganggu pikirannya. Level -3 tidak mungkin terbuka sendiri hanya karena "kegagalan sistem". Ia mulai mencurigai adanya sabotase dari dalam—sebuah upaya untuk melenyapkannya tanpa perlu menembakkan satu peluru pun.

​"Marco," panggil Kaivan saat Marco masuk untuk memberikan laporan keamanan terbaru.

​"Ya, Tuan?"

​"Cek semua log akses ke sistem pintu Level -3 dalam 24 jam terakhir. Dan periksa siapa teknisi yang terakhir kali melakukan perawatan di sana. Jika ada yang mencurigakan, jangan bawa mereka ke kantor. Bawa mereka ke gudang belakang. Aku sendiri yang akan menginterogasi mereka."

​Marco mengangguk paham. "Baik, Tuan. Dan soal dinding yang runtuh itu... para pengawal menemukan sesuatu di balik reruntuhannya."

​"Apa?"

​"Sebuah peti kecil perak dengan simbol 'Singa Bersayap' yang tertancap paku berkarat. Persis seperti yang ada di petunjuk kematian ayah Anda."

​Kaivan menegang. Gendis yang mendengar pembicaraan itu langsung duduk tegak. Sepertinya, terjebak di ruang bawah tanah tadi bukan sekadar nasib buruk, melainkan sebuah undangan paksa untuk menemukan rahasia terakhir klan Vittorio.

​"Sepertinya istirahat kita sudah selesai, Kak," bisik Gendis, auranya kembali siaga.

​Kaivan menatap tunangannya, lalu menatap keris pusaka di atas meja. "Perang ini belum berakhir, Gendis. Tapi kali ini, kita sudah tahu di mana musuh bersembunyi. Di bawah kaki kita sendiri."

​Dan di luar sana, angin malam Sisilia kembali berhembus, membawa bisikan-bisikan dari masa lalu yang kini mulai menuntut keadilan. Tapi di dalam mansion, sang Raja Mafia dan Gadis Indigo-nya telah siap untuk menghadapi apa pun—karena mereka telah membuktikan bahwa bahkan kegelapan terdalam pun tidak bisa memisahkan mereka yang sudah menyatu dalam satu takdir.

​"Gendis?"

​"Ya, Kak?"

​"Lain kali, kalau mau cari sinyal komunikasi dengan leluhur, di balkon saja ya. Jangan di bawah tanah lagi."

​Gendis tertawa renyah. "Iya, Kak Pelindung Galak. Janji!"

1
paijo londo
enak kali yah honeymoon di gurun pasir kan g ada hantunya 🤣🤣🤣 panas...panasss
paijo londo
keeereeen 👍👍
paijo londo
ya ampun thor ngakak sumpah🤣🤣
paijo londo
aduh 🤦🤦 ceritanya kocak banget 🤣🤣
paijo londo
🤣🤣🤣🤣dasar gendis semprul
paijo londo
thor mampir 🤭
Julia thaleb
lanjut Thor.
aku like banget
Julia thaleb
Thor..
seribu jempol
aku like...
Queen mafia: makasih beb
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!