NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Xin Yiran duduk di bangku taman dengan wajah yang sangat masam dan berkerut. Ia dan temannya, Feng Xixi, rela bangun sepagi ini hanya demi satu tujuan: melihat sosok kakak tampan idaman mereka yang biasa berolahraga di taman ini setiap akhir pekan.

Namun, hari ini mereka menunggu sejak matahari terbit hingga saat ini belum juga melihat bayangannya sama sekali. Bahkan bagian tubuh sang kakak pun tidak terlihat sedikitpun.

"Sudah dong, jangan terus cemberut," ucap Feng Xixi sambil menyerahkan kaleng cola dingin kepada temannya. Ia mencoba menghibur.

"Mungkin pria itu ada urusan mendadak, atau mungkin dia belum bangun. Nanti pasti akan muncul juga."

Xin Yiran mendengus kasar, menerima minuman itu dan membuka tutup kalengnya dengan suara tszzz. Dengan kesal ia meneguknya, namun tiba-tiba gerakannya terhenti.

Matanya membelalak lebar, dan ia hampir menyemburkan minuman itu keluar dari mulutnya karena kaget.

Di kejauhan, tidak jauh dari tempat mereka duduk, terlihat jelas sosok seorang gadis yang sedang berjalan santai sambil mengelap keringat di dahinya.

Itu... Xin Yi!

Gadis yang paling ia benci itu ternyata ada di sini juga! Mengapa dia bisa muncul di mana saja dan merusak suasana hati?!

"Mengapa kau terlihat begitu kaget? Apa yang kau lihat?" tanya Feng Xixi bingung melihat ekspresi temannya yang aneh.

Xin Yiran segera menundukkan wajahnya, menunjuk arah tak jauh dari sana dengan mata membelalak penuh kebencian.

"Itu dia! Gadis itu ada di sini!" geramnya pelan.

Kemudian, dengan nada marah dan kesal, ia mulai menceritakan secara rinci kepada temannya apa yang terjadi di kediaman keluarga Xin beberapa waktu lalu.

Bagaimana ia bermaksud mengingatkan dan memberikan nasihat pada gadis itu, namun justru Xin Yi yang membalas kata-katanya dengan sangat tajam dan membuatnya merasa malu di depan seluruh keluarga.

"Dengar ini, Xi Xi. Gadis itu benar-benar tidak tahu sopan santun! Hanya karena dia berasal dari daerah terpencil dan tiba-tiba tinggal bersama keluarga kaya, dia berani sekali bersikap kasar padaku!" cerita Xin Yiran dengan wajah memerah menahan amarah.

Feng Xixi mendengarkan dengan mulut terbuka lebar, matanya semakin memandang Xin Yi dengan tatapan jijik dan sinis.

"Ya ampun... sungguh berani dia melakukan hal itu?! Dasar gadis tidak tahu diri, sombong, dan kurang berpendidikan!" sahut Feng Xixi ikut membela temannya, ikut membenci Xin Yi tanpa mengetahui kebenaran sebenarnya.

Mereka berdua kini duduk mematung di balik semak-semak, mengawasi Xin Yi dari jauh dengan penuh rasa tidak suka, seolah-olah gadis itu adalah musuh utama mereka.

Liu Yang berjalan santai menyusuri jalan setapak taman. Ia melepaskan tali pengikat anjing peliharaannya agar hewan kecil itu bisa bergerak bebas dan bermain.

Namun, tanpa diduga, anjing tersebut tiba-tiba berlari kencang ke arah tertentu seolah melihat sesuatu yang menarik. Liu Yang yang kaget pun mau tidak mau segera mempercepat langkahnya mengikuti tarikan tali tersebut.

"Hey! Tunggu! Jangan lari sembarangan!" serunya panik.

Di tempat lain, Xin Yi baru saja duduk bersila di atas rumput yang bersih. Ia sedang memijat pelan pergelangan kakinya untuk merilekskan otot setelah berlari jauh.

Tiba-tiba...

BRUK!

Sesuatu yang kecil dan lunak menabrak punggungnya dengan cukup keras dari belakang.

Disusul segera dengan suara gonggongan kecil yang panik: "Guk! Guk! Guk!"

Xin Yi menoleh kaget, dan tepat saat itu juga suara seorang pemuda terdengar meminta maaf dengan tergesa-gesa.

"Maaf! Maafkan saya! Anjing saya tidak sengaja menabrak Anda!"

Liu Yang tertegun sejenak saat wajah gadis itu terbalik menatapnya.

Mata itu... begitu bulat, gelap, dan jernih. Seperti dua buah batu permata hitam yang memancarkan cahaya yang tenang namun tajam. Tatapan itu membuat jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat.

Ia benar-benar terpana.

Gadis ini... bukankah dia murid baru yang ia lihat di sekolah? Gadis yang berjalan melewatinya dengan sikap dingin?

Xin Yi

Namun, dilihat dari jarak sedekat ini dan dalam suasana pagi yang cerah, penampilannya sangat berbeda. Wajahnya memerah segar karena olahraga, keringat masih menetes di pelipis, dan kulit sawo matangnya tampak sehat serta bersinar.

"An... Anda tidak apa-apa?" tanya Liu Yang terbata-bata, sedikit gugup karena tidak menyangka akan bertemu dengannya di tempat seperti ini.

Anjing kecil yang menabrak tadi kini justru duduk manis di samping kaki Xin Yi, mengibas-ngibaskan ekornya seolah meminta belas kasihan.

Xin Yi menatap pemuda itu datar, lalu menatap anjing lucu di kakinya.

"Tidak apa-apa," jawabnya singkat, lalu kembali memutar tubuhnya dan berdiri tegak dengan gerakan luwes. "Anjing Anda lucu, tapi lain kali tolong awasi lebih baik."

Liu Yang segera menganggukkan kepalanya dengan cepat, seolah-olah takut jika ia sedikit terlambat menjawab, gadis itu akan pergi begitu saja.

"Baik! Saya mengerti! Maaf sekali lagi!" ucapnya terburu-buru.

Perbedaan tinggi badan mereka sangat terlihat jelas. Liu Yang yang memiliki postur tubuh tinggi dan tegap, sementara Xin Yi yang hanya setinggi 155 sentimeter harus sedikit mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah pemuda itu.

Posisi ini membuat Liu Yang bisa melihat wajah gadis itu dengan sangat jelas dan detail.

Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat butiran keringat yang masih menempel di dahi, pori-pori yang terlihat bersih, dan mata bulat gelap itu yang menatapnya tanpa ekspresi.

Wajah gadis itu terlihat sangat alami, tanpa riasan sedikitpun, namun memiliki daya tarik yang alami dan memikat.

Jantung Liu Yang kembali berdetak lebih kencang dari biasanya.

"Kalau begitu... saya permisi," ucap Xin Yi singkat, memutuskan lamunan pemuda itu.

Ia berbalik badan dan mulai berjalan pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan Liu Yang yang masih berdiri mematung sambil memegang tali pengikat anjingnya.

Di seberang sana, tersembunyi di balik rimbunnya semak-semak, Xin Yiran dan Feng Xixi menyaksikan seluruh adegan itu dengan mata terbelalak.

Wajah Xin Yiran yang tadinya masam kini berubah menjadi merah padam menahan amarah yang meledak-ledak.

Gila! Itu kan Kakak Liu Yang! Senior tampan yang selama ini ia idamkan dan cari-cari sejak pagi! Mengapa dia justru sedang berbicara dengan gadis itu?!

"Lihat itu! Lihat itu Xi Xi!" desis Xin Yiran gemetar menahan emosi. "Siapa yang bilang dia tidak ada?! Dia ada di sana! Tapi mengapa dia malah berbincang dengan gadis itu?! Mengapa?!"

Feng Xixi pun ikut terkejut dan semakin membenci gadis itu.

"Ya ampun... sungguh tidak tahu diri! Dia pasti sengaja mendekati Kakak Liu Yang supaya terlihat menarik! Dasar gadis yang suka merayu!"

Xin Yiran mencengkeram kuat kaleng cola di tangannya hingga tangannya memutih. Ia benar-benar merasa tidak puas dan sangat kesal.

Impiannya untuk bisa berpapasan dan menyapa sang kakak pagi ini hancur total. Dan yang paling menyakitkan, sosok idamannya itu justru terlihat begitu sopan dan perhatian... pada orang yang ia benci!

"Dasar gadis pembawa sial! Dia merusak segalanya!" geram Xin Yiran pelan dengan mata memancarkan kebencian yang luar biasa.

Xin Yi berjalan santai memasuki halaman rumah. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di tempat lain ada seseorang yang sedang membakar rasa benci padanya. Baginya, pertemuan pagi itu hanyalah insiden kecil yang tak perlu dipusingkan.

Saat ia membuka pintu utama, jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi tepat.

"Nona Xin Yi sudah kembali," sapa Bibi Ming ramah.

Xin Yi mengangguk singkat. Ia berniat langsung naik ke lantai untuk mandi dan berganti pakaian, namun langkah kakinya terhenti di ruang tamu.

Di sana, duduk di sofa utama, terlihat sosok pria paruh baya yang mengenakan setelan jas rapi. Itu adalah Xin Fuyang—ayahnya.

Pria itu tampak sedang duduk diam dengan wajah yang terlihat serius dan sedikit canggung. Saat mendengar suara langkah kaki, ia segera mendongak dan menatap putrinya yang baru saja datang dari luar.

Mereka saling bertatapan. Suasana di ruang tamu seketika menjadi hening dan canggung.

Ini adalah pertama kalinya Xin Yi bertemu langsung dengan ayahnya setelah pria itu pergi setelah membawanya kembali.

Xin Fuyang menatap putrinya yang masih mengenakan pakaian olahraga dengan keringat yang belum sepenuhnya kering.

"Kau baru saja selesai berlari pagi?" tanyanya dengan nada yang terdengar agak kaku namun berusaha terdengar lembut.

Xin Yi menganggukkan kepalanya singkat. "Ya, Ayah."

"Duduklah sebentar. Ayah ingin mengatakan sesuatu," ucap pria itu sambil menunjuk sofa kosong di hadapannya.

Xin Yi berjalan mendekat dan duduk dengan sikap tegap namun tetap sopan. Ia menunggu ayahnya berbicara.

"Bagaimana kegiatan sekolahmu? Apakah ada kesulitan dalam beradaptasi?" tanya Xin Fuyang memulai percakapan.

Xin Yi menjawab semua pertanyaan itu dengan jujur dan apa adanya. Ia menceritakan bahwa pelajaran tidak terlalu sulit, hanya saja lingkungan dan teman-temannya sangat berbeda dengan di daerah terpencil tempatnya tinggal dulu.

Mendengar jawaban putrinya yang tenang dan dewasa, Xin Fuyang merasa semakin bersalah di dalam hatinya. Ia kemudian merogoh saku jasnya dan mengambil sebuah benda kecil, lalu meletakkannya di atas meja kaca di antara mereka.

Itu adalah sebuah gantungan kunci yang tampak mewah dan elegan.

"Ini adalah kunci apartemen milik keluarga yang letaknya tidak jauh dari kampus tempat kakakmu belajar," jelas Xin Fuyang pelan.

"sekarang apartemen itu,milik mu."

Ia berharap, dengan memberikan hal ini, sedikit rasa bersalahnya bisa terobati.

Memberikan kenyamanan materi adalah satu-satunya cara yang ia tahu untuk menebus waktu yang hilang.

1
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!