Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27.Cahaya Pertama dan Bidak
Udara malam di luar gedung tua Klub Ilmu Gaib terasa jauh lebih ringan dibandingkan atmosfer mencekam di dalam ruangan tadi. Aroma tanah basah dan sisa-isisa wangi bunga melati dari tubuh Bibi Dong menyatu dengan hembusan angin malam yang sejuk. Mereka berjalan berdampingan di sepanjang jalan setapak yang membelah taman sekolah, jauh dari keramaian asrama maupun pantauan kamera pengawas yang kini telah Ren "butakan" dengan distorsi ruang sederhana.
Ren tidak terburu-buru. Ia melangkah dengan ritme yang tenang, tangan kirinya menggandeng jemari Bibi Dong dengan erat namun lembut. Ia bisa merasakan sisa-sisa getaran energi kedaulatan yang masih berpendar dari tubuh istrinya—sebuah tanda bahwa Bibi Dong benar-benar menikmati momen penundukan faksi iblis tadi.
"Kau terlalu menekan mereka, Dong'er," ucap Ren memecah keheningan. Suaranya tidak mengandung teguran, melainkan nada geli yang hangat. "Lihatlah bagaimana gadis Gremory itu memegang cangkirnya. Aku hampir mengira dia akan menghancurkan porselen mahalnya hanya karena tatapanmu."
Bibi Dong mendengus pelan, sebuah suara yang terdengar sangat manis namun tetap angkuh. Ia mengeratkan genggamannya pada tangan Ren, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu suaminya sambil terus berjalan. "Mereka perlu tahu tempat mereka, Ren. Dunia ini terlalu lunak. Jika aku tidak menarik garis yang tegas, mereka akan terus mencoba merayap mendekati kita dengan rasa penasaran yang menjijikkan itu."
Ia berhenti melangkah, memaksa Ren untuk ikut berhenti tepat di bawah bayangan pohon ek besar yang daunnya rimbun. Bibi Dong mendongak, menatap mata biru kristal Ren yang kini tidak lagi tertutup kacamata hitam. Di bawah sinar bulan, mata itu tampak seperti permata yang menyimpan rahasia semesta.
"Lagi pula," lanjut Bibi Dong, suaranya melembut, kehilangan semua ketajaman otoritasnya. "Aku hanya tidak suka cara gadis petir itu menatapmu. Sangat... mengganggu."
Ren terkekeh, suara baritonnya bergema rendah di keheningan malam. Ia mengangkat tangan kanannya, mengusap pipi Bibi Dong yang seputih porselen dengan punggung jarinya. "Jadi, permaisuriku yang agung sedang merasa cemburu pada seorang iblis muda? Itu adalah pengakuan yang sangat menarik."
Bibi Dong tidak membantah. Ia justru memejamkan matanya, menikmati sentuhan Ren yang selalu mampu menenangkan badai di dalam jiwanya. "Aku adalah milikmu, dan kau adalah milikku, Ren. Di dunia asalku, aku harus berbagi perhatianmu dengan urusan kekaisaran yang membosankan. Tapi di sini... di dunia yang aneh ini, aku ingin kau sepenuhnya fokus padaku."
Ren menarik pinggang Bibi Dong, mendekapnya erat hingga tidak ada celah di antara mereka. Ia bisa merasakan detak jantung Bibi Dong yang stabil namun kuat—sebuah bukti bahwa jiwa wanita ini telah sepenuhnya menyatu dengan realitas baru ini.
"Kau tidak perlu meminta apa yang sudah menjadi milikmu, Dong'er," bisik Ren tepat di depan bibir istrinya. "Semua yang kulakukan di sini—investasi pada Issei, provokasi pada Gremory—semuanya hanyalah sarana untuk memastikan kita bisa hidup dengan tenang tanpa ada yang berani mengetuk pintu rumah kita. Kau adalah satu-satunya tujuanku."
[SISTEM: Sinkronisasi emosi mencapai level maksimal. Hubungan: Permaisuri Abadi (Status: Sangat Bahagia).]
[SISTEM: Analisis lingkungan—Area sekitar bersih dari pengamatan pihak ketiga. Radius 500 meter di bawah pengawasan 'Six Eyes'.]
Bibi Dong melingkarkan lengannya di leher Ren, menarik suaminya lebih dekat. "Janji?"
"Janji seorang Kaisar Ruang dan Waktu tidak akan pernah luntur oleh zaman, Sayang," jawab Ren sebelum ia menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam dan penuh kerinduan.
Ciuman itu tidak terburu-buru. Di tengah taman sekolah yang sunyi, di bawah naungan pohon tua dan kesaksian bulan yang bisu, waktu seolah-olah benar-benar berhenti bagi mereka berdua. Tidak ada lagi sistem, tidak ada lagi iblis, tidak ada lagi rencana besar. Yang ada hanyalah dua jiwa yang telah menyeberangi dimensi hanya untuk menemukan satu sama lain kembali.
Setelah beberapa saat, Ren melepaskan pagutannya perlahan, menatap mata Bibi Dong yang kini tampak sedikit berkaca-kaca karena luapan emosi. Ia menyeka sudut bibir istrinya dengan ibu jarinya, tersenyum dengan cara yang hanya ia tunjukkan pada wanita ini.
"Ayo pulang," ucap Ren lembut. "Malam ini aku akan memasakkan sesuatu yang spesial untukmu. Aku belajar beberapa resep dunia ini yang menurutku akan kau sukai."
Bibi Dong tersenyum manis, sebuah pemandangan yang akan membuat siapa pun di Akademi Kuoh kehilangan akal sehat jika mereka melihatnya. "Apapun yang kau masak, aku akan memakannya sampai habis, Suamiku."
Mereka kembali berjalan menuju asrama, meninggalkan kompleks gedung tua yang kini tampak begitu kecil dan tidak berarti di hadapan cinta yang telah melampaui batas-batas dunia. Namun, di balik ketenangan itu, Ren tahu bahwa "investasi" yang ia tanam pada Issei akan segera memicu reaksi berantai yang jauh lebih besar. Dan ia akan siap menyambutnya, dengan sang permaisuri di sisinya.