NovelToon NovelToon
Surga Yang Terlupakan

Surga Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh / Pelakor
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"

Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.

Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.

Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Suara yang Membelah Sunyi

​Apartemen kecil milik Maya terasa jauh lebih luas daripada rumah megah yang Hana tinggalkan. Bukan karena ukurannya, melainkan karena di sini, oksigen yang ia hirup tidak lagi bercampur dengan aroma kebohongan. Jendela besar di ruang tengah menghadap langsung ke arah hiruk-pikuk jalanan Jakarta. Hana duduk di sana, memangku laptop lamanya yang stikernya sudah mulai mengelupas di bagian sudut.

​Pukul 19.30.

​Waktu yang biasanya ia gunakan untuk menata piring dan menghangatkan gulai, kini ia gunakan untuk menatap layar yang berkedip. Ia baru saja mengunggah bab terbaru dari narasinya yang sedang viral di sebuah platform digital. Ia menggunakan nama pena 'Hana Keiko'. Ia tidak ingin Aris menemukannya terlalu cepat, tapi ia ingin setiap inci pengkhianatan itu tersampaikan kepada dunia.

​Hanya dalam waktu dua jam, notifikasi di ponselnya mulai bergetar tanpa henti.

​“Ya ampun, ini sangat menyesakkan dada! Semangat, Penulis! Aku juga pernah di posisi ini, dikhianati setelah belasan tahun mengabdi.”

“Suaminya jahat banget, manipulasi psikologisnya kerasa sampai sini!”

“Ditunggu bab selanjutnya, jangan lama-lama ya!”

​Hana menyentuh layar ponselnya dengan jemari yang gemetar. Air matanya menetes, namun kali ini bukan air mata kesedihan. Ini adalah air mata kelegaan. Selama sepuluh tahun, suaranya dibungkam oleh tembok-tembok rumah dan ego Aris. Kini, ribuan orang asing di luar sana mendengarkannya. Mereka memvalidasi rasa sakitnya. Mereka memberinya kekuatan yang tidak pernah ia dapatkan dari Aris maupun mertuanya.

​"Kamu lihat itu?" Maya datang membawa dua kaleng soda dingin, duduk di samping Hana. "Tulisanmu masuk peringkat Trending. Orang-orang haus akan kejujuran, Hana. Dan ceritamu... ceritamu adalah belati yang menembus kemunafikan pria-pria yang merasa bisa membeli kesetiaan dengan uang."

​Hana tersenyum tipis. "Aku hanya menulis apa yang aku rasakan, May. Ternyata, rasa sakit yang dituangkan dalam aksara jauh lebih ringan daripada yang dipendam dalam diam."

​"Teruslah menulis. Jangan berhenti. Jadikan ini senjatamu. Karena Aris... dia paling takut pada satu hal: Pandangan buruk orang lain terhadap citranya," ujar Maya dengan nada penuh rencana.

​Sementara itu, di sisi lain kota, di rumah yang kini terasa seperti gua hantu yang luas, Aris duduk di sofa ruang tamu dengan botol minuman yang sudah setengah kosong di depannya. Ia tidak terbiasa dengan kesunyian ini. Tidak ada suara gemericik air dari dapur. Tidak ada aroma sabun cuci piring. Tidak ada Hana yang menyambutnya dengan senyum lelah namun tulus.

​Ponsel Aris berdering. Nama ibunya, Mama Sarah, muncul di layar.

​"Ya, Ma?" jawab Aris malas.

​"Aris! Kamu sudah lihat media sosial? Ada akun gosip yang membahas tentang 'Direktur Muda yang Mengkhianati Istri Setelah 10 Tahun Menikah'. Memang tidak menyebut nama, tapi detailnya... detail tentang renovasi kantor dan kedekatannya dengan desainer itu sangat spesifik! Siapa yang membocorkan ini?!" suara Mama Sarah melengking penuh kepanikan.

​Aris tersentak. Rasa kantuk akibat alkohol mendadak hilang. "Apa? Mana mungkin, Ma. Hana tidak mungkin melakukan itu. Dia wanita yang tertutup, dia terlalu malu untuk mengumbar aib keluarga."

​"Hana mungkin tidak, tapi teman-temannya? Atau mungkin wanita simpananmu itu yang bermulut besar?! Aris, kalau ini sampai ke telinga dewan komisaris, posisimu tamat! Kamu tahu mereka sangat menjunjung tinggi integritas personal!"

​Aris mematikan telepon dengan kasar. Jantungnya berdegup kencang. Ia segera membuka berbagai platform media sosial. Benar saja, ada sebuah utas yang sedang viral. Isinya menceritakan tentang seorang istri yang menemukan bukti perselingkuhan berupa anting mutiara yang tertinggal di saku suaminya.

​Anting mutiara.

​Darah Aris terasa membeku. Detail itu terlalu spesifik. Hanya ia, Citra, dan Hana yang tahu tentang benda itu.

​"Hana..." geram Aris. Ia segera menyambar kunci mobilnya. Ia harus menemukan Hana. Ia harus membungkam mulut wanita itu sebelum semuanya terlambat dan kariernya hancur berkeping-keping.

​Keesokan harinya, Aris mendatangi kantor Maya. Ia tahu Hana pasti ada di sana atau setidaknya Maya tahu di mana istrinya bersembunyi.

​Aris masuk ke lobi kantor hukum Maya dengan emosi yang meluap. Ia mengabaikan sekretaris yang mencoba menghalanginya dan langsung mendobrak pintu ruangan Maya.

​"Di mana Hana?!" teriak Aris tanpa basa-basi.

​Maya, yang sedang memeriksa dokumen, bahkan tidak mendongak. Ia hanya memperbaiki posisi kacamatanya dengan tenang. "Selamat pagi, Aris. Kamu masih belum belajar cara mengetuk pintu, ya? Pantas saja Hana merasa tidak nyaman berbagi atap lagi denganmu."

​"Jangan main-main denganku, Maya! Suruh Hana menghapus semua tulisan sampah itu! Dia menghancurkan reputasiku yang sudah kubangun bertahun-tahun!"

​Maya menutup map dokumennya dan menatap Aris dengan tatapan tajam. "Tulisan apa? Hana tidak memposting apa pun di akun pribadinya. Dia sedang sibuk menata kepingan hidupnya yang baru saja kamu hancurkan."

​"Bohong! Cerita tentang perhiasan yang hilang itu... itu pasti dia yang menyebarkannya! Siapa lagi yang tahu detail menjijikkan seperti itu?!"

​"Oh, maksudmu fiksi yang sedang viral itu? Penulisnya menggunakan nama samaran. Apakah kamu merasa karakter suami yang tidak tahu diri di sana mirip denganmu? Kalau iya, mungkin itu karena cerminnya memang terlalu jernih, Aris. Tapi secara hukum, kamu tidak bisa menuntut sebuah karya imajinatif," Maya tersenyum sinis.

​Aris mengepalkan tinjunya di atas meja kerja Maya. "Katakan padanya, kalau dia tidak berhenti mempermalukanku, aku tidak akan memberikan sepeser pun harta gono-gini! Aku akan membuatnya hidup melarat di jalanan!"

​"Silakan coba," balas Maya tenang. "Tapi ingat, Aris. Hana punya bukti-bukti foto dari orang yang kami sewa. Dia punya rekaman jejak finansialmu untuk wanita itu. Kalau kamu ingin perang di meja hijau, aku dengan senang hati akan melayanimu. Dan jangan lupa... narasi itu terus diperbarui setiap jam 19.30. Semakin kamu menekannya, semakin banyak rahasia yang akan terungkap dalam bentuk cerita. Netizen sangat suka melihat kejatuhan pria sombong yang mengkhianati ketulusan."

​Aris terdiam. Ia merasa terjepit. Selama ini ia menganggap Hana adalah wanita lemah yang bisa ia kendalikan dengan materi dan intimidasi. Ia lupa bahwa Hana adalah pengamat yang cerdas, wanita yang selama sepuluh tahun ini merekam setiap inci pengabaiannya dengan sangat teliti.

​"Aku ingin bicara dengannya. Sekali saja," suara Aris melembut, kini ada nada memohon di sana.

​"Hana tidak ingin bicara denganmu. Dia sedang menyusun bab selanjutnya sekarang. Mungkin temanya tentang 'Pria Pengecut yang Datang Mengancam karena Takut Kehilangan Jabatan'. Kamu ingin menjadi inspirasi tokoh antagonis di sana?"

​Aris keluar dari ruangan Maya dengan perasaan hancur. Saat ia berjalan menuju parkiran, ponselnya berdering lagi. Kali ini dari Citra.

​"Aris! Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku?! Studio desainku didatangi orang-orang tak dikenal! Ada yang menyebarkan foto kita di restoran tempo hari! Klien-klienku mulai membatalkan kontrak secara sepihak! Kamu harus tanggung jawab!" Citra berteriak histeris di seberang telepon.

​Aris mematikan ponselnya. Ia menyandarkan kepalanya di kemudi mobil. Hidup yang ia bayangkan akan lebih berwarna bersama Citra kini berubah menjadi mimpi buruk yang nyata. Dan Hana, istrinya yang selama ini ia anggap tak berdaya, kini menjadi sosok yang memegang kendali atas hidup dan mati reputasinya.

​Di apartemen, Hana terus menulis. Jari-jarinya seolah memiliki nyawa sendiri. Setiap kata yang ia ketik adalah pembalasan yang lebih menyakitkan daripada makian fisik. Ia tidak perlu mengotori tangannya. Ia hanya perlu menceritakan kebenaran di balik topeng kesempurnaan Aris.

​Ia menulis tentang bagaimana pria itu memaksanya berhenti berkarya sepuluh tahun lalu dengan dalih pengabdian. Ia menulis tentang bagaimana rasanya menjadi tawanan di rumah yang mewah namun tanpa kasih sayang.

​Tiba-tiba, ada sebuah komentar masuk di bab terbaru ceritanya.

​“Hana... tolong berhenti. Mari kita bicarakan ini secara baik-baik. Aku minta maaf.”

​Hana tahu itu adalah akun palsu milik Aris. Ia menatap layar itu lama. Dahulu, satu kata maaf dari Aris akan membuatnya luluh dan kembali melayani pria itu dengan segenap hati. Namun sekarang, kata maaf itu terasa hambar. Seperti sisa makanan yang sudah basi berhari-hari.

​Hana membalas komentar itu secara publik agar semua pembacanya bisa melihat:

​“Maaf tidak bisa mengembalikan waktu yang kau sia-siakan. Maaf tidak bisa menghapus pengkhianatan yang kau lakukan dengan sadar. Perjalanan ini baru saja dimulai, dan aku tidak akan berhenti sampai semua topeng itu terlepas.”

​Klik. Kirim.

​Hana menutup laptopnya. Ia berdiri dan berjalan menuju jendela. Di luar sana, lampu-lampu kota Jakarta mulai menyala satu per satu. Ia melihat pantulan dirinya di kaca jendela. Kali ini, ia tidak melihat wanita yang kusam dan lelah. Ia melihat seorang wanita yang matanya bersinar dengan api tekad yang baru.

​Ia mengambil secangkir kopi hitam tanpa gula—selera yang dulu dilarang Aris karena dianggap tidak feminin. Ia menyesapnya perlahan. Pahit, namun menyegarkan.

​Ponselnya berdering lagi. Pesan dari nomor baru.

​"Ibu Hana, saya dari sebuah penerbitan. Kami sangat tertarik dengan kekuatan narasi Anda. Apakah kita bisa bertemu besok untuk membicarakan kerja sama?"

​Hana tersenyum. Ia menaruh ponselnya di meja. Ia tidak segera membalasnya. Ia ingin menikmati momen ini. Momen di mana ia tidak lagi menjadi bayangan di belakang Aris. Momen di mana ia menjadi penulis utama dalam hidupnya sendiri.

​Pukul 19.30 malam itu, Hana merasa benar-benar hidup. Ia tidak lagi menunggu seseorang yang tak menghargainya. Ia sedang ditunggu oleh dunia.

1
Weni suci Fajar wati
sungguh karya yang luar biasa,,👍
Weni suci Fajar wati
Kak aku membaca dari awal sampai di titik ini,,, banyak sekali hal yang aku pelajari dari cerita kakak,,, makasih untuk cerita yang luar biasa ini,,, semangat Kak,,,aku tunggu cerita selanjutnya,,,
PNC
bener bener Satra
PNC
kereeeeeennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!