Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Retakan di Dinding Waktu
20 November 2024. Pukul 23.00 WIB.
Apartemen Alina, Jakarta Selatan.
Layar laptop Alina menampilkan peta digital Jakarta Utara. Dia sedang melakukan overlay (penumpukan) antara peta Batavia tahun 1930 dengan Google Maps tahun 2024.
Garis pantai telah berubah drastis karena reklamasi dan pembangunan. Namun, ada satu area yang membuat dada Alina sesak setiap kali melihatnya.
Ancol.
Di tahun 2024, itu adalah Taman Impian Jaya Ancol. Tempat Dufan, SeaWorld, dan pantai tempat orang-orang berlibur tertawa bahagia. Kembang api tahun baru selalu dinyalakan paling meriah di sana.
Tapi di tahun 1930, area itu adalah Antjol. Rawa-rawa bakau yang gelap, sarang nyamuk malaria, buaya muara, dan monyet liar. Tempat pembuangan mayat yang ideal bagi siapa pun yang ingin menghilangkan jejak.
"Di sini," Alina menunjuk titik koordinat yang disebutkan dalam jurnal Van Heutz.
Titik itu kini berada tepat di area Wahana Halilintar di Dufan.
Alina tertawa getir. Ironi yang menyakitkan. Arya akan dibunuh dan dibuang di tempat yang di masa depan menjadi wahana di mana orang berteriak kegirangan.
Alina melirik mesin tik di mejanya. Sudah dua jam dia mendiamkan Arya.
TAK.
Arya menyapa duluan.
> Alina? Kau di sana?
> Hujan di sini awet sekali. Genting kosan saya bocor lagi.
> Tadi saya menulis sajak tentang tetesan air. Mau baca?
>
Alina menarik napas panjang. Dia harus bersikap normal.
> Mau. Bacakan.
>
> "Rintik mengetuk jendela kaca,
> Seperti rindu yang tak terbaca.
> Di seberang waktu ada nirmala,
> Menunggu pagi membawa berita."
> Bagus tidak?
>
Alina menggigit bibir bawahnya menahan tangis. Sajak itu indah. Polos.
> Bagus, Arya. Kamu berbakat.
> Ngomong-ngomong... Arya, seberapa sering kamu ke daerah utara? Ke Ancol?
>
Di tahun 1930, Arya mengernyitkan dahi.
> Ancol? Kenapa tiba-tiba tanya Ancol?
> Itu tempat jin buang anak, Alina. Rawa-rawa. Tidak ada apa-apa di sana selain kelenteng tua dan nyamuk.
> Kenapa kau terobsesi sekali dengan tempat itu seminggu ini? Kemarin kau tanya soal akses jalan Gunung Sahari. Sebelumnya kau tanya soal pasang surut air laut.
>
Alina terdiam. Arya mulai curiga.
> Aku... aku cuma sedang riset untuk museum. Kami mau bikin diorama tentang pesisir Batavia.
>
> Bohong.
>
Satu kata itu tercetak tegas di kertas.
> Alina, saya mengenalmu lewat ketikanmu. Iramamu beda.
> Biasanya ketikanmu lancar dan ringan. Belakangan ini, ketikanmu berat. Ragu-ragu. Banyak jeda.
> Ada yang kau sembunyikan dariku?
>
Alina panik. Dia tidak siap dikonfrontasi.
> Tidak ada, Arya. Aku cuma lelah. Pekerjaan di museum sedang banyak.
> Sudahlah, aku mau tidur. Besok aku harus bangun pagi.
>
Alina mematikan lampu, mengakhiri percakapan secara sepihak. Lagi.
Di seberang sana, Arya menatap kertas itu dengan perasaan tidak enak. "Lelah" adalah alasan klise. Dia tahu ada sesuatu yang besar yang disembunyikan Alina. Dan firasatnya mengatakan, itu menyangkut dirinya.
25 November 1930. Pukul 10.00 waktu Batavia.
Kantor PID, Weltevreden (Jakarta Pusat).
Inspektur Van Heutz berdiri menghadap jendela, memandang lalu lintas Batavia yang ramai. Di tangannya, dia memegang cerutu yang sudah mati.
Wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun dalam sebulan terakhir. Kegagalan menangkap Arya di Glodok dan Sumpah Pemuda telah mencoreng reputasinya di mata Gubernur Jenderal. Ditambah lagi, dia merasa dipermalukan oleh "kekuatan tak kasat mata" yang seolah melindungi Arya.
Pintu ruangannya diketuk.
"Masuk," perintah Van Heutz.
Seorang pria bertubuh tegap masuk. Dia bukan polisi. Dia mengenakan pakaian jawara Betawi berwarna hitam, tapi dengan sentuhan gaya Eropa—topi laken dan sepatu bot kulit ular.
Ciri khasnya yang paling mengerikan adalah mata kirinya yang buta, tertutup kain hitam (eyepatch). Dan di pinggangnya, terselip pisau belati bergagang gading.
Dia adalah Bang Jampang, atau di dunia hitam dikenal sebagai "Si Mata Satu". Pembunuh bayaran paling efisien di Batavia. Dia tidak bekerja untuk ideologi. Dia bekerja untuk Gulden.
"Tuan Inspektur memanggil ane?" suaranya berat dan serak.
"Duduk, Jampang," Van Heutz berbalik. "Aku punya pekerjaan khusus. Tidak boleh ada catatannya di buku polisi. Off the record."
Jampang menyeringai, memamerkan giginya yang kuning karena tembakau. "Targetnya siapa, Tuan? Politisi? Pedagang candu?"
Van Heutz melempar foto Raden Mas Arya ke meja.
"Anak ingusan ini. Jurnalis. Penulis sajak."
Jampang mengambil foto itu, tertawa meremehkan. "Cuma bocah kerani? Tuan menghina ane. Kirim saja sersan baru buat ciduk dia."
"Jangan remehkan dia," Van Heutz mencondongkan tubuh, matanya berkilat marah. "Dia licin seperti belut. Dia punya... intuisi yang tidak wajar. Dia selalu tahu kapan polisi datang."
"Jadi Tuan mau ane tangkap dia hidup-hidup?"
"Tidak," Van Heutz menggeleng dingin. "Aku tidak butuh dia di penjara. Di penjara dia jadi martir. Dia menulis, dia berteriak, dia menginspirasi orang."
Van Heutz membuka laci, mengeluarkan kantong kain berisi koin emas dan uang kertas Gulden dalam jumlah besar.
"Aku mau dia hilang. Lenyap. Seperti asap."
Jampang menatap uang itu. Jumlahnya cukup untuk membeli sawah di Depok.
"Bunuh dia. Pastikan tidak ada saksi. Dan buang mayatnya di tempat yang tidak akan pernah ditemukan manusia," perintah Van Heutz.
"Kapan tenggat waktunya?"
"Malam Tahun Baru. 31 Desember," kata Van Heutz. "Saat semua orang sibuk berpesta kembang api, saat suara petasan menutupi suara tembakan... habisi dia."
Jampang mengangguk, menyimpan foto Arya ke dalam sakunya.
"Anggap saja dia sudah jadi mayat, Tuan."
Jampang keluar dari ruangan itu.
Van Heutz kembali menatap jendela. Dia tersenyum puas.
"Mari kita lihat, Arya," gumam Van Heutz. "Apakah 'Hantu Masa Depan'-mu bisa menyelamatkanmu dari peluru pembunuh bayaran?"
28 November 2024. Pukul 16.00 WIB.
Perpustakaan Nasional.
Alina sedang membuka arsip koran kriminal tahun 1930-an, mencari nama-nama penjahat terkenal. Dia mencoba memprofil siapa yang mungkin dipakai Van Heutz untuk "Operasi Senyap".
Dia menemukan satu nama yang sering muncul di berita perampokan sadis yang tidak pernah terpecahkan: Si Mata Satu.
Deskripsinya: Kejam, ahli pisau dan pistol, dan punya ciri khas membuang korban ke rawa-rawa untuk dimakan biawak.
Alina merasa mual.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Notifikasi dari aplikasi Kalender.
REMINDER: 1 BULAN MENUJU 31 DESEMBER.
Waktu berjalan terlalu cepat.
Alina menutup bukunya. Dia tidak bisa diam saja. Dia tidak bisa membiarkan Arya mati hanya karena takut merusak "kebahagiaan" sesaat.
Jika Arya mati, kebahagiaan itu juga akan mati selamanya.
Alina memutuskan: Malam ini, dia akan memberitahu Arya. Persetan dengan paradoks. Persetan dengan mental. Arya berhak tahu bahwa nyawanya sedang diincar.
Dia bergegas pulang, menyiapkan mental untuk mengetikkan vonis mati itu.
Namun, saat dia sampai di apartemen dan melihat mesin tiknya... ada kertas yang sudah terisi tulisan Arya.
Tulisan itu panjang. Dan nadanya... marah.
> Alina,
> Saya baru saja pulang dari kantor redaksi.
> Ada seorang informan—mantan polisi yang membelot—memberitahu saya.
> Dia bilang Van Heutz baru saja menyewa Si Mata Satu.
> Dia bilang ada "kontrak mati" atas nama saya.
> Dan dia bilang targetnya akhir tahun ini.
>
Alina menutup mulutnya. Arya sudah tahu.
> Alina... kau tahu ini kan?
> Itulah sebabnya kau bertanya soal Ancol. Itulah sebabnya kau aneh belakangan ini.
> Kenapa kau diam?
> Kenapa kau menyembunyikan kematian saya dari saya sendiri?
> Apa kau pikir saya anak kecil yang tidak bisa menghadapi takdir?
>
Alina jatuh terduduk di depan mesin tik. Rasa bersalah menghantamnya seperti ombak pasang.
Dia meletakkan jarinya di atas tuts dengan gemetar.
> Maafkan aku, Arya...
> Aku cuma... aku cuma ingin kau bahagia sedikit lebih lama.
> Aku takut kalau kau tahu, kau akan berhenti berharap.
>
Jawaban Arya muncul cepat, tajam, menusuk.
> Harapan macam apa yang dibangun di atas kebohongan, Alina?
> Saya kecewa.
> Bukan karena saya akan mati.
> Tapi karena wanita yang paling saya percaya... ternyata tidak mempercayai kekuatan mental saya.
>
Hening.
Untuk pertama kalinya, bukan sinyal yang putus, bukan kertas yang habis, tapi hati mereka yang retak.
Arya tahu dia akan mati. Dan dia marah pada Alina.
Dan waktu tinggal 33 hari lagi.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
menjalani hidup semestinya, dari berbagai peristiwa yang mendebarkan, heroik ,penuh welas asih kepada musuh bebuyutannya.
Legowo melepas rasa yang tak mungkin untuk bisa bersatu.
semoga takdir bisa mempertemukan ikatan kasih inu meski di keabadian kelak.
terimakasih thor, telah berkenan memberi suguhan novel yang begitu apik, memompa semangat, menderaikan airmata, senyum kelegaan dan keikhlasan , apa lagi yang mau di pinta : melihat yang tersayang hidup bahagia itu sdh cukup.
maturnuwun sanget thor
mengajarkan arti cinta tanpa keegoisan🙏
Datang2 bawa dendam, mari kita pulang dalam kekalahan
semoga keadaan menjadi lebih baik ,setelah van heutz tiada.
semoga ambisi cucu nya juga terkubur bersama kabar sang kakek yang telah tiada.
selanjutnya menata babak baru dalam kehidupan yang semoga saja lebih damai, aman dan tentram.
aamiin
satu untuk mengalahkan dan satu nya harus di kalahkan.
Memelihara rasa benci dan kesumat itu berat tuan heutz, semoga jiwamu nanti tenang disana.
ntah siapa yang akan menghembuskan nafas terakhirnya duluan,semoga dendam juga ikut terkubur bersama jasad masuk liang lahat.
"Legowo"
suasana kacau ,mencekam ,genting begitu nyata terbaca.
sukses selalu dengan karya mu thor.
kali ini adegan demi adegan yang detail memacu adrenalin pembaca, ikut larut dalam suasana yang lebih mendebarkan,betapa mereka ketakutan tapi semangat juang tetap membara dengan satu tujuan.
semoga bung miko ketika sampai Yogyakarta ,bisa selamat dari musuh bebuyutannya.
kegembiraan membuncah dalam dada...
haru biru serasa dalam hangat dekap mu.
airmata bahagia memuncak berderai seperti air terjun.
tangis bahagia ,dibingkai pertemuan.
andai suatu masa bisa bertemu sungguhan