NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Penghargaan Menulis Internasional

Keesokan paginya, suasana kampung itu mendadak ramai oleh kabar kepulangan Nala. Beberapa tetangga yang sedang menyapu halaman atau menjemur pakaian di pekarangan, spontan terhenti ketika melihat sosok gadis yang biasanya hanya mereka saksikan lewat televisi, berita daring, atau layar ponsel.

Kini, ia berjalan santai di jalan setapak desa dengan rambut yang tergerai sederhana, mengenakan kaus polos dan celana kain longgar. Tak ada riasan, tak ada sorotan lampu kamera—hanya Nala, anak kampung yang mereka kenal sejak kecil, namun kini kembali dengan aura berbeda.

“Euleuh, Bi Sumi… ieu Nyi Nala balik kampung, nya? Jarang pisan ayeuna mah,” (Aduh, Bi Sumi… ini Nala pulang kampung ya? Jarang sekali sekarang,)" celetuk salah satu tetangga, Bu Ida, sambil menaruh sapu lidi di bahunya.

Tatapannya penuh rasa ingin tahu bercampur kagum. Sumiati tersenyum hangat, meski terselip sedikit rasa canggung karena sorotan itu begitu deras tertuju pada putrinya.

“Nya, teh… memang jarang pulang. Nala sibuk pisan ku pagawéan di Jakarta. Anjeunna ayeuna keur nyiapkeun pilem nu diangkat tina novélna, (Iya, Bu… memang jarang pulang. Nala sangat sibuk dengan pekerjaannya di Jakarta. Sekarang dia sedang mempersiapkan film yang diadaptasi dari novelnya,)" ujar sang ibu menjelaskan pencapaian anak nya dengan bangga.

Bisik-bisik pun segera mengalir di antara para tetangga. Ada yang berdecak kagum, ada pula yang hanya mengangguk penuh hormat.

Sebagian ibu-ibu muda memandang Nala seolah tak percaya bahwa gadis sederhana yang dulu sering berlarian di sawah, kini telah menjelma menjadi penulis besar yang karyanya dikenal banyak orang.

Nala sendiri hanya tersenyum sopan, menangkupkan kedua tangan di depan perut, dan menunduk hormat setiap kali tatapan penuh tanya itu diarahkan padanya. Di balik senyumnya, terselip rasa hangat yang tak mampu ia dustai—sebuah keharuan yang tak dapat ia rasakan di panggung megah mana pun.

“Punten, Bu… Nala memang henteu sok tiasa sering uih. Tapi… ayeuna mah Nala hoyong langkung seueur waktos sareng keluarga, (Maaf, Bu… Nala memang tidak bisa sering pulang. Tapi… sekarang Nala ingin lebih banyak waktu dengan keluarga)," ujarnya lembut, membuat beberapa tetangga mengangguk penuh pengertian.

Setelah cukup lama berbincang di halaman depan rumah dengan tetangga yang datang silih berganti, akhirnya Sumiati menepuk pundak putrinya.

“Sudah, Nyi. Ajak kami jalan-jalan, seperti yang kamu janjikan semalam,” pinta sang ibu yang membuat mata Alya berbinar seketika.

Gadis kecil itu—yang kini telah beranjak remaja—langsung meraih tangan kakaknya, hampir menyeretnya ke arah mobil yang terparkir di depan rumah.

“Ayo, Teh! Cepat-cepat! Katanya mau ajak kami jalan-jalan. Jangan ingkar janji!” katanya riang.

Nala hanya tertawa kecil melihat tingkah adiknya. Ia lalu menoleh pada ayahnya yang sedang duduk di kursi bambu sambil merapikan sarung.

“Pak, ikut juga ya. Sudah lama kita tidak jalan bersama,” pinta Nala, hal itu membuat Hendra menatap putrinya dengan tatapan penuh kebapakan.

Lelaki itu jarang bicara banyak, namun sekali ia mengangguk, sorot matanya telah menyimpan seribu rasa—bangga, haru, sekaligus doa dalam diam.

Tanpa menunggu lama, Nala mengajak ibunya, ayahnya, dan Alya masuk ke dalam mobil. Raka tak bisa ikut, sebab pekerjaannya di bengkel tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Namun, meski tak lengkap, perjalanan itu tetap terasa istimewa.

Mesin mobil menyala, roda perlahan berputar melewati jalan kampung yang dikelilingi persawahan hijau dan pepohonan yang menjulang.

Beberapa tetangga yang masih berdiri di tepi jalan melambaikan tangan, seolah melepas seorang anak yang pulang ke asalnya setelah sekian lama.

Bagi Nala, momen sederhana itu jauh lebih berharga daripada gemerlap sorak-sorai ribuan orang dalam acara jumpa pembaca. Sebab di sinilah, ia benar-benar merasa pulang—menjadi dirinya yang paling tulus, dikelilingi orang-orang yang ia cintai, tanpa gelar, tanpa sorotan, tanpa beban.

Tujuan pertama mereka adalah pasar Pelabuhan Ratu. Mobil perlahan masuk ke kawasan yang lebih ramai, suara riuh pedagang bercampur dengan aroma khas pasar: sayur-mayur segar, ikan laut baru turun dari perahu, dan bumbu dapur yang menyengat.

“Ma, apa tidak terlalu repot belanja di sini?” tanya Nala sambil memarkirkan mobilnya di sisi jalan. Sumiati tersenyum, menggeleng pelan.

“Tidak, Nyi. Justru Mama senang. Bisa memilih sendiri sayuran yang masih segar, lebih enak daripada titip,” ujar nya yang membuat Nala mengangguk.

Ia lalu ikut berjalan, membawa tas belanja besar yang tadi sempat disiapkan. Beberapa pedagang yang mengenali wajahnya sempat berbisik pelan, ada pula yang tersenyum lebar sambil melambaikan tangan. Meski sedikit kikuk dengan perhatian itu, Nala membalas dengan senyum ramah dan sapaan singkat.

Sumiati memilih tomat ranum, cabai merah segar, serta ikan kembung yang baru saja diturunkan dari keranjang bambu nelayan.

Sesekali ia menawar, suaranya tenang tapi tegas, membuat Nala tertawa kecil—sudah lama ia tidak melihat ibunya beradu argumen sederhana dengan pedagang pasar. Sementara itu, Alya sibuk menunjuk sana-sini.

“Teh, lihat! Ada baju bagus di toko sebelah! Boleh kita mampir?” tanyanya dengan tatapan penuh harap. Nala terkekeh, lalu menepuk lembut kepala adiknya.

“Baiklah. Setelah Mama selesai belanja, kita mampir ke toko baju,” jawab Nala yang membuat Alya tersenyum bahagia.

Benar saja, setelah belanja sayur selesai, mereka berjalan menuju sebuah pusat perbelanjaan sederhana. Bangunannya tidak semewah mal di Jakarta, namun memiliki kehangatan tersendiri: deretan kios kecil yang menjual pakaian dari berbagai gaya, mulai dari gamis sederhana, kemeja, hingga gaun santai.

Alya langsung berlari kecil ke sebuah toko yang penuh dengan gantungan dress remaja. Ia mencoba beberapa, mematut diri di depan cermin panjang dengan wajah berbinar.

“Teh, bagus tidak?” tanyanya berulang kali Nala hanya tersenyum, lalu akhirnya mengeluarkan kartu debitnya tanpa banyak kata.

“Ambil saja yang kamu suka. Sesekali tidak apa-apa. Bapak sama Mama juga,” jawab Nala yang membuat Sumiati menoleh dengan tatapan khawatir.

“Nyi, jangan terlalu boros. Masih banyak kebutuhan lain,” ujar nya yang membuat  Nala menggenggam tangan ibunya, menatap dengan lembut.

“Tidak apa-apa, Ma. Bukankah membahagiakan keluarga adalah rezeki juga?” ucapnya pelan.

Kata-kata itu membuat sang ibu terdiam, lalu mengangguk dengan mata yang sedikit berkaca.

"Mama masih tidak percaya kamu bisa berhasil seperti ini Nyi," ujar sang ibu yang membuat Nala tersenyum tipis lalu memeluk nya.

Mereka memutuskan membeli banyak barang hingga akhirnya setelah puas berbelanja, mereka memutuskan untuk makan siang bersama di sebuah rumah makan sederhana tepi jalan, tak jauh dari pantai Pelabuhan Ratu.

Angin laut yang asin membawa aroma khas, sementara debur ombak terdengar sayup dari kejauhan.

Nala duduk di hadapan ayah dan ibunya, sementara Alya masih sibuk membuka plastik berisi baju barunya. Mereka memesan hidangan sederhana: ikan bakar, sambal terasi, lalapan segar, dan segelas es kelapa muda.

“Sudah lama sekali kita tidak makan bersama seperti ini,” ucap Hendra, suara rendahnya penuh makna.

Nala mengangguk, menatap wajah ayahnya yang mulai dipenuhi keriput.

“Iya, Pak. Nala merindukan momen ini. Rasanya berbeda sekali dibanding makan sendirian di apartemen,” jawab Nala yang membuat senyum lembut terukir di wajah Sumiati.

“Kapan pun kamu pulang, rumah ini selalu ada. Jangan terlalu sibuk sampai lupa ke sini, Nyi,” ucap sang ibu yang membuat suasana hening sejenak.

Hanya suara ombak dan riuh pelanggan lain yang terdengar. Namun bagi Nala, momen itu terasa seperti pelukan hangat yang tak kasat mata—sebuah pengingat bahwa sebesar apa pun panggung yang ia injak di luar sana, tempat kembali tetaplah di sini.

"Iya Ma, kadang Nala terlalu sibuk dan terlalu pokus pada pekerjaan, doakan Nala selalu berhasil ya Ma, pak," ujar Nala yang membuat kedua orangtuanya mengangguk dengan mata penuh sorot bangga.

"Teh, kapan kapan ajak kami main ke Jakarta boleh?" Tanya Alya yang pokus menyantap makanan nya. Nala tersenyum lalu mengangguk.

"Tentu saja, boleh. Lagipula apartemen terasa kosong, Nala juga jarang di rumah," kata Nala yang membuat sang ibu melirik nya.

"Lalu kamu pulang ke mana?" Tanya nya bingung.

"Kadang pulang ke rumah Rani," ujar Nala yang membuat sang ibu mengangguk, mereka memang tahu tentang Rani, dia adalah sahabat Nala yang merupakan seorang penulis juga, meskipun namanya tidak seterkenal Nala.

Setelah seharian penuh menghabiskan waktu di luar, mobil yang dikendarai Nala akhirnya berhenti di halaman rumah orang tuanya.

Senja sudah berlalu, langit mulai beranjak ke gelap, dan tubuhnya terasa begitu letih. Ia turun dari mobil dengan langkah sedikit berat, sempat menatap halaman rumahnya yang sederhana, kemudian menarik napas panjang.

Aroma tanah basah bercampur dengan harum dedaunan yang tertiup angin malam menyambut kepulangannya bersama orang tua dan adik nya.

Karena terlalu lelah menyetir, Nala memutuskan untuk tidak banyak berbicara lagi. Ia langsung mandi, menyegarkan tubuhnya yang lengket oleh perjalanan dan udara Sukabumi yang lembap. Setelah itu, ia masuk ke kamarnya untuk menunaikan shalat.

Bagaimanapun sibuknya ia di Jakarta, orang tuanya selalu menanamkan ketegasan soal ibadah—dan Nala, meski tidak fanatik, tetap rajin menjaga kewajibannya.

Selesai shalat, ia naik ke atas ranjangnya. Laptop yang sejak kemarin dibiarkan tergeletak di meja akhirnya ia tarik ke pangkuannya. Jari-jarinya mulai menari di atas keyboard, menuangkan kalimat demi kalimat.

Riuh sholawat dari pengeras suara masjid di kampung, berpadu dengan kokok ayam yang sesekali terdengar meski sore sudah menjelang malam, seolah menjadi musik pengiring yang menenangkan.

Suasana itu jauh berbeda dengan Jakarta, namun justru itulah yang membuat inspirasi mengalir lebih lancar.

Namun tiba-tiba, bunyi notifikasi email terdengar. Nada khas yang biasanya ia abaikan. Dengan malas, ia menggeser kursor menuju ikon pesan.

Subject:

“Congratulations! You are the Winner of Global Fiction Award 2025”

Alis Nala berkerut. Ia membaca berulang-ulang, memastikan matanya tidak salah melihat. Jantungnya berdegup lebih cepat.

“Hah… ini serius? Atau cuma spam?” gumamnya pelan.

Namun begitu jendela email terbuka, matanya membesar.

“We are pleased to inform you that your manuscript, A Thread Unbroken, has been selected as the Grand Winner of our International Fiction Contest…”

Tangannya refleks menutup mulut. Pandangannya kabur oleh rasa kaget yang terlalu besar. Ia baca ulang sekali. Dua kali. Tiga kali.

“Ti… tidak mungkin…” suaranya pecah, hampir tak terdengar.

“As the Grand Winner, you are invited to Seoul, South Korea, to attend the Awarding Ceremony…”

“Ya Allah…” lirihnya bergetar.

Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Rasanya seperti mimpi. Tangannya gemetar saat meraih ponsel. Ia hampir menjatuhkan benda itu ketika buru-buru mencari nama Davin. Begitu tersambung, suaranya langsung pecah.

“Mas… aku… aku menang lomba menulis internasional itu…” ujar nya yang membuat suasana hening sejenak di seberang sana. Lalu suara Davin meledak dengan tawa tidak percaya.

“Astaga! Yang kamu asal kirim tempo hari itu? Yang kamu bilang ‘iseng’? Wah, asal kirim, tiba-tiba diterbangkan keluar negeri! Hahaha, luar biasa, Nala!” ujar Davin setengah tidak percaya juga.

“Serius, Mas? Ini… jangan-jangan bercanda? Atau phishing? Apa benar?” tanya Nala, nadanya setengah panik.

“Coba kirimkan emailnya padaku. Aku cek dulu,” jawab Davin cepat.

Dengan tangan bergetar, Nala mengirimkan email tersebut. Sambil menunggu, ia duduk di tepi ranjang, menundukkan kepala, jantungnya seakan memukul-mukul tulang rusuk. Tak lama kemudian, suara Davin kembali terdengar. Kali ini lebih serius.

“Nala… ini asli. Tidak ada tipuan. Mereka benar-benar mengundangmu datang langsung ke sana,” ujar nya yang membuat kepala Nala langsung tertunduk.

Nala terduduk lemas, kedua tangannya menutup wajah. Air matanya nyaris menetes, setengah malu, setengah bahagia.

“Ya ampun… ini nyata… ini benar-benar nyata…” bisiknya. Di seberang, Davin ikut terdiam sejenak sebelum akhirnya menambahkan.

“Nala, mereka pasti akan meminta konfirmasi darimu. Jangan sampai telat,” ujar nya memperingati Nala.

“Aku… aku tidak bisa datang sendiri. Mas… tolong temani aku, ya? Aku pasti gugup kalau berdiri sendiri di sana…” suara Nala bergetar, nyaris putus di ujung kalimat.

Davin hanya terbahak kecil, meski nadanya terdengar hangat

“Kalau memang begitu, ya sudah. Aku akan ikut. Tapi bersiaplah, Nala. Hidupmu akan berubah setelah ini,” ujar nya yang membuat Nala menatap layar laptopnya lagi, email yang masih terbuka.

Matanya berair. Senyumnya samar. Tubuhnya masih gemetar. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia sadar: mimpinya tidak hanya diakui oleh keluarga atau pembaca setianya, tetapi juga oleh dunia.

"Baiklah mas, kita berangkat setelah menunggu konfirmasi dari sana ya, terimakasih banyak," ujar Nala yang membuat Davin menjawab cepat.

"Sama sama, sekalian liburan," ujar nya yang membuat Nala terkekeh pelan.

"Baiklah aku tutup telpon nya, nanti aku kabari lagi," balas Nala, dia masih senyum-senyum sendiri ketika akhirnya nekat menelpon Rani—sahabat sekaligus sesama penulis yang paling sering jadi tempat curhat. Begitu telepon diangkat, Nala langsung meledak,

“Ran! Aku menang lomba internasional itu! Yang kemarin aku asal kirim naskah—aku menang!” ujar nya yang membuat suara Rani di seberang langsung pecah ketawa.

“HAHAHA… tunggu, tunggu, Nala. Jadi kamu benar-benar excited seperti anak kecil karena… diminta ke Korea? Bukannya kamu udah pernah ke sana waktu tahun lalu? Waktu jadi panelis?” tanya nya yang membuat Nala terdiam sepersekian detik.

“Ya iya sih… tapi—” ucapan Nala di potong cepat.

“Lalu kenapa seperti dapat tiket ke bulan saja?  Nala, Korea itu tidak kemana-mana, masih di peta dunia!” goda Rani sambil tertawa terbahak-bahak.  Nala mendengus, wajahnya memerah meski tak terlihat.

“Bukan itu, Ran. Aku senang bukan karena perginya, tapi… ini pertama kalinya karyaku benar-benar diakui di tingkat dunia. Aku… aku merasa dihargai. Rasanya seperti… semua kerja kerasku tidak sia-sia,” ujar nya yang membuat suara Rani mendadak lebih lembut, meski masih nyeleneh.

“Ya ampun, mellow sekali. Tapi aku mengerti. Kamu pantas, Nal. Dari dulu tulisanmu selalu punya ‘sesuatu’ yang membuat orang berhenti dan berpikir,” ujar nya .

"Terimakasih pujian nya nyonya," kata Nala yang membuat Rani kembali tertawa terbahak-bahak.

“Tapi kamu memang luar biasa kamu, Nala! Asal kirim menang, itu definisi menyebalkan untuk penulis lain yang serius seperti ku," ujar nya yang membuat Nala berdehem pelan.

"Aku juga menulis serius hanya saja saat aku kirimkan itu memang tidak seniat itu, karena aku pikir aku tidak akan menang," kata Nala yang membuat Rani tertawa miris.

“Asal kirim saja kau dapat penghargaan Nala, kalau serius mungkin kau dapat Nobel," ujar nya yang membuat Nala kembali terkekeh, rasa terkejutnya tadi mulai cair ketika Rani meledekinya.

"Aku akan pergi ke sana dengan mas Davin," ujar Nala mengalihkan pembicaraan.

"Wah kenapa kau tidak ajak aku? Aku ingin bertemu idolaku juga di sana," ujar nya terdengar antusias.

"Kau masih suka pada Lee Min Ho?" Tanya Nala yang membuat Rani terkekeh di sebrang sana.

"Tentu saja, cintaku padanya seabadi tulisan ku," balas nya yang membuat Nala terkekeh geli.

"Kau cocok menulis jurnal cinta Ran, daripada novel Isekai." Balas Nala yang membuat Rani makin terbahak.

"Tapi Nala, artinya kau bisa satu udara dengan idola mu juga, SOLIX... Wah aku sungguh iri padamu," ujar Rani terdengar lirih mendramatisir keadaan.

"Wah... Benar juga, aku bisa satu udara dengan Junho di sana," kekeh Nala yang membuat Rani ikut tertawa.

Suara tawa keduanya berbaur melalui sambungan telepon, seakan jarak Jakarta–Sukabumi tidak pernah ada. Rani masih cekikikan ketika menyahut, suaranya setengah terengah karena terlalu bersemangat.

“Bayangkan, Nala! Kau dan aku… meski berbeda generasi idola, kita sama-sama akan menapaki tanah yang pernah diinjak oleh lelaki pujaan kita. Kau mungkin akan satu lift dengan Junho, dan aku… siapa tahu bisa sekadar mencium aroma udara yang pernah dihirup Lee Min Ho!” serunya, begitu dramatis hingga Nala menahan tawa sampai perutnya terasa perih.

“Ran, kau ini berlebihan sekali. Rasanya kau seperti penulis roman picisan, bukan seorang pengarang dengan akal sehat,” goda Nala dengan suara bercampur geli.

“Aku hanya berkata jujur! Kau tidak tahu rasanya, Nala. Lelaki itu—Lee Min Ho—adalah definisi pangeran dari negeri dongeng yang terperangkap di abad modern. Kalau ada hukum yang mengatur soal jatuh cinta kepada figur publik, aku pasti sudah dipenjara seumur hidup!” balas Rani cepat, masih dengan intonasi penuh api fangirl.

Nala meledak tertawa, hingga hampir menjatuhkan ponsel dari tangannya.

“Astaga, Ran. Kau ini sungguh gila. Untung saja kita berdua penulis, jadi semua obsesi ini bisa kita salurkan lewat fiksi, bukan lewat tindakan nyata. Bayangkan kalau kau benar-benar nekat mendatangi rumahnya, bisa-bisa headline berita Korea menuliskan ‘Seorang penulis Indonesia tersesat di halaman rumah aktor papan atas’,” ledek nya yang membuat Rani terkikik keras, tapi tidak mengurangi nada serius dalam jawabannya.

“Nal, itu bukan tersesat. Itu namanya takdir. Dan kalau takdir sudah bicara, siapa yang bisa menghalangi?” ujar nya yang membuat Nala mendengus, kepalanya digeleng-gelengkan meski sahabatnya tentu tidak bisa melihat.

“Baiklah, kau menang. Tapi kalau kita bicara soal takdir, bukankah aku lebih berpeluang bertemu Junho daripada kau dengan Lee Min Ho? Kau lupa? Aku punya undangan resmi, sedang kau… apa modalmu? Doa dan mimpi?” tanya nya yang membuat Rani terdiam sejenak sebelum akhirnya suara nya kembali terdengar.

“Astaga, menusuk sekali kata-katamu,” pura-pura Rani merintih, seakan Nala baru saja menghunuskan belati. “Tapi jangan sombong dulu, Nona. Kau mungkin bisa bertemu Junho, tetapi apakah kau punya keberanian untuk menatap matanya langsung? Atau jangan-jangan kau hanya sanggup menunduk, lalu pulang dengan membawa cerita konyol bahwa idolamu lebih wangi daripada parfum Dior?” lanjut nya yang membuat Nala menutup wajahnya dengan bantal, tertawa terbahak hingga air mata hampir keluar.

“Ran, sumpah kau ini gila. Tapi kau benar juga… aku mungkin akan jadi sangat kikuk. Apa jadinya kalau aku benar-benar kebetulan berpapasan dengannya? Aku… mungkin hanya akan membeku di tempat. Astaga, memikirkannya saja sudah membuatku berkeringat dingin,” jawab Nala yang membuat Rani segera menimpali, suaranya meninggi penuh energi.

“Nah, itulah bedanya aku dan kau! Jika aku bertemu Lee Min Ho, aku akan melambaikan tangan, tersenyum manis, dan berkata: ‘Oppa, aku menungguimu sejak aku lahir’. Sementara kau… kau mungkin hanya akan jadi patung hidup yang mematung di lobi hotel!” ujar nya yang membuat suasana kembali pecah oleh gelak tawa keduanya.

Nala bahkan sempat terbatuk-batuk karena terlalu keras tertawa, sementara Rani terus-menerus menambahkan bumbu dramatis dalam ucapannya padahal mereka tahu itu hanya imajinasi mereka, karena Nala pun tidak yakin bisa bertemu dengan idola nya yang merupakan artis global itu.

“Ran, kau itu sungguh tidak punya malu,” ujar Nala sambil mengusap sudut matanya yang basah karena menahan geli.

“Justru itulah kekuatanku, Nala! Dalam dunia fangirl, rasa malu adalah penghalang nomor satu. Kalau kau tidak sanggup menyingkirkannya, maka kau hanya akan jadi penonton dari jauh. Sedangkan aku… aku calon ratu yang siap merebut mahkota hati Lee Min Ho!” ujar nya yang membuat Nala hampir tersungkur dari tempat tidurnya, menahan perut yang kram akibat tertawa.

“Baiklah, calon ratu. Kalau begitu, izinkan aku menjadi rakyat jelata yang hanya bisa menatap Junho dari kejauhan. Anggap saja aku cukup puas berada di kerajaannya,” jawab Nala dengan suara terputus putus karena terlalu banyak tertawa.

"Ah, dasar pengecut!” Rani kembali meledek, suaranya begitu renyah. “Tapi, sungguh, Nal… aku bangga padamu. Di balik semua canda ini, kau sungguh luar biasa. Mungkin benar, kau hanya bercanda ketika bilang bisa satu udara dengan Junho. Tapi sesungguhnya, kau sudah satu langkah lebih dekat dengan mimpimu sendiri. Itu sesuatu yang tidak bisa dimiliki oleh semua orang,” lanjut nya yang membuat tawa yang tadinya memenuhi percakapan pun perlahan mereda, diganti oleh keheningan singkat yang hangat.

Nala terdiam, dadanya terasa penuh, lalu ia berbisik lirih—meski masih dengan nada bercanda.

“Ran, jangan membuatku menangis. Aku sedang sibuk membayangkan Junho tersenyum, jangan kau rusak adegannya dengan pidato motivasi,” ledek nya yang membuat  keduanya kembali meledak dalam tawa panjang, seolah-olah dunia hanyalah milik dua penulis yang sama-sama terjebak dalam delusi fangirl yang tidak ada habisnya.

“Bayangkan, Nal, bayangkan…” suara Rani menurun jadi lebih dramatis, seolah tengah mengisahkan sebuah tragedi klasik. “Kau turun dari pesawat, langkahmu gemetar, lalu kau melihat sekumpulan orang berjas hitam berbaris rapi. Dan di tengah-tengah mereka… Junho berdiri, menunggumu. Matanya terpatri pada sosokmu—bukan siapa pun, hanya kau. Ia tersenyum tipis, lalu berkata, ‘Nala-ssi, akhirnya aku menemukanmu,’” ujar nya yang membuat Nala menutup wajahnya dengan telapak tangan, terkekeh geli.

“Ran, kau ini menonton drama terlalu banyak. Aku yakin Junho bahkan tidak tahu keberadaanku di planet ini,” tawa nya makin tak terkendali.

“Tentu saja dia tahu! Kau pikir selama ini dia menulis lirik lagu untuk siapa? Untuk penggemar? Salah besar. Itu semua kode rahasia, Nal. Pesan cinta yang ia titipkan pada semesta, agar suatu hari sampai ke telingamu,” kata nya terdengar serius tapi Nala  malah makin tertawa keras, sampai tubuhnya berguncang.

“Astaga, kau ini sinting. Junho bahkan tidak bisa bahasa Indonesia, bagaimana mungkin ia menulis pesan rahasia untukku?” ucap nya sembari tertawa mendengar halusinasi sahabat nya itu. Namun Rani menjawab tanpa ragu, penuh keyakinan.

“Bahasa cinta itu universal, Nala. Kau tinggal tatap matanya, dan seluruh kosmos akan bersekongkol agar kalian saling memahami. Kau ini penulis, masa tidak percaya?” ujar nya seperti guru literasi yang siap mempertanyakan ucapan muridnya. Nala menggeleng, bibirnya masih tersenyum.

“Ran, aku percaya pada imajinasi, bukan pada halusinasi. Ada bedanya,” jelas Nala namun sahabatnya sama sekali tidak menyerah.

“Baiklah, kalau kau keras kepala, aku akan buatkan skenario lain. Bayangkan: kau tersesat di Seoul. Malam gelap, hujan turun deras. Kau berdiri di pinggir jalan, payungmu terbalik diterpa angin. Dan tiba-tiba, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depanmu. Kaca jendela terbuka perlahan… dan Junho menatapmu dengan wajah khawatir. Ia keluar, menyampirkan jasnya di bahumu, lalu berkata: ‘Cepat masuk, kau bisa sakit kalau kehujanan begini,’” jelas nya yang membuat Nala menepuk jidatnya, antara ingin tertawa dan menangis karena saking absurdnya.

“Ran, skenario itu terlalu dramatis. Itu bukan pertemuan, itu adegan sinetron jam prime time,” kekeh nya yang membuat Rani mendesah panjang, seolah-olah Nala tidak tahu bagaimana cara menikmati dunia halusinasi nya.

“Nal, kau ini terlalu realistis. Hidup tanpa bumbu halu itu hambar. Percayalah padaku, suatu hari, salah satu halu-ku akan menjadi nyata. Dan ketika itu terjadi, aku akan menertawakanmu karena kau tidak pernah percaya,” ujar nya yang membuat Nala akhirnya menyerah, hanya bisa tertawa kecil sambil menggeleng.

“Baiklah, Ratu Halu. Aku akan catat perkataanmu. Kalau nanti benar terjadi, aku akan tulis novel dengan judul Mimpi yang Menjadi Nyata: Biografi Seorang Fangirl. Kau boleh jadi tokoh utamanya,” ucap Nala yang setengah serius namun lebih banyak bercanda.

Karena menurut nya hal itu jelas tidak mungkin bertemu dengan idolanya itu sudah sebuah anugrah apalagi jika sampai menjadi bagian dari hidupnya, sungguh khayalan yang terlalu indah untuk di akhiri namun terlalu mustahil untuk menjadi kenyataan.

Namun mendengar itu Rani langsung berteriak kecil, antusias.

“Astaga, Nal! Itu ide yang brilian! Kau harus menulisnya! Novel tentang fangirl yang akhirnya berjodoh dengan idolanya. Itu akan jadi best seller—lebih meledak daripada novelnya Tere Liye!” ujar nya yang membuat Nala kembali tergelak mendengar ucapan itu.

“Ya Allah…” Nala tergelak sampai terpingkal, memegang perutnya yang sakit karena terlalu lama menahan tawa. “Ran, kau sungguh tidak ada obat. Apa kau belum minum obat?” lanjut Nala yang membuat Rani menjawab cepat.

“Tidak perlu ada obat, Nala. Obat itu untuk orang sakit. Aku bukan sakit, aku… jatuh cinta,” jawab Rani dengan nada penuh gaya, seperti pujangga mabuk asmara.

Nala hanya bisa menghela napas panjang, lalu berkata lirih—setengah pasrah, setengah geli.

“Baiklah, aku menyerah. Dunia memang tidak butuh logika selama ada kau di dalamnya Ran,” ujar nya dan begitu kata itu keluar, tawa keduanya kembali pecah, memenuhi malam dengan percakapan dua sahabat yang sama-sama terjebak dalam dunia halu—meski dengan kadar yang sangat berbeda.

Percakapan mereka terus berlanjut, seakan tidak ada habisnya jika sudah membicarakan tentang sesuatu yang kita sukai, begitu juga dengan Nala dan Rani dua wanita cerdas yang tergila-gila pada pria dari negri gingseng itu.

Tanpa sadar langit di luar sudah gelap, dan Nala bahkan tidak sadar orang tuanya memanggil sejak tadi dan menyuruh nya untuk shalat Maghrib.

"Nala... Kamu sudah shalat belum nak?" Teriak Sumiati dari luar kamar sang putri, Nala yang mendengar teriakkan itu langsung bangun dan berkata pada Rani.

"Ran.. kita lanjutkan nanti ya, ibuku menyuruh ku shalat," ujar Nala yang membuat tawa Rani seketika terhenti.

"Baiklah, jangan lupa doakan aku dan Lee Min Ho bersatu, aku sedang pms jadi tidak ibadah," ujar nya yang membuat Nala terkekeh sebentar sebelum mematikan panggilan tersebut.

Dia bergegas keluar kamar untuk mengambil air wudhu, dan di sana dia berpapasan dengan ibu nya yang sibuk menyiapkan makan malam.

"Kamu sudah shalat?" Tanya nya yang membuat Nala menggeleng.

"Belum Ma. Nala tidak dengar azan," jawab Nala jujur.

"Astaghfirullah, Mama teriak teriak dari tadi juga. Cepat Wudhu dan shalat sebentar lagi bapak pulang kita makan malam bersama bantu Mama masak," ujar nya yang membuat Nala mengangguk cepat lalu masuk ke kamar mandi.

1
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!