Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 — Nama yang Beredar
“Empat pengawal mati dalam dua puluh detik.”
Pria berkepala plontos itu meletakkan gelas wiskinya dengan hentakan pelan di atas meja kayu yang permukaannya lengket oleh tumpahan minuman bertahun-tahun. Lampu bar yang redup dan berwarna kekuningan memantulkan bayangan aneh di wajahnya yang penuh keringat, membuatnya tampak seperti hantu di tengah kerumunan pelanggan yang duduk melingkar.
“Bullshit,” sela seseorang dari ujung meja, seorang pria dengan tato memudar di lehernya. Ia mendengus sambil menyalakan rokok. “Tidak ada orang sehebat itu di distrik ini. Empat orang bersenjata bukan target empuk.”
“Aku melihatnya sendiri dari kejauhan, sialan,” balas si pria plontos dengan nada rendah yang bergetar. “Gerakannya tidak masuk akal. Seperti dia tahu ke mana peluru akan bergerak sebelum pelatuk ditarik.”
Ruangan bar bawah tanah di Distrik 3 itu pengap, dipenuhi kepulan asap rokok yang menggantung seperti kabut tipis di bawah langit-langit rendah. Bau alkohol murah bercampur dengan aroma keringat dan pelumas mesin—kombinasi aroma khas tempat di mana rumor lahir sebelum mereka menyebar ke seluruh penjuru kota seperti wabah.
Pria plontos itu mencondongkan tubuhnya ke depan, merendahkan suaranya hingga nyaris berupa bisikan. “Bukan cuma pengawal. Pengantar barangnya juga mati. Dieksekusi di tempat.”
“Siapa yang melakukannya?” tanya pria lain yang sedari tadi hanya menyimak sambil memainkan korek api.
“Kurir.”
Kata itu membuat beberapa orang di meja tersebut saling bertukar pandang. Ada keheningan singkat yang janggal sebelum salah satu dari mereka tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa kering yang meremehkan.
“Kurir tidak membunuh orang, Sobat,” katanya sambil menyeka air mata di sudut matanya. “Kurir itu hanya bocah-bocah dengan jaket kebesaran yang mengantar paket ilegal agar bisa makan malam. Mereka tukang lari, bukan algojo.”
Pria plontos itu hanya mengangkat bahu, tidak merasa perlu membela diri. “Mungkin. Tapi kurir yang ini berbeda.”
Di sudut ruangan yang paling gelap, seorang pria kurus dengan jaket kulit hitam yang sudah mengelupas di bagian bahu perlahan mengangkat alisnya. Ia selama ini diam, namun topik ini sepertinya menggelitik saraf keingintahuannya.
“Bagaimana bentuknya?” tanya si pria kurus. Suaranya dingin, memotong kebisingan di sekitarnya.
Pria plontos itu menenggak habis wiskinya sebelum menjawab. “Helm hitam. Motor hitam. Tidak banyak bicara. Dia bergerak di balik bayangan seolah-olah dia adalah bagian dari bayangan itu sendiri.”
Pria kurus itu menarik napas panjang, sebuah senyum tipis yang penuh arti muncul di wajahnya yang tirus. “Fuck. Aku pernah mendengar tentang orang seperti itu.”
Seseorang mencondongkan kursinya, tertarik oleh pengakuan tersebut. “Dari mana?”
“Pelabuhan utara,” jawab pria kurus pendek, matanya menatap kosong ke arah gelas birnya yang tinggal separuh. “Kejadiannya sekitar tiga bulan lalu. Saat badai besar.”
Ia mengangkat satu jari, memberi penekanan pada ceritanya. “Ada pengiriman senjata dari luar negeri. Barang panas. Dua geng besar mencoba merampoknya di titik serah terima. Mereka membawa senapan otomatis dan granat.”
“Lalu?”
“Barangnya tetap sampai ke tujuan tepat waktu,” pria kurus itu menjeda ceritanya sejenak untuk meminum birnya. “Tanpa lecet sedikitpun.”
Pria lain di meja itu bersandar ke kursi kayu yang berderit, wajahnya tegang. “Berapa korban?”
“Delapan orang,” jawab pria kurus singkat. “Semuanya ditemukan dengan luka tembak presisi di titik-titik fatal.”
Sunyi kembali menguasai meja itu selama beberapa detik. Hanya suara musik blues parau dari jukebox tua yang mengisi kekosongan.
“Kurir itu membunuh mereka semua sendirian?” tanya seseorang dengan nada tak percaya.
“Tidak tahu,” kata pria kurus, meletakkan gelasnya dengan mantap. “Yang aku tahu hanya satu hal.” Ia mengetuk permukaan meja kayu itu tiga kali dengan buku jarinya. “Tidak ada yang melihat wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya.”
Seseorang dari balik meja bar, yang sedari tadi pura-pura membersihkan gelas, tertawa kecil. “Kurir misterius. Cerita yang bagus untuk menakuti para pemula.”
Pria plontos itu menyeringai, matanya menyala. “Lebih seperti hantu.”
Beberapa orang tertawa kecil menanggapi sebutan itu, mencoba mencairkan ketegangan yang mulai merayap. Namun pria kurus itu tidak tertawa. Ia memutar-mutar gelasnya, menatap pusaran bir di dalamnya dengan ekspresi serius.
“Hantu,” ia mengangguk pelan, seolah nama itu memang paling cocok. “Ya. Hantu.”
Ia menatap ke arah rekan-rekannya yang lain, memberikan nama yang akan segera menjadi legenda di jalanan. “Phantom.”
Nama itu menggantung di udara malam, terasa dingin dan berat. Seseorang akhirnya mengangkat gelasnya tinggi-tinggi ke arah remang-remang lampu.
“Untuk Phantom.”
Gelas-gelas berdenting, menyegel lahirnya sebuah rumor yang akan segera berubah menjadi ketakutan kolektif di dunia bawah tanah.
Sementara itu, jauh dari keramaian bar yang kotor, sebuah motor hitam melaju kencang di jalan tol yang kosong di pinggiran kota. Cahaya lampu jalan melintas cepat secara ritmis di atas visor helm Leon, menciptakan garis-garis putih yang memudar dalam hitungan detik.
Suara Gray muncul kembali di earpiece, suaranya terdengar seperti gangguan elektromagnetik yang halus. “Rumor sudah mulai menyebar, Leon. Sangat cepat.”
Leon tidak menjawab. Ia hanya menambah tarikan gas, membiarkan raungan mesin motornya meredam kebisingan pikirannya sendiri.
“Kau menjadi cerita utama malam ini di sudut-sudut gelap kota,” lanjut Gray, nada suaranya terdengar sedikit bangga, atau mungkin hanya terhibur.
Leon memiringkan motornya dengan kemiringan yang tajam, memasuki sebuah tikungan panjang yang menurun. Angin malam menghantam tubuhnya, namun ia hampir tidak merasakannya. Gray melanjutkan laporannya. “Bar di Distrik 3. Pelabuhan utara. Bahkan di gudang-gudang pasar gelap. Mereka membicarakanmu.”
Leon mengurangi kecepatan sedikit saat jalanan mulai menyempit. “Aku tidak peduli,” sahutnya pendek.
Gray mendengus, suara yang jarang ia keluarkan. “Harusnya kau peduli. Aku peduli.”
Leon melaju melewati sebuah truk kontainer besar yang bergerak lambat, suara knalpotnya bergema di kolong jembatan. “Kenapa?”
“Karena di dunia ini, reputasi bisa menjadi alat yang sangat kuat. Itu bisa membuka pintu yang sebelumnya tertutup rapat,” ujar Gray.
Motor Leon meluncur keluar dari jalan tol, memasuki area kawasan industri yang tampak seperti labirin beton yang mati. “Dan reputasi juga bisa menjadi target,” lanjut Gray, kali ini suaranya lebih serius.
Leon akhirnya mematikan mesin motornya di bawah sebuah jembatan beton tua yang sudah retak-retak. Sunyi seketika menyergap, hanya menyisakan suara detik mesin motor yang masih panas. Ia melepas helmnya, membiarkan udara malam yang dingin menyentuh wajahnya yang tanpa ekspresi.
Gray berbicara lagi, seolah tidak terpengaruh oleh kebisuan Leon. “Ada sesuatu yang menarik dari analisis dataku malam ini.”
“Apa?”
“Orang yang menyewa kontrakmu semalam,” Gray menjeda sejenak, suara ketikan keyboard terdengar di latar belakang. “Pria tua di gudang kanal itu.”
Leon membuka tas pinggangnya, mengeluarkan amplop cokelat tebal berisi uang tunai yang ia terima beberapa jam lalu. “Ya.”
“Dia bukan klien biasa. Dia bukan sekadar penadah barang curian,” kata Gray. “Dia adalah broker kelas atas yang bekerja langsung untuk sindikat di pusat kota.”
Leon menatap ke arah sungai hitam yang mengalir tenang di bawah jembatan, matanya tajam memindai kegelapan. “Siapa?”
“Identitas pastinya masih dalam enkripsi, tapi intinya satu: seseorang dengan uang yang sangat besar dan pengaruh yang luas sedang memperhatikan pekerjaanmu.”
Leon memasukkan kembali amplop itu tanpa minat untuk menghitungnya. “Aku hanya kurir. Aku melakukan apa yang dibayar.”
Gray tertawa kecil, suara digitalnya terdengar sinis. “Tidak menurut orang-orang yang melihat empat mayat di dermaga malam tadi. Kau lebih dari itu bagi mereka.”
Leon berdiri tegak di samping motornya, menatap ke arah gedung-gedung pencakar langit yang bercahaya di kejauhan. “Kau menyebut namaku?”
Hening sejenak di saluran komunikasi. Gray seolah menimbang jawabannya. “Tidak. Tentu saja tidak.”
“Bagus.”
“Dunia bawah tidak mengenal Leon,” kata Gray dengan nada menenangkan. “Bagi mereka, kau tidak punya wajah. Mereka hanya mengenal seorang kurir yang tak pernah gagal.”
Leon mengenakan kembali helmnya, mengunci visor-nya dengan bunyi klik yang mantap. Gray melanjutkan dengan nada yang hampir santai, seolah menikmati drama yang sedang berkembang. “Meski begitu, ada satu nama yang mulai muncul ke permukaan. Nama yang diciptakan oleh orang-orang yang ketakutan.”
Leon menyalakan kembali mesin motornya, cahaya lampu depan membelah kegelapan di bawah jembatan. “Apa?”
Gray tersenyum di seberang sambungan, sebuah senyum yang bisa dirasakan Leon dari nada bicaranya. “Phantom.”
Leon tidak memberikan reaksi. Ia tidak terkesan, juga tidak merasa bangga. Ia hanya memutar gas, dan motor hitam itu melesat keluar dari bayangan jembatan, menyatu dengan malam.
Kembali di bar Distrik 3 yang mulai penuh sesak, suasana semakin panas. Rumor itu telah bermutasi menjadi diskusi yang lebih serius di kalangan para pemain lama.
“Jika cerita itu benar,” kata salah satu pria yang baru bergabung di meja pria kurus, wajahnya terlihat cemas. “Orang itu akan menjadi masalah besar bagi keseimbangan di sini.”
“Untuk siapa?” tanya si pria kurus, sambil menyalakan rokok barunya.
“Untuk semua pembunuh bayaran dan tentara bayaran di kota ini,” jawabnya serius. “Seseorang yang bisa menyelesaikan pekerjaan serumit itu dengan kecepatan seperti itu akan menarik semua kontrak besar dari broker-broker tinggi.”
Ia menatap meja dengan tatapan kosong. “Dan jika dia mengambil semua kontrak besar, itu artinya satu hal bagi kita.”
Pria lain di meja itu menyeringai pahit, menyelesaikan kalimat temannya. “Kita kehilangan pekerjaan. Kita kehilangan nilai.”
Pria kurus itu tertawa pelan, asap rokok keluar dari sela bibirnya. “Kalau begitu, solusinya mudah, bukan? Bunuh saja dia sebelum dia menjadi terlalu besar.”
Keheningan melanda meja itu. Ide untuk memburu sesuatu yang disebut "Hantu" terdengar seperti bunuh diri. Seseorang dari meja sebelah, yang sedari tadi hanya mendengarkan, berkata dengan suara serak. “Silakan coba... jika kalian bisa menemukannya.”
Pria kurus itu menoleh, matanya menantang. “Kenapa tidak? Semua orang pasti meninggalkan jejak. Darah, saksi, atau sekadar aroma minyak mesin.”
“Tidak semua orang,” balas pria asing itu sambil meminum wiskinya perlahan. “Hantu tidak meninggalkan jejak. Dia hanya meninggalkan mayat dan pertanyaan.”
Beberapa orang tertawa gugup, mencoba menganggapnya sebagai lelucon. Namun di sudut ruangan yang paling terpencil, seorang pria dengan mantel panjang abu-abu telah mengamati seluruh percakapan itu. Ia tidak tertawa. Ia juga tidak minum.
Ia mengeluarkan sebuah ponsel kecil dengan layar monokrom, jemarinya bergerak cepat mengetik sebuah pesan singkat. Pesan itu dikirimkan ke sebuah nomor yang tidak terdaftar, melalui tiga server pengacak lokasi.
Isi pesannya hanya satu kalimat: “Kurir itu nyata. Dia aktif di Distrik 4.”
Motor Leon berhenti di depan sebuah bangunan apartemen kosong yang tampak menyedihkan di Distrik 2. Bangunan itu adalah bekas kantor administrasi yang sudah lama ditinggalkan, dengan jendela-jendela yang pecah dan dinding yang ditumbuhi lumur.
Leon membuka pintu logam yang berkarat, langkah kakinya bergema di tangga beton yang dingin. Ia berjalan menuju lantai dua, tempat yang ia jadikan sebagai salah satu tempat persinggahan sementaranya.
Gray berbicara lagi di earpiece, memecah kesunyian gedung tua itu. “Ada kontrak baru yang baru saja masuk ke sistem.”
Leon berhenti tepat di depan pintu unitnya. “Secepat ini?”
“Ya. Dan sepertinya klien kali ini tidak ingin menunggu.”
Leon membuka pintu ruangan. Di dalamnya tidak ada dekorasi. Hanya ada sebuah meja kayu, satu kursi ergonomis, dan beberapa layar monitor yang memancarkan cahaya biru neon ke seluruh ruangan yang gelap. “Detail.”
Gray menarik napas panjang melalui mikrofonnya. “Kontrak ini... menarik. Berbeda dari biasanya.”
Leon duduk di kursi, meletakkan helmnya di atas meja. Matanya menatap tajam ke arah monitor yang mulai menampilkan data terenkripsi. “Kenapa?”
“Karena ini bukan sekadar pengiriman barang dari titik A ke titik B,” jawab Gray pelan.
Leon menyandarkan punggungnya, matanya tidak lepas dari layar yang berkedip. “Lalu?”
“Kliennya meminta sesuatu yang lebih spesifik. Sesuatu yang terasa seperti sebuah tantangan terbuka,” Gray berkata dengan nada yang hampir terdengar seperti peringatan. “Dia ingin melihat apakah kurir yang mereka bicarakan di jalanan itu benar-benar ada, atau hanya sekadar isapan jempol.”
Leon mengangkat kepalanya sedikit, otot lehernya menegang. “Dan?”
“Kontrak ini adalah ujian, Leon. Sebuah tes lapangan yang sangat berbahaya.”
Leon menatap layar monitor utama. Di sana, di tengah kegelapan kode-kode digital, muncul satu kalimat singkat yang tertulis dalam huruf kapital tebal. Ia membaca tulisan itu tanpa suara, merasakan denyut nadinya sedikit meningkat.
Ia bertanya dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti bisikan. “Siapa targetnya?”