Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Kabar Bahagia
"Loh, Mas. Bikin kaget aja." Lirih Meshwa saat tiba - tiba ada yang memeluknya dari belakang di ranjang, malam itu.
"Gak bisa tidur, Dek." Sahut Arjuna.
Sedari tadi, Arjuna masih saja terjaga. Di atas ranjang kamar yang lain, Arjuna hanya bisa berguling ke kanan dan ke kiri tanpa bisa memejamkan matanya. Pada akhirnya, ia memutuskan kembali ke kamarnya dan memeluk Meshwa yang sudah tertidur.
"Yaudah, tidur, Mas." Kata Meshwa sambil mengusap - usap lengan Arjuna yang melingkari perutnya.
Arjuna pun mengangguk dan mengecupi kepala Meshwa. Entah mengapa, aroma tubuh Meshwa selalu bisa membuatnya tenang, lalu mengantuk.
Tak sampai lima belas menit, Arjuna sudah terlelap dan mulai nyenyak. Meshwa melihat jam yang menunjukkan pukul sebelas malam. Perlahan, ia menyingkirkan tangan Arjuna yang memeluknya dan meletakkan guling untuk menggantikannya.
"Maaf ya, Mas." Lirih Meshwa yang kemudian mengecup pipi Arjuna sebelum meninggalkan Suaminya yang sudah tidur dengan nyenyak.
Wanita cantik itu pun kemudian keluar dari kamar dan berpindah tidur di kamar lain yang berada di depan kamar mereka.
Seperti biasa, seolah memiliki alarm di tubuhnya saat menjelang subuh, Arjuna terbangun. Ia pun melihat ke sebelahnya dan tak mendapati Meshwa di sana.
"Apa pindah, ya?" Batin Arjuna.
Ia pun kemudian duduk dan mengumpulkan kesadarannya. Suara pintu yang terbuka pun mengalihkan perhatiannya. Ia melihat Meshwa yang masuk ke dalam kamar sambil tersenyum.
"Kirain masih tidur, Mas." Kata Meshwa yang kemudian menghampiri Arjuna.
Arjuna tersenyum dan merentangkan tangan untuk menyambut istrinya yang menghampiri. Arjuna pun memeluk dan mengecupi Meshwa.
"Semalem pindah to, Dek?" Tanya Arjuna.
"Iya, Mas. Gak lama setelah Mas tidur, aku pindah ke depan." Jawab Meshwa.
"Kayak ngajarin anak kecil tidur sendiri, ya." Kekeh Arjuna yang menular pada Meshwa.
"Yaudah, mandi gih, Mas. Siap - siap ke Masjid." Kata Meshwa. Arjuna pun mengangguk dan segera beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.
Meshwa sendiri segera menyiapkan pakaian ganti untuk Arjuna. Selalu seperti itu, wanita cantik itu selalu telaten menyiapkan pakaian yang akan di pakai Arjuna.
Setelah Arjuna berangkat ke Masjid, barulah Meshwa mandi dan bersiap menjalankan ibadah subuhnya.
Tepat setelah sholat subuh, ponsel Arjuna berdering. Meshwa pun melihat nama kontak yang menelfon suaminya subuh itu.
"Assalamualaikum, Mbak." Sapa Meshwa.
"Waalaikumsalam, Wa. Juna masih di Masjid, ya?" Tanya Sashi.
"Iya, Mbak. Mungkin sebentar lagi pulang." Jawab Meshwa.
"Ada apa, Mbak? Mbak Aci sehat?" Tanya Meshwa kemudian.
"Alhamdulillah. Ini Mbak Aci lagi di rumah sakit, udah mulai bukaan." Kata Sashi.
"Alhamdulillah, mudah - mudahan lancar ya, Mbak." Doa Meshwa yang turut bahagia juga cemas setelah mendengar kabar dari Sashi.
"Aamiin. Tolong kabarin ke yang lain, ya, Wa. Mbak Aci telfon gak ada yang ngangkat. Mungkin lagi pada sholat." Pinta Sashi.
"Iya, Mbak. Nanti Meshwa sampein ke yang lain. Semangat ya, Mbak Aci. Secepetnya kita semua kesana." Kata Meshwa yang menyemangati Kakak Iparnya.
Setelah sambungan telfon terputus, Meshwa segera membereskan alat sholat dan bersiap. Tak lama, Arjuna pun datang.
"Mas, cepetan siap - siap. Aku ke rumah Ibu dulu." Kata Meshwa yang terburu - buru.
"Mau ngapain, Dek?" Tanya Arjuna.
"Mbak Aci mau lahiran, Mas. Udah di rumah sakit." Kata Meshwa.
"Ha? Kok baru ngabarin?" Cicit Arjuna yang tiba - tiba kelimpungan sendiri.
"Yaudah buruan siap - siap dan siapin mobil. Aku ke rumah Ibu, Buna sama Yang Kung." Kata Meshwa yang segera beranjak.
Semua keluarganya pun langsung bersiap ketika Meshwa mengabari jika Sashi sudah di Rumah Sakit karena akan melahirkan.
"Ini kok pada tegang, kayak mau perang aja." Celetuk Arjuna saat merasakan ketegangan di dalam mobilnya.
"Ya khawatir to, Nang. Ini kan Mbak Aci mau melahirkan yang pertama kali." Jawab Runi yang berada satu mobil dengan Meshwa dan Arjuna.
"Fix, tahta tertinggi keluarga Abimanyu ini." Kata Arjuna.
"Anak perempuan pertama, cucu perempuan pertama, keponakan perempuan pertama, dan cicit perempuan pertama. Menyala hidup Suaminya nanti." Imbuh Arjuna yang memecah tawa mereka semua.
Arjuna pun sudah bisa membayangkan, bagaimana dimanjanya keponakannya itu di keluarganya. Terlebih lagi anak perempuan yang selalu di ratukan di dalam keluarganya.
Arjuna pun mempercepat laju mobilnya ketika Gama kembali menelfon dan mengabarkan jika pembukaan Sashi hampir lengkap.
Mereka yang memang sudah hampir sampai di Kabupaten pun bergegas menuju ke Rumah Sakit besar milik keluarga Falih yang menjadi tempat Sashi melahirkan.
Begitu sampai di sana, mereka semua langsung menuju ke depan ruang bersalin. Disana, sudah ada kedua orang tua Gama juga Ashoka dan Falih yang menunggu.
"Gimana, Nduk?" Tanya Arsha ketika menghampiri Ashoka.
"Ya sabar, Mas. Wong Mbak Aci yo baru masuk." Kata Ashoka.
Keresahan tergambar jelas di wajah Arsha, Aksa, Raina dan Saira. Raina sedari tadi terus berdoa dan berdzikir, memohon kelancaran dan keselamatan untuk putri juga cucunya.
"Mbak, ini Mbak Aci mau lahirin adek?" Tanya Shima yang duduk di sebelah Meshwa. Gadis kecil itu seolah tertular ketegangan yang di rasakan oleh keluarganya.
"Iya. Doain Mbak Aci, ya. Mudah - mudahan Mbak Aci sama adek bayinya sehat." Jawab Meshwa.
"Mbak, emangnya adek bayi itu keluarnya dari mana?" Tanya Shima.
Tak langsung menjawab, Meshwa sempat bengong sebelum menyenggol - nyenggol lengan Arjuna yang duduk di sampingnya.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Arjuna.
"Cima nanya, adek bayi keluarnya dari mana?" Bisik Meshwa yang membuat Arjuna terkekeh.
"Tanya sama Ibu atau Buna, Cim. Mbak Meshwa kan belum keluarin adik bayi, jadi gak tau." Jawab Arjuna yang mencari aman.
Shima yang selalu ingin tau itu pun tak bisa membendung rasa penasarannya. Ia pun menghampiri Ibu dan Bunanya yang duduk bersebelahan.
"Ibu, Buna. Emang adik bayi itu keluarnya dari mana?" Tanya Shima yang membuat mereka semua tertegun.
"Kok malah pada bengong? Cima kan pingin tau, adik bayi iti keluarnya lewat mana, terus masuknya juga lewat mana? Kok tau - tau ada di perut Mbak Aci? Emang kapan masuknya?" Cerocos Shima yang makin membuat keempat orang tuanya kebingungan.
Sementara itu, Arjuna dan Meshwa justru tertawa geli melihat keempat orang tua yang kebingungan menjawab pertanyaan dari si anak kecil itu.
"Ada jalannya buat keluar, Cim." Kata Saira yang akhirnya buka suara.
"Emang Mbak Aci udah bikin jalan buat adeknya keluar? Kapan bikinnya? Jalannya bagus gak? Jalannya gak ada jeglongannya, kan? Nanti adeknya jatuh kalo ada jeglongan." Tanya Shima dengan wajah polosnya.
Tak ayal, pertanyaan anak kecil itu pun membuat mereka semua tertawa karena bingung harus menjawab apa pada si anak kecil yang selalu ingin tau itu.