Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Cari perkara.
Anye mengurung diri di kamar rumah dinasnya. Disana Bang Ali melihat papan nama milik Danton di atas pintu rumah.
"Anye sungguh istri Abang??" Tanya Bang Ali.
"Menurutmu???"
Bang Ali terdiam, Anye memang berada di kamar utama rumah dinas Danton satu tapi tak pernah paham alasan apapun di baliknya.
"Cepat minum obat anti nyerimu..!! Jangan suka meremahkan luka sekecil apapun." Tegur Bang Ronald menginggatkan lettingnya.
Bang Rinto kemudian mengambil obat anti nyerinya ke bagian kotak P3K di rumahnya.
Pandangan Bang Ronald langsung beralih pada juniornya. "Besar juga nyalimu. Kau ini berani bertanya padahal Abang saja menunda pertanyaan itu. Kau paham artinya privasi atau tidak??"
"Siap salah, Abang."
...
Tak sengaja saat duduk di depan teras kamar mess perwira, Bang Ali melihat Anye sedang mengeringkan rambutnya dari jendela kaca yang terbuka.
Dari jendela rumahnya nampak Bang Rinto mendekatinya tapi Anye menepis tangan seniornya itu.
Tak lama Bang Rinto menutup tirai jendela kamar tersebut.
'Sebenarnya, mereka menikah atau tidak??'
//
"Biasakan menutup tirai kamar. Kita tidak pernah tau pandangan mata orang di luar sana. Lebih baik menjaga diri." Nasihat Bang Rinto untuk Anye.
"Aku bisa jaga diri, jaga saja dirimu sendiri." Jawab Anye ketus.
Bang Rinto menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Ia membiarkan isi kepalanya penuh dengan segala sikap dan ucap Anye asalkan gadisnya itu tetap baik-baik saja bersamanya.
"Tidurlah, saya mau patroli dulu."
:
"Assalamu'alaikum, yah. Maaf saya baru respon, hari ini saya sibuk sekali. Ada yang ingin saya bicarakan juga dengan ayah....... "
***
Batalyon hari ini melaksanakan pengecekan terakhir untuk acara giat terjun payung yang akan di laksanakan minggu depan.
"Ijin, Abang. Kalau memang Abang masih belum sehat, biar saya gantikan." Kata Bang Ali.
"Aman, kamu bagian pantau bawah saja. Sekitar DZ masih kurang anggota." Jawab Bang Rinto.
"Siap." Suasana pun hening sejenak. "Soal kemarin. Saya minta maaf atas kurang ajarnya setiap perkataan dan perbuatan saya, Bang."
Bang Rinto diam sejenak. Ia menatap mata juniornya dengan tajam. Wajahnya seolah juga masih belum mengikhlaskan kejadian kemarin.
"Apapun yang terjadi dengan Anye, semua adalah tanggung jawab saya. Jangan pernah melewati batas mu..!!"
"Siap.. Saya pahami, Bang."
...
Bang Rinto membuka pintu rumahnya. Terdengar suara benda jatuh dari arah belakang rumah.
"Dek..." Bang Rinto mempercepat langkahnya dan segera menghampiri suara tersebut. "Astaghfirullah..... Deekk..!!!!"
Nafas Bang Rinto terasa terhenti, jantungnya nyaris melompat dari raga melihat Anye duduk di sisi kamar mandi dengan banyaknya darah menodai pakaian Anye. Dadanya luar biasa nyeri, tidak kuat melihat keadaan Anye.
Tangis Bang Rinto pecah, ia terkapar histeris hingga nyaris pingsan melihat kondisi Anye.
"Kenapa harus menangis seperti itu??" Tanya Anye.
Seketika tangis Bang Rinto berhenti, ia menatap wajah Anye.
"Nggak usah berlebihan, aku hanya mau buat cheesecake strawberry tapi pewarnanya tumpah. Kepalaku pusing." Imbuh Anye.
Di saat yang sama, Bang Rinto merasakan mual. Perutnya teraduk kuat bagai gilingan mesin cuci.
"Hhhkkk.." Bang Rinto muntah hebat hingga dirinya sendiri yang merasa lemas.
:
Bang Ronald memberikan oksigen dari tabung kecil untuk membantu memulihkan keadaan sahabatnya.
"Mual kenapa sih, lu?? Perasaan tadi baik-baik saja. Salah makan?? Atau keracunan???" Tanya Bang Ronald.
"Anyee.. Apa dia baik-baik saja??" Bang Rinto balik bertanya pada sahabatnya.
"Anye lagi makan cheesecake, tapi saya minta tolong Ali untuk antar Anye beli di toko kue dekat Batalyon." Jawab Bang Ronald.
"Lu gimana sih, Ron. Kenapa minta tolong Ali????"
"Laaahhh.. Anye yang mau. Lagian Lu suruh juga, kan??" Ujar Bang Ronald.
"Nggak gilaaa.. Mana Ali?????" Raut wajah Bang Rinto sudah sebegitu kesalnya.
"Apa??? Mau marah sama Bang Ali??? Memang Anye yang minta juga, kenapa???" Sambar Anye dari arah dapur. "Anye memang suka sama Bang Ali, kalau mau baku hantam sama Anye aja."
Jelas saja Bang Rinto tidak akan baku hantam dengan juniornya di depan Anye. Ia berusaha menahan diri meskipun Anye terus menguji kesabarannya.
"Bang Ali, Anye cantik atau tidak?? Mau tidak, nikah sama Anye????" Tanya Anye langsung di hadapan Bang Rinto sambil melirik Letnan senior tersebut.
Bang Ronald dan Prada Tegar mendadak gelisah salah tingkah. Hanya Bang Ali saja yang terhuyung syok mendengar pertanyaan tersebut.
"Jawab..!!!!" Desak Bang Rinto menatap Bang Ali dengan tajam.
Sungguh Bang Ali gelisah bukan main. Pandang mata itu terasa sangat mematikan.
"Bagaimana ini??? Mau atau tidak????" Omel. Bang Rinto.
"Siap.. Saya terima perintah minum racun, Bang." Jawab Bang Ali kelabakan jika sudah berhadapan dengan Letnan Rinto.
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu