Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengembalikan bros
Dua hari kemudian.
Setelah shalat Ashar Sultan pulang dari kantor. Ia sengaja pergi ngantor pakai motor matik. Sebelum keluar dari kantor, ia sudah berganti pakaian santai Sedangkan baju kerjanya ia gantung di lemari yang ada di dalam ruangan. Beberapa karyawannya sempat heran melihatnya. Namun Sultan tetap melangkah dengan santainya. Bahkan tak jarang ia menyapa karyawannya.
Setelah Sultan berlalu dari hadapan mereka, tentu saja ia menjadi bahan pembicaraan karyawannya.
Sampai di parkiran, Sultan memakai helm dan jaket kulitnya. Kali ini ia berniat ingin pergi ke kantor tempat Riri bekerja. Bukan tanpa alasan ia ke sana. Selama dua hari ini entah kenapa ia kepikiran bros yang ada pada dirinya. Seakan-akan bros tersebut sangat berharga untuk pemiliknya. Sampai-sampai Sultan terbawa mimpi. Dalam mimpinya ia mengembalikan bros tersebut yang ternyata bros itu berlapis emas.
Sultan melaju dengan kecepatan tinggi karena takut Riri keburu pulang.
Sekitar 15 menit kemudian, ia sampai di kantor Riri. Ia mangkal di samping kantor tersebut seperti beberapa hari yang lalu. Namun kali ini ia tidak mengaktifkan aplikasinya. Ia duduk di bangku panjang sambil makan kacang.
Beberapa saat kemudian, Riri baru saja selesai membereskan meja kerjanya. Hari ini Fira tidak masuk karena sakit. Empat hari yang lalu Fira memang sudah tidak enak badan, namun dua hari ini ia masih memaksakan diri untuk masuk. Bahkan minggu kemarin ia masih sempat ke mall bersama Riri untuk membeli sepatu.
Riri keluar dari kantornya. Ia sengaja tidak memesan ojek online karena biasanya ada ojek yang mangkal di dekat kantornya.
Melihat beberapa orang keluar dari kantor, mata Sultan fokus mencari keberadaan Riri. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sultan melihat Riri sedang berdiri dengan baju setelan berwarna maroon dan jilbab warna hitamnya. Tinggi Riri yang profesional dengan tubuh langsing dan paras yang cantik, tentu saja membuat beberapa mata tidak bisa mengalihkan pandangan darinya. Riri menoleh ke arah ojek yang sedang mangkal.
"Bang Ahmed." Gumamnya.
Dari kejauhan Sultan sudah mengulum senyum.
"Ya Allah ganteng banget suami orang. Kok bisa ya dia jadi tukang ojek, kok nggak jadi model aja gitu." Batin Riri.
Riri melangkah mendekati Sultan.
"Selamat sore, bang."
"Sore juga, mbak. Mau pulang?"
"Iya nih, bang. Kebetulan temanku sedang sakit. Abang narik, kan?"
"Oh iya, mbak."
Sultan mengeluarkan helm penumpang dari dalam joknya.
"Ini helmnya, mbak."
Riri pun memakainya.
"Oh iya mbak, maaf sebelumnya. Apa mbak kehilangan sesuatu saat terakhir ikut saya?"
Riri berpikir sejenak. Ia pun langsung ingat dengan brosnya yang hilang.
"Ada bang, saya kehilangan bros."
Sultan mengulum senyum seraya meraba saku jaketnya. Ia mengeluarkan bros tersebut.
"Ini, mbak?"
"Ya Allah... alhamdulillah, akhirnya ketemu." Ujar Riri dengan wajah sumringah ia menerima bros tersebut dari tangan Sultan.
"Kemarin nyangkut di jaket hijau. Saya rasa itu bros mahal, untung saja tidak jatuh."
"Iya bang, saya cari-cari nggak ketemu. Kok bisa kepikiran kalau ini punya saya, bang?"
"Karena pas hari itu, cuma mbak penumpang perempuan satu-satunya."
"Makasih ya, bang."
"Iya, sama-sama."
"Ya sudah, ayo bang kita berangkat."
"Oke mbak, sebentar saya nyalakan aplikasi dulu."
Setelah menyalakan aplikasinya, Sultan memasang maskernya. Setelah itu, ia naik ke atas motor. Dan Riri pun menyusul bonceng di belakangnya.
Sore ini langit Surabaya agak mendung. Namun perkiraan cuaca tidak turun hujan.
Di pertengahan jalan, Riri minta untuk berhenti di apotek sebentar untuk membeli obatnya Fira. Tadi pagi Fira sempat periksa ke dokter umum dekat kost-an, namun ada satu obat yang kosong dan harus beli di apotek. Sultan meminggirkan motornya di depan apotek.
"Tunggu sebentar ya, bang."
"Siap, mbak."
Riri masuk ke dalam tanpa melepas helmnya. Setelah lima menit kemudian ia pun keluar.
"Sudah, mbak?"
"Iya, bang."
Sultan kembali melajukan motornya.
Agar tidak mengantuk, Riri mengajak Sultan ngobrol saat di lampu merah.
"Bang, waktu hari senin saya lihat abang."
"Di mana, mbak?"
"Di depan restoran XY. Abang lagi gendong anak. Itu anaknya ya, bang? Cantik sekali, kayak orang Arab."
Belum sempat Sultan menjawab, lampu sudah merah. Dan bunyi klakson di belakangnya sudah bersahutan. Sultan pun langsung tarik gas. Ia lupa untuk menjawab pertanyaan Riri karena fokus dengan jalan. Saat jam sore memang cenderung macet, karena waktunya orang pulang kerja. Sedangkan Riri masih penasaran menunggu jawaban Sultan. Namun ia enggan untuk mengulang pertanyaannya.
Riri merasa matanya sangat mengantuk, sehingga tanpa sadar kepalanya membentur kepala Sultan. Sadar akan hal itu, Sultan langsung mengecek dari spion.
"Mbak, ngantuk ya?"
"Duh iya, maaf bang.Cuacanya bikin ngantuk."
"Apa kita berhenti dulu mbak? Saya takut mbak jatuh."
"Eh tidak perlu, bang. Ini udah melek kok, hehe.... "
"Coba bisa pegangan ke perut abangnya gitu, kan jadi aman. Astaghfirullah... Riri, bisa-bisanya kamu mikirnya ke sana. Mentang-mentang abang ojeknya ganteng. Coba kalau abang ojeknya tua gitu." Riri cekikikan sendiri.
10 menit kemudian, mereka sampai di kost-an.
"Alhamdulillah, sudah sampai mbak."
"Iya, bang."
Riri turun dari sepeda motor dan membuka helmnya.
"Berapa, bang?"
"Lima belas ribu."
Riri memberikan selembar uang dua puluh ribuan.
"Kembaliannya, mbak."
"Buat abang saja."
"Kalau begitu terima kasih."
"Saya juga terima kasih, bang. Abang sudah mengembalikan bros saya."
"Sama-sama, mbak."
"Bang, boleh kan jadikan abang langganan saya?"
"Oh tentu saja, mbak. Monggo... mari saya permisi dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Riri masuk ke dalam dan naik ke atas menuju kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya. Ternyata temannya Fira sedang telponan dengan pacarnya.
"Hem, aku udah khawatir, yang dikhawatirkan malah pacaran." Gumamnya.
Riri menggantung tasnya. Setelah itu ia masuk ke kamar mandi. Sore ini ia akan bersuci karena sudah habis masa haidnya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Riri pun segera shalat.
Sultan baru saja sampai di rumah anak jalanan. Seperti biasanya, ia akan membawa makanan atau jajanan untuk anak-anak di sana.
"Makasih, Om Sultan. Semoga om Sultan banyak rezekinya."
"Aamiin... "
"Makasih ya, om. Om Sultan memang Sultan. "
Sultan hanya bisa mengulum senyum mendengar ucapan yang tulus dari mereka.
Saat termenung Sultan baru ingat dengan pertanyaan Riri saat di lampu merah.
"Oh, berarti dia mengira Mire anakku." Gumam Sultan sambil menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Bang, kok senyum-senyum sendiri?" Tegur Lukman.
"Ah tidak apa-apa, hanya ingat seseorang."
"Cie.... seseorang katanya. Apa sudah ada yang berhasil mengetuk pintu hatinya, bang?"
"Nggak juga, kamu ini. Cuma merasa konyol saja."
"Oh, kirain gitu."
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
udah pada GK sabar