"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."
Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.
Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenunan Maut
Dokter itu jatuh dengan posisi ganjil, gunting bedah masih tertancap dalam di pahanya. Perawat yang masuk seketika memekik, suaranya melengking memenuhi ruangan. Kiara mencoba membuka mata, namun pandangannya berbayang. Reyhan mencengkeram tangannya erat, "Kiara, bertahanlah!"
Sesuatu yang mustahil terjadi. Benang merah yang terputus di pergelangan sang dokter mulai menguap, berubah menjadi asap hitam pekat yang melilit tubuh pria itu seperti tentakel. Suara bisikan gaib memenuhi rungu Kiara: "Benang... putus... jiwa... diambil..."
Mata sang dokter mendadak terbalik, menyisakan warna hitam total yang kelam. Saat asap itu meresap ke dalam pori-porinya, ia berhenti bergerak sejenak, lalu bangkit dengan gerakan patah-patah seperti boneka tali yang rusak.
"Benang merah... jiwa... kamu... adalah yang berikutnya," suara itu bukan lagi milik manusia, melainkan geraman dari dasar neraka.
Pelarian dan Gudang Tua
Mereka berlari menembus koridor yang berubah menjadi labirin horor. Lampu berkedip, alat medis berjutuhan sendiri, dan pasien-pasien dengan mata hitam berdiri kaku di sepanjang tangga darurat. Seminggu kemudian, teror itu belum berakhir. Sebuah simbol aneh—anyaman benang yang membentuk pola mata—ditemukan di sebuah gudang tua di pinggir kota.
Di dalam gudang yang pengap itu, Reyhan mendadak tumbang. Bau busuk menguar dari telapak tangannya saat urat-urat hitam mulai merambat di kulitnya. Reyhan pingsan, menyisakan Kiara sendirian di tengah kegelapan.
Kebangkitan Kiara
Melihat satu-satunya orang yang melindunginya sekarat, sesuatu di dalam diri Kiara seolah meledak. Rasa takutnya terbakar habis, digantikan oleh amarah yang murni.
"Kalian! Berani-beraninya menyentuh orang yang kujaga?!" teriak Kiara.
Suaranya menggetarkan beton gudang hingga retak. Api biru menyala hebat di kedua matanya, menerangi sosok bayangan bertopeng anyaman benang merah yang muncul dari sudut gelap. Itulah Sang Penenun.
"Penenun... aku tahu kau di sana. Muncul!"
Kiara menerjang secepat kilat. Tendangannya menghantam telak, menghancurkan topeng anyaman itu hingga benang-benangnya berhamburan. Ia mencengkeram leher sosok itu, tak peduli pada asap hitam yang mencoba membakarnya.
"Coba saja sentuh dia lagi," desis Kiara dingin. "Apa tujuanmu dengan semua nyawa ini?"
Penenun itu menyeringai kotor di balik sisa topengnya. "Dunia... akan dianyam ulang... dengan benang jiwa..."
Tubuh Penenun itu mulai meleleh menjadi asap hitam, mencoba melarikan diri. Namun, Kiara tidak memberi ampun. Ia menghantam asap itu dengan kekuatan api birunya, memaksa sosok itu kembali mewujud dan terlempar menghantam dinding hingga ambruk sebagian.
Topeng anyaman benang merah itu terbelah dua, jatuh ke lantai yang kotor. Sosok itu terbatuk, mengeluarkan cairan hitam kental dari mulutnya. Kiara melangkah maju, api di matanya perlahan meredup namun digantikan oleh kilat kebencian yang dingin.
Ia mencengkeram kerah baju sosok itu, berniat menghancurkannya. Namun, saat cahaya bulan menyelinap masuk melalui celah atap dan menyinari wajah di hadapannya, tangan Kiara membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Wajah itu... meski sebagian tertutup guratan pembuluh darah hitam yang menonjol, Kiara sangat mengenali garis rahang dan tanda lahir di sudut mata itu.
"Lu?!" suara Kiara tercekat, berubah menjadi bisikan yang penuh luka. "Kenapa harus Lu... Kak?"
Penenun itu menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang kini meruncing tajam. "Takdir tidak bisa diputus, Kiara. Dia hanya bisa... dianyam ulang."
Di belakangnya, Reyhan yang masih pingsan mulai mengerang kesakitan. Sementara itu, benang merah di pergelangan tangan Kiara sendiri tiba-tiba berdenyut panas, seolah mencoba menariknya masuk ke dalam kegelapan yang sama.