Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Gua Bayangan dan Taring Batu
Pagi berikutnya, Arga sudah berdiri di batas hutan saat matahari baru sepenggal naik. Luka di lengannya masih terasa perih, tapi balutan Sari cukup baik—gadis itu memang terampil dalam pengobatan sederhana.
Bima sudah menunggu, menyandar di pohon dengan santai. Di punggungnya, sebilah pedang pendek terselip dalam sarung kulit usang.
"Tepat waktu," sapa Bima sambil melempar sebungkus daun. "Sarapan. Daging rusa bakar. Kau butuh tenaga."
Arga menangkapnya dan membuka bungkusan itu. Aroma daging berbumbu menguar. Ia menggigitnya tanpa banyak bicara. Rasanya... enak. Jauh lebih baik dari bubur hambar di klan.
"Kau selalu berburu sendirian?" tanya Bima sambil berjalan memasuki hutan.
"Ya."
"Berbahaya. Hutan ini tidak ramah pada penyendiri."
"Aku terbiasa."
Bima terkekeh. "Kau ini aneh. Kultivator tahap pertama biasanya masih gemetar menghadapi Serigala Bulan Sabit. Kau malah seperti sudah melakukan ini seumur hidup."
Arga tidak menjawab. Ia mengikuti Bima menyusuri jalur setapak yang semakin lama semakin gelap. Kanopi di bagian hutan ini lebih rapat, hampir tidak menyisakan celah cahaya.
Dia benar. Kultivator tahap pertama seharusnya tidak bisa bertarung seperti aku. Aku harus lebih berhati-hati menyembunyikan kemampuanku.
Setelah sekitar satu jam berjalan, Bima berhenti. Di hadapan mereka, sebuah tebing batu menjulang dengan celah gelap di dasarnya—mulut gua yang menganga seperti rahang monster.
"Itu dia," bisik Bima. "Gua Bayangan. Di dalamnya ada Jamur Embun Bulan. Tapi juga ada Beruang Batu."
Arga mengamati sekitar. Ada jejak-jejak cakar besar di tanah dan batang pohon yang mengelupas. Aura monster itu terasa samar—makhluk itu pasti sedang di dalam.
"Bagaimana rencanamu?" tanya Arga.
"Aku akan masuk duluan, memancing perhatiannya. Kau cari celah untuk mengambil jamur. Begitu dapat, kita keluar. Tidak perlu membunuhnya kalau tidak perlu."
Arga menggeleng. "Tidak. Kita bunuh."
Bima mengernyit. "Kau yakin? Itu monster setara tahap keempat puncak. Kita berdua saja mungkin tidak cukup."
"Aku punya cara." Arga mencabut pisau berkaratnya. "Kau serang dari depan. Aku akan cari titik lemahnya dari samping."
Bima menatapnya ragu, lalu mengangkat bahu. "Baiklah. Tapi kalau situasi memburuk, aku akan lari. Dan kau sebaiknya melakukan hal yang sama."
Mereka masuk ke dalam gua.
---
Kegelapan menyelimuti. Udara di dalam lembap dan berat, bercampur bau tanah dan sesuatu yang asam—bau monster. Arga mengandalkan indra lain karena matanya butuh waktu beradaptasi. Suara tetesan air menggema dari kedalaman. Dan di sana, samar-samar, suara napas berat yang berirama.
Tidur.
Mereka bergerak perlahan. Semakin dalam, semakin terang—bukan dari luar, melainkan dari sesuatu di dalam gua. Jamur-jamur kecil bercahaya kebiruan tumbuh di dinding, memberi penerangan remang.
Dan di ujung gua, Arga melihatnya.
Seekor makhluk raksasa berbaring di antara batu-batu stalagmit. Tubuhnya tertutup bulu cokelat gelap yang tampak keras seperti batu—sesuai namanya, Beruang Batu. Satu matanya yang besar tertutup dalam tidur. Di dekat kepalanya, tumbuh segerombol jamur dengan cahaya keperakan yang lebih terang—Jamur Embun Bulan.
Sekitar tiga meter panjangnya. Cakar sepanjang pisau. Kulit yang mungkin setebal baju zirah.
Arga memberi isyarat pada Bima. Pemuda itu mengangguk, mencabut pedang pendeknya, lalu melangkah maju dengan hati-hati. Qi mulai berkumpul di sekitar bilahnya—teknik penguatan senjata dasar.
Tapi saat ia tinggal beberapa langkah dari monster itu, sebuah batu kecil tergeser di bawah kakinya.
Klik.
Mata tunggal Beruang Batu terbuka.
"SEKARANG!" teriak Bima, melompat maju dengan pedang terayun.
Brakk!
Pedangnya mengenai bahu monster itu, tapi hanya membuat goresan dangkal. Beruang Batu meraung—suara rendah yang menggetarkan dinding gua—lalu mengayunkan cakarnya. Bima melompat mundur, nyaris terhindar dari terkaman maut.
Arga bergerak.
Ia melesat ke samping, memanfaatkan momen saat monster itu fokus pada Bima. Matanya mencari titik lemah. Leher? Terlalu tebal bulunya. Perut? Terlindung posisi tidurnya. Mata? Terlalu tinggi.
Tunggu. Telinga.
Beruang Batu memiliki telinga kecil di sisi kepalanya. Itu satu-satunya bagian yang tidak terlindung bulu tebal.
"Bima! Telinganya!"
Bima mengerti. Ia mulai menyerang dari depan, mengayunkan pedangnya ke arah wajah monster itu. Beruang Batu menggeram, mengangkat kedua cakar depannya untuk menangkis—membuka sisi kepalanya.
Arga tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan seluruh kekuatan yang ia miliki, ia melompat dan menusukkan pisau berkaratnya tepat ke lubang telinga monster itu.
Crusshh!
Raungan mengerikan mengguncang gua. Beruang Batu menggelengkan kepala dengan liar, membuat Arga terpental dan menghantam dinding. Tulang rusuknya terasa retak, napasnya tersengal.
Tapi monster itu juga terluka parah. Darah hitam mengucur dari telinganya. Ia sempoyongan, cakarnya menggapai-gapai.
"Selesaikan!" teriak Arga.
Bima tidak perlu disuruh dua kali. Ia mengerahkan seluruh Qi-nya ke pedang, lalu menusukkannya ke mata tunggal Beruang Batu.
Crassshhh!
Monster itu menegang. Lalu roboh dengan suara gemuruh yang memenuhi gua.
---
Hening.
Bima terengah-engah, bersandar di dinding gua. Arga masih terduduk di lantai, memegangi rusuknya yang sakit. Tapi di dalam Dantian-nya, sesuatu yang luar biasa sedang terjadi.
Benang Perak berdenyut—sekali, dua kali, tiga kali, lalu semakin cepat. Ia tumbuh. Bukan sedikit demi sedikit seperti sebelumnya, melainkan melonjak. Dari dua ruas jari, ia merambat menjadi dua setengah. Lalu tiga.
Denyut Pertama.
Arga merasakan sesuatu terbuka di dalam dirinya. Sebuah saluran. Koneksi. Untuk sesaat, ia bisa merasakan sesuatu yang jauh di atas sana—jauh melampaui sembilan langit. Sesuatu yang memanggilnya.
Dan bersamaan dengan itu, sebuah pengetahuan mengalir ke dalam benaknya. Bukan dari kitab, melainkan langsung dari warisan Darah Langit itu sendiri.
Teknik Langkah Bayangan Bulan.
Sebuah teknik pergerakan. Bukan teknik biasa, melainkan warisan dari Langit Kesepuluh.
"Kau tidak apa-apa?" Suara Bima menyadarkannya.
Arga membuka mata. "Aku baik-baik saja."
Bima menatapnya aneh. "Matamu... tadi berkilat perak. Apa itu teknik kultivasimu?"
"Bukan urusanmu."
Pemuda itu mengangkat tangan dengan senyum menyerah. "Baiklah, baiklah. Yang penting kita dapat jamurnya."
Mereka mengumpulkan Jamur Embun Bulan—total delapan tangkai. Bima membaginya rata, empat untuk masing-masing.
"Terima kasih," kata Bima saat mereka keluar dari gua. "Tanpamu, aku mungkin sudah jadi makanan beruang itu." Ia menatap Arga dengan ekspresi serius. "Hei, Festival Perebutan Warisan dua bulan lagi. Aku akan ikut mewakili Sekte Hutan Lestari. Kalau kau juga ikut... mungkin kita bisa saling bantu."
Arga menatapnya. "Kita lihat nanti."
Bima tertawa. "Kau memang aneh. Tapi aku suka." Ia melambaikan tangan dan berjalan ke arah berbeda. "Sampai jumpa, teman misterius!"
Arga menatap kepergiannya. Lalu mengepalkan tangannya, merasakan Benang Perak yang kini sepanjang tiga ruas jari berdenyut stabil di Dantian-nya.
Teknik Langkah Bayangan Bulan. Aku harus segera mempelajarinya.
Waktu dua bulan. Aku akan datang ke festival itu bukan sebagai sampah. Tapi sebagai seseorang yang patut diperhitungkan.
kenangan pertama
hancurkan dia Arga