Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan Bersama Digudang Bawah Tanah
Matahari mulai condong ke arah barat, menyiramkan warna oranye kemerahan di atas menara-menara megah Akademi Astra. Tugas membersihkan taman belakang gedung Kelas D akhirnya selesai. Liora dan Hans tampak sangat kelelahan, tubuh mereka dipenuhi debu dan keringat, namun ada sesuatu yang berbeda di mata mereka. Ada binar kecil rasa percaya diri yang tidak pernah ada sebelumnya. Sejak mengikuti arahan pernapasan dari Arlan siang tadi, mereka menyadari bahwa rasa lelah yang mereka rasakan tidak sesakit biasanya. Arlan berdiri di tengah taman, menatap ke arah pintu belakang gedung yang terkunci. Dia menyadari bahwa dia tidak bisa terus berlatih sendirian jika ingin membangun fondasi kekuatan di akademi ini.
"Ikuti aku," ucap Arlan singkat sambil berjalan menuju pintu belakang gedung Kelas D.
Liora dan Hans saling berpandangan sejenak, namun tanpa ragu mereka segera mengikuti langkah Arlan. Mereka sudah melihat bagaimana Arlan menjatuhkan sembilan orang di Oakhaven dan bagaimana dia membuat Marco ketakutan hanya dengan tatapan mata. Bagi mereka, Arlan adalah satu satunya pegangan di tengah badai diskriminasi akademi. Arlan mengeluarkan kunci besi tua pemberian Profesor Silas dan membuka pintu kayu yang berat itu. Suara derit logam yang tajam kembali bergema, disusul oleh hembusan udara dingin yang keluar dari lorong bawah tanah.
"Tempat apa ini, Arlan?" bisik Hans sambil menelan ludah. Dia merasakan aura yang sangat berat dan kuno dari balik kegelapan tangga batu tersebut.
"Ini adalah tempat di mana sampah akan ditempa menjadi baja," jawab Arlan tanpa menoleh. Dia mengambil lampu minyak di dinding dan mulai menuruni tangga batu yang licin.
Mereka bertiga menuruni anak tangga satu per satu dalam kesunyian yang mencekam. Liora memegang erat jubah seragamnya, sementara Hans mencoba mengatur napasnya agar tidak terlalu gemetar. Setelah sampai di ruangan bawah tanah yang luas, Arlan menyalakan beberapa obor minyak yang menempel di dinding batu. Cahaya obor yang menari nari memperlihatkan arena latihan kuno yang sudah dibersihkan Arlan kemarin. Rak-rak senjata yang kosong dan alat pemberat batu hitam memberikan kesan sebuah tempat latihan militer dari masa lalu.
Arlan berdiri di tengah lingkaran batu yang terukir di lantai. Dia meletakkan tasnya dan menatap Liora serta Hans dengan pandangan yang sangat serius. "Kalian berdua dikirim ke Kelas D karena potensi mana kalian dianggap rendah. Tapi di mata para penyihir itu, mereka hanya melihat seberapa besar ledakan yang bisa kalian buat. Mereka tidak melihat kualitas dari mana itu sendiri. Aku akan mengajarkan kalian cara menggunakan tubuh sebagai wadah yang sempurna untuk mana yang kalian miliki."
Liora menyesuaikan kacamatanya yang sedikit melorot. "Tapi Arlan, instruktur di gedung utama selalu bilang bahwa tanpa kapasitas mana yang besar, teknik fisik hanyalah sia-sia. Mereka bilang kami tidak akan pernah bisa melampaui ksatria Kelas B."
Arlan tersenyum dingin, sebuah senyum yang membuat Liora dan Hans merinding. "Di kehidupan lamanya, aku pernah melihat perusahaan kecil menghancurkan raksasa industri hanya karena mereka memiliki efisiensi yang lebih baik. Prinsip itu juga berlaku pada tubuh manusia. Ksatria Kelas B mungkin punya banyak mana, tapi mereka membuang delapan puluh persen energi mereka melalui gerakan yang tidak perlu. Aku akan mengajarimu cara menggunakan setiap tetes mana dengan efisiensi seratus persen."
Arlan kemudian memerintahkan mereka untuk melepas alas kaki dan berdiri di dalam lingkaran batu tersebut. Dia mulai mengajarkan dasar-dasar teknik Napas Bumi yang dia temukan di buku kuno kemarin. Arlan menjelaskan bahwa kunci dari kekuatan fisik bukan terletak pada otot lengan, melainkan pada kemampuan kaki untuk menyerap energi dari tanah dan menyalurkannya ke seluruh tubuh.
"Hans, kamu memiliki mana elemen tanah. Kamu seharusnya menjadi orang yang paling tidak tergoyahkan di sini," ucap Arlan sambil berjalan memutari Hans. "Lupakan semua mantra yang pernah kamu pelajari. Sekarang, bayangkan mana mu mengalir turun ke tumit, menembus lantai batu ini, dan menyatu dengan inti bumi. Jangan menahan napas mu di dada. Dorong semuanya ke perut bawah."
Arlan menekan titik di punggung Hans, membantu mengarahkan aliran energinya yang tersumbat. Hans mendesis pelan saat merasakan sensasi hangat yang tiba-tiba menjalar di sepanjang tulang belakangnya. Perlahan lahan, tubuh Hans yang kurus mulai terlihat lebih stabil. Kakinya seolah olah menyatu dengan lantai batu bawah tanah tersebut.
"Sekarang Liora," Arlan beralih ke arah gadis berkacamata itu. "Mana elemen airmu sangat halus, tapi kamu terlalu takut untuk melepaskannya. Air yang diam akan menjadi busuk. Kamu harus membuat mana mu mengalir seperti arus sungai di bawah tanah. Gunakan pernapasanmu untuk menciptakan tekanan. Saat kamu menyerang, mana mu harus tajam seperti silet air, bukan tumpul seperti genangan."
Liora menutup matanya, mencoba mengikuti instruksi Arlan. Dia merasakan udara dingin di gudang bawah tanah ini membantu fokusnya. Dia mulai mengatur napasnya dengan ritme yang lambat dan dalam. Setiap tarikan napasnya membawa energi kehidupan yang dia rasakan di sekitar Arlan. Untuk pertama kalinya, Liora merasa mananya bergerak bukan karena paksaan mantra, melainkan karena keinginan tubuhnya sendiri.
Selama berjam jam, mereka berlatih di bawah cahaya obor yang meredup. Arlan tidak memberikan latihan yang berat secara fisik, melainkan latihan mental dan pernapasan yang sangat melelahkan saraf. Dia mengawasi setiap gerakan kecil mereka dengan ketelitian seorang profesional. Di kehidupan lamanya sebagai Adit, dia tahu bahwa memberikan instruksi yang salah pada karyawan baru akan berakibat fatal pada hasil akhir. Dia tidak ingin Liora dan Hans hanya menjadi kuat, dia ingin mereka menjadi sempurna dalam dasar-dasar.
Di sudut kegelapan tangga, Profesor Silas berdiri diam sambil memegang botol minumannya. Dia memperhatikan bagaimana Arlan mengajar dengan metode yang sangat tidak lazim namun sangat efektif. Silas menyadari bahwa Arlan bukan hanya seorang jenius dalam bertarung, tapi dia memiliki bakat kepemimpinan yang alami. Arlan tahu cara membangkitkan potensi orang lain yang sudah dianggap sampah oleh dunia.
"Bocah itu sedang membangun pasukannya sendiri," gumam Silas dalam hati. Dia kemudian berbalik dan kembali naik ke atas tanpa suara, membiarkan mereka terus berlatih dalam kedamaian bawah tanah.
Setelah latihan selesai, Hans dan Liora jatuh terduduk di lantai batu dengan napas yang terengah engah. Tubuh mereka terasa sangat berat, namun anehnya, pikiran mereka terasa sangat jernih. Mereka merasakan koneksi yang lebih kuat dengan tubuh mereka sendiri.
"Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya," ucap Hans sambil menatap telapak tangannya. "Aku merasa... aku bisa merasakan getaran di balik dinding batu ini."
"Itu adalah kemajuan yang bagus," ucap Arlan sambil memberikan mereka air minum. "Tapi jangan sombong dulu. Apa yang kalian pelajari hari ini hanyalah dasar dari dasar. Besok, latihan fisik yang sesungguhnya akan dimulai. Kita akan menggunakan alat pemberat batu hitam itu untuk memperkuat otot kalian."
Liora menatap Arlan dengan penuh rasa hormat. "Arlan, kenapa kamu membantu kami? Kamu memiliki medali undangan khusus, kamu bisa saja mencoba masuk ke Kelas A jika kamu mau menunjukkan sedikit saja kekuatanmu pada Master Eldrian."
Arlan terdiam sejenak, menatap bayangannya di dinding batu. "Di Kelas A, aku akan dikelilingi oleh orang-orang yang sudah merasa puas dengan apa yang mereka miliki. Di Kelas D, aku dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki alasan untuk membenci dunia ini. Aku lebih suka bekerja dengan orang-orang yang lapar akan perubahan daripada mereka yang kenyang dengan kesombongan."
Arlan berdiri dan mulai memadamkan obor satu per satu. "Rahasiakan tempat ini dari siapa pun. Jika ada yang bertanya, katakan saja kalian dihukum membersihkan gudang bersamaku. Kita akan bertemu di sini setiap sore setelah pelajaran Silas selesai."
Mereka bertiga keluar dari gudang bawah tanah saat malam sudah benar-benar gelap. Arlan mengantar Liora dan Hans sampai ke depan asrama mereka masing-masing sebelum dia sendiri berjalan kembali menuju rumahnya. Di sepanjang jalan, Arlan terus memikirkan langkah selanjutnya. Dia menyadari bahwa untuk menghadapi festival musim gugur, dia butuh lebih dari sekadar dua orang pengikut. Dia butuh sumber daya yang lebih besar.
Sesampainya di rumah, Arlan melihat Elena yang sedang menunggu di ruang tamu. Elena merasa lega melihat anaknya pulang, meskipun pakaian Arlan terlihat lebih kotor dari tadi pagi. Arlan meyakinkan ibunya bahwa semuanya berjalan lancar dan dia hanya mendapatkan tugas tambahan dari sekolah. Setelah makan malam yang tenang, Arlan masuk ke kamarnya dan kembali membuka gulungan anatomi energi kehidupan.
Dia merasa energinya mulai mendekati ambang batas Gerbang Keenam: Gerbang Penglihatan. Gerbang ini tidak akan meningkatkan kekuatan fisik secara drastis seperti gerbang sebelumnya, namun akan memberikan kemampuan untuk melihat aliran mana di udara dan di dalam tubuh lawan secara detail. Ini adalah kunci untuk mengantisipasi setiap serangan sihir sebelum mantra itu selesai dirapal kan.
"Dunia ini terlalu bergantung pada cahaya sihir," gumam Arlan sambil memejamkan matanya untuk bermeditasi. "Mereka lupa bahwa dalam kegelapan yang paling dalam, mata manusia justru bisa melihat kebenaran yang lebih nyata."
Malam itu, Arlan tertidur dengan perasaan yang sangat puas. Dia telah berhasil menanam benih pertamanya di dalam Kelas D. Dia tahu bahwa suatu hari nanti, benih-benih ini akan tumbuh menjadi pohon yang akan merobek langit kerajaan Astra. Persaingan di akademi baru saja dimulai, dan Arlan Vandermir telah siap untuk memimpin barisan sampah untuk mengguncang takhta para dewa.