NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Kidung Jati Diri

Suasana istana Majapahit malam ini sunyi senyap, hanya suara jangkrik yang bersahutan di balik tembok bata merah yang kokoh. Faris Arjuna duduk bersila, memegang tokoh Kyai Lurah Semar Badranaya. Sebelum wayang itu menari di balik layar, Faris memejamkan mata, menarik napas dalam, dan melantunkan tembang yang menggetarkan sukma.

"Duh Gusti... nyuwun ngapura... (Duh Tuhan... mohon ampun...)"

"Wong Jowo wis lali Jawane... (Orang Jawa sudah lupa Jawanya...)"

"Paringana pepadhang... marang ati kang peteng... (Berikanlah cahaya... pada hati yang gelap...)"

Faris menatap tokoh Semar dengan pandangan yang dalam. Ia teringat akan ucapan para sesepuh yang kini mulai ditinggalkan. Suaranya bergema di seluruh alun-alun, terdengar oleh ribuan prajurit zirah emas dan sepuluh dayang piningit.

"Biyen iki wayang gae nyebarno agomo karo Kanjeng Sunan Kalijaga. Wayang iki dudu barang sirik, tapi dadi pangiloning urip (Dulu wayang ini dipakai menyebarkan agama oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Wayang ini bukan barang musyrik, tapi jadi cermin kehidupan)," ucap Faris dengan nada yang berat.

"Saiki kok akeh wong sing muni yen budaya iki haram? Kok akeh wong sing muni yen tradisi iki duso? (Sekarang kok banyak orang yang bilang kalau budaya ini haram? Kok banyak orang yang bilang kalau tradisi ini dosa?)" Faris menggelengkan kepalanya perlahan, menatap bayangan Semar yang tersenyum di layar.

"Lek sampeyan jek gelem mangan pari sing thukul ing tanah Jowo, lek sampeyan jek gelem ngombe banyu sing mumbul teko sumber tanah Jowo, kok sampeyan tega kate mbubarno kebudayaan ten tanah Jowo iki? (Kalau sampeyan masih mau makan padi yang tumbuh di tanah Jawa, kalau sampeyan masih mau minum air yang muncul dari sumber tanah Jawa, kok sampeyan tega mau membubarkan kebudayaan di tanah Jawa ini?)"

"Agama iku cekelan batin nuju Marang Gusti, budaya iku coro kito matur suwun marang bumi pertiwi. Ojo dadi wong sing kacang lali kulite. Yen jati dirimu ilang, sampeyan iku mung dadi ampas ing tengahing zaman (Agama itu pegangan batin menuju Tuhan, budaya itu cara kita berterima kasih pada bumi pertiwi. Jangan jadi orang yang kacang lupa kulitnya. Kalau jati dirimu hilang, sampeyan itu hanya jadi ampas di tengah zaman)."

Arjuna Hidayat yang duduk di barisan gamelan memejamkan mata, meresapi setiap kalimat adiknya yang seperti tamparan keras. Di sudut lain, Brewok dan Jono hanya bisa menunduk. Mereka merasa bahwa selama ini mereka terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa dari mana asal-usul mereka.

"Eyang Semar iki mboten nate pamer kesakten, tapi pamer kabecikan (Eyang Semar ini tidak pernah pamer kesaktian, tapi pamer kebaikan). Mulo, sapa wae sing isih ngaku wong Jowo, ojo lali sujud marang Gusti tapi tetep ngerumat warisan suci (Maka, siapa saja yang masih mengaku orang Jawa, jangan lupa sujud pada Tuhan tapi tetap merawat warisan suci)."

Faris memukul kotak wayang—Tok! Tok! Tok!—sebagai tanda dimulainya babak baru. Malam itu, bukan hanya wayang yang menari, tapi kesadaran para pendengarnya yang mulai bangkit dari tidurnya yang panjang.

Asap dupa semakin tebal menyelimuti panggung pewayangan. Faris Arjuna kini memegang tokoh Gunungan, memutarnya perlahan mengikuti irama gamelan yang melambat dan berubah menjadi nada Slepekan yang mistis. Suaranya kini lebih rendah, lebih serak, seolah keluar dari dasar bumi.

"Ririh ririh... raga iki mung titipan... (Pelan-pelan... raga ini hanya titipan...)"

"Mungguh Gusti... kabeh bakal bali dadi siji... (Kepada Tuhan... semua akan kembali menjadi satu...)"

"Aja adigang adigung... yen isih ngambah lemah Jowo... (Jangan sombong... kalau masih menginjak tanah Jawa...)"

Faris berhenti sejenak, ia menatap bayangan Gunungan yang melambangkan alam semesta. "Akeh wong pinter saiki, tapi pintere mung nggo minteri kancane. Akeh wong sing nganggo jubah suci, tapi lambene isih seneng ngasorake liyan (Banyak orang pintar sekarang, tapi pintarnya hanya untuk membodohi temannya. Banyak orang pakai jubah suci, tapi mulutnya masih suka merendahkan orang lain)," ucap Faris dengan nada menyindir.

"Eyang Semar iki paring dhawuh: Urip iku urup. Uripmu kudu dadi pepadhang, dudu dadi obor sing malah mbakar omahmu dhewe (Eyang Semar memberi pesan: Hidup itu harus menyala. Hidupmu harus jadi cahaya, bukan jadi obor yang malah membakar rumahmu sendiri)."

Faris menggerakkan wayang Semar mendekati tokoh satria. "Lek sampeyan ngaku dadi hamba sing paling bener, deloken dhisik sajadahmu. Opo wis tau kok nggo sujud sing tenanan, opo mung nggo pamer kasekten? Ojo lali, sampeyan iku kawula, Gusti iku Gusti. Aja pisan-pisan wani nglungguhi kursine Gusti kanthi mutusake sapa sing mlebu suwargo lan sapa sing mlebu neraka!"

Ribuan prajurit zirah emas di depan panggung serentak menundukkan kepala. Suara Faris bukan lagi sekadar suara manusia, tapi seperti suara alam yang menuntut kejujuran hati. Sepuluh dayang piningit bahkan sampai bersimpuh di lantai marmer, merasakan wibawa dari setiap kata yang keluar dari lisan sang Panglima Terminal itu.

"Budaya Jowo iki ora ngajari sirik. Budaya Jowo iki ngajari carane dadi menungso sing empan papan. Ngerti tata krama, ngerti sapa sing disembah, lan ngerti sapa sing kudu dijaga (Budaya Jawa ini tidak mengajarkan sirik. Budaya Jawa ini mengajarkan caranya jadi manusia yang tahu tempat. Tahu tata krama, tahu siapa yang disembah, dan tahu siapa yang harus dijaga)."

Arjuna Hidayat menatap adiknya dengan rasa bangga yang luar biasa. Ia tahu, Faris sudah menemukan "kunci" batinnya. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin gila, Faris Arjuna berdiri sebagai benteng terakhir yang menjaga marwah leluhur di tanah Sidoarjo.

"Wong Jowo kuwi kudune koyo pari. Soyo isi, soyo merunduk. Dudu koyo alang-alang, dhuwur ning ra ono isine, malah nggarai gatel nek keno kulit! (Orang Jawa itu seharusnya seperti padi. Semakin berisi, semakin merunduk. Bukan seperti ilalang, tinggi tapi tidak ada isinya, malah bikin gatal kalau kena kulit!)"

Faris memukul kotak kayu dengan satu dentuman keras—DHERRR!—menandakan petuah batin telah selesai dan peperangan besar di balik layar akan segera dimulai

Suasana alun-alun istana mendadak berubah mencekam. Angin bertiup kencang, memutar-mutar asap dupa hingga membentuk pusaran di depan layar. Faris Arjuna perlahan meletakkan tokoh Semar, lalu tangannya meraih sebuah tokoh wayang raja yang sangat berwibawa, melambangkan Eyang Brawijaya V.

Lampu blencong berkedip merah, dan suara Faris berubah menjadi sangat berat, seolah-olah ada suara gaib yang ikut berbicara lewat tenggorokannya.

"Eling-eling... bakal tekan mangsane... (Ingat-ingatlah... akan datang masanya...)"

"Bumi Jowo bakal gonjang-ganjing... merga anak putu lali marang darmane... (Bumi Jawa akan guncang... karena anak cucu lupa pada tugas hidupnya...)"

Faris menggerakkan wayang sang Raja dengan gerakan yang sangat pelan namun penuh wibawa. "Sampeyan kabeh kudu krungu, Eyang Joyoboyo wis nate paring peringatan: Akeh wong pinter nanging keblinger. Akeh wong ngaku suci nanging kelakuane ngeri. (Kalian semua harus dengar, Eyang Jayabaya sudah pernah memberi peringatan: Banyak orang pintar tapi tersesat. Banyak orang mengaku suci tapi perilakunya ngeri)."

Suara Faris menggelegar, membelah keheningan malam istana Majapahit. "Wajangane Eyang Brawijaya iku siji: Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti. Kabeh angkara murka, kabeh wong sing rumangsa paling sakti, paling bener, lan paling suci, bakal lebur karo sifat asih lan sujudmu marang Gusti."

Ia menancapkan wayang sang Raja tepat di tengah layar, berdampingan dengan Gunungan. "Elingo! Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran, yen wis ana jaran mangan kayu, iku tandane zaman wis bubrah. Wong Jowo wis ilang Jawane, luwih seneng niru budayane wong liya sing durung mesthi bener nggo awake dhewe."

Sepuluh dayang piningit dan ribuan prajurit serentak bersujud di atas tanah, tidak kuat menahan wibawa suara Faris yang menyuarakan ramalan kuno itu. Arjuna Hidayat bahkan sampai menghentikan tabuhan gamelannya, ikut menundukkan kepala memberikan penghormatan pada leluhur yang sedang "berbicara" lewat adiknya.

"Ojo dadi wong sing mburu uceng kelangan deleg. Mburu perkara sepele, tapi malah kelangan jati diri lan iman sing dadi pondasine urip (Jangan jadi orang yang mengejar hal kecil, tapi malah kehilangan jati diri dan iman yang jadi pondasi hidup)," tegas Faris sambil menatap tajam ke arah bayangan layar.

"Eyang Joyoboyo wis paring ramalan, yen bakal ana Satrio Piningit sing bakal nylametake tanah Jowo. Nanging elingo, Satrio iku dudu wong sing pamer kasekten, nanging wong sing tulus atine, sing gelem ngurusi rakyat cilik, lan sing tetep nyembah marang Gusti Allah tanpa lali marang leluhure!"

Faris memukul kotak kayu dengan tenaga batin yang luar biasa—DHERRR!—hingga getarannya terasa sampai ke dasar bumi Sidoarjo. Layar putih itu tampak bersinar keemasan sejenak, menandakan bahwa pesan dari masa lalu telah tersampaikan kepada mereka yang masih hidup di masa sekarang.

"Sidoarjo dudu mung kutha lumpur, tapi kene iki dadi saksi yen getih Majapahit isih mampir ing kene! Jaga tanahmu, jaga agamamu, lan jaga budayamu!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!