Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Sembilan Lapis Naga Chaos
Tiga hari berlalu di dasar Jurang Naga Pemakaman.
Xiao Chen tidak lagi merasakan lapar. Bukan karena ia menemukan makanan, melainkan karena tubuhnya—yang kini bernapas melalui tulang—menyerap sesuatu dari udara beracun di sekelilingnya. Racun yang seharusnya membunuh makhluk hidup, justru menjadi nutrisi bagi Tulang Patah Surgaya. Setiap tarikan napas tulang, retakan di dadanya semakin melebar sedikit, dan semakin banyak energi aneh yang tersimpan di dalamnya.
Energi Chaos, begitu gulungan kitab menyebutnya. Bukan Qi dari langit dan bumi. Bukan energi spiritual dari akar. Tapi sesuatu yang lebih tua, lebih liar, dan jauh lebih lapar.
Di sampingnya, Hui—Serigala Bumi Beracun yang kini menjadi pengikut setianya—tidur dengan suara dengkuran pelan. Bulu hitamnya yang tadinya kusam kini mulai berkilau. Entah bagaimana, keberadaan Xiao Chen sepertinya juga memengaruhi monster itu.
Xiao Chen duduk bersila di depan altar. Matanya terpejam, tapi kesadarannya kembali masuk ke dalam Ruang Warisan di dalam cincin hitam.
---
Ruang itu kini terasa berbeda.
Saat pertama kali masuk tiga hari lalu, ruangan ini terasa kosong dan sunyi. Sekarang, Xiao Chen bisa merasakan sesuatu yang lain. Sebuah kehadiran. Samar, seperti bayangan di balik kabut, tapi ada.
Ia berjalan melewati tumpukan pedang kuno dan botol-botol giok, menuju bagian ruangan yang belum ia jelajahi. Di sana, berjajar rapi, ada sembilan prasasti batu hitam. Masing-masing setinggi dua kali tubuh manusia, dipenuhi ukiran gambar dan tulisan kuno yang nyaris tak terbaca.
"Sembilan Lapis Naga Chaos," suara lelaki tua itu bergema. "Inilah inti dari Teknik Tubuh Naga Chaos. Setiap prasasti mewakili satu tingkatan."
Xiao Chen mendekati prasasti pertama. Gambar di atasnya menunjukkan sosok manusia dengan tulang dada yang bersinar. Di bawahnya, tulisan kuno yang entah bagaimana bisa ia baca—seolah-olah darahnya sendiri yang menerjemahkan:
"Lapis Pertama: Membangkitkan Tulang Dada. Tubuh menjadi wadah. Nafas menjadi baja."
"Kau sudah menyelesaikan Lapis Pertama," kata suara itu. "Tanpa sengaja, memang. Tapi itu sudah cukup. Sekarang lihat prasasti kedua."
Xiao Chen bergeser ke prasasti berikutnya. Gambarnya menunjukkan manusia yang sama, tapi kali ini seluruh tulang punggungnya—dari leher hingga ekor—bercahaya seperti rantai bintang.
"Lapis Kedua: Membangkitkan Tulang Punggung. Punggung menjadi naga. Tubuh menjadi gunung."
"Untuk mencapai Lapis Kedua," lanjut suara itu, "kau harus mematahkan tulang punggungmu sendiri."
Xiao Chen terbelalak. "Apa?!"
"Itulah jalan Ras Dewa Patah. Kami tidak menunggu terluka dalam pertempuran. Kami menciptakan luka kami sendiri. Setiap patahan yang kau ciptakan dengan sengaja, kau bisa mengendalikan bagaimana energi Chaos mengalir di dalamnya. Patahan karena kecelakaan—seperti tulang rusukmu—hanyalah awal. Patahan yang disengaja... itulah seni."
Xiao Chen menatap prasasti itu dengan ngeri sekaligus takjub. Mematahkan tulang punggung sendiri? Itu gila. Satu kesalahan dan ia bisa lumpuh seumur hidup. Atau mati.
"Kau tidak perlu melakukannya sekarang. Tubuhmu belum siap. Tapi cepat atau lambat, kau harus memilih: tetap di Lapis Pertama dan menjadi lebih kuat dari manusia biasa, atau melangkah ke Lapis Kedua dan mulai menjadi sesuatu yang... lebih."
"Lebih?" Xiao Chen menoleh, mencari sumber suara. "Lebih seperti apa?"
Keheningan.
Lalu, dari balik kabut di sudut ruangan, sebuah sosok melangkah maju. Bukan lelaki tua berjubah putih seperti sebelumnya. Kali ini, sosoknya berbeda.
Seorang pemuda. Tinggi, berambut hitam panjang terurai, dengan mata emas yang bersinar redup. Tubuhnya dipenuhi bekas luka—bukan luka sembarang, tapi luka yang tampak seperti retakan pada permukaan batu permata. Cahaya keemasan merembes keluar dari setiap retakan itu.
"Aku adalah sisa kesadaran Leluhur Pertama di masa mudanya," kata pemuda itu. Suaranya lebih hidup, lebih emosional dibandingkan suara lelaki tua sebelumnya. "Aku disimpan di sini untuk menunjukkan padamu... apa yang mungkin."
Pemuda itu mengangkat tangan kanannya. Retakan di lengannya menyala, dan tiba-tiba, udara di sekelilingnya bergetar. Xiao Chen bisa merasakan tekanan yang luar biasa—seolah-olah seluruh ruangan ini akan runtuh hanya karena pemuda itu mengangkat tangan.
"Pada puncak kekuatanku, aku bisa menghancurkan bintang dengan satu kepalan. Aku bisa berjalan di antara dimensi. Aku bertarung melawan Bencana Surgawi yang dikirim untuk memusnahkan ras kami... dan aku hampir menang."
"Hampir?" Xiao Chen menangkap kata itu.
Pemuda itu menurunkan tangannya. Cahaya di matanya meredup. "Hampir. Karena pada akhirnya, kami kalah jumlah. Surga tidak hanya mengirim satu Bencana. Mereka mengirim sembilan. Satu untuk setiap Penguasa Surga yang berkuasa saat itu. Aku mengalahkan lima. Tapi empat lainnya... mereka menghancurkan duniaku. Membunuh rakyatku. Dan ketika aku akhirnya jatuh, yang tersisa hanyalah Tulang Patah Surgaku—yang sekarang ada di dadamu."
Xiao Chen tanpa sadar menyentuh dadanya sendiri. Jadi simbol di tulang dadanya... itu adalah milik Leluhur Pertama? Warisan langsung dari makhluk yang hampir mengalahkan Surga?
"Aku tidak memintamu membalas dendam untukku," kata pemuda itu. "Dendamku adalah milikku. Tapi aku memintamu melakukan satu hal: jangan biarkan Ras Dewa Patah punah dalam diam. Kalau kau harus mati, matilah dengan suara yang mengguncang Langit. Biarkan mereka tahu bahwa kami pernah ada. Bahwa kami masih ada."
Xiao Chen menatap pemuda itu lama. Ada sesuatu di mata emasnya—bukan amarah, bukan kesedihan. Tapi kebanggaan. Kebanggaan seorang pejuang yang kalah dalam pertempuran, tapi tidak pernah kalah dalam semangat.
"Aku berjanji," kata Xiao Chen akhirnya. Suaranya pelan, tapi mantap. "Aku tidak tahu seberapa jauh aku bisa melangkah. Tapi aku berjanji... aku akan membuat mereka mendengar."
Pemuda itu tersenyum. Senyum yang melegakan, seolah-olah beban ribuan tahun akhirnya terangkat dari pundaknya.
"Kalau begitu, mulailah dengan keluar dari lubang ini. Dunia di atas sana sedang menunggumu."
---
Xiao Chen membuka mata. Ia kembali ke tubuh fisiknya, di depan altar di dasar jurang.
Hui sudah bangun, menatapnya dengan mata merah yang setia. Xiao Chen mengulurkan tangan, mengusap kepala serigala itu.
"Kita pergi dari sini, Hui."
Serigala itu menggeram pelan, lalu bangkit. Ekornya bergoyang.
Xiao Chen berdiri. Ia menatap ke atas—ke langit sempit di bibir jurang yang hanya selebar telapak tangan. Tiga hari lalu, ia jatuh ke tempat ini sebagai bangkai. Sekarang, ia akan naik sebagai sesuatu yang belum pernah dilihat dunia.
Ia melangkah ke dinding jurang yang curam. Tangannya meraih batu-batu yang licin oleh lumut dan racun. Tidak ada tali. Tidak ada jalur. Hanya kekuatan tubuhnya sendiri.
"Tulang dada," bisiknya pada diri sendiri. "Nafas menjadi baja."
Ia menarik napas dengan tulang dadanya. Retakan di sana menyala redup. Energi Chaos mengalir ke seluruh tubuhnya—bukan sebagai Qi yang lembut, tapi sebagai kekuatan mentah yang kasar dan liar.
Xiao Chen mulai memanjat.
Setiap tarikan tangannya meninggalkan bekas jari di permukaan batu. Setiap pijakan kakinya memecahkan batu yang ia injak. Tubuhnya, yang tiga hari lalu hampir mati, kini bergerak dengan kekuatan yang tidak seharusnya dimiliki oleh pelayan rendahan.
Di belakangnya, Hui mengikuti dengan gesit. Cakar serigala itu lebih cocok untuk medan seperti ini.
Satu jam. Dua jam. Xiao Chen terus memanjat. Peluh bercampur darah mengalir dari telapak tangannya yang terluka. Tapi ia tidak berhenti. Ia tidak akan berhenti.
Karena di atas sana, ada dunia yang menganggapnya mati.
Dan ia tidak sabar untuk membuktikan bahwa mereka salah.