Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diplomasi Gorengan dan Protokol Steril
Matahari baru saja naik setinggi galah saat Zeva memarkirkan motor bebeknya di area parkir khusus direksi. Tentu saja, ia langsung diusir oleh satpam, namun setelah menunjukkan pesan singkat dari "Bos Besar", satpam tersebut hanya bisa mengelus dada melihat oli motor Zeva menetes sedikit di atas lantai parkir yang dipoles mengilap.
Zeva melangkah masuk ke lobi gedung Alfarezel Group dengan menjinjing sebuah kantong plastik transparan yang berminyak. Isinya adalah bala-bala (bakwan), tahu isi, dan tempe mendoan panas. Ini adalah bentuk "itikad baik"—atau lebih tepatnya, sogokan—agar Adrian tidak terlalu galak padanya hari ini.
"Pagi, Mbak Siska yang cantik! Nih, buat sarapan," sapa Zeva dengan suara menggelegar saat sampai di lantai 50.
Siska, yang sedang menyesap kopi espresso tanpa gula, hampir tersedak mencium bau minyak goreng yang sangat menyengat di ruangan ber-AC sentral itu. "Nona Zevanya... Pak Adrian sangat sensitif terhadap bau makanan di ruangannya. Saya sarankan Anda..."
"Ah, tenang aja! Ini gorengan Pak kumis depan gang, rasanya bintang lima harga kaki lima!" Zeva mengabaikan peringatan Siska dan langsung nyelonong masuk ke ruangan Adrian tanpa mengetuk.
Di dalam, Adrian sedang melakukan video conference dengan investor dari Singapura. Ia terlihat sangat tajam dengan kemeja biru muda yang disetrika sempurna.
"Yes, we are looking forward to the next—" Kalimat Adrian terhenti. Hidungnya yang sensitif menangkap aroma yang asing. Aroma minyak yang sudah dipakai berulang kali, aroma tepung terigu goreng, dan aroma... cabai rawit.
Zeva dengan santai meletakkan plastik gorengan itu tepat di atas tumpukan dokumen audit yang sedang dibaca Adrian. "Pagi, Adrian! Belum sarapan kan? Nih, gue bawain gizi seimbang."
Adrian menatap plastik berminyak itu seolah-olah itu adalah limbah nuklir. Ia segera mematikan kamera laptopnya dan meminta maaf pada lawan bicaranya untuk menjeda rapat.
"Zevanya," suara Adrian rendah, memberikan peringatan yang mematikan. "Apa yang Anda lakukan dengan benda berminyak ini di atas dokumen senilai miliaran rupiah?"
"Ya elah, itu cuma kertas, Adrian. Bisa dicetak lagi. Nih, makan selagi anget. Biar otak lu nggak kaku-kaku amat," balas Zeva sambil mengambil satu tahu isi dan menggigitnya dengan suara kriuk yang nyaring.
Adrian bangkit dari kursinya, wajahnya memucat melihat remah-remah tepung jatuh ke atas meja jati hitamnya. "Keluar. Sekarang."
"Dih, galak bener. Gue ke sini mau mulai kerja, kan? Lu bilang mau ngajarin gue etiket atau apa lah itu. Ya udah, ayo mulai. Tapi sambil ngemil," kata Zeva tanpa rasa berdosa, mulutnya masih penuh dengan tahu.
Adrian menarik napas panjang, mencoba menenangkan saraf-sarafnya yang mulai menegang. Ia mengambil tisu dari kotak peraknya, lalu dengan gerakan sangat hati-hati, ia menjepit ujung plastik gorengan itu dan memindahkannya ke tempat sampah kecil di pojok ruangan.
"Pertama," kata Adrian sambil menatap Zeva tajam. "Di gedung ini, kita tidak makan gorengan di atas meja kerja. Kedua, Anda dilarang berbicara saat mulut Anda penuh. Dan ketiga... mulai detik ini, Anda adalah proyek pribadi saya. Anda harus berubah dari seorang 'preman jalanan' menjadi wanita yang layak berdiri di samping seorang Alfarezel."
Zeva mendengus, membersihkan sisa minyak di tangannya ke celana jeans-nya, sebuah gerakan yang membuat Adrian hampir pingsan di tempat. "Oke, Bos. Jadi apa agenda pertama? Belajar cara jalan kayak pinguin pakai sepatu hak tinggi?"
"Lebih buruk dari itu," jawab Adrian sinis. "Belajar cara tutup mulut."
Latihan pertama dimulai di sebuah ruangan khusus di belakang kantor Adrian yang biasanya digunakan untuk istirahat atau pertemuan sangat pribadi. Adrian memanggil seorang ahli etiket bernama Madam Citra, seorang wanita dengan sanggul setinggi menara Eiffel yang tatapannya lebih dingin dari kulkas satu pintu.
"Pak Adrian, Anda yakin ingin saya melatih... ini?" tanya Madam Citra sambil menunjuk Zeva dengan kipasnya.
"Sapa dia, Zeva," perintah Adrian yang duduk di sofa sambil mengawasi dengan tabletnya.
Zeva maju selangkah, menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan gaya high-five. "Yo, Madam! Gue Zeva. Jangan galak-galak ya, nanti cepat tua."
Madam Citra mematung. Ia menoleh ke arah Adrian dengan tatapan 'apa-anda-bercanda'. Adrian hanya mengangguk, memberi isyarat untuk melanjutkan.
"Nona Zevanya, kita mulai dengan cara duduk," ujar Madam Citra dengan suara yang dibuat selembut mungkin tapi penuh tekanan. "Seorang wanita bangsawan duduk dengan punggung tegak, kaki miring empat puluh lima derajat, dan tangan diletakkan dengan tenang di pangkuan."
Zeva mencoba mengikuti. Ia duduk di kursi beludru, mencoba menegakkan punggungnya yang biasanya bungkuk karena terbiasa membawa motor. Namun, kursinya terlalu empuk. "Aduh, Madam, ini kursi apa kasur? Pantat gue tenggelam nih. Nggak bisa tegak, yang ada malah pengen rebahan."
"Tegakkan, Nona! Bayangkan ada benang yang menarik ubun-ubun Anda ke langit-langit!" teriak Madam Citra.
Zeva mencoba lagi. Mukanya memerah karena menahan otot perutnya. "Begini?"
"Bagus. Sekarang, cara bicara. Ucapkan: 'Selamat sore, Bapak Wijaya yang terhormat, sungguh sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda hari ini'."
Zeva menarik napas dalam-dalam. "Sore, Kek! Apa kabar? Sehat kan? Makan apa kita hari ini?"
PLAK!
Madam Citra memukul meja dengan kipasnya. "Bukan begitu! Itu gaya bicara tukang bakso!"
"Lho, kan biar akrab, Madam! Kalau kaku begitu nanti dikira gue mau minjem duit," protes Zeva.
Adrian yang sejak tadi menonton mulai merasa bahwa investasinya pada Zeva adalah kesalahan terbesar dalam sejarah kariernya. Namun, ada bagian kecil di hatinya yang merasa terhibur. Ia belum pernah melihat Madam Citra yang biasanya sangat terkontrol sampai berkeringat dingin menghadapi seorang murid.
"Cukup untuk cara duduk dan bicara," Adrian menyela. "Mari kita coba sesuatu yang lebih praktis. Makan siang."
Mereka pindah ke meja makan formal yang sudah disiapkan di ruangan itu. Di depan Zeva, tersedia barisan sendok, garpu, dan pisau yang jumlahnya lebih banyak daripada koleksi kunci pas di bengkel langganannya.
"Ini kenapa pisaunya banyak banget? Mau makan atau mau bedah pasien?" tanya Zeva bingung.
"Ini pisau daging, ini pisau ikan, ini pisau mentega," jelas Adrian satu per satu. "Gunakan dari yang paling luar."
Makanan pembuka datang: sebuah sup bening dalam mangkuk kecil yang sangat cantik. Zeva segera mengambil sendok besar—yang sebenarnya untuk makanan utama—dan mulai menyeruput supnya dengan suara SLRUUUPP yang sangat keras hingga bergema di seluruh ruangan.
Adrian memijat pelipisnya. "Zevanya... jangan diseruput. Masukkan sendoknya ke mulut tanpa suara."
"Eh, Adrian, sup itu makin enak kalau diseruput pas panas-panas. Lu nggak tahu nikmatnya ya? Kasihan hidup lu, penuh aturan tapi hambar," balas Zeva sambil menyeka bibirnya dengan lengan baju, bukan dengan serbet yang tersedia.
"Gunakan serbetnya, Zevanya! Itu diletakkan di pangkuan, bukan hanya hiasan!" Adrian mulai kehilangan kesabaran.
"Ribet banget sih! Kalau di warung Mpok Leha, gue makan pakai tangan juga beres. Nggak ada tuh yang protes soal suara seruputan. Malah kalau suaranya makin kenceng, berarti masakannya makin enak!"
Adrian bangkit, berjalan mendekati Zeva. Ia berdiri di belakang gadis itu, meraih kedua tangan Zeva untuk membetulkan cara memegang pisau dan garpu. Saat tangan Adrian yang dingin dan halus menyentuh tangan Zeva yang kasar dan hangat, sebuah sengatan aneh menjalar di antara keduanya.
Zeva tiba-tiba terdiam. Bau parfum Adrian yang elegan—campuran kayu cendana dan jeruk purut—menyerbu indra penciumannya. Ia bisa merasakan napas Adrian di dekat telinganya.
"Pegang seperti ini," bisik Adrian. Suaranya tidak lagi sedingin tadi, ada nada instruksi yang tulus. "Jangan digenggam seperti mau menusuk ban motor. Lemah lembut, tapi pasti."
Zeva menelan ludah. Ia yang biasanya jago berantem melawan dua tukang palak sekaligus, tiba-tiba merasa kikuk hanya karena jarak yang begitu dekat. "I-iya, gue tahu. Lepasin tangan lu, gue nggak bisa konsen."
Adrian segera melepaskan tangannya, menyadari bahwa tindakannya barusan terlalu intuitif untuk seseorang yang tidak suka kontak fisik. Ia berdeham, merapikan jasnya yang sebenarnya tidak berantakan.
"Kita istirahat lima belas menit," ujar Adrian ketus. "Madam Citra, tolong siapkan materi tentang sejarah keluarga Alfarezel. Dia harus tahu siapa yang akan dia hadapi."
Setelah Madam Citra keluar, suasana ruangan menjadi canggung. Zeva kembali menyandarkan punggungnya dengan santai, mengabaikan semua aturan yang baru dipelajarinya.
"Kenapa sih lu butuh banget gue buat nipu kakek lu?" tanya Zeva tiba-tiba. "Banyak kan cewek cantik di luar sana yang lebih... 'pantes' dan nggak perlu diajarin cara megang garpu?"
Adrian duduk kembali di sofanya, menatap keluar jendela. "Karena mereka semua bisa ditebak, Zevanya. Kakek saya tahu cara menghadapi wanita anggun. Dia akan langsung tahu jika saya menyewa mereka. Tapi Anda... Anda adalah variabel acak yang tidak bisa dia kontrol. Dia butuh sesuatu yang akan membuatnya berpikir ulang untuk mencampuri hidup saya."
Zeva menatap Adrian. Untuk pertama kalinya, ia melihat celah di balik topeng CEO yang sempurna itu. Pria ini tampak... kesepian di tengah kemewahan ini. Hidupnya diatur oleh kakeknya, setiap langkahnya diawasi, bahkan pasangannya pun ingin ditentukan oleh orang lain.
"Jadi gue ini semacam... bom atom buat lu?" tanya Zeva dengan seringai lebar.
"Kurang lebih begitu," jawab Adrian. "Sebuah bom atom dengan aroma gorengan dan helm pink."
Zeva tertawa lepas. "Oke, kalau gitu gue bakal jadi bom atom yang paling meledak! Kakek lu nggak bakal tahu apa yang nabrak dia nanti."
"Saya hanya berharap bom atom itu tidak meledak di wajah saya lebih dulu," gumam Adrian pelan, meski dalam hati ia mulai merasa bahwa memilih Zeva mungkin adalah keputusan paling gila sekaligus paling menarik yang pernah ia buat.
Di hari pertama ini, mereka belajar satu hal: Adrian tidak akan pernah bisa sepenuhnya mengubah Zeva menjadi seorang wanita bangsawan, dan Zeva mulai menyadari bahwa di balik jas mahal itu, ada seorang pria yang hanya ingin menjadi dirinya sendiri.
Namun, benih permusuhan masih ada. Saat Zeva tanpa sengaja menumpahkan sisa sup ke atas sepatu kulit buaya milik Adrian beberapa menit kemudian, teriakan Adrian kembali memenuhi ruangan, membuktikan bahwa perjalanan mereka masih sangat panjang dan penuh dengan kekacauan yang komedi.
"ZEVANYA! SEPATU SAYA!"
"Sori, Bos! Licin piringnya! Sini gue lap pakai flanel gue!"
"JANGAN SENTUH SEPATU SAYA DENGAN KAIN KOTAK-KOTAK ITU!"
Siska yang berada di luar ruangan hanya bisa menggelengkan kepala. Sepertinya, kantor ini tidak akan pernah tenang lagi selama "Nona Barbar" itu ada di sana.
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣
semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan