satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Pengobatan
Setelah hampir dua puluh menit menunggu dari salah satu kamar perawatan satu sosok pria paruh baya keluar dan mendekati mereka
"Kalian yang mencari saya?" tanya Pak Narto dengan suara berat namun lembut.
"Iya, Pak," Satria segera berdiri dan mendekat, diikuti oleh Bimo. "Saya Satria, dan ini teman saya Bimo. Kami datang karena ingin meminta bantuan Bapak untuk mengobati teman kami yang mengalami patah tulang parah. Dokter di rumah sakit bahkan menyarankan amputasi, kami harap Bapak bersedia menolong." pinta Satria, ia juga memberitahukan jika temannya selain tulang kakinya yang agak remuk juga mempunyai luka dalam
" Aku pasti bersedia menolong tetapi kamu harus membawa temanmu kemari, aku tak bisa ke sana karena di sini juga banyak yang sedang di obati" ucap Pak Sunarto
"Jadi... kami harus membawa teman kami kemari pak?" Ucap Satria
"Benar," jawab Pak Narto tegas. "Itu satu-satunya cara. Tapi ingat, perjalanannya harus hati-hati. Karena tulangnya hampir remuk dan ada dugaan luka dalam, setiap getaran atau guncangan bisa memperparah keadaan. Kamu bilang ada luka dalam? Itu yang paling berbahaya saat ini. Tulang bisa disambung, tapi jika organ dalam terluka dan berdarah terus-menerus, nyawanya bisa melayang sebelum sampai di sini."
"Baik Pak, kami akan segera menjemputnya. Saya janji akan menjaganya agar aman sampai sampai di sini," jawab Satria cepat, dalam hatinya ia akan mengobati luka dalam Hadi dulu saat dalam perjalanan agar tak berakibat buruk nantinya
Setelah berpamitan dengan Pak Narto, Satria dan Bimo segera kembali ke Bandar Lampung. Sepanjang perjalanan, pikiran Satria terus bekerja. Dia teringat apa yang dia temukan dalam ingatan Resi Wiratama tadi malam. Ada cara menggunakan tenaga dalam untuk mengobati luka dalam Hadi
Sesampainya di Rumah Sakit Bumi Waras, Satria langsung menemui Ibu Nani dan menjelaskan keputusannya. Awalnya Ibu Nani ragu, takut perjalanan jauh akan membahayakan nyawa anaknya, namun melihat ketegasan dan keyakinan di mata Satria, serta harapan agar kaki anaknya tidak diamputasi, akhirnya dia setuju. Dokter yang menangani juga memberikan izin dengan catatan bahwa rumah sakit tidak bertanggung jawab jika terjadi hal buruk di perjalanan, dan mereka harus membawa peralatan pertolongan pertama serta obat-obatan penahan nyeri.
Mereka menyewa sebuah mobil ambulans swasta yang dilengkapi kasur pasien agar guncangan bisa diminimalisir. Biayanya memang mahal, tapi Satria tidak peduli. Dia mengambil sebagian besar uang gajinya yang baru diterima, bahkan berniat meminta bantuan jika kurang, tapi Tante Nani yang menanggung biayanya.
"Kamu sudah berbuat banyak, Satria. Biarkan Tante yang menanggung ini," kata Tante Nani lembut.
Perjalanan dimulai sore itu juga. Di dalam ambulans, hanya Satria yang menemani Hadi, sementara Bimo mengendarai motornya sendiri diikuti di belakang. Saat mobil mulai melaju meninggalkan rumah sakit Bumi waras Satria mulai beraksi.
Satria perlahan meletakkan tangannya di atas dada Hadi, tempat di mana luka dalam Hadi
Setelah berkonsentrasi Satria mulai menggerakan tenaga dalamnya dari pusat tenaga dalam menuju ke tangannya , perlahan tenaga dalam dari tangan Satria mulai masuk ke dalam tubuh Hadi
hampir satu jam Satria mengalirkan tenaga dalamnya pada luka dalam yang di derita Hadi, keringat mengucur deras dari dahi nya
Namun ia senang karena wajah Hadi yang tadinya pucat pasi perlahan mulai mendapatkan sedikit rona kemerahan. memar biru legam di dada Hadi pun memudar dan nyaris tak terlihat lagi
Saat dia merasa energinya hampir habis dan kepalanya mulai pening. Dia perlahan menarik tangannya kembali, napasnya terengah-engah.
ia beristirahat sejenak memulihkan tenaganya yang terkuras habis, setelah merasa tenaganya pulih sebagian ia memeriksa kondisi Hadi
" alhamdulillah luka dalamnya telah sembuh" Ucap Satria pelan saat mengetahui kondisi Hadi yang membaik
" enggg"
terdengar Hadi mengerang dan matanya terbuka
" Loe udah sadar, di mana yang masih terasa sakit?" tanya Satria
" Gw dimana?" Hadi malah bertanya saat melihat dia di tempat yang asing
" Loe lagi di mobil, dasar ga sopan, di tanya bukannya jawab malah balik nanya" gerutu Satria
" Eh, maaf udah ga ada yang sakit tapi kaki gw kerasa kebas kaya ga ada" sahut Hadi sambil menunjuk ke kakinya
" Sabar sekarang kita lagi ke pengobatan Sangkal putung, nanti kaki loe sembuh lagi" ucap Satria
" Beneran!?" tanya Hadi karena ia tak merasakan kakinya
" kita berdoa dan berusaha, selanjutnya serahkan pada yang kuasa" Jawab Satria
" Tapi kaki gw?" ucap hadi sambil menatap kakinya yang tak terasa sama sekali
" Kaki loe di bius pea" jawab Satria sambil menjitak kepala Hadi
" Aww" Hadi Menjerit kecil sambil mengusap kepalanya yang di jitak
" Loe kok di sini? bukannya loe kerja?" tanya Hadi yang baru sadar jika Satria sudah bekerja di Desa Munjuk
" Gw lagi cuti, pulang malah denger loe kena musibah, lagian loe sejak kapan main ke cafe" Tegur Satria
" Gw janjian sama Rani, tapi pas nyampe di parkiran gw malah di keroyok" jawab Hadi
" loe kenal siapa yang ngeroyok loe?" tanya Satria
" Ga tau, belum sempet gw ngeliat jelas mereka gw udah di pukulin sama mereka" jawab Hadi, karena memang ia langsung di pukuli saat sampai di parkiran tanpa tahu siapa yang memukulinya
" Dah nanti juga ketemu, sekarang loe fokusin buat kesembuhan kaki loe" ucap Satria, Hadi mengangguk
Tak lama mereka sampai di Pengobatan Sangkal Putung. dengan di bantu Bimo ia menurunkan ranjang dorong dari mobil ambulans dan membawanya ke dalam balai pengobatan
" Mas Satria kata bapak langsung di bawa ke kamar no tiga saja" penerima tamu yang melihat Satria dan Bimo datang lagi langsung memberi tahu pesan pak Narto
Satria mengangguk dan membawa Hadi ke kamar yang di maksud mereka menunggu selama beberapa menit sebelum Pak Narto datang dengan membawa minyak urut
" Rileks yah" ucap Pak Narto sambil tersenyum , ia memegang leher Hadi pelan namun Hadi langsung tertidur pulas
" Eh pak kok bisa begitu?" tanya Satria kagum
" hanya menekan urat syaraf tertentu " jawab pak Narto sambil tersenyum lalu ia memeriksa Hadi dengan seksama, tiba tiba matanya menyipit dan menatap Satria dengan penasaran
" Apa yang telah kau lakukan?" tanya nya pelan, membuat Bimo Kaget
" Eh loe apain Hadi di jalan!" tegur Bimo keras
" Hanya mencoba mengobati pak" ucap Satria
" luka dalamnya sudah sembuh, kamu mengobatinya pakai apa?" tanya Pak Narto semakin penasaran
"Itu... ilmu yang saya dapatkan dari leluhur, Pak. Saya baru belajar menggunakannya," jawab Satria
Pak Narto tersenyum lebar. "Jadi tak salah dugaan saya. Kamu bukan pemuda biasa. Kalau begitu, urusan luka dalam udah selesai, sekarang saya akan fokus pada tulang kakinya yang retak. Tapi prosesnya mungkin akan panjang."
Selama Hadi di obati , Satria tidak pernah meninggalkan tempat itu. Dia tinggal di salah satu bangunan asrama yang disediakan, bergantian dengan Bimo dan keluarga Hadi untuk menjaga sahabatnya.
Satria menyadari bahwa ini adalah kesempatan emas. Pak Narto adalah ahli waris ilmu Sangkal Putung yang sudah diakui kehebatannya. Dengan izin orang tua Hadi dan persetujuan Pak Narto sendiri, Satria memutuskan untuk belajar ilmu pengobatan ini selagi Hadi dirawat.
"Pak, bolehkah saya belajar dari Bapak?" tanya Satria suatu hari saat mereka sedang menumbuk bahan-bahan obat di lesung batu. "Saya ingin bisa menolong orang lain seperti Bapak menolong Hadi."
Pak Narto berhenti sejenak, menatap pemuda di hadapannya. "Ilmu Sangkal Putung bukan sekadar tahu nama-nama tanaman atau cara membalut tulang, Nak. Ini adalah keseimbangan antara manusia dan alam, antara fisik dan tenaga dalam. Kamu sudah punya dasar tenaga dalam yang kuat, itu nilai plus. Tapi kamu harus siap, karena disiplinnya keras."
"Saya siap, Pak. Apa saja syaratnya," jawab Satria tegas.
" Baiklah" sahut Pak Narto mengabulkan.
" Terima kasih Guru" Ucap Satria senang
mulai hari itu Satria mulai belajar pengobatan Sangkal Putung, setiap pagi ia berlatih di kebun belakang rumah Pak Narto melatih pernapasan, dan siang harinya ia mengamati cara pak Narto mengobati orang yang patah tulang.
Satria menyerap semua ilmu itu seperti tanah kering menyerap air hujan. Dia menggabungkan apa yang dia dapat dari ingatan Resi Wiratama dengan apa yang diajarkan Pak Narto. Ternyata, meskipun berasal dari aliran atau tradisi yang berbeda, prinsip dasarnya sama: energi, keseimbangan, dan niat. Satria bahkan menemukan cara baru, di mana dia bisa menggunakan tenaga dalamnya untuk mempercepat kerja obat-obatan yang diminum pasien, membuat khasiatnya menyebar lebih cepat ke seluruh tubuh.
Satria dengan cepat bisa mempelajari apa yang di ajarkan oleh pak Narto, dan jika hanya keseleo atau terkilir ia sudah bisa mengobati dengan baik
Pak Narto semakin kagum melihat bakat muridnya ini.
" Satria Aku yakin Kamu nantinya pasti akan menjadi guru bagi orang lain. Ilmu yang kamu bawa dan ilmu yang aku ajarkan bersatu membentuk sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih hebat."
" Terima kasih guru Ini semua berkat bimbingan guru" Jawab Satria merendah
Tapi sayang kalau Satria jika dipecat dari kerjanya, soalnya kerjanya sudah mantap tuh, santai dan lingkungannya sangat mendukung untuk latihan²nya... 😁