NovelToon NovelToon
“Senja Yang Kembali Pulang”

“Senja Yang Kembali Pulang”

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: penulis handal wakakkak

Sinopsis

Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.

Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Namun takdir punya caranya sendiri.

Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.

Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.

Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?

Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 — Sebelum Kita Pergi

Malam itu rumah kecil itu terasa berbeda.

Bukan karena lampunya.

Bukan karena perabotnya.

Tapi karena percakapan mereka sudah melampaui kata “nanti”.

Alya masih berdiri di hadapan Arka, tangannya dalam genggaman laki-laki itu.

“Aku nggak mau pindah sebagai pacar kamu.”

Kalimat itu masih menggantung di udara.

Bukan ultimatum.

Bukan paksaan.

Tapi jelas.

Alya menatapnya dalam. “Kamu lagi nembak ulang aku atau…?”

Arka tertawa kecil, gugup tapi mantap.

“Enggak.”

Ia melepas satu tangan Alya, lalu berjalan ke arah lemari kecil di sudut ruangan.

Alya tidak bergerak.

Ada sesuatu dalam caranya melangkah yang berbeda.

Ia membuka laci.

Mengambil sebuah kotak kecil berwarna hitam.

Napas Alya langsung tertahan.

“Ka…”

“Aku udah beli ini sebelum kamu cerita soal Melbourne.”

Alya menatap kotak itu.

Tangannya mulai dingin.

“Aku belum berani kasih,” lanjut Arka pelan. “Karena aku takut kamu pikir aku lagi mengikat kamu supaya nggak pergi.”

Sunyi.

Arka kembali berdiri di hadapannya.

“Kamu tahu kenapa aku akhirnya berani?”

Alya hanya bisa menggeleng pelan.

“Karena sekarang aku tahu… kamu nggak akan berhenti hanya karena cincin.”

Dan perlahan, Arka membuka kotak itu.

Cincin sederhana. Elegan. Tidak berlebihan.

Tapi indah.

Seperti mereka.

Alya merasakan air matanya mulai menggenang bahkan sebelum kata-kata berikutnya keluar.

“Alya.”

Suara Arka tidak gemetar.

Tidak dramatis.

Tapi penuh keyakinan.

“Kita pernah gagal karena waktu dan ambisi berjalan berlawanan.”

Ia menarik napas.

“Sekarang kita punya kesempatan kedua. Dan kali ini, arah kita sama.”

Ia turun berlutut.

Bukan karena film.

Bukan karena gaya.

Tapi karena ia ingin jelas.

“Aku nggak bisa janji hidup kita nanti selalu mudah. Apalagi di kota baru, negara baru.”

Matanya menatap lurus ke mata Alya.

“Tapi aku bisa janji satu hal.”

Sunyi.

“Aku nggak akan lari saat berat. Aku nggak akan diam saat ada masalah. Dan aku nggak akan biarin kamu merasa sendirian dalam mimpi kamu.”

Air mata Alya jatuh.

Arka tersenyum kecil.

“Mau nggak kamu pindah ke Melbourne sebagai tunangan aku… dan nanti jadi istri aku?”

Ruangan itu sunyi.

Tidak ada musik.

Tidak ada tepuk tangan.

Hanya detak jantung Alya yang terasa terlalu keras.

Ini bukan keputusan impulsif.

Ini bukan pelarian dari jarak.

Ini komitmen.

Dan ia tahu, sekali menjawab—

Hidupnya berubah.

Alya berlutut juga sekarang, sejajar dengan Arka.

Tangannya menyentuh wajah laki-laki itu pelan.

“Kamu tahu apa yang paling aku takutkan?”

“Apa?”

“Takut kita berani mengejar mimpi… tapi nggak cukup berani mempertahankan satu sama lain.”

Arka tidak memotong.

“Aku nggak mau menikah karena jarak,” lanjut Alya. “Aku nggak mau menikah karena takut kehilangan.”

Sunyi.

“Aku mau menikah karena aku milih kamu.”

Air mata Arka akhirnya jatuh juga.

“Dan aku milih kamu,” bisik Alya.

Jawaban itu sederhana.

Tapi penuh.

“Jadi?” Arka bertanya pelan, setengah tersenyum, setengah gugup.

Alya tertawa kecil di tengah tangisnya.

“Iya, bodoh.”

Arka tertawa lega.

Ia menyematkan cincin itu di jari Alya.

Pas.

Seperti semuanya akhirnya menemukan tempatnya.

Mereka saling memeluk.

Kali ini bukan pelukan rapuh.

Bukan pelukan takut kehilangan.

Tapi pelukan dua orang yang baru saja memutuskan masa depan.

Namun hidup tidak berhenti hanya karena satu kata “iya”.

Beberapa hari kemudian, mereka duduk bersama di ruang tamu rumah sakit, menjelaskan keputusan mereka pada ibu Arka.

Perempuan itu menatap cincin di jari Alya, lalu tersenyum lembut.

“Kalian yakin?”

Arka mengangguk.

Alya menggenggam tangan ibunya.

“Kami nggak mau lagi jalan masing-masing.”

Ibunya menghela napas pelan.

“Kalau begitu, pergi dengan tenang. Jangan bawa rasa bersalah.”

Kalimat itu terasa seperti restu.

Seminggu kemudian—

Alya mengirim email persetujuan ke kantornya.

Subject: Acceptance — Melbourne Regional Lead.

Arka menandatangani kontrak partnership-nya.

Dua email.

Dua tanda tangan.

Satu arah.

Tapi malam sebelum semua terasa resmi—

Alya duduk sendirian di balkon apartemennya di Singapura.

Ia menatap cincin di jarinya.

Ini bukan akhir konflik.

Ini awal bab yang jauh lebih besar.

Ia sadar satu hal penting:

Mereka tidak lagi hanya memperjuangkan cinta.

Mereka akan memperjuangkan hidup bersama.

Dan itu lebih rumit.

Pindah negara.

Menggabungkan ambisi.

Menyesuaikan ego.

Menghadapi tekanan karier.

Cinta saja tidak cukup.

Harus ada kedewasaan.

Harus ada keberanian.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Arka.

Takut?

Alya tersenyum kecil.

Sedikit.

Balasan datang cepat.

Aku juga. Tapi kali ini kita takut bareng.

Alya menatap langit malam.

Melbourne menunggu.

Tantangan menunggu.

Versi diri mereka yang baru menunggu.

Dan untuk pertama kalinya—

Ia tidak merasa harus memilih antara mimpi dan cinta.

Karena sekarang—

Mimpinya berjalan berdampingan dengan orang yang ia pilih.

Namun satu pertanyaan kecil masih tersisa di sudut hatinya:

Apakah cinta yang kuat hari ini

akan tetap kuat ketika dunia mulai menekan dari segala arah?

Itu bukan pertanyaan untuk dijawab malam ini.

Itu pertanyaan untuk perjalanan mereka nanti.

Dan perjalanan itu—

Baru saja dimulai.

1
putra Damian
k
putra Damian
lanjut ka
pembaca sejati
baguss
penulis handal wakakkak
👍
penulis handal wakakkak
besok saya pastikan saya akan kembali ke solo sebagai rakyat bisa.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣
penulis handal wakakkak
yang suka romace mampir yok
penulis handal wakakkak
haraheta
pembaca sejati
??
pembaca sejati
komitmen apaan?
pembaca sejati
👍
penulis handal wakakkak
lanjut ga sih tapi nulis dulu wkwkwk🤣
pembaca sejati: patah jari
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!